Before The Sunrise

Before The Sunrise
Eps 44 "End"



"Hai guys, ini adalah bab terakhir dari karya ini. Terimakasih untuk semua dukungannya.


Mohon maaf atas up setiap eps nya yang lama. 🙏😟.


Happy reading yah 🙂 love you so much ♥️♥️♥️.


******


Semua mata langsung tertuju pada Sumber suara tembakan itu.


Para anggota Gangster death langsung bersiaga untuk melepas tembakan kepada Very.


"Senang bertemu denganmu" Kata Very kepada Jie dari kejauhan


Jie membalas perkataan Very dengan sebuah senyuman lebar.


Senjata Yang dipegang Jie kembali diturunkannya.


"Biarkan para siswa ini pulang, jangan sampai banyak korban berjatuhan !"Kata Very


"Apakah yang kau maksud....."


Sebelum menyelesaikan pembicaraannya, Jie langsung melepaskan tembakan kearah para siswa dan guru yang sedang berkumpul ketakutan.


"Hahhaaa....korban yang begini maksudmu ?" Sahut Jie setelah berhasil melancarkan tembakannya.


"Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini temanku" Kata Very kepada Jie


Jie yang masih tertawa tidak memperdulikan ucapan Very dan.....


Jdarrr...


Sebuah tembakan tepat mengenai kepala bagian belakang Jie.


"Apa aku datang terlambat ?" Tanya See yang tiba-tiba muncul dari belakang Jie tanpa disadari oleh anggota Jie.


Jie terjatuh ke tanah dan tak lama akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya.


Kejadian itu membuat para siswa dan guru semakin ketakutan.


Gerombolan aparat mulai berdatangan untuk memberikan pertolongan pada para siswa dan guru yang menjadi korban penembakan.


Para anggota gangster death yang tersisa langsung menunduk dan tidak berani untuk melawan mengingat lawan mereka jauh lebih banyak.


Setelah seluruh siswa dan guru dievakuasi, tiba-tiba ledakan besar terjadi di lantai sekolah yang paling atas.


Ledakan itu mengakibatkan beberapa ruang kelas di lantai itu rubuh.


Kepulan asap memenuhi lantai teratas hingga Very tidak bisa melihat pelaku penyebab ledakan itu.


Very mendekati Jasad Jie dan menyeretnya untuk lebih dekat dengannya.


Jen tidak tahu hubungan antara Very dan Jie.


Sepintas terdengar di telinganya perkataan Very "Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini temanku"


"Mungkin mereka pernah berteman sebelumnya" Batin Jen


Sebuah granat tiba-tiba jatuh dari langit dan meledak saat sudah mendarat di tanah.


Jdarrrrrr


Very dengan sigap langsung menarik lengan Jen dan melindunginya dalam dekapannya.


Untungnya tak ada korban jiwa dari ledakan itu.


Saat Jen ingin berdiri, granat lain juga jatuh mengarah Kepada mereka.


Jen dengan segera menendang granat itu dan tepat mendarat ke gedung sekolah.


Granat itu kembali meledak dan menghancurkan bangunan sekolah.


"Disini tidak aman " Kata Very


Dari gerbang sekolah, tiba-tiba kepulan asap tebal memenuhi tempat itu.


Very dan See langsung bersiaga untuk menghadapi bahaya.


"Hei bocah, ingat ! kali ini kita tidak bekerja bersama team kita seperti biasa. Jadi berhati-hatilah !" Kata Very Kepada Jen


"Hei orang dewasa, ingat ! Kalau aku tidak punya hati yang mulia, mungkin aku sudah menjadikan kepalamu sebagai bola basket !" Balas Jen kepada Very


"Berhentilah bertengkar !, aku membenci kalian berdua !" Kata See dengan geram


Setelah kepulan asap itu hilang, alangkah kagetnya Para aparat karena segerombol anggota gangster death sudah ada di situ dengan persenjataan lengkap.


"Gedung sekolah ini akan rata dengan tanah" Kata Jen


"Tidak apa-apa, Tuan Daron yang akan bertanggung jawab nanti" Sahut See


Jen tidak tau harus menjawab apa.


Para anggota gangster death berjalan beriringan sambil mengarahkan senjata mereka kearah para aparat.


Para aparat semakin bersiaga, beberapa dari mereka juga menodongkan senjata mereka ke anggota gangster yang sudah tertangkap.


"Lepaskan mereka sekarang !" Kata Dora


"Aline kembali mengirim anggota kesayangannya untuk dijadikan tameng" Kata Very dengan pelan


Jen hanya mengerutkan keningnya dan tidak tau harus berbuat apa.


Dia sama sekali tidak memegang senjata saat ini.


"Cepat serahkan !" Bentak Dora dengan sebuah tembakan peringatan yang dilepaskannya ke udara.


tutt...tuttt....


Ponsel Very berdering dan ia segera mengangkatnya dengan gerakan hati-hati.


Saat Very hendak menjawab panggilan itu, Dora langsung mengarahkan senjatanya ke Very.


Tapi Very tidak menghiraukannya dan tetap menjawabnya.


See berusaha melindungi Very dengan mengarahkan senjatanya ke arah Dora.


"Jika Aku mati, maka kau juga harus mati" Kata See


Dora langsung menurunkan senjatanya dan menyuruh anggotanya untuk tetap bersiaga.


Dengan berat hati, Dora mengijinkan Very untuk mengangkat telponnya.


"Aline menuju kesana" Kata Adi pada Very


"Baiklah, kami akan menyelesaikannya disini" Jawab Very sembari menutup telponnya.


Setelah memasukkan ponselnya kedalam sakunya, Very mendekati See dan memberitahukan informasi dari Adi.


"Susah selesai ?" Tanya Dora dengan senyuman lebar


Tiba-tiba sebuah serangan dari langit menghujani tempat itu dan Para aparat segera berlindung.


Cukup banyak korban yang tewas ditempat.


Sebuah helikopter menyerang dari udara.


para aparat yang tersisa berusaha menembaki heli itu, namun ternyata peluru mereka tidak bisa menembus sama sekali.


Anggota Gangster death segera bergerak melancarkan serangan mereka.


Terjadilah adu tembak antar mereka.


Dora berhadapan dengan See, sedangkan Very berusaha untuk merampas senjata milik lawan untuk digunakan oleh Jen.


Setelah mendapatkan Senjata, Very langsung melempar senjata itu kepada Jen.


"Baiklah, perang dimulai" Guman Jen


Anggota gangster death jauh lebih sulit ditaklukan dibanding gangster X.


Korban berjatuhan dari aparat mulai banyak, hingga akhirnya Very, See, dan Jen kehabisan peluru.


Dora segera mendekati See, namun See tetap tenang walaupun sebenarnya dia sedikit takut.


"Tamatlah riwayatmu " Kata Dora


"Cihh.... hanya pengecut yang berani membunuh lawan yang tidak punya senjata apapun" Sahut See dengan tertawa kecil


Dora segera mengangkat senjatanya ke udara dan melepaskan tembakan hingga pelurunya habis.


Setelah pelurunya habis, Dora menjatuhkan senjatanya ke tanah.


"Bagaimana, bisa kita mulai ?" Tanya Dora


Tanpa menjawab, See langsung menyerang Dia dengan sebuah tendangan.


Tendangan itu mengenai perut Dora hingga membuatnya mundur beberapa langkah.


"Gadis licik, tamat lah kau !" Teriak Dora


Saat kepalan tangan Dora hampir mengenai wajah See, Tangannya langsung tertahan oleh sesuatu.


''Dua bukan lawanmu yang sesuai nona" Kata Very.


Very segera mencengkram kuat tahan Dora dan segera mematahkannya.


Krakkk


"Arghhhh...." Teriak Dora


Para anggotanya langsung menatap kearah sumber suara.


Mereka semakin geram dibuatnya.


Dora berusaha melawan,namun tenaga Very jauh lebih besar darinya.


"Kau bodoh, seharusnya kau tidak perlu membuang sia-sia senjatamu" Kata Very sambil menancapkan sebuah pisau ke jantung Dora.


"Kalian pengecut sialan !" Kata Dora terbata-bata


Dora langsung terduduk di tanah dan tak lama akhirnya dia pun mati.


Tak disadari Very dan See kalau Saat ini, Jen sedang berhadapan dengan seorang wanita yang sangat dikenalinya.


Wanita itu mematikan langkah dan pergerakan Jen dengan sebuah senjata api yang tepat mengarah ke kepalanya.


"Berlutut kalian semua !" Kata wanita itu sembari menodongkan senjata di kepala Jen


Jen hanya diam dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semua pertarungan ini berada di luar kendalinya.


Dia tidak punya rencana dan dia tidak punya senjata yang memadai.


Very dan See segera berlutut dengan tangan diangkat keatas.


Namun para Aparat tidak mengikuti hal yang dilakukan Very.


"Sepertinya para nyamuk ini sulit untuk diberitahu ya" Kata Wanita itu sambil menatap Very


"Kenapa ?" Kata Salah satu aparat


"Diam dan lakukan saja !" Bentak Very


Akhirnya mereka pun menuruti perkataan Very.


Wanita itu tersenyum kecil atas kemenangannya.


"Bagaimana Very, apa kabarmu ? Dan dimana para anggota team mu ?" Tanya Wanita berambut pirang dan bermata biru itu.


"Orang bodoh akan tetap bertanya walaupun dia sudah mengetahui jawabannya" Jawab Very dengan santai


"Benarkah, sebagai apresiasi dari jawabanmu, gadis malang ini harus mati saat ini juga. Jangan salahkan aku"


Saat Wanita itu menatap Jen dan hendak melepaskan tembakannya, Very segera berteriak


"Aline ! Hentikan atau kau akan menyesal seumur hidupmu !" Bentak Very hingga urat-urat di lehernya menegang dan wajahnya memerah


Jen segera tersadar dan ternyata wanita yang ada di sebelahnya adalah Aline.


Ketua gangster death.


Tapi satu hal yang membuat Jen terharu adalah, Very.


Sosok pemuda yang selalu angkuh dan tidak mau bertekuk lutut. Tapi kali ini dia merendahkan harga dirinya sendiri untuk Jen.


Begitu juga dengan See, wanita yang tak pernah akrab sedetik pun dengannya.


"Apa karena papa?" Tanya nya dalam hatinya


Senyuman kecil terukir di bibir Jen


"Ada pesan terakhir yang ingin kau sampaika n ?" Tanya Aline pada Jen


Jen tidak menjawab dan hanya membalas senyuman manis kepada Aline.


Mata Jen seketika berbinar saat melihat sesosok pria tampan yang dikenalinya berjalan diantara anggota gangster death dengan santai.


"Jack" Kata Jen


Very tidak menatap sama sekali kedatangan Jack, seolah sudah mengetahui sesuatu.


Perlahan Jack semakin dekat dengan Jen dan tak disangka, Jack mencekik leher Jen hingga wajah Jen memerah.


"Aku sangat membencimu '' Kata Jack sembari meletakkan cengkramannya dari leher Jen dan langsung melayangkan 1 tamparan keras di wajah Jen.


"Cihh..." Kata Jen sambil menyemburkan daerah dari mulutnya


"Apa ?" Tanya Jack


"Kau brengsek" Sahut Jen sambil tertawa


Jack ingin kembali memukul Jen, namun dicegah oleh sebuah teriakan.


"Hentikan !"


Mata mereka segera tertuju pada 2 orang pria dan 1 orang wanita dengan pasukan aparat di belakang mereka.


Sebuah Bom jauh dari suatu tempat, tepat di dekat Aline.


Saat boom itu jauh, Jen segera melarikan diri dari genggaman Aline.


Mereka semua berusaha melindungi Diri agar tidak terluka.


Jdarrrrr...


Boom itu meledak dan untungnya tidak terlalu memiliki efek yang membahayakan.


"Team kita kembali" Kata Celine


Jen segera berdiri di samping Adi dan Adi mengelus lembut kepada Jen.


Very juga berdiri menghampiri mereka.


"Oh, wow...." Kata Aline


Aline segera memanggil pasarkan udaranya, begitu juga Celine. Pasukan udara mereka saling berperang di udara sedangkan pasukan darat, berperang di darat.


Aline bergerak mendekati Celine dan Jen bergerak melawan anggota gangster death.


Anggota Gangster death semakin berkurang jumlahnya. Pasalnya, Celine meminta bantuan pada team lain yang sama sepertinya untuk ikut membantu.


Negera juga memilih para aparat khusus yang sulit untuk dikalahkan.


"Biar aku yang melawannya" Kata Jen pada Celine saat Aline sudah kehabisan peluru.


"Baiklah, balaskan dendammu tapi jangan sampai dia mati" Kata Celine


Jen segera menendang kepala Aline hingga Aline tersungkur ke tanah.


Jen memang tidak terlalu menguasai pertarungan jarak jauh, namun kalau untuk pertarungan fisik dia bisa diandalkan.


"Seperti Bara, aku juga tidak akan membunuhmu" Kata Jen


"Kirim pasukan lagi !" Kata Celine melalui sebuah earphone yang ada di telinganya.


"Pasukan yang mana sayang ? haha..."


"Kurang ajar !" Kata Aline


Yang menjawab panggilan Aline adalah Jaya.


Tapi dia tidak sendirian, Daron mengirim pasukannya untuk membantu Jaya membasmi markas Gangster death berserta pasukan yang tersisa.


Setelah anggota gangster death menyerah, Aline bergerak sekuat tenaga untuk mendekati Jack yang hanya diam selama peperangan terjadi.


Tubuh Aline sudah penuh dengan luka akibat goresan-goresan dari pisau yang di pegang Jen.


Bahkan Dia kehilangan daun telinga sebelah kirinya. Tak hanya itu, wajahnya juga berlumuran darah, dan lengannya patah.


Celine mendekati Jen dan merangkul pundaknya.


Team mereka tidak lengkap saat ini. Walaupun mereka mendapat bantuan dari team lain, tapi tetap terasa berbeda.


"Jack penghianat" Kata Jen


"Tidak, dia hanya menjalankan tugas dariku. Semua ini tidak akan terjadi tanpa dia" Kata Celine


****


"Kenapa ? " Tanya Aline


Perlahan, Aline berdiri dan memegang wajah Jack. Jack langsung memeluk tubuh Aline dengan sedih.


"Maaf" Kata Jack


"Kenapa ?, Kau menghancurkan semuanya?" Tanya Aline


Aline melepas pelukan Jack dan menatap Celine.


"Apa karena dia ?" Tanya Aline


"Iya, aku mencintainya sejak dulu. Dan dia jauh lebih baik darimu" Kata Jack


Celine mengepal kedua tangannya dan berjalan mendekati Celine.


Para aparat langsung bersiaga untuk menembak.


"Pulanglah, kami akan membiarkanmu pergi !" Kata Jack


Aline tidak punya pilihan lain dan melihat helikopter miliknya sudah ada di atasnya.


Sebuah tali dari helikopter yang baru saja datang mendarat tepat di depan Aline dan menariknya untuk masuk ke dalam helikopter itu.


"Kalian terlalu baik, bukan... tapi terlalu bodoh. Aku akan menerima penghianatan ini dan aku akan membalaskan dendamku suatu hari nanti" Kata Aline di saat sudah berada di dalam heli itu.


"Kenapa kalian membiarkannya lari ?" Tanya Jen dengan bingung dan khawatir


"Tenang saja" Kata Jack


"Aku memaafkanmu" Kata Jen


"Aku tidak mengatakan apapun" Sahut Jack


Aline menyadari ada yang tak beres dan ternyata benar.


pilot yang mengemudikan heli itu bukanlah anggotanya.


"Kauu...kau ...Andy !" Teriak Aline


"Sebentar lagi kau akan mendarat ke pintu neraka dan menebus dosa mu. Sudah ribuan nyawa yang kau hilangkan, sekarang kau harus bertanggung jawab" Kata Andy sembari memakai ransel penerjun payung.


Andy segera melompat dari jendela dan membiarkan heli itu jatuh ke tempat yang sudah disiapkan.


"Hahhaha.....bagaimana mungkin aku bisa sebodoh ini ! tidakk !" Teriak Aline seperti orang gila saat helikopter yang dinaikinya meledak dan akhirnya dia juga mati.


*****


Jen POV :


Gedung sekolah ini benar-benar hancur.


Seperti perasaanku yang tidak bisa diungkapkan. Tapi papa pasti akan memperbaikinya lagi.


Setelah beberapa menit aku termenung, papa dan para anggotanya datang menghampiri kami.


Papa langsung memelukku dan tersenyum saat melihat kondisiku tidak terlalu buruk.


Dan seorang pria yang juga ku kenali datang menghampiriku.


Dia adalah Jaya. Ternyata dia dan Very diam -diam bersekongkol atas perintah papa.


Setelah semua yang ku lalui, dan setelah semua rasa sakit yang ku terima, akhirnya aku mendapatkan kebahagiaan yang melebihi kata kesederhanaan.


Matahari yang tak pernah bangkit bersinar di mataku, akhirnya kini muncul dan menunjukkan sinarnya yang menghangatkan.


Matahari yang ku maksud bukanlah matahari sungguhan, tapi "Keluarga, teman, dan sahabat".


Sekarang aku memilikinya.


Terimakasih masalalu, Aku berharap tidak akan pernah lagi bertemu denganmu. Bahkan di dalam mimpi sekalipun.


Semua terasa begitu pahit, dan aku membencimu.


Salam ~Jen~♥️


**End


Terimakasih untuk seluruh pembaca, mohon maaf jika banyak kesalahan yang author buat**.


Maaf ya karna author jarang up.


tapi intinya terimakasihhhhhhhhhh♥️