
..............
.
.
.
.
Lalu Taehyung menatap Yonggi Hyungnya yang tengah tertidur nyenyak. Ada rasa bersalah pada hati nya karna tak bisa menjadi sandaran bagi Hyungnya.
Menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu bodoh. Bagaimana bisa dia tak tahu kabar Hyungnya sendiri padahal mereka berkerja di satu perusahaan yang sama.
Taehyung masih dalahmode merutuki kebodohan nya. Tapi di juga bersyukur, Hyungnya pulang ke rumah meskipun tidak dengan keadaan baik. Dan dia bersyukur Hyungnya tidak terluka atas insiden membanting barang di rumah.
"Tidur yang nyenyak Hyung. Maafkan Taehyung belum bisa menjadi adik yang berguna bagimu Hyung. Ucap Taehyung sembari membenarkan selimut Yonggi.
Taehyung keluar dari kamar menuju ruang tengah. Menatap ruangan yang sudah tak sangat kacau itu. Meskipun bukan pertama kalinya ruangan tersebut seperti kapal pecah keadaan nya, tapi dia bersyukur setidaknya ruangan itu tak benar benar hancur sepenuhnya.
Taehyung pun dengan segera membersihkan ruangan itu dengan telaten dalam diam. Disela sela kegiatan bersih bersih, tanpa sengaja Taehyung menemukan secangkir partitur yang sudah terkoyak di beberapa bagiannya.
Di bukanya partitur itu sejenak, lalu menempel bagaimana bagian yang memang teesobek, disusunnya lalu membaca keseluruhan. Meskipun buka passionnya Taehyung cukup paham membaca tentang nada nada yang tertera dalam partitur tersebut.
"Padahal musik ini bagus tapi mengapa di sobek?" herannya lalu menyimpan itu di saku celananya dan melanjutkan kegiatan bersih bersihnya.
Kurang lebih setengah jam iya bergulat dengan alat alat pembersih itu, akhirnya ruangan itu kembali seperti semula. Taehyung pun bergegas ke dapur untuk minum lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang penuh dengan keringat itu.
.............
Pagi ini Yonggi terbangun karena suara dering telpon nya yang memekak telinga. Mendengus pelan lalu menyambar asal ponselnya.
"H-halo?" jawab nya dengan suara khas orang bangun tidur.
'.....'
"Ya Joon, ada apa?"
'.....'
"Baiklah... Besok aku ke kantor"
'.....'
"Hemmm.." Yonggi pun memutuskan panggilan tersebut.
"Aishh.. Kepala ku.." ringkasnya mencoba mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya.
Yonggi terkejut melihat ruangan yang ia tempati.
"Ahhh... Aku melakukan nya lagi" keluhnya mencoba beranjak dari kasur.
*Clekk
"Hyung? Sudah bangun?" ucap Taehyung sembari membawa nampan yang berisi sarapan untuk Hyungnya.
"Tetaplah di ranjang Hyung. Aku tahu Hyung pasti sangat lelah" ucap Taehyung sembari menutup pintu kamar, lalu mendekati Yonggi Hyungnya dan menyerahkan nampan yang berisi makanan itu.
"Tae?"Lirihnya
"Iya Hyung?"
"Maaf kan Hyung semalam" Taehyung tersenyum mendengar tuturan lirih Hyungnya itu.
"Tak apa Hyung. Taehyung sudah membereskan nya. Jadi Hyung tak perlu khawatir"
"Maafkan Hyung sekali lagi Tae. Hyung tak seharusnya melakukan hal tersebut. Hyung benar benar menyesal"
"Sudah Hyung, Tae tak apa. Seharusnya Tae yang meminta maaf pada Yonggi Hyung, maafkan Taehyung yang belum bisa menjadi adik yang baik dan berguna bagimu Hyung. Maaf tak bisa menjadi sandaran untuk Hyung disaat Hyung lelah dan gundah. Maaf kan aku Hyung" Taehyung ingin sekali menangis rasanya. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.
"Taehyung.. Hei.. jangan menangis, Okay?
Tae itu adik Hyung yang paling baik dan hebat.
Tae bahkan begitu sabar merawat Hyung yang terkadang seperti semalam tadi. Maafkan Yonggi Hyungmu ini.
Hyung akan berusaha mengontrol emosi Hyung" jelas Yonggi yang dibalas anggukan pelan Taehyung.
"Kau sudah makan? Mau Hyung suapi?
"Tidak Hyung, aku sudah makan tadi. Hyung saja yang makan, Taehyung sudah kenyang" tolaknya halus.
"Baiklah" Yonggi pun menyuapkan sendoknya kedalam mulutnya.
"Emm.. Enak Tae" puji Yonggi
"Enak Hyung? Itu sop ayam spesial, hehehehe"
"Senangnya punya adik yang pintar segala hal"
pujinya lagi membuat Taehyung tersipu malu.
"Jangan terlalu berlebihan Hyung" ucap Taehyung aku di jawab kekehan oleh Yonggi
"hehehehe.."
.
.
.
.
.
By,,, sampai jumpa di chapter selanjutnya 👋👋
^_^ maaf tepo..