
"Mmm....dimana aku?" Kata Jen saat terbangun
"Jen, kamu sudah bangun ? ayo minum dulu sayang" Kata Buk Aan sambil menyodorkan segelas air putih pada Jen
Jen mengambil air putih itu lalu meminumnya.
"Bagaimana keadaan mu sekarang? Apa kamu merasa sakit? " Tanya Kepala sekolah
Jen hanya menggelengkan kepalanya.
Lalu Jen melihat pakaiannya yang sudah diganti dan luka ditangannya juga sudah di perban.
"Saya baik-baik saja. Apakah saya sudah boleh pulang?" Tanya Jen pada guru yang ada disitu
"Kamu harus beristirahat dulu" Kata Buk Aan
"Saya justru semakin pusing ketika berada disini buk pak. Tolong izinkan saya pulang !"
Dengan beberapa kali paksaan, akhirnya Jen di izinkan untuk pulang dan beristirahat di rumah.
Sebenarnya Kepala sekolah ingin memberikan sejumlah uang terimakasih kepada Jen. Namun dia membatalkan niatnya, dan besok ia akan mengundang orangtua Jen untuk datang langsung kesekolah.
"Biar kami mengantarkanmu pulang Nak !"
"Tidak perlu repot-repot pak, yang terluka hanya tangan saya" Kata Jen dengan sopan. Jen tidak mungkin menerima tawaran itu, karena sekarang Jen tidak tinggal di rumah Ayahnya lagi.
"Baiklah, Kami tidak akan memaksa mu, Mari kita kembali ke sekolah dan mengambil tas mu"
"Baik pak terimakasih banyak"
Jen dan Guru" kembali kesekolah menggunakan mobil kepala sekolah.
Sebenarnya para guru masih merasa agak sungkan untuk mendekati dan berbicara dengan Jen karena mengingat pertarungan yang terjadi disekolah. Terutama saat para aparat datang membantu, mereka merasa kalau Jen dan aparat itu saling mengenal.
"Sebenarnya siapa Jen ini?" Batin Kepala sekolah sambil menyetir mobil nya
setelah kira-kita 20 menit di perjalanan akhirnya mereka sampai disekolah dan disambut oleh beberapa guru yang sudah sejak tadi menunggu kedatangan mereka.
Kepala sekolah turun terlebih dahulu lalu disusul oleh Buk Aan, 2 guru lainnya dan terakhir adalah Jen
"Kamu baik- baik saja kan nak ?" Kata pak menurung sambil mengelus kepala Jen
Jen hanya menjawab dengan anggukan.
Bukan karena Jen masih marah atas perkataan pak Manurung tadi pagi, tapi mulut Jen masih terasa agak pahit setelah memakan obat yang diberikan dokter tadi dan Jen Juga masih merasa sedih atas kematian salah satu aparat tadi.
"Saya akan mengambil tas saya ke ruang kelas dan saya akan segera pulang" Kata Jen sambil berjalan menuju ruang kelasnya yang berada dilantai 2
Setelah Jen tidak terlihat lagi, guru -guru yang ada disitu pun berdiskusi untuk membicarakan hadiah apa yang akan diberikan sekolah untuk Jen.
Kepala sekolah menyarankan untuk memberikan uang saku selama Jen bersekolah disini dan akan mengundang orangtua Jen untuk makan bersama besok di kantor guru.
"itu ide yang bagus pak, dengan begini orang tua Jen akan bangga padanya" Kata pak Manurung
"Baiklah, kita sudah sepakat, tolong berikan surat undangan secara resmi kepada orangtuanya dan jangan sampai Jen tahu agar ini menjadi kejutan untuknya" Kata kepala sekolah
Semua Guru menyetujuinya dan akhirnya membubarkan diri.
Tapi disisi lain, kepala sekolah masih merasa bingung dengan latar belakang penyerangan sekolahnya, tapi ia akan menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada aparat penyidik.
Jen melangkahkan kakinya menuju ruang kelasnya, setiap Jen melewati ruang kelas maka semua mata langsung tertuju padanya. Jen juga mendengar bisikan-bisikan dari siswa/i itu, ada yang memujinya dan ada juga yang mencibirnya. Tapi Jen tidak memperdulikannya dan lebih memilih diam karena suasana hatinya juga masih sangat kacau saat ini.
Tok....tok .....tok (mengetuk pintu)
"Permisi buk, apakah saya boleh masuk?" Tanya Jen saat sudah berada di depan pintu kelasnya
Semua mata langsung tertuju pada Jen, ada yang merasa takut dan ada juga yang merasa lega karena ternyata Jen baik- baik saja.
Andri hanya menatap kedatangan Jen sambil menelan ludahnya, saat ini dia benar-benar berfikir untuk meminta maaf kepada Jen dan berdamai dengannya.
Tapi Andri belum berani untuk berbicara kepadanya saat ini.
"Oh iya tentu saja Nak, si..silahkan masuk !"
Kata guru itu dengan gugup
"Saya hanya ingin mengambil tas saya" Kata Jen dengan dingin dengan tatapan kosong
"Silahkan nak silahkan !"
Jen langsung menuju bangkunya dan mengambil tasnya tanpa menghiraukan pandangan dari teman-teman sekelasnya.
Setelah mengambil tasnya, Jen menyalim tangan gurunya dan bergegas keluar kelas.
Setelah kepergian Jen, suasana hening pun kembali menjadi suasana yang riuh, tentu saja membahas mengenai Jen.
"Darma sedang apa ya?" Kata Jen pelan
Lalu Jen berfikir untuk menelphone nya
Tut....Tut....tutt......(memanggil)
Tut.......(Panggilan ditolak)
"Apa-apaan ini ? Ah akan kucoba sekali lagi !" Kata Jen lalu menekan tombol untuk memanggil
Tutt....(panggilan ditolak)
"Mungkin anak kambing satu ini lagi sibuk kali ya ?" Batin Jen. Saat ingin menyimpan ponsel nya, tiba-tiba Darma memanggil dari jauh
"Woy kampret !" Kata Darma kesal sambil berjalan menghampiri Jen
Cek fakta :
Darma sedang menjalani ulangan harian mendadak mata pelajaran biologi, karena Darma belum belajar sama sekali akhirnya dia memutuskan untuk menanyakan hal ini kepada seseorang yang sangat ahli dibidang manapun yaitu "Mbah Google".
Darma menyelipkan ponsel nya di kantong celananya, sebenarnya dia agak takut karena ada kamera C CTV yang memantau setiap saat. Namun guru yang mengawasi mereka terlihat mengantuk, maka murid-murid pun mengambil kesempatan untuk menggunakan ponsel masing-masing dan bersembunyi agar tidak ketahuan oleh kamera.
Disaat suasana sedang aman - aman saja,
tiba-tiba ponsel Darma berbunyi
tuan ada telphone masuk....
tuan ada telphone masuk.... (suara panggilan)
Mendengar suara itu, semua murid langsung merasa was-was dan jantung mereka berdegup kencang. Mereka langsung melotot kearah Darma dan menyuruh untuk mematikan ponselnya.
Tutt...(menolak panggilan)
Setelah menolak panggilan, ternyata Jen menelphone lagi
tuan ada telphone masuk...........
Tut.....(menolak panggilan)
Saat sibuk menatap layar ponselnya, tiba-tiba pak Iwan datang ke meja Darma dan menarik ponsel nya.
"Berikan dengan baik-baik !" Kata pak Iwan sambil menyodorkan tangannya
"Eh... anu pak, Jen menelphone saya" Kata Darma dengan wajah polos
"Ha ? ba.. bagaimana keadaan nya sekarang ?" Tanya pak Iwan dengan serius
"Saya tidak tahu pak, saya akan menanyakannya nanti secara langsung padanya setelah ujian ini selesai"
"Biar saya yang akan menelphone nya balik" Kata pak Iwan
"Ti.... ti... tidak usah pak"
Pak Iwan langsung merampas ponsel milik Darma, namun pak Iwan melihat bahwa Darma baru saja mencari jawaban di Google.
"apa yang dimaksud dengan enzim?"
enzim adalah bla....bla.....bla*...
"Berikan kertas ujian mu?" Kata pak Iwan
Darma tidak memberikannya dan akhirnya pak Iwan merebut paksa
Krekkkkk......,(merobek kertas)
"Keluar dari sini sekarang juga !" Bentak pak Iwan
"Heh.... gara-gara si Jen kampret ni, btw kabar dia sekarang gimana ya?" Batin Darma
"Eh itu kan dia. Jen !" panggil Darma
sambil berjalan menghampiri Jen
"Kenapa kau menolak panggilan ku?" Tanya Jen
"Sebenarnya tadi......" Darma menceritakan semua kejadiannya
"Oh.... maaf ya aku tidak sengaja, aku hanya ingin mengatakan kalau aku akan pulang duluan" Kata Jen dengan nada bersalah
"Tak apa, lagipula kau harus beristirahat"
"Baiklah, aku akan pulang"
"iya hati- hati ya"
Jen hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Datang kemarkas, ada hal penting yang harus kita bahas" Kata Adi pada Jen
"iya"
Jen berangkat menaiki sepeda motornya menuju markas.
Setelah beberapa saat akhirnya Jen sampai dan naik menuju lantai 20. Sampai diruangan itu, Jen langsung duduk dan menyambar secangkir kopi yang ada di meja tanpa menanyakan siapa pemiliknya.
"Hei bocah ! itu kopi milikku !" Bentak Very
"Kau bisa membuatnya lagi, aku sangat harus dan juga sangat lapar" Kata Jen santai
"Itu bukan urusan ku !" kata Very
" Kakak Adi tolong pesankan aku makanan, perut ku sangat kelaparan dan aku hampir mati!" Kata Jen kepada Adi
"Baiklah adik " Kata Adi sambil mengusap kepala Jen
Mereka yang ada di ruangan itupun merasa jengkel karena Jen hanya ramah dan sopan kepada Adi bahkan Jen memanggil Adi dengan sebutan Kakak
"Apa liat-liat ?" Kata Jen kearah mereka yang memandangi Jen dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
Mereka langsung membuang muka setelah dipelototi Jen.
Saat disekolah tadi, Jen merasa sangat kacau dan hatinya kosong. Tapi saat bersama team barunya dia merasa hangat dan merasa bahagia walaupun mereka tidak terlihat akur sejak pertama bertemu.