
Heppy Reading, Good Reader^_^
\=\=\=\=\=\=\=\=>>>
Taehyung dengan segera diberi penanganan. Hoseok ikut terjun membantu rekan-rekan nya. Saat ini Hoseok sendiri benar-benar dirundung rasa cemas dan takut secara bersamaan, namun mencoba mengendalikan dirinya.
Keadaan Taehyung sudah sangat parah dan kondisinya satiap saat mengalami penurunan yang begitu drastis. Bahkan detak jantungnya sudah mengalami penurunan dan bernafas saja sudah begitu sulit.
Sampai sampai Hoseok terpaksa menjajalkan selang kedalam mulut Taehyung agar dia dapat menghirup oksigen secepatnya dan sebanyak mungkin. Taehyung benar-benar terlihat mengerikan. Alat medis dimana-mana hidung dan mulutnya dimasuki selang.
Entah untuk apa.
Selama hampir setengah jam, Yonggi dan Seokjin menunggu durung tunggu. Namjoon mendekati bersama dengan Jungkook sepupunya.
"Bagaimana Hyung?"
"Hoseok masih menanganinya, Joon" jawab Seokjin dengan nada cemas dan rasa takut yang bercampur.
"Apa Taehyung Hyung yang tinggi dan tampan itu,Hyung? Dia sakit?" tanya Jungkook yang memang dia tak begitu kenal dengan Taehyung. Hanya mendengarnya dari Seokjin yang sesekali mengucapkan nama itu disela-sela ceritanya.
Seokjin mengangguk pelan sebagai respon.
"Duduklah, jangan berdiri disitu"ucap Yonggi datar
Namjoon dan Jungkook akhirnya duduk disampingnya Seokjin.
*BRAKK
Pintu ruangan penanganan yang digunakan untuk menangani Taehyung pun terbuka, Hoseok keluar dari sana.dan segera mendekati Yonggi dan yang lainnya.
"Bagaimana keadaan Taehyung, Hoseok-ah? Apa dia sudah membaik? Boleh aku melihatnya?" Yonggi menghujani Hoseok dengan bentak pertanyaan.
Hoseok hanya bisa menghela napas panjang dan kemudian menggeleng.
"Omong kosong apa ini? Jangan bercanda Jung Hoseok!" Seokjin dan Namjoon mencoba melerai pertengkaran itu.
"Tenang lah Yoon. Taehyung akan baik-baik saja"
"Ini semua salah mu Hyung! Jika saja kau tak memaksa mengajak Taehyung keluar hari ini, keadaan Taehyung tak akan seperti sekarang.
Ini semua salahmu KIM SEOKJIN!!"
Yonggi benar-benar marah sekarang. Dia marah pada dirinya sendiri Karana tak bisa membantu meringankan rasa sakit yang adiknya alami.
Yonggi merasa gagal menjadi seorang kakak.
"Aku belum ingin merelakan Taehyung, ini terlalu cepat. Aku masih ingin melihatnya tumbuh bersamaku.
Kumohon selamat kan Taehyung, Seok. Tolong selamatkan adikku" Yonggi sudah merosot kelantai. Terduduk sembari menangis tersedu-sedu. Meraka yang diruangan itu merapat iba Yonggi.
"Yonggi-ah, kumohon maafkan aku, aku benar-benar minta maaf" ucap Seokjin pada Yonggi.
"Jangan minta maaf Hyung, sudah tak ada gunanya lagi. Disini aku hanya merasa bersalah karna tak bisa menjaga Taehyung dengan baik.
Aku Hyung yang gagal.
Aku Hyung yang tak berguna"
Yonggi mulai meracau tak jelas.
Kita lanjut?
Ok kita lanjut 😌
"Hari ini Taehyung akan dipindahkan keruang rawat intensif secepatnya. Agar bisa dipantau perkembangan nya"
Ucap Hoseok sembari memegang leher nya yang memang sendari tadi merasa sakit.
"Yonggi-ah jangan menyalahkan dirimu.
Kau sudah menjadi kakak yang baik. Kau bahkan merelakan banyak hal demi Taehyung. Kau sudah melakukan sebanyak itu, jadi jangan salahkan dirimu. Sekarang ayo pergi melihat Taehyung"..
Ajak Seokjin sembari membantu Yonggi terbangun dari duduknya dilantai.
Mereka akhirnya sampai diruang rawat Taehyung. Yonggi tercenga dengan semua alat medis yang menempel ditubuh sang adik. Yonggi ingin sekali memeluk dan menangis sekarang juga. Ia tak bisa melihat adiknya menderita lebih dari ini.
Yonggi benar-benar tak kuat melihat semua ini.
Yonggi perlahan mendekati ranjang pesakitan sang adik. Menggenggam tangannya pelan dan terasa dingin entah mengapa. Seokjin dan lainnya memilih diam dan memberi ruang untuk kedua kakak beradik itu.
"Taehyung-ah, apa kau sudah lelah? Katakan jika iya, apa kau kesal karena Hyung masih belum bisa membiarkanmu pergi? Apa kau mendengar semua yang Hyung ucapkan ini Tae?" ucapan Yonggi yang sarat akan kesedihan.
Memang benar, merelakan dan kematian adalah satu hal sulit untuk dilakukan. Sekalipun orang terkuat seperti Yonggi.
Ia masih belum sanggup melakukanya. Ia masih ingin melihat adiknya yang mentapnya diam ketika dirinya bekerja membuat musik. Ia masih ingin melihat adiknya selalu menikmati setiap lantunan musik yang ia ciptakan.
Meskipun sudah hampir satu tahun Taehyung jarang bicara, itu lebih baik dari pada Taehyung tak bisa berbicara padanya dan pergi dari sisinya.
Itu akan lebih baik.
"Hyung akan merelakan mu jika kau bangun dan mengucapkan selamat tinggal pada Hyungmu ini Tae. Hyung benar-benar akan membiarkan mu pergi bersama ayah dan ibu jika kau memanggil nama Hyung untuk terakhir kalinya.
Hyung akan melakukan nya... hiks...hiks...
Yonggi Hyung,,,, ayo panggilan Hyung seperti itu lagi.. hiks.."
Tangisan Yonggi terdengar jelas diruangan itu.
Hanya mereka berdua diruangan itu Karan Seokjin dan yang lain memilih untuk keluar dan memberi waktu berdua. Tangisan itu terdengar memilukan dan entah mengapa dalam tidurnya Taehyung ikut menangis bersama dengan sang hyang. Dia ikut meski tak tahu karena apa.
Sudah selama tiga hari Taehyung belum membuka matanya dan selam tiga hari itu pula Yonggi tetap diruangan yang sama tanpa beranjak sedikitpun seperti kembali kerumah untuk membawa baju ganti dan sebenarnya.
Tetapi syukurlah ada Hoseok yang menyempatkan diri untuk pulang kerumah Yonggi dan membawakan baju ganti dan sesekali membawakan nya makanan meskipun berakhir mendingin.
"Yoon, makanlah meski hanya beberapa suap. Kau terlihat seperti mayat hidup sekarang, kau sakan sakit jika terus-terusan seperti ini. Taehyung pastinya tak akan menyukai ini" ucap Hoseok panjang lebar.
"Apa dengan aku makan, Taehyung akan bangun Hoseok-ah?" tanya tanpa sedikitpun menatap Hoseok.
"Kumohon jangan keras kepala Yoon. Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi jangan seperti ini".
"Memangnya apa yang kau tahu tentang perasaan ini Hoseok-ah? Kau tahu apa?!"
Yonggi tiba-tiba berteriak.
Entah mengapa sejak Taehyung jatuh sakit, emosinya mulai sulit dikendalikan.
"Aku bahkan sangat tahu Yoon, kau harus tahu jika Jimin adikku meninggal beberapa tahun lalu karna kangker hati yang ia derita.
Tentu aku sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang tersayang Yoon"
ucapan Yonggi perlahan melirih, karena ucapan Yonggi ia jadi mengingat Jimin adiknya yang begitu ia datang dan dirindukan.
"Maafkan aku, Hoseok-ah" uaco Yonggi yang merasa bersalah karena ucapan nya.
"Tak apa, jangan terlalu banyak minta maaf. Taehyung sama kuatnya dengan Jimin.
Dia adik kita yang kuat, aku sungguh bangga padanya.
Jimin dan Taehyung sama-sama menanggung beban dan sakit yang sama..."
"Aku dulu sama seperti mu. Aku tak bisa merelakan Jimin pergi dari sisiku, karna hanya dia satu-satunya yang kumiliki setelah kedua orangtua kami bercerai, aku benar-benar tak bisa membiarkannya pergi.
Tapi setelah kepergiannya, aku tersadar.
Kematian adalah jalan terbaik untuk Jimin. Dengan begitu Jimin tak perlu merasa sakit dan menderita lagi. Dengan begitu Jimin akan sehat dan bahagia disisi Tuhan. Mungkin Taehyung juga seperti itu"
Ucap Hoseok panjang lebar dan didengar kan oleh Yonggi dengan seksama meskipun ia tak menatap lawan bicaranya.
"Tapi kau bukan Tuhan yang seenaknya menentukan kematian seseorang Hoseok-ah" Kali ini Yonggi menatao Hoseok.
"Aku memang bukan Tuhan, Yoon. Aku bicara seperti ini hanya ingin membuatmu ikut berpikir untuk tidak egois Yoon. Hanya itu".
"Kumohon jangan menyiksa ku dengan ketidak pastian ini......"
Hehehehe, sekian dulu untuk hari ini ya Good Reader:)
Dan maaf jika alur yang udah author buat kurang menarik dan diluar ekspetasi,, maklum author masih pemula 😌😌😌😌😌
ok,, sampai disini dulu
*Jumpa lagi di chapter selanjutnya 👋👋