Before The Sunrise

Before The Sunrise
Eps 40 Very menyebalkan



Very mondar-mandir sambil memegangi dagunya sendiri di ruang tamu.


Very menunggu Jen untuk pulang dan ada sesuatu hal yang ingin ditanyakannya.


Beberapa jam kemudian Jen pulang dengan beberapa perban kecil di wajah dan lututnya.


Very bergegas menemui Jen dan menyuruh See untuk meninggalkan mereka berdua.


"Berikan ransel mu, biar ku simpan ke kamarmu !" Titah See pada Jen


Jen memberikan ransel sekolahnya itu pada See.


Setelah See pergi dan hanya ada Jen dan Very di ruangan itu, Jen berjalan menuju sebuah sofa dan duduk tenang di atasnya.


"Ada apa ?" Tanya Jen


"Apa yang dikatakan Bara mengenai USB itu padamu ?" Tanya Very dengan serius


"Dia hanya memesankan padaku USB itu berisi data penting dan tidak boleh jauh ke tangan gangster death" Jawab Jen


"Selain itu ?"


Jen kembali menatap Very sembari mengingat sesuatu dan Jen mengingat kalau Bara menitipkan sebuah liontin kepada Elca.


"Bara menitipkan liontin untuk Elca" Jawab Jen


Very langsung berdiri dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Very mondar-mandir di depan Jen dan tentu saja itu membuat Jen kesal.


Jen mengambil sebuah bantal kecil dan melemparkannya ke kepala Very.


"Aduh !" Ringis Very


Jen berdiri dan berjalan meninggalkan Very dengan wajah kesal. Kedua manik matanya berusaha mencari Daron hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah ruangan di lantai atas dan tentunya Jen menebak kalau Daron berada Disana.


"Lalu liontin itu kau berikan pada Elca ?" Tanya Very kembali hingga membuat Jen menghentikan langkahnya.


Jen memutar kedua bola matanya pertanda kesal. Seharusnya Very menanyakan keadaannya dan bukannya menanyakan tentang Liontin ataupun Bara.


"Tidak, aku memberikannya kepada tukang santet" Jawab Jen judes


"Serius ?" Tanya Very lagi


Kekesalan Jen sudah menembus ubun-ubunnya. Dengan sigap ia langsung berlari kearah Very dan melayangkan 1 pukulan keras di wajahnya.


Very menangkis pukulan itu dan tidak membalasnya.


Dia hanya menangkis serangan Jen sebisa mungkin, karena semakin lama Jen semakin bertenaga.


"Sebelum gigimu rontok, aku tidak akan melepaskanmu brengsek !" Bentak Jen di sela-sela pertarungan mereka


"Aku hanya bertanya bocah !" Sahut Very


Mereka kembali melanjutkan pertarungan hingga menimbulkan keributan. Beberapa guci keramik kecil pun pernah karena menjadi korban salah sasaran.


Tanpa mereka sadari, Daron memandangi pertarungan mereka dari atas tangga.


Very dan Jen tetap melanjutkan pertarungan mereka. Very semakin kehabisan tenaga karena terus-terusan menangkis serangan Jen.


Saat ia kehilangan konsentrasinya, tendangan dari Jen lolos dan membuat dirinya terpental ke tembok.


Jen berusaha menyerang Very kembali, namun Daron menghentikannya.


"Hentikan !" Teriak Daron


Mereka bersamaan menatap kearah sumber suara. Tangan Jen yang sudah hampir mengenai wajah Very langsung tariknya kembali.


Ruangan tempat mereka berkelahi terlihat sangat kacau dengan beberapa pecahan guci yang berserakan di lantai dan dia sofa yang tempatnya bergeser tak beraturan.


"Bisa saya berbicara ?" Tanya Daron


"Iya Tuan" Jawab Very sambil menunduk


Daron langsung menatap Jen dan matanya memandangi beberapa perban yang melekat di wajah Jen.


Daron segera menghampiri Jen dan memeluknya.


"Papa sudah mengurus mereka semua, mereka harus mendapatkan akibatnya" Kata Daron.


Jen sebelumnya merasa takut saat pulang kerumahnya dan bertemu dengan Daron.


Masa lalunya selalu membayangi Jen.


Saat dia bertengkar disekolah, Roy pasti akan langsung menghukumnya habis-habisan. Seperti dicambuk, digantung dengan rantai, tidak boleh makan, dan bahkan dia diusir dari rumah hingga harus tidur dijalanan.


Roy tidak pernah mau mendengar alasan yang dilontarkan Jen, justru Jen hanya akan semakin disiksa.


Tapi kali ini berbeda, Jen merasakan kedamaian dan kehangatan yang tak pernah dirasakannya.


Dia mendapat perlindungan bahkan dukungan dari keluarga satu-satunya yang dia punya. Yaitu Daron.


Kata Daron


Jen yang larut dalam pelukan hangat Daron hanya bisa menangis.


Very juga merasa kasihan pada Jen, namun dia bukan tipe orang yang dapat menunjukkan perasaannya kepada orang lain, Terutama wanita.


Jen melepas pelukannya dan menatap Very dengan tajam.


"Dia yang duluan mencari keributan pa" Kata Jen


Very hanya diam mematung dan memendam kekesalannya.


Daron tersenyum dan mengusap lembut pucuk kepala putrinya itu.


"Dia kakak mu, kamu harus lebih sopan padanya !" Titah Daron, namun mata Daron langsung menatap Very dan Very sudah menebak apa arti tatapan itu.


Jen menggerutu di dalam hatinya. Dia merasa harga dirinya akan rusak saat memanggil Very sebagai kakaknya.


Bagi Jen, Very adalah pria yang menyebalkan dan sok keren.


Setelah mengatakan itu, Daron langsung bergerak pergi.


"Papa mau kemana ?" Tanya Jen


"Mengurus masalah lama, Roy harus tamat" Sahut Daron


"Tidak, biar aku yang mengurusnya" Kata Jen


"Kamu harus beristirahat, jangan mengotori tanganmu untuk hal ini !'' Kata Daron


Namun Jen tidak mendengarkan ucapan Daron.


"Aku bukan wanita lemah, jangan pernah meragukanku. Aku akan terus berjuang sampai tak ada lagi oksigen yang mengalir dalam tubuhku !" Tegas Jen


Setelah mengatakan itu, Dia pergi menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Daron kembali menatap Very yang masih berdiri tegak di sampingnya.


"Dia gadis yang kuat" Kata Daron


Very tidak menyahuti perkataan Daron karena setiap membahas mengenai Jen, maka Daron akan langsung memikirkan hal yang paling tidak disukai Very.


"Suruh pelayan membersihkan unik semua !" Kata Daron sembari berjalan meninggalkan Very


*****


Jen bersiap untuk berangkat menuju kantor Roy dengan stelan pakaian olahraga.


sepatu olahraga, celana hitam pendek, kaus putih polos, serta ikat kepala berwana hitam yang melilit di keningnya.


Namun Very mencegah langkahnya saat sudah berada di gerbang.


"Kau tidak bisa masuk kesana, bawa kartu ini !" Kata Very


Jen mengambil kartu pengenal itu. Tertera nama perusahaan See di dalam kartu itu.


"Terimakasih" Kata Jen


"Ok, Selamat mencari masalah dan selamat menderita" Sahut Very dan langsung masuk kembali ke dalam rumah. Ekspresi Jen seketika berubah dan rasanya Jen ingin sekali menerkam dan mencabik-cabik tubuh Very hingga habis.


Taksi online yang dipesan Jen sudah datang.


"Alamatnya the most ya buk ?" Tanya supir


"Iya Pak, tapi mohon maaf, Saya masih anak sekolah" Jawab Jen dengan sopan dan ramah


"Oh, maaf ya dek" Kata supir itu


Beberapa saat kemudian.


"Sudah sampai dik"


"Baik terimakasih pak" Kata Jen sambil memberikan ongkosnya pada supir itu dengan uang 2x lipat dari harga yang ditetapkan.


"Banyak sekali dik"


"Semoga berkah ya pak" Sahut Jen dengan senyuman manisnya


"Terimakasih"


Jen segera turun dan memakai kacamata biru nya.


Matanya tertuju pada bangunan megah yang berlantai 30 itu. Tertera tulisan besar di lantai teratas "The most".


"Roy, mari kita selesaikan ini" Kata Jen dengan senyuman sinis di bibirnya.