Before The Sunrise

Before The Sunrise
eps 18 Menunjukan jati diri



"Apa kau tidak merindukan orangtuamu?" Tanya Adi pada Jen saat di dalam perjalanan


"Ah..aku..tentu saja aku merindukan ibu dan adikku" Jawab Jen dengan sedih


"Kalau kau mau mengunjungi mereka, aku bisa mengantarmu"


"Tidak perlu, minggu depan aku akan kesana"


"Baiklah"


Adi mengantar Jen sampai ke depan kos nya


"Nanti aku akan menyuruh orangku untuk mengantar motor mu kesini"


Jen hanya menjawab dengan anggukan dan senyum tipis


"Aku pamit pulang dan nanti akan ku carikan guru untuk mengajar orang-orang jalanan itu"


"Trimakasih"


Adi pun melajukan mobilnya dan akan kembali ke rumahnya sendiri.


Semenjak menemani Jen berlatih, Adi merasakan kalau Jen adalah Anak yang baik dan bisa dijadikan teman. Pemikiran Jen juga cukup dewasa dan Jen bisa memberikan kata-kata yang secara tidak langsung mengandung sebuah motivasi.


"Huh.....Aku lelah sekali" Guman Jen sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur dan mulai tertidur.


Jen terbangun pukul 19:25 pm dan segera bergegas menuju kamar mandi untuk mandi.


Setelah Selesai mandi, Jen memasak untuk makan malam.


Jen menyantap makanannya seorang diri dan dia sangat merindukan makan bersama ibu dan adiknya.


Setelah selesai makan, Jen mengerjakan tugas sekolahnya karena dia takut kalau dihukum oleh guru.


Pukul 22:00 Jen tidur dan melepaskan penatnya selama sehari ini.


*****


"Minggu depan transaksi besar akan kita lakukan di sebuah kafe yang cukup sepi dan aku akan ikut" Kata bara


"Tapi bos, apa ini tidak berbahaya? bagaimana jika mereka tau kalau bos adalah pemimpin Gangster X ?" Kata Ana


"Tidak An , tidak akan ada yang mengenaliku " Kata Bara sambil memegang dagu Ana


"Saya hanya takut kalau terjadi sesuatu padamu" Kata Ana dengan pelan.


Ana sudah lama memiliki perasaan pada Bara, tapi Bara tidak mengetahuinya dan malah menikahi wanita lain.


Ana yang merasa cemburu buta pun membunuh isteri Bara dengan menaruh racun pada makanannya. Ana memfitnah salah satu pelayan di rumah Bara yang melakukannya dan tentunya Bara percaya.


Sejak kematian isterinya, Ana semakin leluasa dan sering berdekatan dengan Bara meskipun dia masih merasa sangat canggung tapi Ana merasa kalau Bara juga menyukainya.


"Tidak perlu cemas, banyak anggota kita yang akan melindungiku"


"Termasuk aku" Batin Ana


"Sekarang keluarlah, aku mau istirahat!"


"Baik bos" Kata Ana sambil membungkukkan badannya lalu pergi keluar.


Bara mulai merasa gelisah karena banyak anggota nya yang mulai tertangkap.


Sekarang Bara harus mencari lebih banyak anggota baru dan tentunya juga harus berbakat.


Para aparat sudah bergerak dengan sedikit cepat dan ini bisa membahayakan bisnis nya.


tuttt...tuttt....(Bara menelfon Jaya)


"Bagaimana kabar Gangster Death?" Tanya Bara


"Mereka masih aman bos, tapi mereka juga kehilangan beberapa anggota"


"Pantau terus mereka!, karena ketua mereka memiliki sifat yang cukup licik. Pasti dia merencanakan sesuatu saat ini untuk mengambil keuntungan"


"Baik bos"


Ganster death merupakan Gangster terbesar kedua di kota Aming dan tidak memiliki permusuhan dengan Gangster X, tapi tetap saja Bara harus hati-hati karena bisa saja Gngster Death adalah musuh dalam selimut.


******


Jen terbangun dari tidurnya dan melakukan persiapan untuk pergi kesekolah.


Setelah berada di teras rumah, Jen melihat motornya sudah kembali


"Huh !, Baguslah " Kata Jen sambil melakukan peregangan pada tubuhnya yang terasa agak pegal. Jen memang sering berolahraga, namun karena sempat berhenti selama beberapa hari dan semalam dia melakukan aktivitas yang cukup berat maka tubuhnya terasa sedikit keram.


Jen melajukan motornya menuju sekolah dengan kecepatan tinggi karena dia hampir terlambat.


Sampai di sekolah ternyata gerbangnya sudah ditutup.


"Aduh!....sial sial sial, kenapa harus telat lagi sih Jen bego!" Gerutu Jen sambil menjitak kepalanya sendiri


Setelah menunggu sekitar 10 menit, Jen disuruh masuk oleh security. Jen tidak langsung diizinkan memasuki ruang kelas karena harus menjalani hukuman terlebih dahulu.


Jen melihat pak manurung sudah berdiri tegak di tengah lapangan menunggu kehadiran Jen.


"Pagi pak !.." Kata Jen sambil membeti hormat pada Pak manurung


"Hmm...pagi, kenapa kamu telat. Sudah berulang kali kamu berjanji untuk tidak terlambat lagi. Kamu sudah terlalu sering mencoreng nama baik sekolah ini, sekali lagi kamu terlambat maka kamu harus saya keluarkan !" Kata pak manurung dengan tegas


Jen hanya menundukkan kepalanya, karena merasa sedikit takut. Jen memang tipe orang yang pemberani, namun Jen tetaplah seorang manusia biasa yang bisa merasakan ketakutan seperti manusia normal.


Kalau sampai Jen dikeluarkan dari sekolah, maka ini sangat gawat. Tidak mungkin ada sekolah yang akan menerima siswa pindahan kelas XII semester ll.


Kalaupun diterima, pasti akan disuruh mengulang ke kelas Xl.


"Kamu dengarkan saya ! ini adalah peringatan terakhir, sekali lagi kamu terlambat maka kamu akan saya keluarkan!"


Bentak pak manurung dengan suara keras hingga bisa di dengar oleh siswa/i yang sedang melaksanakan pelajaran olahraga dilapangan


"Baik pak" Kata Jen dengan menunduk


"Kalian semua dengar, kalau sampai kalian melihat Jen terlambat maka kalian boleh mengusirnya dari sini. Kalau dia melawan atau memukul kalian, maka kalian harus melaporkannya kepada saya supaya saya membawanya ke kantor polisi !"


"Hwahhhh.....ini berita baik"


"Baguslah kalau wanita monster itu ditangkap polisi,kalau bisa aku akan membantu prosesnya"


"Hahaha.....rasakan itu !"


"Dia fikir dia siapa"


Banyak sekali ocehan bahagia dari murid-murid disana. Jen hanya mengepal tangannya dan segera melaksanakan hukuman yang diberikan pak manurung, yaitu membersihkan seluruh toilet sekolah.


"Bagaimana kalau aku sampai dikeluarkan dari sekolah?" Guman Jen sambil berjalan menuju toilet


Sesampainya di toilet, Jen sangat kaget melihat keadaan di dalam. Tidak biasanya toilet sekolah sekotor ini dan ternyata beberapa orang yang ada di lapangan tadi yang melakukannya.


Mereka mengotori toilet sekolah dengan menyerakkan sampah di dalam toilet.


Bukan hanya satu ruang saja, namun di semua ruang toilet mengalami hal yang sama.


"Lihat saja nanti kalau aku menemukan pelakunya !" Kata Jen dengan suara kuat


"Hahahah....lihat dia, wanita monster itu sudah benar-benar tidak waras. Dia berbicara sendiri di dalam toilet" Kata srorang siswa


"Ya...kau benar" Kata temannya


"Apa kalian senang?" Tanya Jen pada mereka


"Tentu saja, tapi kami belum puas"


"Kenapa kalian selalu menggangguku?"


"Karena kau adalah wanita miskin !, kau juga wanita monster !"


Jen langsung terdiam saat mendengar itu.


Seharusnya gelar wanita monster akan membuat para siswa di sekolah takut dan segan padanya.


Namun nyatanya, itu hanya sebuah nama ejekan.


Jen sebenarnya sangat benci dengan sebutan wanita monster, selama ini Jen melawan dan menghajar orang yang mengganggunya hanya sekedar untuk membela dirinya dan keluarganya.Tapi tidak ada yang memahami Jen, mereka menjadikan latar belakang Jen sebagai bahan bully dan merendahkan Jen karena kemiskinannya.


Jen tidak menanggapi lagi siswi itu dan masuk ke toilet untuk membersihkannya.


"Hei !, beraninya kau mengacuhkan kami. Kami tidak akan takut lagi padamu karena sekarang kau sudah tidak boleh menghajar kami dan kami akan melaporkannya kepada pak manurung kalau kau melakukannya" Kata siswi itu


"Sebaiknya kita pergi saja, yang penting kita sudah merumitkan pekerjaannya"


"Ayo".


Jen tidak lagi mendengar suara siswi tadi dan Jen pun mempercepat geraknya.


dari 20 toilet, sekarang hanya tinggal 1 toilet lagi.


"Huh ! ayolah Jen....." Batin Jen


Setelah selesai membersihkan seluruh toilet selama hampir 1 jam, Jen berjalan menuju lapangan sekolah untuk mencari angin dibawah pohon rindang.


Namun dia terkejut melihat situasi di lapangan dan suasana yang sangat hening.


Jen tidak melihat 1 siswa pun berada di lapangan. Namun mata Jen tertuju pada sekelompok orang yang masing-masing memegang senjata tajam.


Jen juga melihat beberapa guru yang disuruh tiarap dengan tangan dikepala, dan mata Jen terhenti saat melihat security yang berlumuran darah dibawa ke UKS. Tidak, bukan hanya security namun beberapa guru juga mengalami hal yang sama.


Sekolah Jen cukup jauh dari kata keramaian lalu lintas dan letak kantor polisi juga lumayan jauh. Butuh waktu tempuh sekitar 1 jam untuk sampai kesekolah Jen.


Orang-orang itu mengancam akan membunuh orang yang berani melapor ke kantor polisi.


"Apa yang sebenarnya terjadi? dan siapa mereka? Batin Jen.


Jen tidak langsung datang menuju lokasi itu, tapi Jen malah menghampiri sebuah bangku taman di bawah salah satu pohon dan Jen jongkok sambil menggigiti sedotan.


Jen masih merasa lelah setelah membersihkan toilet ditambah setelah melaksanakan latihan semalam.


"Apa yang dilakukan wanita monster itu disana?"


"Sepertinya dia cari mati"


Jen mendengar suara siswa yang mengintip dari dalam kelas itu dan Jen hanya diam sambil menggigit-gigit sedotan di tangannya.


Jen menghubungi Adi melalui jam tangannya karena saat ini tidak ada jaringan sama sekali. Orang -orang itu sudah mematikan jaringan agar tidak ada yang bisa menghubungi polisi.


"Ada apa?' Kata Adi


"Aku yakin kau sudah mengetahui tujuanku menghubungi mu !"


"Iya. kau benar"


"Apa mereka bagian dari Gangster X ?"


"Tidak, sepertinya mereka preman suruhan untuk membalaskan dendam pribadi ke sekolah mu"


"Oh" Kata Jen singkat


"Lalu apa yang akan kau lakukan?, Jangan gegabah dan jangan sampai kau terluka karena minggu depan kau akan melaksanakan misi. Jangan sampai misi gagal karena hal ini !"


"Baiklah, aku akan menjaga diriku agar tidak terluka"


"Hmm....terserahmu saja, lakukanlah yang terbaik dan jangan terlalu gegabah untuk melawan mereka !"


"Oke" Kata Jen sambil menutup telphone nya


"Kenapa kalian selalu menggangguku?"


"Karena kau adalah wanita miskin dan wanita monster !" Monster.....monster.....monster !!!


Tiba-tiba Jen teringat dengan nama julukannya yaitu "Wanita monster".


Jen pun berdiri dan turun dari tempat duduknya dengan senyum sinis sambil tetap menggigiti sedotannya yang menambah sisi menakutkan dari diri Jen.


"Baiklah, aku sudah terlalu lama bermain lembut. Dan sekarang aku akan menunjukkan jati diriku yang sebenarnya dan menunjukkan sisi monster di dalam diriku ! karena itu yang kalian mau !" Kata Jen dengan suara pelan.