
Di dalam ruangan kelas, Jen masih saja merenung mengenai maksud kedatangan Very kesekolahnya.
"Very memang aparat, tapi gak mungkin dia yang diturunkan untuk masalah ini. Tapi apa tujuan nya datang kesini ?" Tanya Jen dalam batinnya
"Anak - anak, kita diperintahkan untuk kembali kelapangan dan berbaris untuk mendengarkan arahan dari para aparat yang datang kesekolah kita ini !" Kata Guru yang mengajar di kelas Jen
Sontak saja keributan langsung tercipta di ruang kelas itu, terutama para wanita.
Tapi lain halnya dengan Jen, dia justru hanya diam dan tidak menunjukkan reaksi apapun.
Dia lebih memilih untuk mencari tahu kenapa Very sampai harus datang kesekolahnya.
"Kenapa Adi tidak memberitahukan apapun mengenai kedatangan Very ? Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dariku? Batin Jen
Semua Murid berjalan menuju lapangan untuk mengambil barisan masing-masing.
Kaum perempuan saling berebut untuk mengambil barisan terdepan, bahkan sampai ada perkelahian adu mulut dengan siswa lelaki.
Jen berada di barisan paling belakang. Tubuhnya yang cukup tinggi membuat dirinya dapat melihat aparat yang ada di podium walaupun tidak terlihat seluruhnya.
"Baiklah, anak-anak sekalian. Disini sudah ada sekitar 10 aparat yang datang untuk memberikan arahan mengenai pergaulan bebas, Narkoba dan Gangster X yang sudah semakin meluas dan mengancam di kota kita ini ! Jadi untuk informasi yang lebih lanjut, mohon dengarkan arahan dari kepala aparat !" Kata Kepala sekolah.
Kepala aparat itupun menyampaikan banyak arahan-arahan dan larangan-larangan kepada para siswa maupun guru yang ada di situ. Banyak siswa yang mendengarkan dengan antusias, namun banyak juga yang tidak mendengarkan arahan itu.
Disisi lain, Jen malah mencari-cari keberadaan Very dengan cara sedikit berjinjit. Namun berulang kali Jen mencarinya tetep tidak ketemu.
"Kemana Very tadi ? Apa aku salah lihat orang?" Batin Jen, lalu menundukkan kepalanya ke arah bawah.
Saat Jen mengangkat kepalanya dari posisi menunduk kearah depan, Jen pun terkejut melihat banyak mata siswi menatap kearahnya.
Jen yang bingung pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah kebingungan.
"Apa dari tadi kau mencariku bocah ?" Kata Very dengan suara berbisik ke telinga Jen sembari meletakkan tangan kanannya di pundak Jen.
Jen berniat melepaskan rangkulan Very, tapi Very menahannya. Karena tidak mau bertengkar dengan Very, akhirnya Jen pasrah dan tetep membiarkan Very merangkulnya.
"Kalau ku pukul orang ini sekarang, pasti para betina disini akan mengamuk seperti orang gila padaku" Batin Jen
Very hanya diam menatap kearah depan dan sesekali memberikan senyuman manis kepada siswi yang menatapinya.
Setiap Very memberikan senyuman dan sedikit kedipan mata, siswi-siswi itupun langsung beraksi. Ada yang sedikit teriak, ada yang tersipu malu dan ada juga yang gulung-guling sampai push-up di tanah (typo ahh).
"Biarkan mereka merasa iri padamu hanya sekali saja, bukankah selama ini mereka selalu membully mu !" Kata Very dengan nada pelan kepada Jen.
"Benar juga perkataan si kampret ini" Batin Jen sembari tersenyum tipis
Banyak tatapan tajam dari siswi kearah Jen.
Jelas saja mereka merasa iri, bahkan jika dilihat perbandingan antara penampilan Jen dibanding mereka jelas sangat berbeda.
Jen terlihat seperti wanita monster, sedangkan siswi disekolah itu memiliki paras cantik dan menawan.
Setelah selesai memberikan arahan kepada seluruh siswa, akhirnya barisan pun dibubarkan dan kepala sekolah memberikan Free class untuk seluruh siswa.
Jen melepas rangkulan Very dan menatap wajah Very dengan tajam
"Kenapa kau disini ?" Tanya Jen
"itu bukan urusanmu" Kata Very
"Ada sesuatu di sekolah kalian itu " Kata Adi yang tiba-tiba mengeluarkan suara dari anting Jen. Very juga dapat mendengar suara itu melalui heandshet yang terpasang di telinganya.
Jen langsung menatap kearah Very yang sedikit tersenyum saat melihat kearah seorang siswi yang sangat cantik yaitu Elca Pranoto sang primadona sekolah.
"Dasar mata keranjang !" Kata Jen ke wajah Very
"Iri bilang bos !" Kata Very lalu berjalan pergi kearah kumpulan aparat.
Very berjalan sambil memperhatikan layar ponselnya dan degan tidak sengaja Very menabrak Elca.
"Aww....." Ringis Elca
"Ehh maaf-maaf saya tidak sengaja !" Kata Vey
Bukannya marah, Elca malah tersenyum lembut kepada Very.
"Nggak apa-apa kok kak" Kata Elca
Elca adalah siswi yang sangat terkenal di sekolahnya, bahkan Elca dijuluki sebagai bidadari sekolah. Bukan tanpa sebab, julukan itu diberikan padanya karena Elca memiliki hati yang lembut dan pemaaf. Terlebih lagi paras cantiknya yang sangat menawan dengan bibir pink yang tipis, bulu mata melentik dan bola mata cokelatnya yang pekat menambah kecantikannya.
"Oh, baiklah saya permisi " Kata Very
Saat very hendak berjalan, Elca menghalangi langkah Very dan menjulurkan tangannya ke arah Very.
"Nama ku Elca !" Kata Elca dengan senyum manisnya
"iya" Jawab Very singkat dan langsung beranjak pergi menuju kawanannya.
Elca tetap terlihat biasa-biasa saja setelah di cueki oleh Very dan tentu saja banyak siswa laki-laki yang datang menghampiri Elca dan menggodanya.
Jen yang melihat itu pun langsung melotot.
"Ku kira Very itu akan menyukai Elca, ternyata tidak cihh" Kata Jen
Setiap pria yang menatap Elca pasti akan langsung menyukainya, tapi hal itu tidak terjadi pada Very.
"Apa kau mengenal gadis itu ?" Tanya Adi pada Jen
"iya" Kata Jen
"Jauhi dia, jangan sampai berteman dengannya !"
"Kenapa ?"
"Ada kemungkinan kalau dia adalah putri Bara"
Jen tersentak kaget saat mendengarnya bahkan sampai terbatuk-batuk
"Jangan berteman dengannya dan cukup pantau dia dari jauh"
"siap" Kata Jen
Setelah selesai berbicara dengan Adi, Jen pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Selama perjalanan menuju kelas, banyak mata wanita menatap tidak suka kearahnya.
"Kalian memang jauh lebih cantik dariku, tapi biasa-biasanya kalian menyukai pria sejenis Very itu ! Setelah misiku selesai, kalian tidak akan pernah melihatnya lagi di dunia ini ! " Guman Jen dalam batinnya.
*****
Pukul 13 : 30
"ibu mau jalan-jalan kemana ?" Tanya Enzel pada ibunya
"Kesana" Kata Riska (nama ibu Jen) sambil menunjuk taman di sebrang jalan.
Taman itu terlihat sepi dan hanya ada sekitar 20an orang saja disanaa
"Yaudah Ayok" Kata Enzel
Enzel menggandeng tangan Riska untuk menyebrang. Setelah sampai ditaman itu, tiba-tiba ada beberapa orang yang datang membawa pistol dan menembaki setiap orang dengan brutal.
Dorrrrr
"Aaaaaa.....tolong !"
"Anakku !"
"kyakkkkk"
"Enzel !" teriak Riska saat melihat Enzel sudah terkapar lemas
Enzel mengalami luka tembakan tepat mengenai jantungnya. Sedangkan Riska tertembak tepat dibagian ginjalnya.
Setelah menembaki orang-orang disitu, akhirnya mereka pergi meninggalkan tempat itu.
"Si ... siapa kalian sebenarnya ?" Tanya seorang laki-laki paruh baya yang hampir kehilangan kesadarannya
"Kami adalah Gangster X. Tugas kami adalah membunuh dan mencari masalah" Kata orang itu
Setelah Anggota yang mengaku sebagai gangster X pergi dari taman itu......
"ibu !.........Enzel !" Teriak Jen saat melihat banyak orang yang terluka dan meninggal
Jen langsung menghampiri Riska dan Enzel yang bersibak darah.
"Siapa yang melakukan ini ? hiiks hiks " Tanya Jen sambil menangis
"Gangster X" Kata Riska
"Ayo kerumah sakit !" Kata Jen
"Tidak ada waktu Jen, Ibu dan Enzel tidak punya waktu" Kata Riska
"Nggak, nggak !" Ringis Jen
"Hiduplah menjadi anak yang kuat dan tangguh Jen ! ibu menyayangimu.
Ibu, papa dan Enzel akan tetap melihatmu dari atas sana. Kamu adalah anak yang kuat, jalani hidupmu dengan baik sayang !" Kata Riska dengan nafas terengah-engah.
Tangis Jen pun pecah saat itu juga.
Riska menggapai tangan Enzel dan Jen.
"Kakak ! zeze udah lama gak lihat kakak tersenyum, tolong zeze mau kakak senyum sekarang sebelum zeze......." Belum selesai berbicara, Enzel langsung kehilangan nafasnya
"Ze.....!" Teriak Jen
"Tolong tersenyum !" Kata Riska
Sebelum sempat tersenyum, Riska sudah menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya.
"Nggak !!! Kenapa ? kenapa Tuhan ? kenapa ?" Teriak Jen dengan histeris dan menjambak rambutnya sendiri
Jen pun akhirnya berdiri tak berdaya dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat
"Gangster X ! tunggu pembalasanku ! kalian harus berakhir !!!" Guman Jen dalam hatinya dan terdengar suara gesekan giginya, menandakan kemarahannya
Jen berjalan pergi meninggalkan Jasad Riska dan Enzel.
"Tolong urus jasad mereka !" Kata Jen kepada aparat yang sudah datang dengan membawa beberapa ambulance
Mata Jen masih di penuhi oleh air mata dan terdapat bercak darah di bajunya. Jen pun segera pergi meninggalkan tempat itu dan menaiki motornya menuju markas tim Celine.
Brakkkk (menendang pintu)
"Habisi Gangster biadap itu sekarang juga !" Bentak Jen kepada Celine, Jack dan Adi yang berada di dalam ruangan itu
"Tenang sedikit dan jangan gegabah" Bentak Adi
"Mereka membunuh orangtua dan adikku !"
"Sabar dan duduklah, masalah tidak akan selesai dengan begini" Kata Jack
"Diam !!!" Bentak Jen sambil menunjuk wajah Jack
Celine pun menghampiri Jen dan memeluknya.
"Kita akan menyelesaikannya nanti " Kata Celine.
Bukannya mendengarkan Celine, Jen malah mendorong bahu Celine dengan kuat dan berlari keluar ruangan itu dengan emosi yang meledak. Adi berniat untuk menyusulnya, tapi Celine menghalanginya.
"Beri dia waktu untuk sendiri dan jangan mengganggunya, nanti dia malah mengajar kalian !" Kata Celine
"Baiklah" Kata Adi
"Haaaaaaaa !......" Teriak Jen saat berada di Sebuah lorong yang cukup sepi
Jen memukuli wajahnya dan menyakiti dirinya sendiri sambil menangis tersedu-sedu.
Saat Jen ingin menampar wajahnya lagi, tiba-tiba ada tangan yang menangkapnya.
"Lepas !" Bentak Jen
"Dasar bodoh, apa yang kau lakukan !" Kata Very
"menjauhlah dari ku brengsek !"
"Apa kau fikir dengan menyakiti dirimu sendiri, akan membangkitkan mereka kembali ?" Bentak Very
"Hahaha..... Kau tidak tahu apapun, kau tidak tau perasaanku saat ini. Seseorang tidak akan tau arti rasa sakit sebelum mereka mengalaminya sendiri !" Kata Jen dengan wajah marah.
Mendengar itu, Very pun segera duduk di lantai sambil bersandar ke tembok
"Aku kehilangan kedua orangtua dan saudara/i ku pada saat berusia 16 tahun.
Saat itu..........
"Aaaaaaa......Mama papa ada perampok di lantai bawah !" Teriak seorang wanita berusia 13 tahun
"Dimana ?"
Saat hendak ke lantai bawah rumah mereka, tiba-tiba perampok itu sudah naik ke lantai 2 kearah mereka. Perampok itupun menembak kepala mereka hingga mati.
Tiba-tiba seorang pria berusia 20 tahun datang dari belakang perampok itu dan berusaha melawan, tapi pria itu justru langsung tertembak tepat di jantungnya dan mati, dia adalah kakak Very.
Very saat itu hanya bisa bersembunyi di bawah sebuah meja yang ditutupi taplak meja. Very sangat merasa takut, hatinya juga terasa sesak saat melihat papa, mana,
adik dan kakaknya tewas dengan mengenaskan di depan matanya.
Setelah selesai membunuh, para perampok itupun mencari barang-barang berharga di rumah itu lalu meninggalkan rumah itu dengan sesegera mungkin.
Saat perampok itu meninggalkan rumah, Very pun berlari kearah Jasad keluarga nya itu. Very tidak tahu harus berbuat apa, saat itu Very bukanlah orang yang pintar dan terlihat seperti orang ber keterbelakangan mental. Very bahkan tidak memiliki teman, semua orang menjauhi dan mengucilkannya bahkan keluarga besar nya pun mengucilkannya.
Setelah pemakaman dilakukan, Very diusir keluarganya dari rumahnya dan menjadi gelandangan di kota besar.
Setiap hari Very mengamen untuk bisa makan sesuap nasi, bahkan terkadang dalam 1 hari Very tidak makan apapun karena tidak punya uang. Hidupnya sangat menyedihkan selama 2 tahun menjadi gembel jalanan, terkadang juga ada preman yang meminta uang hasil ngamennya dengan cara mengajar Very. Tapi suatu hari saat dia dihajar teman sebayanya, ada seorang gadis berusia 8 tahun yang membelanya dan bertarung hingga orang yang menggangu Very itu babak belur.
"Jadi orang jangan lemah !" Kata gadis itu dengan lantang lalu pergi
"Terimakasih" Kata Very sambil memandangi kepergian gadis itu
Keesokan harinya, ada seorang pria berusia 30 tahun datang menghampiri Very dan mengatakan kalau Very akan di rawat oleh pria itu dengan beberapa penawaran. Singkat cerita Very pun menyetujuinya dan ikut dengan pria itu.
Hingga akhirnya Very bisa menjadi seperti saat ini.
Setelah menceritakan kisahnya kepada Jen, akhirnya Jen pun bisa sedikit tenang dan merasa terharu dengan kisah hidup Very.
"Maaf aku tidak tau" Kata Jen
"Tak apa, hadiri upacara pemakaman ibumu besok" Kata Very
"Ba.... baiklah" Kata Jen
Jen kembali ke ruangan Celine dan berpamitan untuk pulang
"Biar Adi mengantarmu !" Kata Jack
"Tidak pe......" Jen langsung pingsan
Jen akhirnya diantar oleh Adi kerumahnya.
*****
Sudah banyak orang yang datang ke rumah Jen untuk menghadiri upacara pemakaman ibu dan Anaknya. Tapi acara belum kunjung dimulai karena menunggu kedatangan Jen.
"Kenapa anak durhaka itu belum datang juga, memangnya dia artis ?" Kata Bibinya
"Hai maaf terlambat " Kata Jen dan langsung menatap Zenajah ibu dan adiknya sambil tersenyum lebar menampakkan gigi putihnya.
Sontak saja, orang-orang yang ada diruangan itu merasa heran dengan tingkah laku Jen. Disaat oranglain berduka tapi dia malah tersenyum lebar
"Maaf ibu, maaf zeze... kakak terlambat untuk tersenyum di hadapan kalian" Guman Jen di dalam hatinya sambil tetap mempertahankan senyumannya.