Brother (TaeGi)

Brother (TaeGi)
Kalian bukan Tuhan!!!



.


.


.


Heppy Reading, Good Reader^_^


.


.


.


.


.


"Kumohon jangan menyiksaku dalam ketidak pastian ini Tuhan. Taehyung sudah cukup menderita.


Kumohon, jangan membuat nya lebih menderita dari pada ini".


Yonggi terus menerus memanjatkan doa untuk sang adik yang sudah genap seminggu ini tak juga sadarkan diri. Yonggi sudah tak peduli dengan pekerjaan nya.


Yang paling ia butuhkan sekarang adalah Taehyung membuka matanya. Hanya Itu!!!


Tapi kenyataannya, keadaan Taehyung sudah benar-benar memprihatinkan.


Tubuhnya perlahan-lahan menolak apapun dimasukkan oleh para medis. Bahkan tubuhnya sudah kurus dan tak sesehat dulu.


"Kau masih tampan, Tae.


Kau masih adiknya Min Yonggi yang paling tampan".


Yonggi tak henti-hentinya memuji sang adik meskipun kenyataannya wajah sang adik sudah pucat dan tulang pipinya terlihat jelas.


Para medis dan Hoseok yang ikut serta dalam penanganan Taehyung tak henti-hentinya memberikan penanganan khusus untuk Taehyung agar dirinya paling tidak sedikit membaik. Paling tidak denyut jantungnya menormal, tapi semua upaya itu tetap tak membuahkan hasil.


"Tuan Min, maaf saya berkata lancang tentang hal ini. Ini menyangkut keadaan pasien Taehyung uang setiap harinya mengalami penurunan kondisi. Saya dan para medis yang menangani pasien Min Taehyung menyarankan untuk melepas alat medis yang terletak pada tubuh pasien.


*BRAKK!!


Emosi Yonggi sudah bercampur tidak karuan. Dia sedih karena adiknya belum juga sadar, dia kesal karena dirinya tak bisa melakukan apa-apa, dan dia marah karena para medis keparat itu selalu berkata seperti itu.


"Kalian buka Tuhan!!" Yonggi sudah dipuncak kemarahan nya. Dia sudah lelah mendengarkan semua omong kosong itu.


"Yonggi-ah..."


"Apa!? Apa kau juga ingin memintaku merelakan Taehyung? Kau bukan Tuhan, Hoseok-ah.


Taehyung masih punya kesempatan hidup. Dia masih mendengarkan suaraku ditidurnya.


DIA MASIH HIDUP!!!" Yonggi sudah tak tahu harus bagaimana lagi. Dirinya hanya ingin melampiaskan semua perasaannya sekarang.


"Tenangkan dirimu Yoon".


Yonggi menggeleng kuat.


Kepalanya ikut pening karena teriakan dan temperamen nya yang cukup tinggi itu. Ditambah lagi ia belum tidur selama satu hari penuh dan membuat tubuhnya ikut meringkih. Sungguh sangat memilukan.


"Pergilah" ucap Yonggi pelan nan datar


"Yonggi-ah" panggilan Hoseok lagu yang menolak untuk pergi dari ruangan itu.


"Keluar atau aku benar-benar akan mengamuk hebat disini Hoseok-ah" Hoseok menghela napas lelah. Dia meminta semua rekan nya keluar kecuali dirinya.


Setelah para medis itu keluar, Hoseok mulai mendekati Yonggi yang sudah duduk menunduk. Sebelum itu, ia sudah mengantongi alat suntik yang biasa digunakan untuk Yonggi.


"Yoon, apa kau tidak kasian dengan Taehyung? Dia sudah terlalu banyak menderita. Sudah terlalu banyak rasa sakit yang ia rasakan. Kumohon jangan keras kepala Yoon" Yonggi masih saja terdiam.


"Yoon"


"Jika kau mencabut alat-alat medis itu, maka kau juga harus mengambil nyawaku"


Yonggi sudah benar-benar gila.


"Jangan keras kepala Yoon. Aku bukan Tuhan yang seenaknya mengambil nyawa seseorang" Yonggi yang mendengar penolakan itu memandang Hoseok diam dengan seringai tipis.


"Kalau begitu jangan lakukan.


Kau bilang, kau buka Tuhan kan? Kalau begitu jangan lakukan hal itu"


"Yonggi-ah, ini berbeda. Taehyung sudah tak bisa kami selamatkan. Taehyung sudah diambang Kematian"


Yonggi menggeleng pelan sembari tersenyum sendu mental adiknya masih setia tertidur di ranjang pesakitan itu.


"Jangan bicara hal itu lagi Hoseok-ah.


Taehyung bisa mendengarkan kita, itu akan membuatnya sedih dan menyakiti hatinya". Hoseok ikut memandangi makanan akan Taehyung yang sudah seperti bukan dirinya.


"Yonggi-ah, justru kau akan menyakitinya" yonggi mentap Hoseok dengan tatapan tak suka


"Aku mencoba mempertahankan nya. Aku mencoba menyembuhkan nya" Hoseok menggeleng.


"Tidak, penyakit Taehyung tidak bisa disembuhkan Yonggi dan kaupun juga paham akan hal ini


Obat dan alat yang menempel pada Taehyung hanya bisa menopang hidupnya sementara. Cepat atau lambat tubuh Taehyung tak bisa menerima semua obat-obatan itu dan saat inilah tubuh Taehyung menolak. Kau harus tahu itu Yoon".


"Tidak, aku tidak mengerti.


Aku bisa membiarkan nya pergi begitu saja. Taehyung belum melihatku menikah, dia belum merasakan menggendong keponakannya. Taehyung bahkan belum sempat membahagiakan dirinya sendiri. Aku...."


Yonggi benar-benar dirundung rasa sedih. Dia pun ikut menderita seperti adiknya.


"Maafkan apa yang aku lakukan ini Yoon. Bertemulah dengan Taehyung segera, setelahnya relakan dia"


*Jleb


"Ah.. Apa yang kau........ lepaskan... Hoseok-ah" Yonggi mencoba melepaskan tangan Hoseok yang sudah menekan jarum suntik kelehernya. Hoseok mencoba menggunakannya seluruh tenaganya untuk mencegah Yonggi memberontak pada akhirnya cairan didalam suntik yang terlihat masuk kedalam tubuhnya.


Dengan segera Hoseok mencabut dan ia buang jarum suntik itu. Yonggi memegang leher bekas suntikan itu yang cukup nyeri. Dia memandang heran pada sahabatnya itu.


"A-apa yang sudah kau lakukan Hoseok-ah? K-kau..." Hoseok berjalan mundur menjauhi Yonggi yang hendak mendekatinya. Yonggi kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya.


"Propofol, dosis tinggi. Aku tak bisa membiarkamu menyakiti tubuhmu juga Yoon" Jelas Hoseok dengan mata sendu.


Propofol adalah obat bius yang memiliki dosis yang cukup tinggi, sehingga orang menggunakan nya akan langsung tak sadarkan diri dalam waktu kurang dari satu menit.


Mata Yonggi sudah mulai menggelam tak nyaman. Dia mencoba mengedipkan matanya berulang kali dan justru melihat Hoseok dengan jumlah tak tak beraturan.


"Hoseok-ah... K-kau kejam sekali dengan sa-ha-baa...." Yonggi pun limbun dan Hoseok segera menangkap nya agar tak terjatuh dilantai.


.


.


.


"Tidur nyenyak Yoon dan bertemulah dengan Taehyung segera" gumam Hoseok yang kemudian menggendong Yonggi keranjang lain disamping Taehyung.


.


.


.


.


Oke sampai disini dulu Good Reader^_^


Semoga gak bosan membaca chapter nya author yang gaje ini....


By,,,.jumpa lagi di chapter selanjutnya 👋👋