
Darma menetralkan nafasnya yang terengah-engah setelah selesai melawan 2 orang itu.
Darma langsung menghampiri Jen yang sedang sibuk bermain game dan menarik sebelah tangan Jen.
"Ayo cepat, kita tidak punya waktu" Kata Darma
Jen pun langsung berdiri dan berlari mengikuti Darma yang menarik tangannya dengan kuat dan kencang.
Jen menepuk-nepuk punggung tangan Darma.
"Tanganku masih memar dan lebam kampret !" Kata Jen
Darma refleks dan langsung melepas tangan Jen.
"Hehehe... maaf tuan putri" Kata Darma
"Ayo cepat, kita harus segera keluar dari sini" Kata Darma
Jen mengikuti langkah Darma dan akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan dan di dalam ruangan itu terdapat sebuah lift kuno yang terbuat dari kayu.
Lift itu tidak memiliki pintu, hanya memiliki lantai kayu dan 4 tiang sebagai tempat berpegangan agar tidak jatuh.
Lift itu tidak memakai tombol seperti lift modern, namun menggunakan sebuah pedal panjang yang terbuat dari besi dan kayu.
Lift itu hanya memiliki 1 tujuan, yaitu ke lantai terbawah.
"Ayo cepat masuk !" Kata Darma saat sudah berdiri di dalam lift
"Maaf aku yang menyebabkanmu terseret dalam masalah ini" Kata Jen
"Aku adalah sahabatmu, dan aku akan melindungimu" Kata Darma sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Jen. "Ayo masuk!"
"Tidak, aku harus menangkap Bara. Misi ku belum selesai, Team ku sudah menarik mundur seluruh anggotanya. Aku harus melanjutkannya sendiri !" Batin Jen sambil melepas Jam tangannya dan meletakkannya di lantai.
"Ayo cepat" Kata Darma
Jen langsung berjalan kearah pedal di samping lift kayu itu dan menurunkan pedal itu.
"Maaf Darma, aku tidak bisa lari. Pulanglah, aku akan pulang setelah semua selesai ! " Kata Jen
"Tidakk !! Jen !" Teriak Darma saat lift itu langsung turun kebawah dengan kecepatan tinggi
Jen langsung berlari mencari keberadaan Bara.
Saat Jen membuka pintu, ternyata Bara dan anggotanya sudah menunggu di luar.
Satu tendangan langsung menyambut kedatangan Jen.
Jen dorong mundur kebelakang sambil memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit.
"Sial !" Kata Jen
Anggota Bara langsung maju, dan Jen mengambil pistolnya dan menembak ke dada orang itu hingga orang itu jauh pingsan.
Bara yang merasa kaget langsung melarikan diri karena dia tidak memiliki senjata sama sekali.
"Aku tidak boleh tertangkap !" Kata Bara
"Sekarang tinggal dia seorang" Kata Jen
Jen memasukkan pistolnya ke saku celananya dan langsung berlari mengejar Bara.
Bara berlari mencari lift dan lift terdekat berada di lantai 19, dia harus berlari menaiki anak tangga agar sampai.
Jen mengikuti dari belakang, beberapa kali menembak ternyata tidak tepat sasaran hingga dia kehabisan peluru.
Jen menang petarung yang hebat, namun kalau urusan menembak, sepertinya belum bisa dia kuasai.
"Pistolku tinggal 1 lagi, sebaiknya aku gunakan nanti" Guman Jen sambil tetap berlari menaiki anak tangga.
Bara memasuki sebuah lift dan lift itu menunjukkan tujuan ke lantai 1.
Jen memasuki lift disebelahnya.
Setelah sampai di lantai 1, Bara langsung berlari menuju pintu belakang gedung dan Jen mengikutinya.
Setelah sekitar 100 meter dari pintu keluar, ada sebuah pagar besi membentang dan membatasi wilayah gedung dan hutan belantara.
Bara memanjat pagar itu dan lari memasuki hutan belantara itu.
Jen mengikutinya dari belakang. sesampainya di depan pagar, Jen berhenti dan mengambil sebuah bambu untuk dijadikan alat loncatan.
Dengan sekali ayunan, Jen langsung mendarat ke balik pagar.
"Woi, jangan lari !" Kata Jen
Bara berlari semakin ke dalam hutan itu dan Jen tetap mengejarnya.
"Sebenarnya kemana tujuan orang ini ?" Batin Jen
Langkah kaki Jen semakin cepat mengikuti Bara. Suara patahan ranting yang telah tua terdengar bersahut-sahutan saat mereka menginjaknya.
Dedaunan kering juga mengeluarkan suara lapuk saat terinjak.
Bara dengan lihai melompati batang-batang pohon yang telah tumbang.
Jen terlalu fokus berlari dan memandang Bara hingga tidak terlalu memperhatikan kalau di depannya ada dahan pohon yang cukup besar.
Brukk
Jen tersandung dahan itu hingga akhirnya jauh ke tanah.
"Awwww" Ringis Jen
Bara tidak mengetahui kalau Jen terjatuh dan tetap melanjutkan langkahnya.
Bara sering memasuki kawasan hutan ini, jadi dia sudah hafal lokasi-lokasi nya.
Bara berencana untuk lari menyusuri hutan hingga akhirnya sampai tembus ke sebuah desa kecil. Di desa itu dia memiliki banyak teman dan Bara akan meminta pertolongan kepada mereka.
Namun untuk sampai ke desa itu bukanlah hal yang mudah, karena di dalam hutan Terdapat hewan-hewan buas seperti harimau, buaya dan ular.
Biasanya Bara menyusuri hutan itu bersama dengan beberapa anggotanya dan dengan berbekalkan senjata.
Entah apa yang dipikirkan Bara, yang jelas saat ini otaknya sedang buntu.
Gelar yang disandangnya sebagai ketua Gangster X bukan karena kecerdasannya sendiri, namun karena bantuan dari Gangster death yang sekarang sudah menjadi musuhnya.
Jen kembali berdiri dan melanjutkan langkahnya.
Bara tidak melihat Jen lagi dan dia berjalan menuju sebuah sungai kecil untuk minum karena tenggorakannya terasa sangat kering.
Di gabungkannya kedua telapak tangannya membentuk sebuah mangkuk, lalu menahu air itu ke dalam mulutnya.
"Ahhhhh Segar" Kata Bara
Suara langkah kaki Jen kembali terdengar.
Bara kembali berlari melewati sungai itu.
"Woy berhenti !" Kata Jen
Jen melihat ada anak buaya berukuran kira-kira 50 cm di sampingnya.
Tanpa fikir panjang, Jen langsung mengambil anak buaya itu dan melemparkannya kepada Bara yang jaraknya masih dekat.
"Hwaaaa" Teriak Bara saat buaya itu mendarat di punggungnya
Bara langsung menyingkirkan buaya itu dan berlari dengan secepat mungkin.
"Sial !" Kata Jen
Jen melewati sungai itu dan kembali mengejar Bara.
Jen merasa tidak terlalu merasa lelah karena Adi memberikan latihan yang benar-benar tepat untuknya.
Langkah kaki Jen mendadak berhenti saat melihat 3 ekor buaya besar yang tiba-tiba muncul karena melihat Bara melintas.
Mungkin buaya itu merasa terganggu hingga memutuskan untuk keluar dari sarangnya.
"Sepertinya aku melewati pohon saja " Batin Jen
Jen menyadari kalau pohon di hutan itu memiliki dahan yang cocok untuk dirinya bergelantungan sambil mengejar Bara.
Jen tidak mungkin berkelahi dengan buaya, justru dirinya akan menjadi santapan buaya itu.
Jen mulai bergelantung dari satu dahan ke dahan lain seperti seekor kera.
Setelah melewati kawasan buaya itu, akhirnya Jen turun dan kembali berlari.
Jen melihat seekor ular sanca yang tidak terlalu besar dan mengambilnya.
Setelah menangkap ular itu dengan cara mencekik lehernya, Jen melemparkankan ular itu ke bara yang berjarak beberapa meter.
Ular itu mendarat di kepala Bara dan akhirnya jauh ke tanah.
Bara mengambil ular itu dan kembali melemparkannya kepada Jen. Jen menghindar saat dilempar dan melihat ada ujar lagi di pohon lain, dia langsung mencekik leher ular itu dan melemparkannya lagi kepada Bara.
Disisi lain, Bara juga mengambil ular yang melintas didepannya dan melemparkannya kepada Jen.
Disaat orang lain bertengkar, mereka akan saling melempar bom atau minimal batu.
Namun lain halnya dengan Jen dan Bara yang saling melempar ular yang tak tau apa-apa, sungguh malang nasib ular-ular itu.
Jen berhasil menarik baju Bara dan Jen langsung mencekik lehernya dari belakang.
"Ayo ikut anak pintar" Kata Jen
Bara melawan dan membungkukkan badannya agar tubuh Jen terangkat dan Bara langsung membantingkannya ke tanah.
Bara berniat untuk menginjak perut Jen, namun Jen mendadak bangkit dengan cepat.
"Ayo lawan aku pengecut" Kata Jen
Bara menerima tantangan Jen dan langsung menyerang dengan tendangan kuat ke arah perut Jen.
Jen menangkisnya dan langsung menyerang balik dengan 1 pukulan ke wajah Bara.
Bara menarik kakinya dengan kuat hingga terlepas dari genggaman Jen.
"Maju !" Kata Bara sambil menaikkan jari tangannya
Jen langsung salto dan mendaratkan kedua kakinya di leher Bara. Dengan gerakan kilat, Jen langsung melakukan guntingan di leher Bara hingga bara terbanting ke tanah.
Brukkk
"Arggghhhh" Teriak Bara
Jen berusaha untuk mengikat tangan Bara, namun Bara langsung bergerak melawan.
Bara menjambak rambut Jen dengan kuat hingga Jen terguling dari atas punggung Bara ke tanah.
"Aaakkkk, lepaskan !" Kata Jen
Wanita petarung menang kuat, namun sehebat apapun dia jika rambutnya di jambak maka dia akan berteriak seperti betina pada umumnya.
Jen tidak tinggal diam dan menarik sebelah telinga Bara dengan kuat hingga bara juga berteriak.
Suara mereka menggema di hutan yang sunyi itu, hingga beberapa orang utan berdatangan dan menggelantung di pepohonan untuk menyaksikan pertarungan mereka.
Bara Dan Jen akhirnya bertarung dengan cara bergulat di tanah.
Mereka saling mencekik satu sama lain, terkadang Jen juga menggigit lengan Bara hingga berdarah.
Bara juga tak tinggal diam dan kembali menjambak rambut Jen dengan kuat.
Mereka bertarung seperti di panggung MMA dan penontonnya adalah orang utan beserta hewan-hewan penghuni hutan lainnya.
Bara merasa kali ini harga dirinya sudah benar-benar rusak karena bertarung dengan gadis SMA sambil menjambak rambut.
"ku lepaskan rambutmu, tapi lepaskan jenggotku" Kata Bara karena sudah menyerah
"Oke, kita hitung 3, 2, 1,..."
Jen langsung melepas cengkeramannya dari jenggot Bara dan Bara juga melepas cengkeramannya dari rambut Jen.
Bara langsung mengambil kesempatan untuk lari.
"Woii " Teriak Jen
Bara berlari dengan kencang dan langsung berhenti mendadak karena di depannya ada seekor harimau yang seakan-akan ingin segera menerkam dirinya.
Harimau itu langsung menyambar Bara dan menggigit sebelah kaki Bara hingga kakinya putus. Tak sampai disitu, Harimau itu juga mencakar-cakar tubuh Bara hingga baju dan kulitnya robek, tubuh Bara di penuhi dengan Darah.
Jen langsung berhenti saat melihat kondisi Bara dan mengambil pistolnya.
Jdarrr
Harimau itu langsung terjatuh ke tanah.
Jdarrr
Jdarrr
Kedua harimau itu langsung jatuh tergeletak ke tanah.
Jen langsung menghampiri Bara yang masih hidup, tapi kondisinya sangat kritis.
"Seandainya tadi kau tidak lari, maka nasibmu tidak akan seperti ini bodoh !" Kata Jen sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Sekarang bagaimana caranya aku menolongmu ha ?" Bentak Jen
"Pergilah, sebentar lagi kawanan harimau lain akan segera datang" Kata Bara
"Tidak, aku tidak mungkin membiarkanmu dimakan oleh harimau itu. Aku juga punya rasa kemanusiaan" Kata Jen
"Aku tidak mungkin bisa selamat lagi" Kata Bara dengan kata yang terputus-putus
Jen langsung berdiri saat mendengar suara kaki gerombolan hewan Berlari kearahnya.
"Tu... tunggu" Kata Bara sambil merogoh kantong bajunya dan mengambil sebuah USB berwarna hitam
Jen menoleh dan mengambil USB itu dari tangan Bara.
"Jangan sampai jatuh ke tangan Aline ketua Gangster death. Negara ini akan hancur" Kata Bara
Jen tidak bertanya lagi dan hanya mengambilnya dari tangan Bara yang sudah terluka parah.
Bara juga memberikan sebuah kalung dengan liontin berwarna ungu kepada Jen.
''Berikan ini pada putri ku, dan katakan aku menyayanginya. Maaf atas kematian ibumu" Kata Bara, lalu Bara langsung menutup mata dan detak jantungnya juga hilang, nafasnya tak ada lagi. Dia telah mati.
Jen bingung harus menunjukkan ekspresi apa kali ini.
Disisi lain, Bara tidak akan membunuh orang lagi dan disisi lainnya, dia sedih karena kematian Bara begitu menyedihkan.
5 ekor harimau mendadak muncul, Jen langsung berdiri dan menembaki mereka satu persatu.
Jdarrr
Jdarrr
Jdarrr
Jdarrr
Jdarrr
Kelima harimau itu langsung pingsan karena terkena tembakan Jen. Dalam beberapa Jam lagi harimau itu akan kembali sadar, atau mungkin besok.
Jen sudah kehabisan peluru karena tembakannya banyak yang meleset.
Seekor harimau lagi mendadak muncul, Jen kaget dan langsung terjatuh ke tanah.
Harimau itu sudah bersiap untuk menerkam Jen dari Atas namun......
Jdarrr
Sebuah tembakan berhasil menembus dada harimau itu. Percikan darahnya jauh ke wajah Jen.
Harimau itu langsung tergeletak tak berdaya di tanah sebelum akhirnya tewas.
Jen menatap kearah penembak itu dan dia mengenali orang itu.....
"Jaya " Kata Jen
Jen langsung berdiri sambil memegang belati yang ada di saku celananya dan langsung mengarahkannya pada Jaya.
"Sabar dong sabar" Kata Jaya sambil mengangkat kedua tangannya
Jen pun menurunkan belatinya dan mendekat kearah Jaya.
"Ikut denganku ke kantor aparat, maka kau tidak akan mati di sini" Kata Jen Dan langsung berjalan, namun tiba-tiba tubuhnya sangat lemas dan hampir terjatuh kalau Jaya tidak langsung menangkapnya.
"Biar ku gendong'' Kata Jaya
Tanpa menunggu persetujuan Jen, Jaya langsung menggendong Jen di punggungnya.
Jaya menurunkan Jen, saat sudah sampai di pinggir sungai dan memberikan air untuknya.
Jen menolak dan mengambil air itu sendiri.
"Kenapa kau ada disini ?" Tanya Jen
"Untuk melindungimu" Kata Jaya sambil tersenyum
Jen yang merasa sudah pulih langsung berdiri dan mengambil sebuah bambu untuk dijadikan tempat air sebagai perbekalan selama perjalanan nanti.
Jen memotong bambu itu dengan ukuran 1 meter dan mengisi air kedalamnya. Untuk tali bambu itu, Jen menggunakan akar pohon beringin.
"Biar aku yang bawa" Kata Jaya sambil meminta Bambu itu
"Hah ? Aku tau akal bulusmu ferguso !, di saat aku haus nanti kau tidak akan memberikan air ini padaku dan kau akan memperbudak ku kan " Kata Jen sambil menyandang bambu itu
Jaya yang mendengar tuduhan Jen hanya diam dan merasa loyo.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Hari mulai gelap dan matahari berubah menjadi warna jingga. Cahaya yang masuk menembus pepohonan terlihat sangat indah.
"Sebentar lagi malan akan tiba, ayo cari makan" Kata Jaya
Jen langsung mengarahkan pandangan tajam kearah Jaya dan akhirnya matanya tertuju pada suatu sumber suara, yaitu perut Jaya.
''Perutku sangat lapar" kata Jaya sambil mengelus-elus perutnya yang berisik
Jen justru tetap melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanan seolah-olah tidak peduli pada perut Jaya yang sedang dilanda krisis moneter.
"Kalau bukan disuruh oleh Tuan Daron, aku tidak akan kemari" Kata Jaya pelan
Ternyata Jen mendengar perkataan Jaya dan langsung menghentikan langkahnya.
Jen menodongkan pisaunya ke leher Jaya
"Apa maksud perkataanmu ? Daron siapa ?" Tanya Jen dengan wajah serius
"Da... Daron papamu" Kata Jaya
Pisau yang ada di tangan Jen langsung terjatuh ke tanah, perlahan kakinya mundur dan detak jantungnya berdetak kencang.
Jaya sudah bersiap-siap untuk mendapat serangan dari Jen.
"Pasti dia akan marah dan mengira aku gila" Batin Jaya
Diluar dugaan, Jen malah langsung melompat-lompat kegirangan.
Mata Jaya melotot hampir keluar.
"Bukannya seharusnya kau memukulku karena mengungkit mengenai papamu yang kau kira sudah mati ?" Tanya Jaya dengan Bingung
Jen justru hanya tersenyum-senyum dan kembali berjalan.
"Apa kau lapar ?'' Tanya Jen
"I... iya"
Jen berjalan menuju sebuah pohon besar dan menangkap seekor ular piton yang tidak terlalu besar ukurannya.
Setelah mendapatkannya, Jen langsung memenggal kepala ular itu dengan belatinya dan meminum darahnya.
Jen memberikan ular itu kepada Jaya agar Jaya juga meminumnya.
Jaya masih membeku di tempatnya saat melihat ulah Jen.
Menangkap ular dan langsung memenggal kepalanya. Setelah itu langsung meminum darahnya dan sekarang ular itu diberikan kepada Dirinya
"Apa kau benar-benar seorang gadis ?" Kata Jaya sambil menerima ular itu dan ikut meminumnya, walau dengan perasaan jijik.
"Saat tersesat di hutan ataupun di tempat yang tidak ada makanan, Darah ular adalah solusi yang tepat untuk perut yang lapar. Tapi bukan jenis ular beracun" Kata Jen
"Kenapa ?" Tanya Jaya pura-pura bodoh
"Kalau mau tahu, cobain aja sendiri !" Kata Jen
Jaya langsung tersenyum kecut mendengar ucapan Jen.
"Bawa ular itu, biar kita panggang untuk makan malam ! " Kata Jen
Jaya merasa dirinya seperti seorang anak yang sedang di omeli oleh ibunya, padahal dirinya lebih tua daripada Jen.
"Cepat !" Kata Jen
Jaya langsung berjalan mengikuti Jen dan akhirnya mereka sampai di suatu tempat di bawah pohon besar.
"Sebaiknya kita beristirahat disini malam ini" Kata Jen sambil bergerak mengumpulkan ranting pohon yang telah jatuh.
"Berdua" Kata Jaya
"Bertiga sama mahkluk penghuni hutan ini !" Kata Jen
"oh" Kata Jaya
Jen menghidupkan api unggun dan sekalian memanggang daging ular itu setelah kulitnya di pisahkan dari dagingnya.
Setelah matang, akhirnya mereka makan degan sangat rakus. Perut mereka terasa sangat kosong, terutama Jen yang sangat lelah berlarian dan bertarung sejak tadi siang.
Malam semakin larut, Jen menyenderkan tubuhnya ke batang pohon.
"Bagaimana dengan papaku ? Beberapa hari ini aku juga menduga kalau dia masih hidup dan ternyata itu benar" Kata Jen sambil tersenyum
"Iya, sebenarnya....." Jaya memberitahukan semua yang dia ketahui tentang Daron.
"Jadi ayahmu adalah mantan anggota papaku"
"Iya, dan sekarang aku kembali menjadi anggotanya menggantikan ayahku. Tuan Daron sangat berjasa di hidupku" Kata Jaya
"Ohh" Kata Jen
"Ku fikir kau akan marah pada papamu karena sudah meninggalkan kalian, seperti di sinetron"
"Ini bukan dunia sinetron, aku tidak sabar untuk bertemu dengannya" Kata Jen sambil mengepalkan tangannya dan merapatkan giginya
Jaya hanya menatap Jen dan menebak perasaan Jen saat ini, apapun ceritanya Jen pasti tetap merasa marah.
Jen lalu memejamkan matanya dan tertidur pulas sambil mendengkur.
Jaya tetap berjaga agar tidak ada hewan buas yang menyerang.
Tiba-tiba terdengar sebuah helikopter mendekat kearah mereka. Jaya langsung melihat Jam tangannya dan menandakan musuh datang.
Jen terbangun mendengar suara helikopter itu dan langsung mematikan api unggun mereka dengan air yang ada di bambu itu.
Mereka berlari sembunyi ke semak belukar yang tak jauh dari tempat mereka tadi.
"Siapa itu ?" Tanya Jen
"Gangster death, mungkin mereka mendeteksi keberadaan Bara di hutan ini" Kata Jaya
"Mereka semua bersenjata lengkap" Kata Jen
"Berhati-hatilah, kalau sampai ketahuan mati lah kita"
Jaya bersiaga dengan memegang erat pistolnya. Sedangkan Jen hanya bermodalkan pisau belati. Menyedihkan sekali.
Salah satu anggota mereka berjalan menuju lokasi mereka memasang api unggun tadi.
"Sepertinya ada orang di sekitar sini, kayu ini masih mengeluarkan asap dan masih ada tetesan air di sini" Kata mereka
"Cari sampai dapat dan habisi mereka !"
"Baik"
Jen dan Jaya bersembunyi dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan.
Salah satu dari anggota bersenjata itu mendekat ke arah persembunyian Mereka.
Jantung Jen mulai berdegup kencang, terutama saat dia melihat seekor anak katak lompat ke pundak Jaya.
Perlu diketahui kalau Jen takut pada katak walaupun masih sangat kecil.
Jaya berusaha menutup mulut Jen agar tidak berteriak.
"Gadis ini tidak takut pada ular besar, namun takut pada katak sekecil upil" Batin Jaya
"Siapa Disana?" Kata orang itu sambil berjalan mendekati semak itu dan menodongkan senjatanya
Jaya juga bersiap-siap untuk menembak dan begitu juga dengan Jen yang bersiap untuk mati.