Before The Sunrise

Before The Sunrise
Eps 36 Back home



Jen kembali ke rumah Daron. Banyak mata yang menatap kearahnya.


Jen merasa tidak nyaman, kemudian dia merangkul tangan Daron.


Daron menyadari ketidaknyamanan putrinya itu.


Drakkk


Daron menghentakkan kaki kanannya ke lantai dan terdengar cukup kuat hingga beberapa pelayan kaget.


"Dengar kalian semua ! Hormati putri saya seperti kalian menghormati saya. Paham !"


Bentak Daron


Para pelayan hanya diam menunduk dan tidak berani untuk menatap Daron.


"Apa kalian dengar ?!" Tegas Daron lagi


"Dengar Tuan" Jawab mereka serentak


Dari kejauhan, See memperhatikan Jen dengan tatapan sinis.


Sebenarnya See bukanlah wanita berkarakter antagonis, tapi dia hanya khawatir kalau Jen nantinya memiliki tujuan buruk pada Daron.


"Dimana See ?" Tanya Daron pada para pelayan


Tanpa dipanggil, See langsung datang menampakkan dirinya ke hadapan Daron.


Daron memerintahkan See untuk mengantar Jen ke kamarnya.


Setelah itu Daron berniat untuk kembali pergi, namun Jen menahannya.


"Tunggu ! Biar Aku yang akan mengurus Roy" Kata Jen mendadak


Daron menghentikan langkahnya dan tersenyum lebar pada Jen.


"Itu baru putriku, baiklah semua urusan ini papa serahkan padamu" Sahut Daron


Jen hanya membahas degan sebutkan Dan kedua tangannya mengepal keras di samping badannya.


Daron segera berjalan untuk memasuki rumahnya.


"Very, mari ikut saya !" Kata Daron sambil tetap berjalan


"Baik Tuan" Sahut Very


See mengajak Jen untuk mengikutinya ke kamarnya.


Tanpa suara, Jen mengikuti See. Sebenarnya Jen masih merasa kesal terhadap perkataan See tentang dirinya.


Namun Jen sedang tidak ingin bertengkar. Saat ini, tujuan utamanya adalah menghancurkan Roy. Jen sudah berusaha untuk melupakan masa lalunya yang kelam dan menyakitkan. Tapi hari ini Roy kembali bertingkah keterlaluan.


"Aku akan menghancurkan mu !" Batin Jen


"Disini kamarmu, Aku akan menyuruh para pelayan untuk segera mengisi kenari pakaianmu" Kata See


Jen langsung masuk ke dalam kamar itu tanpa menatap wajah See.


Saat sudah membelakangi See, Jen berhenti.


"Aku masih mengingat perkataanmu tadi, sekali lagi kau mendampingiku memancing kemarahanku, Aku akan menghabisi mu !" Kata Jen, lalu menutup keras pintu kamarnya


See menatap pintu yang tertutup dengan keras di depan matanya.


Ada rasa kesal dihatinya, namun dia berusaha untuk bersabar.


Keesokan paginya


Waktu menunjukkan pukul 05:00


Jen segera bangun dari tempat tidurnya dan memasuki kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Jen bersiap untuk pergi ke sekolah.


Setelah mandi, Jen tidak langsung memakai seragam sekolahnya. Namun memakai pakaian rumah.


Jen menuruni anak tangga dan melihat kondisi rumahnya masih sangat sepi. Pelayan rumahnya juga belum bangun.


Jen berjalan menuju dapur untuk mendaki sarapan pagi untuknya.


Lauk yang sangat sering di konsumsinya menjadi jalan alternatif untuk segera mengisi perutnya yang sudah keroncongan, yaitu telur goreng.


Suara penggorengan Jen menggema di ruangan yang besar dan sepi itu hingga membuat satu pelayan yang sudah tua terbangun.


"Tuan, biar saya saja yang menggorengnya. Tuan duduk saja ya" Kata Iyem


Setelah telurnya matang, Jen memindahkan telur itu ke sebuah piring berisi nasi yang diberikan Iyem.


"Terimakasih Bu" Kata Jen sambil mendudukkan dirinya di lantai


"Tuan makan di meja makan saja ya, nanti...." Belum selesai Iyem bicara tiba-tiba Very datang


Iyem langsung menundukkan kepalanya.


"Maaf Tuan, Saya terlambat bangun" Kata Iyem


Bukannya marah Very justru menatap tajam kearah Jen yang sedang asik makan menggunakan tangannya.


"Biarkan saja, lagipula dia sudah besar. Tidak perlu dimanjakan" Kata Very


Jen tetap melanjutkan sarapan paginya dengan lahap, bahkan mulutnya sampai sangat penuh.


"Uhukk...uhuk..." Jen terbatuk-batuk saat beberapa nasi menyangkut di lehernya hingga 1 butir nasi keluar dari hidungnya.


Iyem dan Very segera bergerak berlawanan arah mengambilkan air untuk Jen.


Iyem menuang air kedalam gelas sehingga membutuhkan waktu. Sedangkan Very langsung mengambil air yang ada di mangkuk di atas meja dan segera memberikannya pada Jen.


Tanpa banyak fikir, Jen langsung mengambil mangkuk itu dan meminumnya sampai habis.


"Tuan, itu air untuk mencuci tangan" Kata Iyem degan gemetar


Jen dan Very saling menatap dan kemudian bersamaan menatap kearah Iyem.


Iyem langsung menunduk dan meminta maaf.


Very berdiri menghampiri Iyem yang semakin gemetar.


"Tidak masalah, lagipula dia sudah baik-baik saja kan. Mungkin dia juga sudah sering minum air hujan" Kata Very sambil tersenyum sinis dan mengangkat sebelah alisnya.


Jen berdiri dan menjilati dari persatu jari-jari tangannya yang masih ada nasi.


Bulu kuduk Very langsung berdiri dan dia merasa akan jijik pada Jen.


Setelah menjilati jari tangan nya, Jen langsung mencengkram wajah Very degan kuat.


Very seketika mual dan muntah ke baju Jen.


"Aaaaa.....Brengsek !" Teriak Jen saat bahu yang baru digantinya dimuntahi oleh Very


"Mbok, urus ya !" Teriak Very sambil berlari


Jen mengambil seikat sayur kangkung dan melemparkannya kepada Very. Namun bukannya mengenai Very, tapi tepat mengenai kepala See yang baru datang.


Jen, Iyem, dan Very langsung melongo.


See mengambil sayur itu dan menghampiri Jen.


"Apa ini ha ? Kamu tidak pernah diajari sopan santun kepada orang yang lebih tua ?!" Bentak See


"Maaf nona See, Tuan tidak sengaja" Kata Iyem


Very yang tidak mau ikut campur pada pertengkaran para wanita langsung melarikan diri.


"Mau ditaruh dimana wajahku nanti" Batin Very


Jen tidak mendengar perkataan See dan tetap menatap kepergian Very.


"Awas kau nanti" Guman Jen


Jen akhirnya meninggalkan dapur untuk kembali mandi dan mencuci pakaiannya.


See hanya menatap kepergian Jen dengan raut kesal.


"Dia fikir aku ini kentut, sehingga dia tidak menghiraukan perkataanku !" Kata See degan geram


Setelah memakai seragam sekolahnya, Jen berangkat ke sekolah dengan diantar oleh supir pribadinya.


Sebelumnya, Jen sudah meminta pada Papanya untuk tidak menyebarkan informasi tentang identitasnya yang sekarang. Karena akan banyak siswa yang mulai mendekatinya demi kepentingan pribadi.


Sesampainya di sekolah, Jen turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih pada supirnya.


Saat Jen memasuki gerbang, banyak sorot mata tajam yang mengarah padanya.


Namun Jen berjalan degan santai tanpa menghiraukan tatapan-tatapan itu.