Before The Sunrise

Before The Sunrise
eps 30 Gangster X terbasmi



Andy berusaha melarikan diri dengan memacu kecepatan mobilnya di saat Celine menembaki peluru kearah mobil lawan.


Saat Andy mengira sudah bebas, tiba -tiba sebuah bom mengarah ke mobilnya


Jdarrrr


Mobil Andy pun meledak dan terbakar.


"Andy.......!!" Teriak Celine dari dalam helikopternya


Mata Celine tertuju ke arah sebuah pesawat jet lain dan dapat dipastikan itu bukan milik dari teamnya.


pesawat itu menembaki heli yang dinaiki Celine.


"Siapa mereka ?" Tanya Celine pada pilotnya


"Sepertinya milik Gangster X"


Celine mengambil sebuah senjata AK - 47 yang sangat cocok untuk tembakan jarak dekat maupun jarak jauh.


darr darr darrr


Suara sahut-sahutan tembakan bergemuruh di langit pada sore hari menjelang malam.


Penduduk sekitar tak ada yang berani untuk keluar dari dalam rumah masing-masing.


Media dilarang untuk menyorot peperangan itu demi kebaikan bersama.


"Kurang ajar !" Kata Celine saat dia kehabisan peluru


"Sekarang bagaimana ?" Tanya pilot


"Pergi"


Pilot itu langsung menerbangkan helikopternya pergi menjauhi pesawat milik Gangster itu.


Celine masih terpaku dengan kejadian yang meledakkan mobil milik Andy.


"Selamat jalan dy, hiks...hiks" Kata Celine


Tak disangka ternyata pesawat gangster tetap mengikuti mereka dan menyerang dari jarak jauh.


Helikopter Celine berguncang setiap kali terkena tembakan.


"Berusahalah sebentar lagi, mereka akan segera datang" Kata Celine pada pilot itu


Jdarr


Sebuah tembakan berhasil menembus kaca samping helikopter Celine dan tembakan itu mengenai pundak pilotnya.


"Cihh.... berani sekali mereka memancing kemarahanku" Guman Celine


Celine mengambil alih sebagai pilot dan menyuruh pilot itu untuk menutup lukanya.


*****


Jen memasuki ruangan berikutnya dan tak terlihat apapun di ruangan itu.


Lampu mendadak menyala dan menerangi ruangan itu.


"Hahaha.... sudah kuduga kau pasti bisa melewatinya" Kata Bara yang berdiri di ujung ruangan itu


"Cih" Kata Jen sambil melangkahkan kakinya menuju Bara.


Namun saat Jen berjalan beberapa langkah, tiba-tiba tubuhnya seperti tersendat listrik namun dengan tekanan yang tidak terlalu tinggi.


"Aaaaa...." Teriak Jen


Setelah cukup lemas, Jen langsung melangkah mundur dan mengatur pernafasannya kembali.


Setelah menggunakan ilmu batinnya, ternyata Jen melihat terdapat jebakan-jebakan di depannya itu.


Jebakan itu terlihat seperti sinar Laser yang sangat tipis, namun tidak terlihat dengan mata telanjang karena kondisi ruangan yang sangat terang.


Jen bisa menggunakan ilmu batin, atau pada Zaman modern bisa disebut dengan ilmu tenaga dalam. Ilmu itu biasanya di ajarkan di saat seseorang mengikuti suatu beladiri lokal yang diciptakan oleh para leluhur dan diwariskan secara turun-temurun kepada generasi selanjutnya.


Seseorang yang dapat menguasai ilmu kebatinan itu akan dapat melihat dalam kegelapan, menenangkan fikiran, dan lain-lain.


"Bagaimana caramu selanjutnya, bocah tengik ?" Kata Bara sambil tersenyum lebar


Jen segera berdiri tegak dan menutup matanya.


Tangan dan kakinya mulai bergerak dengan gemulai. Yang dilakukan Jen adalah mengaktifkan ilmu kekebalan dan untuk mengaktifkannya, Jen harus melakukan gerakan kunci atau biasa disebut dengan jurus pembuka.


Setelah melakukan gerakan jurusnya, Jen langsung melakukan salam penutup dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


"Salam" Kata Jen sambil berjalan menuju Bara


"Sial ! ternyata dia menguasai ilmu itu, pasti sengatan ini tidak akan berpengaruh" Guman Bara, lalu segera pergi meninggalkan Jen


Jen langsung berlari mengikuti Bara dan ternyata jebakan itu tidak berpengaruh padanya.


Sengatan itu menang terasa setiap kali Jen menyentuh sinar laser itu, namun dirinya tidak akan mati karena terkena sengatan itu.


"Woy berhenti !" Kata Jen


Bara berhenti di sebuah ruangan yang cukup luas dan membuka jaketnya.


Terlihat otot-otot kekar dan besar di lengan Bara.


"Sudah lama aku tidak bertarung dan sekarang akhirnya aku mendapatkan lawan yang sepadan" Kata Bara sambil menggerak-gerakkan otot lengannya.


"Banyak bacot !" Kata Jen dan langsung berlari menyerang Bara


Jen melayangkan satu pukulan ke arah wajah Bara, namun bara menangkisnya.


Jen langsung mundur beberapa langkah dan menyambung serangannya dengan tendangan T.


Bara dapat dengan sigap menangkisnya dan memaksa serangan Jen dengan satu tendangan kuat.


Jen terseret mundur hingga menabrak tembok


Brakk


"Cuih" Kata Jen sambil meludah kelantai


"Lumayan juga, biasanya orang yang saya tentang akan langsung kritis" Kata Bara


Jen kembali menenangkan dirinya agar tidak hilang kendali.


Bara langsung menyerang Jen dengan pukulan Jep, Namun Jen menangkapnya dan membanting tubuh Bara kelantai.


Brakkk


Setelah Jatuh ke lantai, Jen langsung menginjak perut Bara berulang kali dengan kuat. Jen menduduki perut Bara dan menginjak kedua lengan Bara, lalu memukuli wajahnya dengan kuat hingga wajah Bara lebam bahkan pelipis dan hidungnya berdarah.


Tak sampai disitu, Jen juga membenturkan kepala Bara berulang kali ke lantai.


"Arggghhhh" Teriak Bara


Tak sadar, tiba-tiba dari belakang datang seseorang dan langsung memukul kepala Jen dengan sebuah linggis.


Jen yang tidak siap akan serangan itu, langsung terjatuh ke lantai dan hampir kehilangan kesadarannya.


Pandangan matanya terasa kabur namun dirinya masih sedikit sadar sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut kencang.


"Sial... sial...!" Kata Jen, lalu berusaha untuk kembali berdiri.


Setelah berdiri, Jen menyandarkan tubuhnya ke dinding untuk menjaga keseimbangannya.


"Kalian fikir kami adalah gangster bodoh ? kami sudah tau rencana kalian dan sebentarlagi teman-temanmu itu akan mati . hahaha....." Kata Bara sambil berjalan mendekati Jen


Jen langsung di smackdown oleh Bara hingga wajah Jen terbentur kelantai, lalu Bara menginjak kedua tangan Jen agar tidak bisa melawan dan menyuruh anggotanya untuk memukuli punggung Jen dengan linggis yang dipegangnya.


Buk


Buk


Bukk


"Arggghhhh" Teriak Jen


"Mampus, teruskan !" Kata Bara sambil tertawa lantang


Orang itu terus memukuli punggung Jen dengan keras hingga linggisnya patah.


Bara pun melepas tangan Jen dan bertepuk tangan


"Wah, hebat.... Ternyata linggis ini masih patah ya" Kata Bara lalu mengambil patahan linggis itu.


Bara meletakkan ujung patahan linggis itu ke kening Jen dan mengetuk-ngetuknya hingga keluar tetesan darah dari kening Jen.


Linggis itu patah dengan tidak rapi, patahan ujungnya berbentuk runcing dan tajam.


Jen berusaha untuk berdiri, namun punggungnya di injak oleh anggota bara dan ditekan dengan kuat.


Saat ini, punggung Jen mengalami lebam-lebam dan lecet sehingga sangat sakit jika di sentuh, terutama saat di injak.


"Ayo teriak sekeras mungkin, tidak akan ada yang mendengarmu !" Kata Bara


Jen hanya tetap diam dan berusaha mengatur pernafasannya agar rasa sakitnya sedikit berkurang.


*****


Very dan Adi berpencar untuk menyusuri gedung yang besar itu untuk mencari dan menangkap seluruh anggota gangster.


"20 pasukan ikut denganku, 20 ikut dengan Adi dan sisanya berpencar !" Kata Very


"Siap !" Kata mereka serentak


Mereka langsung bergerak dan berjalan dengan waspada, menengok kearah kiri, kanan, atas dan belakang.


satu persatu anggota gangster X diketemukan dan dapat ditangkap dengan mudah karena mereka tidak memiliki senjata api. Jika mereka melakukan perlawanan maka mereka akan langsung ditembak.


"Baris dan tangan dikepala !" Bentak Very kepada anggota yang sudah tertangkap


"Sepertinya mereka semua adalah anggota-anggota junior" Kata Very kepada Adi melalui earphone yang dipakai mereka.


"Sepertinya begitu, apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya Adi


Tiba-tiba sebuah ledakan terjadi di dekat Very, beberapa orang langsung tewas seketika baik dari pihak aparat maupun gangster yang tertangkap.


Very melangkah mundur dan mengarahkan senjata apinya ke gerombolan orang yang menyerang.


"Tembak !" Kata Very


"Siap"


Para aparat langsung menembaki gerombolan orang itu hingga seperempat dari mereka tewas.


Beberapa granat langsung berjatuhan dari lantai atas dan mengenai para anggota aparat.


"Sial, ternyata rencana kami gagal total !" Kata Very sambil berjongkok di gumpalan asap bekas granat itu.


"Rencana berantakan. Segera mundur !" Perintah Celine


Semua aparat mendengar perintah Celine dan segera beranjak mundur.


Orang-orang gangster itu tidak memberikan izin kepada mereka untuk pergi dan jalan satu-satunya agar lolos adalah dengan cara berperang.


**Jdarrrr


Jdarrrr


Bamm


"Arggghhhh**".........


Suara saling Adu tembak pun tak terelakkan, korban berjatuhan dari pihak aparat dan gangster.


Namun tiba-tiba gangster itu berhenti menyerang.


"Apa ? gawat, Semuanya mundur ! Seluruh anggota kita sudah ditahan" Teriak pimpinan mereka sambil menaikkan sebelah tangannya.


Namun belum sempat pergi, Very langsung menembak orang itu, hingga orang itu terjatuh ke lantai.


"Semuanya Ayo pergi dan bawa meraka semua keluar" Kata Very juga kepada anggotanya yang tersisa


Kedua belah pihak sama-sama bergerak mundur dan menarik anggotanya masing-masing.


Adi juga menarik anggotanya, namun tetap membawa anggota gangster yang sudah mereka dapatkan.


Adi dan Very sudah berada diluar bersama ratusan anggota gangster yang sudah tertangkap.


puluhan mobil aparat datang untuk membawa anggota gangster.


"Mereka tidak akan meledak lagi karena jam mereka sudah ada dalam kendaliku" Kata Jack


"Bagus" Kata Adi


"Bagaimana keadaan Andy ?" Tanya Very


"Dia sudah meninggalkan kita" Kata Celine dengan nada lesu


Adi dan Very langsung tersentak kaget dan senjata yang ada di tangan Very langsung terjatuh ke tanah.


Tubuhnya langsung lemas, namun Adi mencoba menopangnya.


"Jen, di... dimana dia ?" Tanya Very lagi


"Menurut GPS, dia tidak berada di sini. Mungkin dia sudah keluar saat mendengar perintahku tadi" Kata Celine


Very langsung berusaha berlari menuju sebuah mobil sport dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Adi hanya membiarkannya dan menaiki mobilnya juga.


"Yang terpenting seluruh anggota gangster X sudah kita basmi dan orang-orang yang menyerang kalian tadi sudah di amankan" Kata Celine


"Bagaimana caranya ?" Tanya Adi


"Seseorang yang memiliki kekuasaan besar, sudah mengurusnya" Kata Celine


Mereka pun akhirnya meninggalkan tempat itu dengan di ikuti oleh mobil-mobil aparat yang membawa tawanan gangster yang masih hidup maupun yang sudah mati.


Very melajukan mobilnya menuju rumah Daron.


Setelah sampai, Very langsung berlari dengan langkah yang dipaksakan.


Tubuhnya masih terasa sangat lemah karena berita kematian Andy.


"Tuan ! tuan !" Kata Very sambil berjalan menyusuri rumah Daron


Nafas Very semakin terengah-engah dan dirinya hampir kehabisan tenaga.


Ternyata, kaki Very sempat terkena tembakan pistol beracun dari lawan, walaupun tak terlalu parah namun sedikit demi sedikit racun itu mulai menyebar dan bereaksi.


Tubuh Very hampir jauh ke lantai, namun Daron langsung datang dan menangkap tubuh Very.


"Beristirahatlah, Aku akan menjaga Jen" Kata Daron


Daron segera memanggil Dokter pribadinya untuk menangani Very.


Saat Dokter itu sampai, Very sudah tak sadarkan diri karena efek racun yang mulai menyebar.


"Tolong selamatkan putra saya" Kata Daron


"Baik pak"


Daron kembali ke ruangannya dan memantau Jen beserta orang-orang yang dikirimnya untuk membantu aparat.


"Semangat sayang, papa akan mendukungmu dan akan melindungimu di saat kamu sudah tidak mampu lagi" Batin Daron.


Daron bukannya tidak menghawatirkan Jen, namun menurutnya Jen bisa menyelesaikan ini sendirian.


Kalau misinya ini berhasil, maka Daron tidak perlu lagi khawatir tentang masa depan Jen.


Kejadian yang pernah dialaminya di masa lalu tidak akan terjadi pada Jen.


Tidak akan ada yang berani mengancam bahkan mengganggu Jen.


Daron sebenarnya mengirim beberapa orang untuk melindungi Jen disaat sudah tak mampu lagi. Salah satunya adalah Jaya.


*****


Bara mendengar informasi kalau seluruh Anggotanya banyak yang sudah tertangkap dan Jaya tidak bisa meledakkan Jan tangan mereka.


"Sial ! Kalau begitu kita bunuh bocah ini sebagai ganti anggota kita" Kata Bara pada anggotanya


Saat Bara ingin mendekati Jen, tiba -tiba sebuah kepulan asap memenuhi ruangan itu.


Mereka terbatuk-batuk saat menghirup asap itu dan mereka tidak dapat melihat apapun kecuali asap tebal.


"uhukkkk- uhukk"


"uhukk-uhukk"


Saat kepulan asap itu menghilang, mereka tidak melihat Jen sama sekali ditempatnya.


"Kurang ajar ! dimana bocah itu ? Cepat cari uhukk uhukk" Kata Bara


Saat Kepulan asap itu memenuhi ruangan, tiba-tiba seseorang datang dan membawa Jen kabur menuju kesebuah ruangan rahasia dan ruangan itu dapat langsung menuju ke ruangan lain, hingga akhirnya menemukan sebuah lift kuno menuju ke pintu luar.


Saat sudah berada di lantai 18, Orang itu langsung membuka maskernya.


Jen tercengang dan mengusap-usap matanya dengan jari-jarinya.


"Darma ?" Kata Jen dengan wajah tidak percaya


"Tepat waktu" Kata Darma, lalu menoyol kepala Jen


"Ke...kena...." Belum selesai Jen berbicara, Darma langsung menutup rapat mulut Jen dengan telapak tangannya


Jen menepuk-berikut tangan Darma dan memerintahkannya untuk melepaskan tangannya.


"Suuuttt..... ada yang datang" Kata Darma


Darma menunjukkan layar android di tangannya dan terlihat 2 titik merah sedang bergerak kearah mereka.


"Apa itu ?" Tanya Jen sambil mengelap keningnya yang berdarah dengan kausnya


"Gangster X" Kata Darma


"Lari lah, aku akan menghadapi mereka. Jangan libatkan dirimu dalam hal yang berbahaya, ini adalah urusan dendam pribadiku" Kata Jen


Darma justru kembali menoyol kepala Jen


"Jika balas dendam disebut keadilan, maka keadilan itu akan melahirkan dendam berikutnya dan menjadi rantai kebencian yang terus terulang " Kata Darma


Jen hanya menatap wajah satu-satunya sahabatnya itu dan mengukir senyum tipis di bibirnya.


"Iya" Kata Jen lalu memeluk Darma dengan erat.


Tak terduga air mata Jen berlinang dan membasahi pipinya.


Saat ini dia tidak memiliki satu keluarga pun, namun disaat sesulit ini Darma adalah satu-satunya orang yang peduli dan bersedia berdiri di sampingnya untuk memberi dukungan hidup.


"Biarkan aku memelukmu, mungkin untuk yang terakhir kalinya" Batin Jen


Jen mengusap air matanya dan duduk bersimpuh untuk mengembalikan energinya melalui ilmu pernafasan.


Jen berdoa dalam hatinya, dia tidak akan membunuh Bara. Namun dia akan menangkap Bara hidup-hidup agar mendapatkan ganjaran hidup, bila perlu Bara berobat dan menyesali perbuatannya.


"Tidak ada manusia yang berhak untuk mengadili dan menghukum sesama manusia. Itu adalah tugas sang pencipta" Batin Jen


Perlahan energi Jen kembali dan fikirannya menjadi tenang, terukir senyum di wajahnya.


"Mereka datang" Kata Darma


"Bersembunyilah " kata Jen


"Tidak, aku juga seorang petarung" Kata Darma


Jen hanya menganggukkan kepalanya pertanda iya.


2 orang muncul dan langsung menyerang Darma.


Sebelum menyambut serangan mereka, Darma memberikan androidnya kepada Jen.


Jen menangkap Android itu dan Jen meluruskan kakinya agar aliran darahnya kembali mengalir normal.


Saat Darma sibuk bertarung, Jen malah sibuk mencari permainan di Android Darma dan menemukan sebuah permainan offline


Yaitu game angry birds.


Jen memainkankan game itu sembari menunggu Darma selesai bertarung.


Cikk.....cikk....ctasss (Suara game itu)


Jen memasukkan volume game nya agar terdengar jelas.


Walaupun dirinya terlihat santai, namun fikirannya sangat penuh.


"Setelah ini aku akan mencari Bara, tidak boleh ada korban lain setelah ibu dan Enzel.


Andy juga sudah mati, mungkin ini adalah hari terakhirku untuk menikmati dunia ini" Batin Jen