
.........
.
.
'Masih ditempat yang sama'
.
.
"Hyung.."
"Hm?"
"Jika ada hal yang mengganggu pikiranmu, Katakan padaku. Aku hanya tidak ingin Hyung menanggungnya sendiri"
yang dipanggil 'Hyung' itu seketika menghentikan acara makannya. Diam sejenak untuk mengatur emosi Entah mengapa tiba-tiba datang itu.
"Tidak Tae, semua baik baik saja"
"Jika benar, seharusnya Hyung tidak seperti tadi. Katakan saja hyung, aku akan membantu sebisa ku"
Ucapnya panjang lebar agar Hyung nya mau terbuka sedikit dengan nya.
Hyung nya menggeleng pelan, menolak permintaan sang adek.
"Tidak Tae, kau fokus saja pada kuliah mu. Hyung bisa mengatasi ini semua. percayalah"
jelasnya mencoba meyakinkan sang adik-Taehyung.
"Setidaknya Hyung harus berjanji untuk tak menyakiti diri Hyung lagi. Tae hanya takut, Hyung" lirihnya dengan wajah sedikit cemas:(
"Maafkan Hyung ya Tae".
"Setelah ini, beristirahat lah lagi Hyung. aku tahu Hyung pasti sedang lelah, jangan terlalu memaksakan diri. Kesehatan Hyung jauh lebih penting dari apapun. Aku akan kembali ke toko untuk paruh waktuku"
Taehyung menjelaskan secara seksama. Berkata seolah dia juga bisa membantu Hyungnya dengan caranya sendiri.
"Terima kasih Tae"
"Tidak Hyung, aku yang seharusnya berterima kasih. selamat beristirahat, Hyung. aku pergi dulu, piring kotornya akan ku cuci setelah pulang. Jangan coba mencuci ya Hyung, Sampai nanti"
Setelah adiknya berpamitan, dia pun kembali ke kamarnya berniat untuk tidur kembali, setidaknya untuk melunasi janjinya pada sang adik untuk kembali beristirahat.
.............
skipp→→
Pagi itu cukup cerah.
Hidup diperkotaan memang bukan hal yang mudah. Istilah 'Ibu kota lebih kejam dari ibu tiri itu memang benar adanya'. Dilihat seorang pemuda yang tengah bergelut dengan peralatan masaknya.
Dialah Yonggi, Umur 24 tahun, pekerjaan mapan sebagi komposer lagu. Dia benar benar berbakat dan memasak adalah salah satu nya.
Teriaknya dari dapur dan didengarnya jawaban sang adik.
"Hyung, hari ini aku akan pulang terlambat. Bibi Jung bilang toko akan ramai hari ini".
Jelas sang adik lalu memakan sarapannya
"Iya, tak apa. Jangan terlalu memaksa kan diri juga"
"iya, Hyung"
..........
skipp→→
"Huh... Akhirnya selesai juga" ucapan pemuda tampan itu yang baru saja selesai menata makanan dirak rak toko.
"Tae!" seseorang memanggil, perempuan paruh baya itu mendekati pemuda tampan ini. "Ah.. iya, bisa. Ada apa?" Tanyanya.
"Ini upah mu sebulan ini, pulang lah dan beristirahat ya" perempuan itu menyerahkan amplop putih yang cukup tebal itu.
"Terima kasih banyak, Bisa. sebentar lagi Tae pulang. sekali lagi terima kasih banyak, Bisa" pemuda tampan itu berulang kali membungkuk berterimakasih.
Ya itulah Taehyung. Pemuda berperawakan tinggi nan tampan dengan Surai coklat nya. Bekerja paruh waktu untuk membantu Hyung nya sekaligus untuk tetap sibuk.
Sudah tiga bualan terakhir dai bekerja di toko bibi Jung dan bersyukur beliau wanita yang baik hati.
Beberapa bulan ini keuangan dirumahnya sedikit bermasalah. Entah karena apa, dia masih belum paham. Hyungnya masih terus bekerja keras. Menjadi komposer lagu yang notabenenya tidaklah mudah. Tak jarang Hyungnya harus beberapa kali merevisi musiknya karna terlampau murahan kata produser.
Itulah mengapa tak jarang Hyung nya itu mengamuk seperti beberapa malam lalu. Padahal menurutnya musik Hyungnya itu sangat lembut dan cantik. dia pernah beberapa kali mendengar nya dan itu membagi benar. Mungkin telinga produser nya sedang bermasalah, makanya tak bisa membedakan mana musik yang baik dan murahan.
.
.
.
.........
.
.
by
sampai jumpa di chapter selanjutnya
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak 😌