Before The Sunrise

Before The Sunrise
eps 27 Daron kembali



Sebuah pesawat pribadi mendarat di bandara Aming dan tak lama keluarlah seorang pria paruh baya bertubuh tinggi dengan mengenakan setelan jas mewah.


Pria itu berjalan dengan di ikuti oleh sekitar 10 pengawal di belakangnya.


Pria itu menuruni anak tangga dengan gaya elegan.


"Selamat datang di tanah kelahiran Tuan besar " Kata seorang wanita sambil membungkukkan tubuhnya di ikuti oleh pelayan lainnya.


Pria paruh baya yang di panggil dengan sebutan Tuan besar itu adalah Daron.


Mobil telah disiapkan dan mereka segera berangkat menuju kediaman baru Daron.


Terlihat senyum tipis menghiasi wajahnya saat melewati rumah yang pernah ia tinggali 18 tahun yang lalu bersama istrinya Riska.


"Tak kusangka, kau sudah pergi jauh sebelum kepulanganku sayang. Padahal aku sudah sangat merindukanmu dan putri kita" Batin Daron


Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam akhirnya Daron sampai ke Rumah barunya di kota Aming.


Sekitar 10 mobil Lamborghini berwarna hitam menyusul dari belakang dan berhenti tepat di halaman Rumah Daron, semua mobil itu adalah milik pengawal khusus Daron.


Pintu Rumah itu segera terbuka dan seorang pemuda tampan keluar dari dalamnya di ikuti beberapa pelayan di belakangnya.


"Tuan, saya sangat merindukan Anda" Kata pemuda itu sambil berjalan menghampiri Daron


"Kemarilah Very" Kata Daron kepada pemuda itu sambil membuka lebar kedua tangannya


Pemuda itu pun berjalan dan langsung menyambut hangat Daron dengan memeluknya. Pemuda tampan itu adalah Very anak angkat Daron dan sekaligus anggota team Celine.


"Hahaha.... putraku sudah besar dan sangat tampan" Kata Daron


"Terimakasih Tuan" Kata Very sambil melepas pelukannya


Sebenarnya Daron sudah beberapa kali menyuruh Very untuk memanggil dirinya Papa, namun Very menolaknya karena merasa tak enak hati.


Daron sudah sangat berjasa di hidupnya dan Very ingin menjadi pelayan Daron sebagai balas budinya.


"Terimakasih karena sudah memberitahu semua informasi tentang keluarga saya. Tapi tolong rahasiakan dulu tentang saya yang masih hidup sampai hari yang tepat" Kata Daron pada Very saat sudah berada di ruangan pribadinya


"Baik Tuan" Kata Very


"Tolong tuntun dan lindungi dia, anggap seperti adikmu hingga suatu saat nanti kalian akan saya jodohkan" Kata Daron


Very pun langsung tersentak mendengar pernyataan Daron.


Very langsung merasakan kengerian, terutama saat mengingat kalau Jen adalah manusia baja yang sangat keras kepala. Namun Very tetap menundukkan kepalanya menandakan "iya".


"Biar gadis itu yang mengambil keputusan akhir" Batin Very


*****


Jen tetap mengikuti langkah pria asing itu melewati sebuah lorong sepanjang 25 meter dan akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan.


"Welcome ladies !" Kata Seorang pria padanya


"Siapa kalian ?" Tanya Jen


"Oh, kami dipihakmu dan tenang saja ini adalah tempat yang aman untuk bersembunyi dari aparat-aparat sampah itu" Kata pria itu


Jen hanya melontarkan senyumannya kepada beberapa orang yang ada diruangan besar itu sambil memandangi layar monitor yang menampakkan aktivitas di luar.


Terlihat bahwa aparat-aparat itu pergi meninggalkan bar karena tidak kunjung menemukan Keberadaan Jen.


"Saya tertarik dengan kamampuanmu. Bagaimana kalau saya memberikan sebuah penawaran ?" Tanya Bara sambil menaikkan sebelah alisnya


"penawaran apa orangtua?" Tanya Jen sambil terkekeh


Anggota Bara yang mendengar itupun langsung tercengang dan melotot tak percaya atas ucapan Jen.


"Hahaha.... menarik sungguh menarik" Kata Bara


Bara memperkenalkan Gangster X pada Jen dan menjelaskan mengenai tugas-tugas beserta upah yang didapatkan ketika berhasil menjalankan misi.


"Mmmm..... siapa pemimpin kalian ?" Tanya Jen setelah mendengar perkataan Bara


"Saya pemimpinnya" Kata Bara


"Aku cukup tertarik dengan upah yang di tawarkan dan sepertinya pekerjaan ini cukup mudah. Tapi......."


"Tapi apa ?"


"Aku tidak mau menjadi anggota rendah" Kata Jen


"Kenapa kami harus menuruti perintahmu ?" kata Ana dengan ekspresi geram


"Jelas saja, aku bukan wanita biasa. Bahkan aku bisa memindahkan kepalamu kebawah dan kaki mu keatas dengan sekali gerak" Kata Jen dengan sombong sambil membakar rokoknya lalu mengisapnya hingga mengeluarkan asap yang cukup tebal


"Sombong sekali bocah ini !" Kata Jaya


Selagi Bara memikirkan permintaan Jen, Jen berjalan menuju sebuah sofa panjang dan duduk sambil menaikkan kedua kakinya.


Jen melihat sebuah Kopi berada di atas meja dan langsung menyeruputnya dengan sangat lahap tanpa meminta izin terlebih dulu dan tak menghiraukan tatapan tajam yang diberikan padanya.


"Apa ?" Kata Jen saat melihat tatapan tajam yang mengarah padanya


"Apa kamu mengizinkan mu untuk minum dan duduk !" Bentak Ana


"Disini aku adalah tamu, jadi tamu adalah raja. Lagipula aku sangat haus Tante" Kata Jen, lalu membaringkan tubuhnya di sofa itu dengan berbantalkan kedua tangannya


Ana yang di panggil Tante pun merasa marah dan mengalahkan tangannya, lalu degan gerakan cepat langsung berlari kearah Jen untuk melayangkan sebuah pukulan. Namun saat hampir mendekati Jen, perutnya langsung di tendang olah Jen hingga Ana terpental mundur kebelakang sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Arrgghh" Ringis Ana


Jen kembali berbaring di sofa itu sambil tersenyum dan menggoyang-goyangkan kedua kakinya.


"Kenapa kau ceroboh Ana !!" Bentak Bara


"Bocah ini sudah keterlaluan Bos " Kata Ana dengan geram


"Kita memang membutuhkan orang seperti dia" Kata Bara


Mendengar hal itu Ana merasa sangat kesal dan mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk melampiaskan kemarahannya.


"Kita tidak tahu bagaimana latar belakang aslinya Bos !" Bentak Ana


"kau berani membentakku ?" Tanya Bara sambil mencengkram dagu Ana


"Ma... maaf bos" Kata Ana dengan lesu


Prrankkk......


Suara keras tiba-tiba terdengar dan mereka langsung menatap ke sumber suara yaitu Jen.


Saat ingin memejamkan matanya yang kelelahan, Jen terganggu dengan suara perdebatan antara Bara dan Ana.


Jen langsung memukul meja di depannya hingga terbelah menjadi 2.


Bukannya marah, Bara justru terpana dan bertepuk tangan


"Wow ... bravo, sungguh diluar dugaan. Meja ini terbuat dari besi dan kau Dengan mudah mematahkannya dengan kedua tanganmu" Kata Bara


"Keren" Karya Jaya yang juga merasa puas dengan anggota baru mereka


"Kalian terlalu berisik, hei Tante !! jangan sampai leher panjangmu itu ku patahkan !"


Kata Jen dengan nada lembut tapi mengancam


Jen kembali memejamkan matanya. Ana terlihat sedikit pucat dan sesekali menelan ludahnya, terasa ada getaran di tubuh Ana karena merasa sedikit takut.


Selama ini, Seluruh anggota gangster X selalu menuruti perkataan Ana dan menghormatinya karena dia adalah salah satu tangan kanan Bara.


Tapi lain halnya dengan Jen yang bahkan berani mematahkan meja di depan Bara meskipun dia hanya sendirian di kandang macan dan sudah tahu kalau Bara adalah pemimpin gangster terbesar di kota Aming dan kero.


"Sial, kenapa aku jadi merasa takut !" Batin Ana


"Urusan kita sudah selesai disini dan seluruh transaksi juga sudah berjalan dengan baik, jadi mari kita kembali ke markas dan mengadakan rapat untuk perekrutan anggota-anggota baru kita" Kata Bara


"Kau akan bekerja bersama Ana" Kata Bara


Ana yang mendengar itu merasa tidak setuju, tapi tidak berani untuk menyuarakannya karena dia tidak mau kalau Bara akan membencinya dan mencampakkannya.


"Bocah ini hanya bermodalkan otot, dan aku akan melawannya menggunakan otak.


Lihat saja nanti bocah brengsek !" Batin Ana


Mereka semua pun berangkat menuju Markas. Jen berada di mobil yang sama dengan Jaya dan mereka hanya berdua, sedangkan Bara berada di mobil lain bersama Ana.


Jaya sesekali melirik kearah Jen yang menutup mata menahan kantuk. Dilihatnya pakaian Jen yang sangat terbuka dan menampakkan setengah gunung kembarnya.


Jaya menghentikan mobilnya dan membuka jaketnya, lalu di titipannya jaket itu ke tubuh Jen agar tertutup dan tak masuk angin.


Jaya kembali melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan sesekali tetap melirik kearah Jen.


"Ternyata dia lebih cantik saat tidur " Batin Jaya sambil tersenyum tipis


Disisi Lain, jaya tidak menyadari kalau ada sebuah alat penyadap dan kamera pengintai berukuran mikro di dalam mobilnya.


Bukan hanya di mobilnya, bahkan Jen juga memasang alat penyadap di mobil bagian luar milik Bara. Dengan begitu Jack dan Celine akan mudah untuk menemukan posisi mereka.


Sesampainya di markas, Jaya membangunkan Jen dan mengambil kembali jaketnya sebelum Jen mengetahuinya.


Markas Gangster X sangat jauh dari kata keramaian dan bangunan berlantai 20 itu menggunakan nama perusahaan "jos" yang bergerak di bidang industri pertanian modern. Karena itulah markas mereka sulit untuk di temukan oleh pihak aparat.


"Aku ke toilet dulu" Kata Jen


"Iya, tadi aku melihat kau minum sangat banyak di bar itu" Kata Jaya


"Minum ? Untung si bodoh ini gak tau kalau itu hanya sirup berwarna merah" Batin Jen


Jen segera menuju toilet terdekat karena sudah kebelet pipis. Setelah selesai, Jen


berjalan menuju pintu masuk.


Tapi 2 orang security mencegahnya masuk karena tidak memiliki kartu identitas Gangster X.


"Silahkan Mbak pulang" Kata salah satu security


Tanpa mendengar ucapan mereka, Jen langsung mencekik leher salah satu dari mereka hingga terangkat beberapa centimeter dari lantai. Setelah wajah orang itu pucat, Barulah Jen melepaskannya dengan kasar hingga orang itu tersungkur ke lantai.


Jen mengahadapi wajahnya kearah satu security lannnya yang berdiri dengan sikap kuda-kuda. Pria itu menyerang Jen dengan tendangan T hingga mengenai pucuk hidung Jen.


Jen yang merasa jenuh pun langsung mengambil pisau yang di ikatkan di pahanya dan menancapkannya ke lengan orang itu


"Aaaahhhhh"


"Cepat katakan di lantai berapa mereka mereka atau ku patahkan kaki dan tanganmu !" Kata Jen dengan tergesa-gesa karena melihat sekitar 15 pria datang dari dalam untuk membantu temannya


"Di lantai 20 " Kata Orang itu


Jen langsung menarik pisau nya dan segera masuk melalui pintu sebelum orang-orang itu lebih dekat.


"Berhenti !" Kata salah satu dari 15 orang itu pada Jen


"Hah, sial kalau aku berhenti pasti mereka akan membunuhku" Batin Jen


Jen melihat kearah lift yang masih penuh dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah tangga manual menuju lantai atas.


Dengan segera Jen berlari kearah tangga itu, namun saat baru naik, 2 orang pria langsung menghadangnya.


Jen langsung melakukan gerakan guntingan ke leher salah satu orang itu hingga orang itu terbanting keras ke lantai


brukkk


Dan orang pria lagi malah berusaha menolong temannya yang terjatuh. Jen mengambil kesempatan untuk segera berlari menaiki satu persatu anak tangga itu.


"Hei berhenti bocah !" Kata salah seorang pria


Jen tetap berlari menaiki tangga itu tanpa alas kaki.


"Pelatihan yang di berikan Adi memang sangat bermanfaat" Kata Jen sambil tersenyum


"300 meter lagi kau akan sampai, Disana sudah ada 5 orang penjaga yang menunggu" Kata Jack


"Sial ! kenapa orang ini baru muncul di saat seperti ini, bukannya dari tadi !" Guman Jen dengan kesal karena keterlambatan Jack berbicara


Orang -orang itu mengikuti Jen berlari menaiki tangga, namun saat masih setengah perjalanan mereka sudah tidak sanggup lagi untuk berlari bahkan berjalan.


Beberapa dari mereka juga terguling kebawah hingga ada yang sekarat karena jauh dari ketinggian 100 meter.


Jen sampai di lantai 20 dengan nafas yang terengah-engah. Belum sempat menarik nafas secara teratur, seorang pria langsung datang menyerang Jen dengan tangan kosong.


Tanpa adanya perkelahian panjang, orang itu langsung jatuh dengan singkat.


Saat orang itu berlari menyerang, Jen juga ikut maju dan langsung menangksp leher orang itu, lalu diputarnya hingga hampir patah.


"Arggghhhh" Kata orang itu lalu tersungkur ke lantai


Jen mengeluarkan pisau nya dan menyambut 4 orang yang datang menyerangnya secara bersamaan.


Jen tidak merasa terlalu takut karena sejak kecil, dia sudah sering berkelahi dengan preman - preman jalanan.


Rasa sakit yang dideritanya selama belasan tahun, perlahan membentuk fisik dan mentalnya menjadi sebuah kekuatan.


Setelah pertarungan selesai, terlihat banyak bercak darah di lantai dan wajah Jen terlihat mengalami lebam dan ada darah yang menetes dari pelipisnya.


"Dimana Bara ?" Tanya Jen


"Di aula nyonya" Kata salah satu orang itu sambil gemetar


Orang itupun memberitahu lokasi aula rapat.


*****


"Dimana bocah itu ?" Tanya Bara setelah menunggu sekitar 20 menit


"Mungkin dia sudah tak bernyawa lagi bos" Kata Ana


"Apa maksudmu ?"


"Bukankah orang asing dilarang masuk ke sini ? jika berani melawan maka nyawanya akan hilang" Kata Ana


"Benar juga " Kata Bara dengan sedikit lesu


"Hahaha.... bocah bodoh yang malang itu pasti sudah mati. Aku memang sangat pintar " Batin Ana sambil tersenyum tipis


Brakkkkkk.....


Pintu terbuka dengan keras, lalu menampakkan seorang gadis berbaju merah dengan tetesan darah mengalir dari pelipisnya dan membasahi pipinya.


Jen menendang pintu Aula itu dengan keras karena merasa sangat marah. Bisa-bisanya mereka tidak memberikan kartu identitas pada Jen, hingga harus bertarung.


Orang-orang yang berada di dalam ruangan itupun tersentak kaget, terutama saat Jen menampakkan dirinya. Jelas yang paling kaget adalah Ana.


"Luar biasa" Kata Bara sambil bertepuk tangan


"Apa kalian ingin membunuhku !!" Bentak Jen


"Maaf ya, ini kesalahan Ana karena dia lupa untuk memberikan tanda pengenalmu" kata Bara sambil tersenyum lebar


Bara pun menyuruh Ana untuk meminta maaf.


Ana dengan berat hati menurutinya agar Bara tidak membenci dirinya


Di ruangan itu terlihat sekitar 100 orang pria bercampur wanita yang seumuran dengan Jen. Mereka adalah anggota-anggota yang baru direkrut oleh Bara. Tapi bara lebih menyukai Jen karena mereka sangat berbeda, Jen adalah sosok yang sangat tangguh dan tidak memiliki rasa takut dihadapan Bara. Sedangkan orang-orang baru itu sangat hormat dan tak berani menatap Bara.


"Waduh kok ramai ? Jantungku jadi berdegup kencang nih. Fokus Jen, fokus ! Ayo akting lagi !" Guman Jen dalam batinnya.


Dan yang sebenarnya, Jen tidak sepenuhnya berani. Semua yang terjadi seperti kesombongan, tempramen dan kesadisan yang dilakukannya di bar adalah sebuah Drama yang sudah di rencanakan dan disusun oleh Celine beserta team nya.


Aparat yang diserang Jen juga merupakan teman-temannya sebagai alat penyokong.