
Dimas seketika menampar wajah Jen dan menyuruhnya untuk keluar dari ruangan itu.
plak....
"Keluar sekarang juga ! Kau tidak pantas menyebut ayah yang sudah membesarkanmu !" Bentak Dimas
Jen terkekeh dan memegangi pipinya yang terasa gatal setelah ditampar Dimas.
Ani tersenyum saat melihat Dimas menampar dan mengusir Jen.
"Jangan ikut campur'' Jawab Jen dengan halus
"Dia Ayahmu Jen, ayahmu !'' Bentak Dimas lagi
"Dia bukan Ayahku ! Aku tidak sudi memiliki Ayah iblis seperti dia !" Sahut Jen
Masih teringat semua cerita kebenaran yang telah di dengar oleh Jen.
Kalau saja Roy tidak berusaha untuk membunuh Daron, maka nasib Riska dan dirinya pasti tidak akan seperti sekarang.
18 tahun Jen disiksa dan mengalami penderitaan bertubi-tubi hingga membuat dia pernah berfikir untuk mengakhiri hidupnya yang begitu tragis.
Diusianya yang masih sangat muda, dia dibully dan diperlakukan seperti sampah masyarkat.
Tidak ada yang menerimanya selain para gelandangan di jalanan.
Disaat Jen sudah berusaha untuk memaafkan segala perbuatan keluarga tirinya itu, justru hal yang paling menjijikkan kembali diterimanya.
Roy si Ayah tirinya itu menjualnya kepada teman-temannya untuk dijadikan pelampiasan *****.
Mungkinkah baginya untuk memberikan rasa hormat kepada Roy setelah semua yang dialaminya ? Semua terasa begitu sakit seperti tertusuk oleh puluhan jarum sekaligus.
"Lalu apa maumu ? dan bagaimana kau bisa masuk ke kantor ini ?" Tanya Roy
"Kau tidak perlu mengetahuinya. Sekarang Aku ingin kau mempertanggung jawabkan perbuatanmu" Sahut Jen
Banyak pertanyaan yang bermunculan di kepala Roy.
Menurutnya, tidak mungkin Jen mampu melepaskan diri dari teman-temannya itu.
Dan juga, bagaimana mungkin dia bisa masuk ke dalam perusahaannya tanpa adanya bentrok dengan para security.
Bukan hanya itu, Roy juga mengingat saat seorang pria gagah melindungi Jen darinya.
Bahkan Hingga saat ini, Jen masih bisa hidup aman tanpa kelaparan.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?" Batin Roy
Saat sedang merenung dalam fikirannya, pipinya langsung mendapat hantaman dari Jen.
Dengan seketika Roy langsung tersungkur ke lantai dan keluar cairan berwarna merah dari pojok bibirnya.
"Ah, sial. Bunuh dia !" Bentak Roy
Kakak iparnya pun langsung bergerak sesuai perintah Roy. Sementara Dimas, dia berusaha untuk menghentikan perkelahian itu.
Saat Kakak Roy hendak menendang Jen, Dimas segera mendorong Jen dan menggantikan posisinya.
"Ahhkk..."' Ringis Dimas saat perutnya mendapat tendangan kuat
Jen terjatuh ke lantai dan menatap Dimas yang kesakitan.
"Hentikan ! Jangan sampai kalian merenggut nyawa keluarga kalian sendiri !" Teriak Dimas
Ani menghubungi para pengawal Roy untuk segera datang.
"Anak ini harus berakhir sekarang " Batinnya
"Dimas ! Kau tidak perlu ikut campur !" Bentak wanita asing itu
Wanita itu adalah calon isteri Roy.
Roy mendekati Jen dan melancarkan 1 tendangan, namun Jen merangkap kaki Roy dan menghempaskannya hingga Roy terbanting ke lantai dengan sangat keras.
Kakak Roy menyerang dari belakang, namun Jen bisa mengetahuinya dan mematahkan serangan itu.
"Kalian bahkan tidak tau cara bertarung yang benar " Kata Jen di sela-sela pertarungan itu
Roy kembali bangkit dan melancarkan 1 pukulan ke wajah Jen.
"Lemah !" Kata Jen sambil menghindar
Dari belakang, kakak Roy megambil sebuah pisau yang ada di lemari.
Dimas berusaha menghentikan Pamannya itu, tapi dia tidak berhasil.
Ani gelisah menunggu para pengawal Roy untuk datang.
"Kemana mereka ? Lama sekali " Batin Ani
Dimas masih berusaha menghalangi pamannya hingga akhirnya dialah yang menjadi korban.
Pisau itu menggores lengannya hingga terluka cukup lebar.
Ani dan wanita asing itu berteriak melihat luka dan darah yang membanjiri kemeja putih Dimas itu.
Kakak ipar Roy tidak memperdulikan Dimas dan kembali mengincar Jen.
Jen dan Roy sejenak menghentikan pertarungan mereka.
"Sudah kubilang, jangan ikut campur !" Bentak Ani
Jen kembali beradu pukul dan tendangan dengan Roy, kakak ipar Roy juga ikut menyerang Jen dengan bersenjatakan pisau di tangannya.
Roy berhasil menangkap tangan Jen dan menyuruh Kakaknya untuk segera memotong lengan Jen.
"Cepat !" Bentak Roy
Kakak Roy bergerak mendekati Jen untuk segera memotong lengannya.
Namun, Jen mengganjal langkahnya dengan kakinya.
"Baiklah, aku akan mulai serius " Ucap Jen sambil tersenyum lebar
Tangan Roy masih menggenggam erat tangan Jen. Dengan tenaga yang tidak terlalu full, Jen menarik tangannya dan langsung menangkap tangan Roy dan mematahkan nya.
Krakkk....
Kakak Roy mundur dan mengarahkan pisaunya ke arah Jen.
"Ayo maju !" Kata Jen
Disaat Jen megambil kuda-kuda persiapan untuk menyerang, Roy bergerak untuk menyerang Jen dari belakang.
Namun Jen mengetahui pergerakan Roy. Dengan sigap Jen melakukan tendangan memutar dan mengenai wajah Roy hingga Roy terbanting ke meja.
*Brukkk....
"Arghhh*..." Teriak Roy akibat rasa sakit yang sangat dirasakan di sekujur tubuhnya.
"Bagaimana mungkin dia bisa sekuat ini ?" Guman Dimas dalam hatinya
Saat Ani dan wanita itu bergerak mendekati Roy, Jen menendang Sebuah kursi hingga melayang kearah mereka.
Ani terkejut dan mundur.
"Jangan ada yang berani mendekatinya !" kata Jen
Saat akan menyerang kakak Roy, tiba-tiba 6 orang lelaki bertubuh tinggi dan tegap, menggunakan jas hitam dan kacamata hitam datang keuangan itu.
Jen menghentikan serangannya dan menatap tajam kearah 6 orang itu.
Ani tertawa lebar dan mendekati Jen.
"Kau sudah tamat ****** !" Kata Ani tepat di depan wajah Jen
"Benarkah ?" Tanya Jen dengan senyuman
"Cepat bunuh bocah itu !" Kata Roy sambil menahan rasa sakitnya
Dimas mendekati para pengawal itu dan menahan mereka.
"Tolong jangan, jangan sakiti dia ! Aku saja" Kata Dimas sambil berlutut di depan mereka
"Kenapa anak ini !" Bentak Ani
"Dia keluarga kita, dia baru saja kehilangan ibunya. Bagaimana mungkin kalian memperlakukannya seperti ini !" Sahut Dimas
Jen menatap Dimas yang dikiranya sudah berubah. Tapi ternyata Dimas masih menganggap dirinya sebagai adiknya.
"Kak Dimas" Panggil Jen
Semua orang yang ada di ruangan itu langsung mengarahkan pandangannya kepada Jen.
"Terimakasih " Kata Jen
"Cepat bunuh dia !" Kata Wanita asing itu
"Hahahaha...." Jen tertawa lantang seketika
"Dia memang sudah kehilangan kewarasannya" Karya kakak Roy
Kakak Roy yang sudah geram dan tak sabar menunggu kematian Jen. langsung bergerak degan pisau di tangannya.
Diluar dugaan, Para pengawal itu malah melindungi Jen dan menembak Kakak Roy degan sebuah pistol.
jdarrr.....
"Arghhh..." teriak kakak Roy saat peluru menembus bahunya
"Jangan berani menyakiti Tuan kami !" Kata salah seorang dari pengawal itu
Pernyataan pengawal itu membuat Roy beserta keluarganya hampir sesak nafas.
"Tugasku sudah selesai, ku serahkan sisanya pada kalian !" Tutah Jen
Setelah mengatakan itu, Jen dijemput oleh 5 pengawal lainnya dan memberi hormat kepada Jen dengan menundukkan kepala.
"Jangan lupa bernafas !" Kata Jen pada Roy sambil mengedipkan sebelah matanya
Akhirnya Jen keluar dari ruangan itu dengan 8 pengawal di sekelilingnya.
Setiap mata dibuat heran sekaligus kagum saat Jen beserta pengawalnya lewat dari hadapan mereka.
Para pengawal itu memayungi Jen saat sudah berada di luar kantor agar tidak terkena panas matahari.
Hingga akhirnya masuk kedalam mobil yang sudah disediakan. Satu buah mobil memimpin perjalanan pulang mereka dan Mobil Jen berada di tengah mobil lainnya.
Roy dan keluarganya masih tidak percaya dan tidak tau apa yang mereka lihat barusan.
Ruangan itu hening hingga beberapa saat.
"Saya diperintahkan untuk mengambil kembali perusahaan ini dan mengirim kalian ke penjara" Kata pengawal itu
Dimas berdiri dan tak tau harus melakukan apa.
"Selain Anda" Kata pengawal itu kepada Dimas
"Apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya Dimas
Pengawal itu menceritakan semua kejadian yang dilakukan oleh Roy beserta keluarganya kepada Jen selama Jen hidup.
Dimas mengepal tangannya dan menatap tajam kearah Roy.
Ingin sekali rasanya menghantam wajah Roy, namun Dinas berusaha menahannya.
"Bawa mereka !" Titah Dimas
"Nak, nak,...tolong kami !" Kata Roy
"Kami yang membesarkanmu, kami juga memberikan perusahaan ini untukmu dengan kerja keras" Kata Ani
"Diam ! Aku tidak butuh semua ini, bagaimana mungkin kalian menyebut diri kalian sebagai manusia !" Kata Dimas
Akhirnya mereka dibawa oleh para pengawal itu meninggalkan ruangan Dimas.
Hanya tersisa dirinya dan bayangannya.
"Maafkan aku Jen, Aku tidak bisa melindungimu selama ini. Aku menyayangimu dan aku tetap kakak mu" Tulis Dimas dalam sebuah kertas dan di tempelkan nya di meja.
Setelah menulis surat itu, Dinas megambil pisau yang tergeletak di lantai dan menusuk lehernya hingga nyawanya hilang di tangannya sendiri.