Before The Sunrise

Before The Sunrise
eps 3



Jen mengetuk pintu saat sampai di rumahnya, ada rasa waswas dalam hatinya dia takut memberikan SPO itu kepada ayahnya. Jen sudah membayangkan apa yang akan terjadi padanya kalau tidak di hajar habis-habisan pasti dia di gantung dalam posisi berdiri dengan tangan terikat rantai selama beberapa jam, hal itu pernah membuat jen hampir mati.


Mengingat itu Jen jadi mengurungkan niatnya untuk memberikan surat itu pada ayahnya.


"ku simpan saja surat ini" batin Jen.


"Jen!!!" panggil ayahnya saat pulang bekerja.


Ayah jen adalah seorang security di sebuah perusahaan dengan pekerjaan paruh waktu, karna itu lah di siang hari ayah Jen sudah pulang.


"iya ayah??" sahut Jen


"aku mau makan, cepat ambilkan!"


"baik"


Jen pun membawakan makanan untuk ayahnya ke meja makan.


"kenapa wajah mu? apa kau berkelahi lagi bocah brengsek !" kata ayahnya menggunakan nada tinggi


"iya" kata jen dengan pelan


Ayahnya pun langsung melayangkan tamparan keras di pipi Jen


"dasar anak kurang ajar, apa kau mau menyusahkan ku lagi haa??? ibumu yang gila itu saja sudah sangat menyusahkan Sekarang ditambah lagi kelakuanmu. Apa kau juga ingin membuat aku gila haaa???" ucap ayah jen.


"pergi dari sini, aku muak melihat wajah iblis mu itu" kata ayah Jen.


Jen pun langsung berlari keluar rumah, dia tidak menangis


"aku sudah biasa dan aku sudah kebal" batin Jen.


Dia pun langsung berangkat ke tempat biasa menghabiskan waktu yaaa flyover tempat dia mengajar dan berbagi ilmu dengan orang-orang.


Disana sudah ada Darma yang menunggu Jen, Darma juga sering membantu Jen untuk nengajar disana.


"wajah mu kenapa bengkak?" tanya darma.


"aku di tampar ayahku" kata jen santai.


"ahh sudahlah itu tidak penting"


Mereka pun mulai mengajari orang- orang disitu membaca dan berhitung. lambat laun mereka mulai pintar membaca, hal itupun membuat Jen dan Darma bahagia.


Orang-orang disitu menyayangi Jen dan Jen menganggap mereka seperti keluarga sesungguhnya.


Pagi hari Jen bangun pukul 05:00 dan melakukan aktivitas seperti biasanya. setelah selesai jen pun berjalan menuju jalan raya untuk naik angkot, tapi bukan menuju sekolah.Jen takut kalau pak manurung menanyakan hal mengenai SPO itu, angkot pun berhenti tepat di bawah flyover tempat jen biasa menghabiskan waktunya.


selama 3 hari jen pun tidak pernah kesekolah, tapi bukan berarti ia tidak belajar


"kamu harus sekolah besok karna kemungkinan kepsek akan datang kerumahmu langsung untuk bicara dengan orangtua mu mengenai kasus Dika"


"iya aku akan sekolah besok" kata jen


"apa kamu gak takut kalau keluarga Dika melapor ke polisi?" tanya Darma


"aku nggak salah,dan aku nggak akan takut"


ucap Jen gigih.


sampai dirumah ternyata diluar dugaan Jen, kepsek, pak manurung dan orangtua Dika sudah ada dirumah Jen bersama ayahnya.


jen mengetuk pintu dan sontak saja mereka yang berada di rumah langsung melihat Jen.


"hmmm...Jen duduk disini!!!" tegas ayahnya


Jen pun menurut dan duduk disamping ayahnya.


"Dasar tidak bertanggung jawab kamu!!! apa kau mau membunuh anak kami ???" bentak


ibu Dika kepada Jen sambil menunjuk-nunjuk wajah Jen dengan tangannya.


"Maaf tapi saya tidak salah sepenuhnya" kata Jen sambil menatap mata ibu Dika


"Dasar anak brengsek!!! tidak tau malu"


kata ayah Jen sambil memukul kepala Jen dengan telapak tangannya.


"Begini saja,saya minta uang ganti rugi pengobatan anak saya Rp.3.000.000" kata ayah Dimas, dan kami tidak akan melaporkan kasus ini ke polisi


Ayah Jen pun memberikan uang itu kepada kedua orangtua Dika, hari ini ayah Jen dapat kiriman uang dari anaknya yang merantau di luar kota.


"baiklah karena masalahnya sudah selesai maka kami akan pamit pulang, dan Jen besok kamu sekolah ya nak" kata kepsek


"baik pak" jawab Jen.


Setelah mereka semua pulang ketegangan mulai dirasakan Jen. Dan benar saja ayah jen langsung menyeret Jen dengan menarik kakinya menuju gudang, tangan jen pun diikat dengan rantai lalu digantung.Tak hanya itu Jen juga di cambuk menggunakan tali pinggang ayahnya secara brutal sampai tubuh Jen penuh luka. Jen tidak berteriak ataupun bicara, melihat itu ibu jen pun berteriak histeris untuk menghentikan perbuatan suaminya namun apa daya kaki ibu jen terikat dan hanya bisa menangis kasihan pada puteri nya itu. setelah selesai ayahnya pun berkata keras.


"kau akan kugantung disini sampai amarahku hilang,aku hanya berharap semoga kau cepat mati maka aku tidak akan pernah kesulitan lagi mengurusmu"


lalu ayahnya pun pergi meninggalkan gudang dan menuju keluar rumah


"aku membenci mu ayah" batin Jen.


lanjut gak ????