Brother (TaeGi)

Brother (TaeGi)
Sungai Han



.


.


.


Heppy Reading, Good Reader^ ^


.


.


Seokjin benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan.


Keesokan harinya, Seokjin sudah berada dirumah Yonggi dan membantu menyiapkan kebutuhan yang sekiranya penting untuk Taehyung.


Yonggi sendiri sudah terbangun, atau mungkin ia memang semalaman tidak tidur.


Jika kalian mencari Namjoon, dia dalam perjalanan menuju ketempat mereka.


Tentu Namjoon ikut dan terpaksa menunda pekerjaannya untuk seharian penuh.


Hoseok juga sudah diberi kabar oleh Yonggi, yang tentu sempat menolak dan melarang Taehyung untuk diajak keluar.


Namun bukan Seokjin jika ngeyel dan bebal. Demi Taehyung dia tak masalah kalau harus mengambil cuti dan menyenangkan Taehyung yang sudah dianggap adik sendiri.


.


.


Taehyung untuk kesekian kalinya bersyukur karna memiliki Hyung yang begitu perhatian dan sayang padanya. Dia benar-benar bersyukur namun juga sempat dirundung kekhawatiran. Bagaimana jika orang-orang tertentu yang dekat dengannya ditinggalkan olehnya. Apa mereka akan sangat sedih dan menangis? Taehyung ingin tahu namun juga tak ingin melihat kesedihan itu.


Setelah Namjoon dan Hoseok tiba, Seokjin meminta tolong untuk dibawakan beberapa bekal dan kebutuhan lainnya untuk mereka semua nanti. Seokjin berpikir untuk mengajak Taehyung ke sungai Han, Seokjin tahu jika tubuh Taehyung sudah tak bisa diajak bersahabat. Itulah mengapa dia hanya mengajaknya kesana.


Hari ini musim panas, jadi wajar jika sungai Han cukup ramai dengan orang-orang yang berkumpul atau hanya untuk berjemur. Orang-orang disana mentap Taehyung dan yang lainnya dalam diam.


Ada begitu banyak tatapan iba disana dan itu membuat Yonggi jengah.


Dia tak ingin adiknya mendapat tatapan seperti itu. Itu hanya akan membuat keadaannya menurun. Seokjin yang seolah tak tahu apa isi kepala sahabat nya itu menepuk pelan bahu Yonggi.


"Tak perlu dipikirkan Yoon.


Sekarang adalah waktu kita bersama Taehyung. Biarkan saja mereka" ucapnya lirih dan Yonggi mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Kurasa kau perlu mencari pasangan hidup secepatnya Yoon" Yonggi menatao Seokjin tak suka.


"Agar ia bisa mengurusmu dan aku bisa cepat menggendong keponakan" Candanya.


"Nikah saja duluan.


Taehyung bagaimana keadaanmu?" Yonggi mengacuhkan Seokjin dan menatap Taehyung yang tengah sibuk melihat-lihat sekitar.


"Dia baik Yoon, aku sudah mengecek keadaannya sebelum kita kesini"


"Aku hanya merasa khawatir jika Taetae merasa tidak nyaman disini terlalu lama Hoseok-ah".


"Kita bahkan baru disini lima menit yang lalu, Yoon" ucap Namjoon pada Yonggi yang benar-benar posesif dengan sang adik.


.


.


.


.


Selama hampir sepanjang siang, mereka berlima banyak bercanda dan bercerita. Taehyung mendengar kan setiap candaan dan semua Omelan Seokjin pada Namjoon yang terus-terusan memakan bekal dan pilih-pilih makanan.


"Jangan buang timun itu Joon, itu baik untuk kesehatan" Omel Seokjin namun tak Namjoon hiraukan.


"Kau sangat cerewet Hyung, aku ingin tahu siapa wanita yang akan menjadi istrimu kelak" Celoteh Yonggi yang dibalas kekehan keras oleh Hoseok.


"Hei, seharusnya wanita yang kunikahi nanti akan merasa beruntung hidupnya.


Tampan iya, bekerja iya, pinttar memasak iya, tinggi iya, banyak uang.. Ohhh tentu pasti itu" ucapan Seokjin yang terlewat pede itu membuat Hoseok dan Namjoon tercengang.


"Terserah kau Hyung" ucap Yonggi tidak peduli.


"u-uhuk...uhukk.."


Candaan dan obrolan itu terhenti ketika mendengar salah satu dari mereka terbatuk-batuk susah payah. Hoseok segera mengecek keadaan Taehyung yang ternyata sempat terbatuk cukup parah.


Napas Taehyung perlahan memberat. Hoseok Sendiri sudah mengetahui keadaan Taehyung yang belakangan ini mengalami penurunan, padahal pagi ini ketika ia mengecek keadaannya, semuanya terlihat normal dan baik.


"Tetap tenang Tae. pelan-pelan bernafasnya, pelan-pelan ya.." pandu Hoseok.


Yoonggi sudah dirundung rasa takut.


Jujur saja, setiap adiknya itu kambuh Yonggi selalu dirundung ketakutan. Berpikir yang aneh-aneh seperti bagaimana jika adiknya meninggalkan nya, bagaimana jika Taehyung memilih menyerah, bagaimana jika....


Pikiran itu terus menghantui Yonggi dan itu membuatnya tak pernah tenang barang sedikitpun.


"Jingan melamun Yoon.


Jangan Cemas, Taehyung akan baik-baik, doakan yang terbaik" ucap Seokjin.


"Hyung, aku hanya takut"


"Seokjin Hyung, rumah sakit" ucap Hoseok tiba-tiba berdiri dan segera membopong Taehyung kearah mobil, Yonggi berlari mengikuti nya.


"Namjoon-ah, kau bereskan ini secepatnya dan susul kami jika sudah.


Aku duluan, kau telpon Jungkook untuk mengantarmu kerumah sakit nanti" Namjoon yang mengerti keadaan lalu mengangguk dan Seokjin sudah pergi menyusul Hoseok.


Diperjalanan Seokjin mengebut bak orang kesetanan.


Ia tak peduli jika banyak mobil yang meneriakinya bahkan mengumpatinya. Hoseok terus memangku Taehyung yang sendari tadi tampak mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin.


Yonggi hanya bisa menggenggam jari-jari kurus sang adik.


"Bertahan lah sebentar lagi Tae.


Hyung mohon sebentar lagi".


"Tetap tenang Yoon. Seokjin Hyung, kau bawa tabung oksigen yang Lumintang?"


"Ya Tuhan, ada di tas kursi belakang.


Ambil secepatnya Yoon".


Yonggi segera meraih tas dikursi belakang dan mengacak-acak isinya. Dengan brutal Yonggi membuka penutup tabung itu dan memasang nya dengan tengan yang gemetar hebat.


Setelah akhirnya terpasang, ia serahkan pada Hoseok.


"Hirup pelayan Tae, perlahan saja" Hoseok membantu Taehyung memberikan udara yang sangat ia butuhkan saat ini.


Perlahan Taehyung pun sudah mulai cukup tenang.


"Jangan tidur ya, sebentar lagi kita sampai dirumah sakit" ucap Hoseok kembali. Mendengar Hoseok berucap rumah sakit, seketika Yonggi menegang.


Namun ia mencoba menahan gejolak dipikiran nya.


"Demi Taehyung, aku bisa melakukannya. Ya, aku bisa melakukan" ucap Yonggi dalam hati mencoba meyakinkan dirinya untuk ikut kuat.


Setelah sampai, Hoseok segera berlari keruang IGD agar Taehyung segera mendapatkan penanganan.


Yonggi berlari kecil dibelakang Seokjin, melihat lalu lalang ruang IGD yang penuh dengan tenaga medis dan orang-orang sakit itu membuat dirinya dirundung rasa pening tiba-tiba.


"Yonggi-ah, kau harus menahannya.


Ini demi Taehyung. Demi adikmu" Dia sekali lagi mencoba menguatkan dirinya Seokjin segera berlari mendekati nya.


Seokjin sangat tahu jika sahabatnya masih belum bisa menahan diri jika menginjakkan dirinya ke rumah sakit.


"Kau bisa menahannya Yoon?" tanya Seokjin memastikan.


"Mnn.. Aku bisa Hyung, ayo ke Taehyung"


Seokjin menggandeng tangan Yonggi yang sudah peluh akan keringat itu. menggandeng nya erat seolah ikut memberikan kekuatan.


.


.


.


"Bagaimana Hyung?"


.


.


By,,, sampai jumpa di chapter selanjutnya 👋👋


Maaf jika geje..