Before The Sunrise

Before The Sunrise
eps 25 kebenaran



Roy langsung menyuruh pengacara itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Silahkan masuk pak, maaf rumah kami berantakan karena ulah seorang bocah" Kata Dian


"Akhirnya yang ditunggu datang juga" Batin kakak Roy


Pengacara itu pun masuk kedalam rumah Roy, tetapi Jen malah pergi dan tidak peduli.


"Baiklah, ini adalah surat kepemilikan perusahaan The most yang bergerak di bidang industri properti dan di dalam surat ini dinyatakan bahwa buk Riska memberikan sepenuhnya kepada pak Roy" Kata pengacara itu.


Sontak saja mereka kaget, terutama Ani dan putri nya


"Tidak bisa, saya adalah ibu dari Daron. Seharusnya perusahaan itu adalah milik saya ! Riska itu hanya menginginkan kekayaan anak saya dan setelah mendapatkannya dia langsung menikahi pria miskin ini !" Kata Ani dengan membentak


"Tapi buk, pak Daron sudah memberikannya saat 18 tahun yang lalu kepada buk Riska" Kata pengacara


"Sudahlah Ani, kalian tidak cocok mengelola perusahaan. Buktinya perusahaan yang kau pimpin saat ini sudah bangkrut !" Kata Dian


Ani pun beranjak berdiri dengan putrinya


"Keluarga terkutuk kalian, setelah membunuh anak saya kalian malah langsung merebut hartanya !" Kata Ani dengan emosi


Dian langsung kaget saat mendengar perkataan Ani.


"Apa maksudmu ? jangan asal bicara. Kami tidak pernah melakukan hal sekeji itu !" Kata Kakak Roy


"Saya tahu kalau kalian lah yang membunuh anak saya dengan sengaja !" Kata Ani


"Yang saya tahu, 18 tahun yang lalu kamu berusaha membunuh Daron dengan cara memasukkan racun ke dalam makanannya" Kata Roy sambil tersenyum sinis.


"Kalian !" Kata putri Ani


Pengacara itu hanya diam dan tidak mau ikut campur dalam pertengkaran mereka.


Ani dan putrinya pun pergi keluar rumah dan meludahi halaman rumah Roy sambil mengutuki kehancuran keluarga mereka, lalu langsung pergi.


"Maaf pak pengacara, bapak jadi merasa tidak nyaman" Kata Roy


"Oh tidak masalah, saya pamit pulang"


"Tunggu pak, kapan kami bisa mulai mengelola perusahaan itu ?" Tanya Dian


"Besok sudah bisa buk, kami sudah mengatur semuanya dan selama 18 tahun ini orang-orang kami yang mengelolanya. Kami akan kegiatan berikan seluruh penghasilan perusahaan itu kepada keluarga bapak" Kata Pengacara


Pengacara itupun beranjak pergi menaiki mobilnya.


Setelah cukup jauh dari rumah Roy, mobil pengacara itu diikuti oleh sebuah taksi dengan kecepatan cukup tinggi dan menginstruksikan supaya pengacara itu menghentikan mobilnya.


Taksi itu berhenti tepat di depan mobil pengacara dengan tiba-tiba hingga membuat pengacara itu mengerem mendadak mobilnya.


"Turun !" Kata Seorang gadis yang keluar dari taksi itu sambil menodongkan senjata api


"Ba... baik..." Kata pengacara itu


"Ikut saya dengan baik-baik supaya nyawamu aman !" Kata gadis itu dengan nada mengancam


Pengacara itupun hanya bisa mematuhi perkataannya dan menyuruh temannya untuk menjemput mobilnya nanti.


Disebuah kafe


"Bukankah kamu gadis yang berada di rumah pak Roy tadi ?" Tanya pengacara itu


"Iya, saya putri kandung buk Riska dan nama saya Jen" Kata Jen


"Oh, maaf saya tidak mengenali anda"


"Tidak masalah, sekarang ceritakan apapun yang bapak tahu mengenai orangtua kandung saya !" Perintah Jen


"Baiklah, sudah saatnya kamu tahu tentang siapa saya dan apa yang terjadi di keluargamu"


Jen sangat antusias untuk mendengarkan cerita dari pengacara itu


"Saat itu 18 tahun yang lalu.................."


"*Selamat ulang tahun dek" Kata Daron


"Makasi Ar " Kata Riska


"Hmm.... Aku udah siapin hadiah ulang tahun untuk kamu" Kata Daron


"Apa tu ?" Tanya Riska dengan antusias


Daron memberikan hadiah besar yaitu sebuah perusahaan miliknya "The Most" kepada Riska dan Daron juga sudah mengganti nama pemilik perusahaan itu menjadi atas nama Riska.


Daron mengira kalau Riska akan menyukai hadiah itu, tapi nyatanya tidak.


Namun Riska bepura-pura sangat bahagia agar tidak membuat Daron sedih.


"Makasih banyak Ar" Kata Riska sambil memeluk Daron


"Bulan depan putri pertama kita lahir, siapa nama yang cocok ya?" Tanya Daron setelah Riska melepas pelukannya


"Mmm.... Aku suka Nama Jen " Kata Riska


"Berhubung ini hari ulang tahun kamu, yasudah deh "


"Terus nanti Jen manggil kita apa ?"Tanya Riska


"Biar unik, Jen manggil kamu ibu dan manggil aku papa hahaha...." Kata Daron


"Hahaha....lucu lucu cocok sih" Kata Riska sambil tertawa


Mereka pun saling tertawa terbahak-bahak pada malam itu.


Namun siapa sangka itu adalah hari terakhir mereka dan hari terakhir Riska melihat Daron.


Keesokan harinya pukul 22 : 05


Riska merasa khawatir karena Daron belum juga pulang kerumah, biasanya Daron sudah pulang pukul 19:00 . Namun sampai sekarang belum pulang juga dan telphone nya juga tidak aktif.


Tutttt....tutt.....(panggilan masuk)


"Halo ?" Kata Riska


"Maaf buk, saya asisten pak Daron ingin menyampaikan kalau... kalau pak Daron diculik dan sudah tewas "


"Tidak, bagaimana mungkin " Kata Riska gemetaran


"Kami mendeteksi kalau tubuh pak Daron di ikatkan ke sebuah bom aktif dan boom itu meledak 1 jam yang lalu. Setelah kami mencari tahu ternyata pak Daron tewas ditempat dan serpihan jasad nya dibuang ke laut untuk makanan ikan"


"Tidak...............!!" Kata Riska lalu melempar ponselnya


Riska yang sangat terpukul akhirnya pingsan dan dilarikan kerumah sakit oleh asisten rumah tangganya.


Riska membuka matanya setelah sadar dan melihat sesosok pria yang sangat ia kenali duduk di sampingnya dan memegang tangannya.


"Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Roy


"iya, dimana Daron ?" Tanya Riska


"Dia sudah tewas" Kata Roy dengan ekspresi sedih


"Kamu temannya ! kenapa tidak bisa menjaga dia !" Bentak Riska sambil meronta-ronta.


"Maaf Ris, Saya berjanji akan menjaga kamu dan calon anak kalian sebagai peminatan maaf " Kata Roy


Setelah 1 bulan berlalu, Riska akhirnya melahirkan putrinya dan dinamakan Jen.


Semakin hari semenjak kepergian Daron, Roy semakin dekat dengan Riska dan akhirnya mereka saling Jatuh cinta.


Tepat sebulan setelah kelahiran Jen, akhirnya Riska memutuskan untuk menikah dengan Roy demi kelangsungan hidupnya dan putrinya.


Setelah menikah, ternyata Riska diusir dari rumah Daron oleh Ani dan Riska pun tinggal di rumah Roy yang sederhana.


5 bulan kemudian, Riska berniat memberikan perusahaan "The Most" kepada Roy dan Riska pun pergi menemui pengacara pribadi Daron untuk menggantikan nama pemilik perusahaan yang masih terkelola baik oleh orang-orang nya.


Stelah selesai memindahkan nama pemilik perusahaan secara diam-diam, akhirnya Riska pulang dan meminta pengacara itu untuk merahasiakannya.


Namun saat pulang, Riska mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia.


Singkat cerita, Roy yang mulai kehabisan pekerjaan dan yang akhirnya meminta perusahaan yang pernah diberikan Daron kepadanya. Namun Riska tidak ingat apapun.


Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Riska selalu dianiaya oleh Roy supaya Riska memberikan perusahaan itu padanya.


Berbagai cara dilakukan Roy agar Riska mengingatnya, namun semua sia-sia. Riska malah menjadi gila dan kehilangan kewarasannya.


Roy tetap membiarkan Riska tinggal di rumah nya beserta putrinya itu, karena Roy masih menginginkan perusahaan itu.


"Bagaimana bapak tahu tentang semua itu ?" Tanya Jen sambil mengepalkan tangannya dengan kuat setelah selesai mendengaekan cerita dari pengacara itu


"Saya adalah pengacara pribadi pak Daron"


"Kenapa baru sekarang Anda menyerahkan perusahaan itu ? seandainya anda langsung memberikannya kepada Roy keparat itu, ibu saya tidak akan gila dan saya tidak akan dianiaya selama bertahun-tahun !" Bentak Jen


"Maaf, saya tidak bisa mengambil keputusan. Saat saya mendengar kalau buk Riska meninggal, saya tidak punya pilihan lain"


"Pergi sekarang atau saya bunuh Anda !" Kata Jen dengan kasar


Pengacara itupun langsung pergi ketakutan meninggalkan Jen.


"Aaaaaaaa.......! Keparat !" Kata Jen sambil memukul mejanya sampai roboh dan meninggalkan uang ganti rugi di meja itu.


******


"Bagaimana keadaan Bocah itu ?" Tanya Andy


"Mungkin temperamennya semakin tinggi, berhati-hatilah saat berbicara dengannya nanti" Kata Celine


"Siapa sebenarnya yang membunuh ibu dan adiknya?" Tanya Andy


"Bagaimana pendapatmu Jack?" Tanya Andy


"Aku tidak tau, tapi kemungkinan besar iya" Jawab Jack


"Beberapa hari lagi, anak itu bisa membalaskan dendamnya secara langsung" Kata Adi


"Bagaimana dengan putri Bara itu?" Tanya Celine


"Dia gadis yang baik dan dia primadona sekolah" Kata Very


"Teruskan pemantauan, jangan sampai kita kehilangan dia" Kata Celine


"Siap" Kata mereka berempat


2 Hari kemudian......


Jen bersiap untuk kembali kesekolah dan harus tetap menjalani hidupnya.


Kali ini Jen tidak terlambat kesekolah dan datang lebih awal.


"Jen !" Panggil Darma


.


"Apa ?" Jawab Jen singkat


"Ku fikir kau tidak akan datang sekolah lagi.


Kenapa kau terlihat bahagia saat upacara kematian ibu dan adikmu ?"


"Aku sibuk, maaf tolong menjauh" Kata Jen


"Tapi Jen"


Mata Jen langsung menatap tajam kearah Darma.


"Tolong menjauh, sebelum aku melakukan kekerasan !" Kata Jen dengan dingin


Darma pun hanya diam dan tidak berani mendekat lagi.


Jen memasuki kelasnya dan sudah disambut bisikan -bisikan berisi cacian.


"Dia tersenyum lebar saat ibunya dan adiknya meninggal"


"Iya, aku juga dengar itu"


"Ternyata dia sudah sakit jiwa"


"Wajar saja ibunya juga sakit !"


Setelah mendengar bisikan-bisikan mereka, akhirnya Jen menghampiri salah satu gadis dan mencekik lehernya dengan kuat.


Siswa lain yang melihat itu berusaha melepaskan tangan Jen.


"Hei monster gila, lepaskan temanku. Dia itu perempuan!" Kata siswa lain


Jen Justru memperkuat cengkraman tangannya hingga gadis itu pingsan dan terjatuh dilantai


"Ini belum seberapa, kalau kalian menginginkannya juga aku bisa melakukannya dengan senang hati !" Kata Jen lalu pergi meninggalkan mereka


Siswa dikelas itupun membawa gadis itu ke UKS dan melaporkannya kepada kepala sekolah. Namun kepala sekolah tidak memberikan hukuman apapun pada Jen karena itu adalah salah mereka sendiri.


Berita pencekikan itupun tersebar cepat di sekolah dan banyak siswa yang menginginkan agar Jen dikeluarkan dari sekolah.


Jen tidak merasa takut sama sekali dan malah pergi ketoilet untuk mencuci muka.


Saat ditoilet, 2 orang siswa perempuan datang dan mengunci pintu toilet itu.


2 orang siswi itupun melemparkan 1 kantong plastik berisi kecoa ke dalam toilet untuk memberi Jen pelajaran.


Jen hanya tersenyum melihat ulah orang-orang itu dan mendobrak pintu dengan kuat hingga pintunya rusak.


Setelah pintu terbuka, Jen menarik 2 siswi itu kedalam toilet dengan paksa dan kembali menutup pintu agar tidak diketahui orang lain.


"Apa maumu jalang !" Bentak siswi itu


"Apa mauku ya?" Tanya Jen dengan sok polos


Jen membuka penutup WC duduk di situ yang belum dibersihkan dan masih penuh dengan air kotor. Setelah membukanya Jen langsung mencelupkan kepala 1 orang siswi itu kedalam WC itu selama beberapa detik dan langsung menariknya kembali. Tangan kiri dipakai Jen untuk menahan 1 siswi lagi agar tidak kabur dan agar tidak berani berteriak dengan cara mencengkram lengan siswi itu.


Jen mencelupkan kepala siswi itu sampai 3x hingga siswi itu pingsan karena mual.


Setelah 1 siswi selesai, Jen menghampiri temannya yang satu lagi dan mengambil beberapa kecoa yang ada dilantai, lalu memasukkannya kedalam baju siswi itu.


"Mmm.....mmm !!! " Kata siswi itu karena mulutnya dibungkam oleh Jen


"Jangan teriak bodoh ! Nanti kita ketahuan" Kata Jen sambil tersenyum lebar


Siswi itu meronta-ronta karena banyak kecoa berkeliaran di dalam bajunya, tapi tangannya ditahan oleh Jen agar tidak bisa bergerak.


"Enak kan, kalau mau lagi bilang aja" Kata Jen


Jen yang cukup puas pun melepaskan tangan dan mulut siswi itu, lalu menghantam wajah siswi itu dengan satu pukulan keras hingga pingsan.


Terlihat darah segar mengalir dari bibir hidung siswi itu.


"Seperti yang kalian katakan Aku adalah monster hahaha...." Kata Jen sambil tertawa lantang di toilet yang sepi itu


Jen keluar dari toilet itu dan meninggalkan 2 orang siswi itu.


Pukul 13:25


Pak Manurung masuk ke kelas Jen dan menyuruh Jen untuk datang ke kantor kepala sekolah.


"Sepertinya sudah ketahuan ya" Kata Jen dalam hati


Jen mengikuti pak Manurung menuju kantor kepala sekolah.


"Tadi pagi kami mencekik teman sekelas mu dan sekarang kau menganiaya 2 siswi dari kelasmu juga !" Kata Pak Manurung sambil tetap berjalan


"Oh" Kata Jen dengan santai


"Sekarang seluruh siswa sudah tau kelakuanmu dan mereka meminta agar kamu dikeluarkan dari sekolah. Maaf Jen kali ini saya tidak bisa mentoleransi kamu lagi" Kata Pak Manurung


"Dikeluarkan dari sekolah, membasmi Gangster X, menghancurkan seluruh keluarga Roy beserta perusahaan barunya dan akhirnya mengakhiri hidupku sendiri menyusul papa, ibu dan adikku. Itu adalah rencana hidupku" Kata Jen dalam batinnya sambil tersenyum sinis


"Ayo masuk " Kata Pak Manurung saat sudah di depan pintu.


Jen pun ikut masuk dan sudah ada 3 orang siswi beserta orangtua masing-masing di dalam ruangan itu. Mereka menatap tajam kearah Jen seakan ingin membunuhnya.


"Duduk !" Kata kepala sekolah


Pak Manurung, wakil kepala sekolah, dan Buk Aan selaku wali kelas juga ada di ruangan itu.


Jen duduk di salah satu bangku dan menatap tajam kearah 3 siswi itu.


"Dasar anak setan, beraninya kamu menganiaya putri kami !" Kata salah satu orangtua


"Pasti kamu orang miskin yang tidak diajari sopan santun !"


""Saya akan penjarakan kamu sekarang juga, lihat wajah putri saya bengkak karena kamu pukul "


"putriku di celupkan kedalam WC hikss...hikss....!" Kata orang tua siswi itu


"Jen, apa benar kamu yang melakukan itu ?"


Tanya kepala sekolah


"Saya memang mencekik perempuan itu dikelas karena menghina ibu saya yang baru saja meninggal ! Tapi kalau mereka berdua saya tidak tau " Kata Jen


"Beraninya kamu berbohong ! jelas-jelas anak saya mengatakan kalau kamu menganiaya mereka berdua di dalam toilet" Bentak orangtua siswi itu


"Mana buktinya ?" Kata Jen dengan santai


Salah satu siswi bernama Ami itupun mengambil sebuah kamera.


"Kami sengaja menyiapkan kamera untuk merekam kejahatan jalang ini ! Kami ingin menasehati Dia supaya tidak memukuli teman-teman kami " Kata Ami


Ami pun memberikan tekanan Video itu kepada kepala sekolah.


"ini adalah bukti yang sangat nyata" Kata kepala sekolah


Ani dan temannya pun tersenyum beserta orangtua mereka.


Jen hanya diam karena tidak menyadari kalau mereka menyiapkan sebuah kamera di toilet itu.


Setelah merasa Jen kalah dan terbukti bersalah, Ani pun tersenyum licik kepada Jen.


"Sudah diputuskan kalau Jen tidak bersalah sama sekali atas kasus penganiayaan settingan ini !" Kata kepala sekolah


Mereka pun kaget dengan perkataan kepala sekolah itu.


Bukannya Rekaman penganiayaan, justru rekaman itu berisi video saat mereka mengunci Jen di dalam toilet dan melemparkan sekantung plastik berisi kecoa ke arah Jen.


Kepala sekolah pun mengembalikan kamera itu kepada Ami.


"Nggak mungkin " Kata Ami


Jen hanya tersenyum dan merasa bingung dengan rekaman itu, jelas-jelas memang dirinya lah yang menganiaya 2 siswi itu.


"Lalu bagaimana dengan anak saya ? dia jelas-jelas mencekik nya didepan umum! Saya minta keadilan !"


"Saya, wakil bapak dan Buk Aan setuju untuk mengeluarkan Jen dari sekolah demi kebaikan dan kenyamanan sekolah ini pak !" Kata pak Manurung yang tiba-tiba menjawab


"Benar pak, Jen juga sudah terlalu sering membuat ulah" Kata Buk Aan


"Tidak bisa ! Jen tidak akan dikeluarkan dari sekolah ini. Jika kalian para orangtua keberatan dengan keputusan saya, maka pindahkan saja anak kalian kesekolah lain !" Kata kepala sekolah