
Jack mengantar Jen sampai ke depan pintu kos Jen, dan Sebelum turun dari mobil Jen bertanya "Bagaimana keadaan Darma saat ini? apa dia baik-baik saja?"
"iya, kemarin ada temannya yang membawanya pulang.Kau tenang saja karena pacarmu itu akan baik-baik saja"
Jen pun menyipitkan matanya dan mengukir senyum manis menampakkan kedua lesung pipinya
"aw aw aw....sekarang aku yakin kalau kau menyukai ku dan kau cemburu pada Darma sahabatku" kata Jen dengan PD nya.
"sebaiknya kau keluar dari sini, nanti motormu akan datang"
Jack sangat kesal karena digodai oleh Jen, tapi dia tidak mau mengatakan hal-hal buruk lagi mengingat kejadian tadi saat dirinya dipermalukan oleh bocah itu di depan umum.
Jack memiliki sifat dewasa dan berwibawa, dia juga cerdas karena itulah banyak wanita yang tergila-gila padanya.Tapi tak satupun ditanggapinya.
"Mmm..kapan motor ku datang?"
"nanti sore, saat semua berkasnya selesai"
"secepat itu?"
"Mmm"
"Bagaimana dengan SIM ku?"
"semua sudah aman dan jangan bertanya lagi, telingaku sakit mendengar suaramu dari tadi"
"ooohh, ternyata kalian hebat dan bisa mdnyelesaikan hal serumit itu dalam waktu sehari" kata Jen sambil membentuk huruf O di mulutnya.
Sebelum Jen berbicara lagi, Jack langsung mendorong bahu Jen agar keluar dari mobil.
Jen pun tidak terima
"heyy...aku ini wanita, kau harus bersikap lembut padaku" kata Jen
"Aku tidak melihat sisi wanita dari mu, aku fikir kau adalah laki-laki yang menyamar.Dan 1 lagi dada mu rata" kata Jack sambil mengeluarkan Jen dari mobil
Jen yang mendengar itupun langsung merasa malu dan menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Setelah turun dia langsung masuk kedalam rumah tanpa menoleh kearah Jack.
Jack pun memutar mobilnya dan bergegas pergi menuju markas.
*****
"Jen...!" teriak Darma saat melihat Jen ditembak oleh orang misterius dari belakang, dan orang itupun membawa Jen ke mobilnya. Darma ingin membantu Jen, tapi dia tidak bisa bangkit karena kakinya yang masih sangat sakit.
Setelah mobil yang menculik Jen pergi, tiba-tiba Rio datang dan menghampiri Darma. Rio adalah teman sekelas Darma
"Lo kenapa Dar?" kata Rio sambil membantu Darma berdiri
"Jen mati dan diculik" kata Darma dengan tubuh bergetar
"hah?...mati? gak mingkin lah, kalau di amati gak mungkin dia diculik lagi"
"tadi dia ditembak orang, dan Jen langsung
jatuh"
"tapi gak mungkin dia mati" kata Rio sambil menenangkan Darma walau sebenarnya dia agak ragu mengatakan kalau Jen tidak mati.
Rio ingin mengantar Darma pulang kerumahnya dengan sepeda motornya, tapi Darma menolak dan ia ingin memberitahu info ini kepada keluarga nya,tapi nantinya Darma tidak akan mengatakan kepada keluarga Jen kalau Jen tertembak.Karena dia takut ibu Jen akan semakin tidak waras dan bisa saja bunuh diri.
Sesampainya di rumah Jen, Rio membantu Darma berjalan masuk kedalam rumah dan ternyata disitu ada Ayah Jen.
"hmm...dimana Jen? bilang padanya kalau sudah bosan diluar sana,suruh dia pulang.karena rantai yang baru ku beli itu sudah gatal untuk menghantam tubuh Jen" kata Roy
"Sa...saya hanya ingin memberitahukan kalao Jen diculik Om" kata Darma dengan gugup, walau bagaimana pun keluarga Jen harus tau keadaan Jen saat ini.
"hahahaha...." Tawa Roy saat mendengar itu,Dia tertawa sampai terbahak-bahak dan memegang perutnya yang sakit
"saya serius om"
"Kalian fikir aku percaya haa?, aku pernah menyuruh 2 Preman untuk menculiknya dan menjualnya secara diam-diam.Tapi nyatanya 2 orang preman itu dihajar sampai babak belur, dan aku tahu kalian mengarang cerita ini agar aku merasa bersalah karena telah menghajarnya habis-habisan. Jadi sebaiknya kalian pergi dari rumahku dan jangan kembali lagi". kata Roy sambil membentak
Mendengar hal itu,Darma dan Rio pun pergi meninggalkan rumah Jen. Mereka tidak tau lagi harus berbuat apa dan mereka hanya bisa pasrah menunggu kabar Jen.
Darma memang tau kekuatan Jen dan Dia tau kalau Jen tidak akan kalah dengan mudah kalau masalah bertarung, tapi kali ini Jen ditembak dengan senjata api.
Darma hanya bisa berdoa dan berharap Jen masih hidup dan baik-baik saja.