
.
.
.
.
.
Heppy Reading, Good Reader^ ^
.
............
Katakan pada Yonggi bahwa ia begitu bangga memiliki Taehyung dikehidupa nya.
Katakan padanya jika ia begitu bersyukur memiliki Taehyung sebagai adiknya.
Katakan padanya agar dia a sedikit meletakkan beban yang ia pikirkan.
Yonggi sudah banyak berkorban apapun untuk Taehyung begitu juga dengan Taehyung Sendiri.
Mereka berdua sama-sama berkorban untuk kebahagiaan mereka dan bukan kebahagiaan sendiri.
Tidakkah cinta dan rasa sayang mereka begitu besar?
Katakan jika itu betul.
.
................
Setalah kepulangan dari rumah sakit semuanya tak lagi sama. Taehyung hengkang dari pekerjaannya dan tentu membawa orang-orang di perusahaan terkejut bukan main.
Meskipun PD nim dan beberapa orang sudah tahu maslahah yang sedang dihadapi oleh pemuda tampan nan pintar serta ulet itu.
Semuanya benar-benar tak lagi sama.
Bahkan Yonggi sekarang lebih memilih bekerja dari rumah dan menemani sang adik setiap hari.
Bukan Taehyung jika tak membantah dan menolak apa yang dilakukan Hyungnya, tapi Yonggi adalah orang yang keras kepala. Jadi tak sedikitpun ucapan Taehyung ia dengarkan.
Taehyung setiap harinya mengalami penurunan sistem motorik. Setiap hari dan setiap waktu, kakinya sudah benar-benar tak bisa digerakkan dan mungkin selanjutnya adalah kedua tangannya.
Taehyung sendiri sudah benar-benar menyiapkan seluruh jiwa dan raganya untuk menerima semuanya itu. Semuanya tak terkecuali, tapi ingatkan jika dia tak siap dan selamanya tak akan siap melihat Hyungnya terus bersedih dan memasang tatapan sendu padanya.
Dari semuanya sebenarnya dia benar-benar belum siap untuk segalanya.
Bagi Taehyung, Yonggi adalah segalanya dan Yonggi tahu tentang hal itu.
Taehyung hanya belum siap meninggalkan Hyungnya sendiri dirumah yang sudah tua itu.
Meskipun ada Seokjin Hyung, Namjoon dan yang lainnya untuk menemani sang Hyung, tapi bukankah itu tetap sedikit berbeda?
Jika Hyungnya itu sewaktu waktu tak bisa mengontrol emosi dan berakhir menghancurkan apapun disekitarnya bahkan dirinya sendiri, lalu siapa yang bisa menenangkan nya jika bukan Taehyung sendiri.
Kalaupun itu Namjoon, pasti satu-satunya cara hanyalah obat penenang untuk sang Hyung.
Taehyung tak ingin Hyungnya menjadi kecanduan akan hal itu.
Hyung harus segera menemukan pasangan sebelum ia benar-benar pergi.
Karena sekali lagi terima Taehyung tahu, sangat tahu jika dua tengah berjalan dibenang kematian nya yang dapat putus kapan saja.
.
.
.
...............
Hari ini Yonggi mendapat panggilan dari Namjoon yang berkata ia harus segera keperusahaan karena urusan mendesak dan benar-benar tak bisa ditunda.
Jika ia tak datang, karirnya berakhir saat itu juga.
Yonggi tentu benar-benar geram karena hal itu.
Dia tak tega meninggalkan Taehyung sendiri dirumah padahal keadaannya semakin tak baik saat ini.
"Tae---"
"Pergilah Hyung
Taetae tak apa dirumah sendiri, toh aku juga sudah makan dan minum obat Dengan begitu aku akan cepat tidur. Pergilah dan pulang secepatnya"
Taehyung menatap lembut Yonggi.
Hyung akan pulang dengan cepat. Kau segera lah beeisty Tae"
Taehyung menggangguk pelan.
Dengan cepat Yonggi menyambar jaketnya dan pergi menuju perusahaan.
Taehyung yang melihat Hyungnya yang terlihat kesal, hanya bisa terkekeh pelan. Dia mengambil ponselnya yang berada disamping bantalnya.
Menekan angka dilayar ponselnya dengan acak dan menelpon seseorang.
"Halo Hyung? Bisa kau datang kerumahnya? Aku ingin minta tolong"
"....."
"Terima kasih Hyung. Hati-hati dijalan"
panggilan itu tertutup setelah Taehyung menyamankan dirinya untuk tidur.
Taehyung benar benar melakukan apa yang Hyung bilang.
.
.
Sekitar 15 menit datang seseorang keringat dan langsung saja menuju kamar seolah pemilik rumah sudah mengijinkan ia masuk.
"Ah, tertidur rupanya".
.
.
.
By,,, sampai jumpa di chapter selanjutnya 👋👋