Before The Sunrise

Before The Sunrise
Eps 38 Penindasan yang tak berujung



Hari ini Celine, Jack, Very dan Adi berkumpul di sebuah kafe. Mereka akan melakukan perpisahan karena tugas mereka sudah selesai.


Andy masih dirawat di luar negeri, tapi hanya Very dan Jen yang mengetahui lokasi tempat Andy dirawat.


"Saya sedih berpisah dengan kalian, tapi ini memang sudah akhirnya. Semoga suatu saat nanti kita bisa kembali berkumpul" Ucap Celine membuka percakapan


"Kita doakan yang terbaik untuk sahabat kita Andy" Sahut Adi dengan lesu


Adi merasa sangat sedih karena tidak dapat melihat langsung kondisi rekan nya itu.


Jack dan Very tidak mengungkapkan kata perpisahan sama sekali.


Terlihat kalau mereka sedang sibuk dengan Fikiran masing-masing.


"Bagaimana kabar Jen ?" Tanya Adi


"Dia baik-baik saja" Jawab Very dengan datar


Jack langsung mengarahkan pandangannya pada Very dengan kening sedikit berkerut tanpa bicara sepatah kata pun.


"Sampaikan salam terimakasih kami padanya ! dan untuk gajinya, sudah ditransfer ke rekeningnya" Kata Celine


"Iya" Jawab Very


Selama 1 jam mereka menikmati hidangan di kafe itu, hingga akhirnya mereka mulai berpamitan satu sama lain.


Tugas mereka sebagai 1 team sudah selesai. Saatnya mereka kembali ke jalan masing-masing dan menunggu arahan baru dari pimpinan.


Suatu hari nanti, mereka akan kembali bertugas dengan para anggota team yang berbeda.


"Senang bisa bekerja sama dengan kalian!" Kata Very


"Sampai jumpa, kita berpisah disini" Kata Adi


Akhirnya mereka saling berpelukan dengan penuh haru.


Celine segera berangkat langsung ke bandara, iya akan liburan ke luar negeri.


Sedangkan Adi, berlibur ke kampung halamannya.


Jack kembali entah kemana dan Very kembali ke rumah Daron.


*****


Jen memasuki ruang kelasnya dan ternyata guru fisika sudah berada di dalam.


Tok...tok....tok...


Jen mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk ke ruang kelas.


"Darimana kamu ?" Tanya guru


"Saya dari toilet buk" Sahut Jen


"Yasudah silahkan masuk "


Jen duduk di bangkunya dan membuka buku mata pelajaran fisika.


Dia sudah benar-benar ketinggalan banyak pelajaran, saat ini dia hanya bisa diam dan mendengar guru itu berbicara.


Setelah 3 jam belajar fisika, akhirnya bel istirahat pertama berbunyi.


Jen menguap dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa pegal. Setelah selesai, dia pun menyenderkan kepalanya ke meja, lalu menutup mata.


Keadaan kelas cukup berisik, namun Jen tetap bisa tidur dengan tenang.


Saat Jen sudah terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba seseorang langsung mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke lantai.


Brukk


"Arghh...." Ringis Jen saat tubuhnya terbentur kelantai


Saat Jen sudah jatuh, orang itu langsung menyeretnya dengan menarik tangannya.


Jen terseret hingga ke luar kelas.


Sudah banyak pasang mata yang menonton peristiwa itu, sementara Jen hanya menundukkan kepalanya.


Dia tidak menyerang karena yang menyeretnya adalah orangtua siswa, jadi dia masih memberikan sedikit rasa kasihan.


"Ayo, Aku akan menyeretmu sampai ruang kepala sekolah !" Bentak Tanaka


"Ada apa ini ?" Tanya pak Manurung yang baru saja datang


Pak Manurung menatap Tanaka yang memperlakukan Jen dengan tidak senonoh.


Pak Manurung mengenali betul siapa Ayah Rio itu. Dia adalah seorang pejabat tinggi dan berkuasa, dia juga disegani oleh banyak orang, terutama pak Manurung.


Namun Tanaka tidak mendengarkannya.


Dengan emosi yang menggebu-gebu,


Dia lalu kembali menyeret Jen melewati para siswa yang menonton kejadian itu.


Mereka bersorak-sorai meneriaki Jen sebagai wanita rendahan.


Jen berusaha berdiri dan melepaskan tangannya dari cengkeraman Tanaka hingga lepas. Namun setelah dia berdiri, Beberapa siswa langsung menendangnya hingga jauh ke tanah. Setelah Jatuh, Jen dilempari dengan sampah.


Bahkan 2 orang siswa langsung mengangkat tongkat sampah dan menuangkan sampah itu ke atas kepala Jen hingga Jen dipenuhi degan sampah dan tubuhnya baru akibat air yang ada di Tong itu juga mengenai rambut hingga kakinya.


Bukannya merasa kasihan, siswa lain justru bersorak bahagia dan ikut melempari Jen degan sampah dan tong nya.


Hari yang sangat menyakitkan bagi Jen, dimana dia diperlakukan seperti binatang yang begitu hina.


Dari kejauhan, Darma datang dan mendekati Jen, namun teman-temannya menariknya kembali agar tidak ikut campur.


Darma tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa memendam amarahnya.


"Kalian binatang !" Teriak Darma saat tubuhnya ditahan oleh teman-temannya


Para guru akhirnya berdatangan, namun Tanaka mengancam mereka yang berani mendekat.


Alhasil mereka hanya bisa diam dan menatap Jen dengan sedih.


Sebenarnya banyak juga guru yang membenci Jen, dan tentunya diantara mereka ada yang senang jika Jen mendapat ganjaran atas kelakuannya selama ini.


Jen kembali berdiri dengan keadaan yang sudah sangat menyedihkan, keningnya mengalami beberapa bendolan dan luka akibat di lempari oleh siswa.


Saat Jen berdiri, seorag siswa menarik seragam Jen hingga robek.


Jen menatap tajam siswa itu dan langsung memukul perutnya dengan satu pukulan keras. Siswa itu langsung pingsan dalam sekejap. Jen juga menyerang siswa lain yang hendak menyerangnya, nasib mereka juga sama, bahkan ada yang hingga muntah darah.


Mereka langsung dilarikan ke UKS untuk mendapatkan penanganan oleh beberapa guru.


Sungguh keadaaan yang sangat mengerikan, dimana Jen yang hanya membela dirinya harus dianiaya dan diperlakukan seperti binatang.


"Ibu, apa ibu melihatku ? Apa aku masih sanggup untuk hidup ? hikss hikss...." Seru Jen dalam hatinya


"Sudah, ayo ikut ke kantor kepala sekolah !" Bentak Tanaka


Jen kembali diarak layaknya seorang monster yang tertangkap melakukan dosa besar.


Kepala sekolah sudah menunggu di dalam ruangannya, Dia juga sudah mengabari Daron tentang kejadian ini.


Tanaka masuk ke dalam ruangan itu sambil menghempaskan tubuh Jen.


Buk Aan berusaha membantu Jen berdiri, namun kepala sekolah melarangnya dan menyuruh mereka untuk meninggalkan mereka bertiga di ruangan itu.


Mereka pun keluar sesuai perintah.


"Apakah Anda tidak pernah belajar sopan santun bedebah sialan ?" Kata kepala sekolah kepada Tanaka


Tanaka terkekeh geli mendengar ucapan itu.


"Wah, sepertinya semut kecil ini mulai menantang Ku ya ?" Kata Tanaka


"Sebentar lagi, tangisanmu akan dimulai" Sahut kepala sekolah


Kepala sekolah membantu Jen untuk berdiri dan menyuruhnya untuk duduk di kursi.


Tok....tok...tok....


Tanpa menunggu seseorang membuka pintu, See langsung masuk ke ruangan kepala sekolah dan langsung kembali menutup pintu itu.


Mata Tanaka melotot melihat kehadiran See.


See adalah salah satu pemegang perusahaan terbesar milik Daron dan bisa dibilang dia adalah orang yang sangat dihormati para pengusaha.


"Ibu See ? kenapa Anda datang kesini ?" Tanya Yamanaka dengan nada yang sangat sopan


See langsung mengarahkan pandangannya pada Jen, namun Jen tidak menatap kedatangannya sama sekali.


Kepala sekolah sudah mengira, dengan hanya menurunkan 1 anggotanya saja pasti sudah bisa membuat Tanaka pipis celana.


Apalagi kalau Daron yang turun tangan.


"Untung kami bisa sedikit menenangkan emosi Tuan Daron, setelah ini entah apa yang akan terjadi" Kata See dalam batinnya


Tanaka masih bingung dengan maksud kehadiran orang besar seperti See di sekolah itu.


"Apa ada hubungannya dengan gadis miskin sialan ini ?" Tanya Tanaka dalam batinnya.


Makasi udah baca karyaku ♥️