Before The Sunrise

Before The Sunrise
eps 33 Sad



"Bagaimana kabar putri Riska itu ?" Tanya Dian


"Aku juga tidak tau ibu, tapi aku akan segera mencarinya" Kata Roy


Roy beserta keluarganya sepakat untuk menikahkan paksa Jen dengan teman Roy.


Jen bukan dijadikan sebagai istri pertama, tapi sebagai istri ketiga.


Mereka sengaja merencanakan itu sebagai upaya balas dendam kepada Jen, atas perlakuannya ke pada mereka beberapa waktu lalu.


Dimas tidak tahu rencana Keluarganya. Roy sengaja menyembunyikannya agar Dimas tidak menghalangi rencana mereka. Roy tau persis kalau Dimas pasti akan membela Jen


Dan menyelamatkannya.


"Kali ini, bocah itu pasti akan benar-benar menderita...hahaha...." Kata Dian sambil tertawa


Roy juga ikut tertawa kecil sambil mengusap-usap jenggotnya.


Roy mengambil ponselnya dan menghubungi temannya Budi


tutttt......Tut.......


"Ada apa calon ayah mertua..... hahaha..." Kata Budi dengan suara yang sudah cukup renta


"Aku sudah memperluas pencarian bocah itu, setelah ketemu kalian akan langsung ku nikahkan" Kata Roy


"Baiklah ayah mertua, aku juga akan menurunkan anak buahku untuk membantu pencarian" Kata Budi


Roy langsung menutup telphone nya dengan senyum lebar dan tatapan jahat.


"Daron, aku sangat prihatin dengan nasibmu dan keturunanmu. Malang sekali" Batin Roy


Roy langsung beranjak keluar rumahnya menuju pantai yang tak jauh. Tempat dimana Daron kehilangan nyawanya.


Setelah sampai, Roy menaiki kapal kecil menuju tengah laut dengan di kawal oleh beberapa anak buahnya.


"Sahabatku, sebentar lagi putri kita akan menikah, hahaha ......" Kata Roy sambil cengengesan karena tak sanggup menahan tawanya


"Putri kita, ya benar, dia juga termasuk putriku.... Aku akan menikahkannya dan menghancurkan hidupnya untuk selamanya" Kata Roy


Setelah selesai menikmati terpaan ombak laut, Roy memerintahkan nahkodanya untuk kembali ke pantai.


Ada rasa aneh dalam hatinya, yaitu tentang Jen.Orang suruhannya sudah beberapa hari mencari Anak itu, namun tidak pernah ketemu.


"Dia sudah mati, atau dia pindah negara ?" Tanya Roy dalam batinnya


pippp....pippp.....(panggilan masuk)


"Ya" Kata Roy


"Mohon segera datang ke kantor pak, karena ada rapat mendadak dan Anda harus ikut"


"Mmm...." Kata Roy, lalu menutup telphone nya


*****


Jen membuka matanya secara perlahan dan kepalanya terasa sangat pusing.


Seluruh tubuhnya juga sangat lemah dan tidak bertenaga. Dia menatap tempatnya berbaring dan menyadari kalau itu adalah kamar rumah sakit.


"Ahhhh.....Kenapa lemah sekali" Batin Jen


Mata nya mencari ke sekitar ruangan itu, berharap akan ada seseorang yang akan datang.


Saat ini, kepalanya hanya penuh dengan ingatan pertempuran dengan gangster X dan tiba-tiba mengingat seseorang.


"Darma.... di.. dimana dia ?" Kata Jen sambil berusaha bangkit dari tempat tidurnya.


Setelah berada di posisi duduk, Jen langsung menurunkan kakinya ke lantai dan melepas alat-alat medis yang menempel ditubuhnya.


Jen berusaha untuk berdiri dan berjalan, namun saat genggaman tangannya lepas dari tempat tidur, Jen terjatuh ke lantai


Brukkk.......


"Ahkkkk, lemah.... lemah....!" Ringis Jen


Seorang perawat tiba-tiba datang dan menghampiri Jen. Perawat itu membantu Jen untuk kembali berbaring.


"Maaf nona, keadaan Anda belum stabil. Beristirahatlah kembali" Kata perawat itu


"Dimana Jaya ?" Tanya Jen


Perawat itupun bingung, dia tidak tau siapa yang bernama Jaya. Yang dia tau, Jen dikirim dari rumah sakit luar negeri kemarin oleh orang-orang yang terlihat berkuasa


Perawat itu menceritakan apa yang dia ketahui.


Jen sudah menebak kalau orang yang membawanya kemari adalah Daron.


Dia sudah semakin tidak sabar untuk segera bertemu Dengan Daron.


Mata Jen kemudian menatap ke sebuah samurai yang berada di samping ranjangnya.


"Kenapa ada samurai disini?" Tanya Jen


"Saya tidak tau nona, tapi saya dilarang untuk memindahkannya, saya akan memberitahukan kondisi Anda kepada keluarga" Kata perawat


Saat hendak keluar dari ruangan Jen, tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan sesosok pria tampan yang sangat dikenalinya, yaitu Very.


Very mempersilahkan perawat itu keluar dan membiarkan Dirinya berbicara berdua dengan Jen.


Very duduk di sebuah kursi dan kepalanya terngiang-ngiang sebuah kata-kata...


"Tugasmu adalah mendekati Jen, dan buat dia jatuh cinta. Aku berikan putriku padamu, suatu saat nanti kalian akan memiliki keluarga kecil dan aku memiliki cucu yang banyak...hahah" Kata Daron


Jen bingung melihat sikap Very yang agak aneh. Terlihat seperti wajah sapi yang kelaparan.


"Hei ada apa ?" Tanya Jen


"A...apa... kau lapar ? atau kau mau latihan tinju?" Tanya Very gugup


"Stress" Kata Jen sambil memalingkan wajahnya


"Beristirahatlah untuk beberapa hari kedepan, setelah itu kau akan kembali pulih" Karya Very


"Bagaimana kabar Darma ?" Tanya Jen


"Dia baik-baik saja, kemarin aku baru menemuinya dan menyampaikan kabar kalau kau dalam keadaan baik"


Jen hanya tersenyum lega mendengar kalau sahabatnya tidak apa-apa.


Disisi lain, Very masih terlihat aneh. Dia masih tidak menyangka kalau Daron akan menjodohkannya dengan Jen. Sungguh malang nasib Very.


"Aku ingin wanita sungguhan, bukan jadi-jadian" Gerutu Very dalam batinnya


Very mengacak-acak rambutnya dan menatap ke sebuah samurai yang diletakan oleh Doni.


Wajahnya kembali datar dan bulu kuduk nya berdiri.


"Sial, orangtua itu benar-benar menyebalkan" Batin Very sambil memonyongkan bibirnya.


Jen mendadak menatap Very, begitu juga Very. Mata mereka saling beradu pandang dan bibir Very tetap dalam keadaan monyong.


Jen berhenti menatap Very dan mengambil samurai yang ada di dekatnya. Dia membuka sarung samurai itu dan mengarahkannya kepada Very.


Very langsung berdiri karena kaget.


"Anak pintar, itu bukan mainan ya.... ayo nak, letakkan lagi ya....." Kata Very dengan suara sok lembut


"Keluar dari sini sekarang !" Bentak Jen


"Oke, oke,...... kita bisa bicara baik-baik anak manis" Kata Very


Jen justru semakin emosi dan dan ingin melemparkan samurai itu ke wajah Very.


Very langsung berjalan menuju pintu luar dan meninggalkan Jen.


"Kenapa sifat temperamennya semakin tinggi !" Gerutu Very


"Dasar stress" Kata Jen sambil melemparkan samurai itu ke pintu kamarnya.


Beberapa hari kemudian, Jen sudah bisa pulang dari rumah sakit dan dia kembali ke rumah kontrakannya.


Selama Jen berada di rumah sakit dan sampai detik ini, dia tidak pernah melihat Daron mengunjunginya. Namun tiba-tiba, Very memberitahukan kalau Daron mengundang Jen ke rumahnya.


"Nanti sore saja aku kerumah papa" Batinnya


Jen bersiap-siap untuk berangkat kesekolah. Sudah cukup lama dia cuti dan pastinya siswa sekolahnya banyak yang membuat gosip-gosip aneh tentangnya.


Saat Jen keluar dari rumahnya, tiba-tiba sebuah mobil datang menuju halaman rumahnya.


Di lihatnya sosok pemuda yang mengendarai mobil itu, dan ternyata dia adalah Very.


Very turun dari mobilnya dan menghampiri Jen.


"Ada apa ?" Tanya Jen


"Tuan Daron memintaku untuk menjemputmu pagi ini"


"Aku mau sekolah, nanti sore saja" Kata Jen dengan wajah memelas


Very tidak tinggal diam, dia langsung mendekati Jen yang perlahan mundur.


Very menggendong tubuh Jen dan meletakkan tubuhnya di bahunya.


Jen meronta-ronta sambil memukuli punggung Very.


"Lepas...!" Kata Jen


Namun Veri tidak menghiraukannya dan memasukkan Jen kedalam mobil.


"Tinggal duduk aja kok susah !" Kata Very sambil menjalankan mobilnya


Jen hanya diam dengan wajah datar. Saat ini dia bingung harus menunjukkan ekspresi apa.


Setelah sekian lama tidak pernah bertemu dengan orangtua kandungnya, dia sungguh bingung.


"Nanti saat bertemu dengannya, aku harus memukul wajahnya atau mematahkan tangannya ?" Tanya Jen pada Very


Very langsung menelan ludahnya. Very tau sendiri kalau Jen tidak akan bisa menyentuh Daron dengan mudah.


Daron dikelilingi oleh banyak pengawal, Jika Jen berniat untuk memukul Daron, maka para pengawalnya justru akan menghalanginya bahkan menyerang Jen.


"Sebaiknya buang fikiranmu yang tidak berguna itu" Kata Very


"Sepertinya kau semakin bertingkah, apa kau lupa dengan kesepakatan kita bedebah ?!" Kata Jen sambil menatap Very dengan tatapan tajam


"Setelah tugasku selesai, kau boleh membunuhku" Kata Very


"Lebih baik aku mati daripada harus menikah dengan bocah brengsek ini" Batin Very


setelah beberapa lama, akhirnya mereka sampai di kediaman Daron.


Jantung Jen berdegup cukup kencang, namun ekspresi wajahnya tidak bisa ditebak.


Beberapa kali Very menatap wajah Jen, namun dia sama sekali tidak tau apa isi Fikiran Jen satu saat ini.


Jen berdiri di halaman rumah itu, dia memandangi rumah yang terlihat seperti sebuah istana. sangat megah dan mengagumkan.


Para pelayan itu tidak mengetahui kalau Jen adalah putri Daron. Begitu juga dengan Jen yang tidak mengetahui kalau Very adalah putra angkat Daron yang akan dijodohkan dengannya.


"Semoga bocah ini tidak berulah" Batin Very


Mereka berdua melangkah memasuki rumah itu.


Jen hanya fokus berjalan dan matanya menjalar menatapi isi rumah itu.


"Mari keatas Tuan" Kata pelayan kepada Very


Jen langsung menatap Very dengan wajah bingung.


"Kenapa orang ini dipanggil Tuan ? Sangat banyak hal yang tidak aku ketahui sama sekali" Batin Jen


Mereka menaiki anak tangga menuju lantai 2, tempat Daron bersantai dan menghabiskan waktu.


Ruangan di lantai 2 terlihat lebih luas dan lapang. Hanya ada sebuah kamar Disana dan itu adalah kamar Daron.


Hal itu membuat Jen sedikit tersenyum dan mengepalkan kedua tangannya.


"Cocok untuk tempat perkenalan" Batinnya


"Tuan, saya mohon pamit untuk melaksanakan tugas yang lain" Kata pelayan itu kepada Very.


Setelah memohon pamit kepada Very, pelayan itu justru tidak menyapa Jen sama sekali dan langsung beranjak pergi.


Jen semakin dibuat bingung sekaligus kesal.


Matanya menatap tajam kearah Very yang seolah-olah tidak ingin menjelaskan apapun padanya.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan sesosok pria paruh baya bertubuh tinggi, tegak dan tampan.


Dia adalah Daron.


Jen hanya berdiri menunggu Daron datang mendekat.


Wajah Daron sama persis dengan wajah yang ada di foto. Jen mendapatkan Foto Daron dari pengacara yang mengurus perusahaan the most.


Daron berjalan mendekati Jen dengan senyum lebar dan mata yang berbinar-binar.


Setelah berjarak sekitar 1 meter dari Jen, Daron menghentikan langkahnya.


"Sebaiknya bagaimana cara perkenalan yang baik dan benar ?" Tanya Daron


Very hanya diam mematung dan fikirannya hanya tentang cara untuk membatalkan niat Daron untuk menjodohkan mereka.


"Mungkin dengan berjabat tangan" Jawab Jen datar


"Hwahaha....baiklah-baiklah" Sahut Daron sambil menjulurkan tangan kanannya kearah Jen


Jen menyambut tangan Daron dan memeras telapak tangan Daron dengan kuat hingga ekspresi wajah Daron berubah.


Daron berusaha melepaskan tangannya, namun Semakin tangannya bergerak, semakin kuat pula tekanan yang diberikan Jen.


Very berusaha untuk membujuk Jen agar melepaskan tangan papanya itu, namun Jen tidak menggubrisnya. Justru Jen semakin menekan nya.


Dua pengawal pribadi Daron langsung datang menemui Daron setelah melihat tayangan rekaman CCTV di pos penjagaan mereka.


"Hentikan !" Kata salah satu pengawal itu


Jen melepaskan tangan Daron dan menatap tajam. kearah pengawal itu.


Jen mengambil ancang-ancang untuk segera bertarung, namun Very mencegahnya.


"Kau baru saja keluar dari rumah sakit, sebaiknya kau jangan dulu bertarung !" Cegal Very


Jen kembali menenangkan dirinya, sebenarnya dia memang belum pulih seutuhnya. Jadi dia tidak akan bertarung hari ini.


"Sebaiknya tenaga ini aku simpan dulu untuk mengurus Roy beserta keluarganya itu " Batin Jen


Daron mendadak berlutut di hadapan Jen sambil memohon maaf atas kepergian nya selama ini. Dan Daron berjanji akan mengabulkan semua permintaan Jen.


"Yakin semua ?" Tanya Jen sambil menaikkan sebelah alisnya dan kemudian dia berjalan menuju sebuah sofa. Jen duduk di sofa itu sambil menatap Daron yang masih berada dalam posisi berlutut.


"Iya" Kata Daron


Very merasa geram dengan tingkah Jen yang tidak tau sopan santun.


Very mendekati Daron dan membantunya untuk berdiri.


"Siapa yang mengizinkanmu untuk melakukan itu ?!" Bentak Jen kepada Very


Very tidak mendengarkan ucapan Jen dan tetap membantu papa tirinya itu untuk berdiri.


Daron pun mengikuti kemauan putra angkatnyanya itu.


Jen melemparkan sebuah guci kecil yang adat di atas meja dekat sofa yang ia duduki itu ke arah Very, namun tidak kena.


Kedua pengawal Daron tidak tinggal diam melihat perlakuan Jen kepada Tuan mereka.


Mereka ingin bergerak namun tiba- tiba seorang wanita seusia Jen datang dengan wajah marah.


Setelah kedatangan See, kedua pengawal itu kembali ke tempat mereka bertugas dan membiarkan mereka menyelesaikan urusan keluarga itu.


"Saya menerima laporan keributan dan saya harapkan biang rusuh itu untuk segera pergi dari rumah ini !" Kata See dengan nada tinggi


Jen bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati see.


Jen mendekatkan wajahnya ke wajah See, tinggi mereka sejajar, namun See terlihat lebih tua darinya.


"Aku ! aku yang membuat keributan, kenapa ?" Tanya Jen sambil menatap tajam See


See juga membalas tatapan tajam Jen.


Daron segera memisahkan mereka agar tidak terjadi perkelahian.


"Tolong jangan bertengkar, biar kita selesaikan masalah ini dengan baik-baik" Kata Daron dengan nada lembut


Jen mundur beberapa langkah dari See, dan sekarang mata Jen tertuju pada Daron.


"Lawan aku" Kata Jen


Daron yang tidak siap dengan pukulan yang diberikan Jen, akhirnya terjatuh ke lantai.


Brukkk....


"Akhhh...." Ringis Daron


"Ini masih pukulan biasa, aku bisa memberikan pukulan lainnya jika kau tidak segera bangkit dari lantai itu !" Kata Jen


Saat Daron terjatuh Ke lantai, Very langsung sigap menolongnya.


See tidak tinggal diam, dia mulai menyerang Jen. Namun Jen bukanlah lawan yang seimbang untuknya.


"Kuat sekali gadis ini" Guman See sambil mengelap darah di bibirnya akibat tonjokan manis dari Jen


"Hentikan !" Kata Daron dan Very secara bersamaan.


Namun Jen tidak mendengarkan mereka, ulu hatinya sudah terlanjur panas dan terbakar emosi. Rencananya untuk mengerjai Daron berantakan karena ulah See.


Saat hendak memukul See, tiba-tiba Very muncul menghalangi Jen. Akhirnya wajah tampan Very menjadi sasarannya.


Jen tidak sempat menghentikan pukulannya.


"Tuan muda" Teriak See


Beberapa pengawal Daron langsung datang keruangan itu, namun Daron memberikan tanda agar mereka tidak mendekat apalagi berniat untuk ikut campur.


Kata-kata See yang memanggil Very dengan sebutan Tuan muda masih terngiang di fikirannya.


Belum sempat ia bertanya, namun Very sudah berdiri di depannya dengan ekspresi kesal.


"Apa ?" Tanya Jen


"Kau baru saja menginjak rumah ini, tapi kesombonganmu langsung menembus langit !. Lalu bagaimana jika kau menjadi orang besar seumur hidupmu ?!" Kata Very


Jen terdiam sejenak, dia benar-benar tidak bermaksud untuk sombong dan menyeleweng. Tapi dia melakukan ini hanya untuk menghukum papanya yang meninggalkan dia dan ibunya selama 18 tahun. Tapi rencananya berantakan karena ulah Very dan See.


"Sudah-sudah hentikan, jangan ribut lagi" Kata Daron dengan nada tegas karena dia tidak ingin kehilangan wibawanya di depan banyak pengawalnya


"Tadi kau bilang akan mengabulkan semua permintaanku, jadi sekarang usir kedua anak ini !" Kata Jen sambil menunjuk kearah Very dan See


"Aku tidak bisa" Jawab Daron


"Kenapa ?" Tanya Jen


"Kau sama sekali tidak mengenal Tuan, Tuan Daron sangat menyayangi putranya. Jadi kau sebagai orang baru tidak usah bermimpi untuk mengubah sikap Tuan kami ! kau sama sekali tidak mengenalnya "Kata See


Jen penasaran dengan putra yang dimaksud oleh See. Dan disisi lain, hatinya sangat sakit ketika mendengar ucapan See "Kau sebagai orang baru tidak usah bermimpi untuk mengubah sikap Tuan kami. Kau sama sekali tidak mengenalnya"


Tanpa bertanya lagi, Jen sudah menebak sosok putra Daron yang disebut oleh See.


"Ya, kalian benar. Aku sama sekali tidak mengenal papaku sendiri dan ini adalah kali pertamaku bertemu dengannya. Sejak lahir, aku selalu menderita di rumah ayah tiriku, ibuku mengalami gangguan jiwa dan setiap hari aku hanya mendapatkan kekerasan baik di rumahku atapun di sekolah. Hidupku keras dan menyedihkan, tidak seperti kalian yang mendapatkan kasih sayang dari papa kandungku. Ku harap kalian bahagaia, dan tolong jangan mencari ku lagi atau aku akan menghilang dari dunia ini dan hanya mrninggalkan tubuhku di bawah tanah di dalam sebuah peti mati" Kata Jen dan air matanya menetes dari kedua matanya. Ia pun segera pergi meninggalkan ruangan itu.


Daron segera mengejar Jen, namun See menghalanginya.


"Tuan, mungkin dia bukan putri kandungmu yang sebenarnya" Kata See


Jen mendengar perkataan See, tapi dia tidak menghiraukannya.


Tangannya merogoh kantung ranselnya dan mengambil sebatang coklat yang sudah dihiasnya dan bertuliskan "Aku merindukanmu papa💝". Jen meremas coklat itu dan membuangnya ke lantai.


Very segera mengambil coklat itu dan memberikannya pada Daron.


Daron ingin menangis, tapi dia menahannya.


See yang melihat itu juga ikut merasa bersalah. Sebenarnya dia tidak berniat untuk mengusir Jen, namun baginya keselamatan Daron adalah yang utama.


Jen berlari meninggalkan rumah itu, ekspektasinya hancur seketika.


Begitu banyak orang yang menyayangi Daron,bahkan dia tidak tau kalau Very adalah putra angkat papanya.


"Aku sama sekali tidak tau apapun. Huaaaaa....!!" Teriak Jen ditengah Jalanan kota. Dia tidak menghiraukan tatapan yang diberikan orang-orang sekitarnya.


Tappp


Sebuah tembakan panah menancap ke punggung Jen. Jen pun terjatuh ke tanah.


Orang yang menembaknya adalah anak buah Roy.


Orang-orang ingin menghajar anak buah Roy itu, namun tiba-tiba Roy datang.


"Maaf-maaf semua, dia adalah putri saya. Dia mengalami gangguan jiwa, karena baru saja di tinggal ibunya. saya akan membawanya kembali pulang" Kata Roy dengan ekspresi sedih


"Apa buktinya ?" Tanya Warga


Roy menunjukkan Kartu Keluarganya dan menunjukkan nama Jen.


Warga pun percaya, karena mereka juga tidak tau harus melakukan apa pada Jen.


Roy menggendong Jen yang pingsan dan memasukkannya ke dalam mobilnya.


Maaf karena udah lama gak up, 🥺


makasih buat kalian yang slalau hadir kasih dukungan. 🙏🙏🙏