
Emosi Daron membara saat mendengar kabar bahwa Putri tunggalnya itu disiksa, dihina dan dipermalukan di depan umum.
Bahkan yang melakukan hal itu adalah seorang pejabat yang tidak ada apa-apanya dibanding dirinya.
Daron ingin segera menghancurkan kepala Seorang yang bernama Tanaka itu, namun Very dan See berusaha untuk menenangkan Daron.
Wajah Very tak sengaja terpukul oleh siku Daron hingga sedikit membengkak.
"Tuan, bukankah Jen meminta kita untuk merahasiakan jati dirinya dari khalayak umum" Kata See
"Tapi bagaimana mungkin saya bisa diam melihat putri saya diperlakukan seperti binatang !!" Bentak Daron
Daron segera mengambil ponselnya dan ingin menelphone para bodyguardnya untuk menemaninya ke sekolah Jen. Namun Very mengambil langkah sigap untuk meredam amarah Daron dengan sebuah kata-kata yang tidak keluar dari dasar hatinya samasekali.
"Tuan, biar See saja yang mengurus pria itu. Setelah kejadian, saya berjanji akan menemani dan melindunginya sepanjang hidup saya" Kata Very dengan nada yang meyakinkan.
Daron, See dan beberapa pelayan yang ada di sana pun sejenak terdiam sambil mengarahkan pandangan ke arah Very.
Very tersenyum dan menatap sayu wajah orangtua angkatnya itu.
"Saya berjanji, saya akan menyayanginya sebagai..... (Adik)"
Belum selesai berbicara, Daron langsung memotong perkataan Very sembari memegang kedua pundak kokoh Very.
"Saya percaya pada ucapan mu, baiklah kalau begitu saya serahkan Jen pada kalian".
Kata Daron dengan serius
"Tuan, saya akan menjemput Jen dan menyelesaikannya secepat mungkin" Pamit See
See segera pergi ke sekolah Jen untuk melindungi Jen dan mengurus Pria bernama Tanaka itu.
"Saya mau, seluruh siswa yang ikut melempar Jen degan sampah atau teriakan, hinaan dan cacian kamu urus seluruhnya !" Tegas Daron
"Baik Tuan"
"Awas saja mereka !" Kata Daron sambil berjalan menuju kamarnya
Very mengusap-usap wajahnya dengan kesal. Dia benar-benar telah melakukan kesalahan yang akan menjebak dirinya sendiri.
"Pasti Tuan Daron mengira kalau aku akan menjaganya seumur hidup sebagi suami, Ah sial !" Gerutu Very dalam hatinya
Tanpa dimintapun, Very akan bersedia untuk melindungi Jen dengan ikhlas sebagai tanda balas jasanya untuk Daron. Namun, Very tidak berniat untuk menikah dengan Jen samasekali.
*****
"Kenapa ibu datang kemari ?" Tanya Tanaka lagi dengan sopan
Sebelum See menjawab, Jen langsung melemparkan buku tebal yang ada disampingnya ke wajah Tanaka hingga pelipisnya sobek dan mengeluarkan darah.
"Aishhh...." Ringis Tanaka
See langsung menatap Jen dengan tajam, tapi tak bisa diartikan.
Tapi tidak degan kepala sekolah, dia sudah tau bagaimana sifat Temperamen Jen selama bersekolah disini. Tak bisa dihitung lagi jumlah siswa yang sudah dihajarnya.
Tanaka mengepal tangannya dan ingin segera menghancurkan wajah Jen sampai berkeping-keping. Namun See menahan langkah Tanaka.
"Hentikan !" Bentak See dengan tegas
Tanaka segera berhenti dan berusaha sekali untuk menahan emosinya yang sudah di ujung kepala itu.
Tetesan darah dari pelipis Tanaka yang sobek itu mulai banyak dan dia hanya mengelapnya dengan kemeja panjangnya itu.
"Seperti katak yang sangat ketakutan, dan seperti tikus yang bersedia untuk menjilati kotoran kucing demi sebuah keju extra. Kau sangat menyedihkan" Kata Jen sambil membersihkan sampah di rambutnya
"Kau ! bocah brengsek dan tidak punya sopan santun sama sekali !" Bentak Tanaka
"See lebih muda darimu, tapi kau menghormatinya seperti orang yang lebih tua darimu. Dia bahkan membentakmu, tapi kau hanya diam dan menurut. Jadi tidak perlu sok mengajariku sopan santun" Jawab Jen dengan nada santai
Tanaka terkejut saat Jen mengucapkan nama See dengan sangat santai.
Bahkan See sama sekali tidak marah.
Tanaka semakin penasaran, dia juga mulai sedikit gemetar walaupun tak terlalu terlihat jelas.
"Siapa sebenarnya...? Apa hubungan kalian ?" Tanya Tanaka dengan nada yang sudah berubah
Tanaka semakin bingung dibuatnya.
Jen berjalan mendekati Tanaka dengan mata tajam dan senyum membunuh andalannya.
Tanpa diduga oleh siapapun, Jen Langsung menendang perut Tanaka dengan tenaga yang tidak terlalu penuh. Namun itu saja sudah membuat Tanaka terpental kuat ke tembok dan mulut Tanaka memuntahkan darah.
"Tadi aku masih menghormatimu sebagai orangtua, tapi sekarang aku tidak akan segan untuk membuatmu merasakan penderitaan sesungguhnya ! budak harta ! " Kata Jen sambil menampakkan deretan giginya
Jen maju mendekati Tanaka dan menarik menendang lagi perut Tanaka hingga dia berteriak kesakitan. 1 tendangan, 2 tendangan, 3 pukulan, hingga Tanaka terkulai lemas.
Kepala sekolah sudah biasa melihat kejadian seperti itu, dan dari semua pertarungan Jen yang pernah disaksikannya, yang Tersadis adalah ketika para preman menyerang sekolah waktu itu.
Sedangkan See, dia hanya menatap perlakukan Jen yang menurutnya agak keterlaluan.
"Kau mau melihat yang lebih ?" Tanya Jen dengan senyuman lebar kepada See
"Hentikan ! Jangan sampai dia mati " Kata See
"Tidak akan, hahaha...." Sahut Jen dengan tawa yang mengandung kengerian dan kesedihan
Melihat sifat Tanaka, Jen teringat pada Roy.
Roy membiarkan Riska menjadi gila dan menyiksa Jen hanya untuk mendapatkan warisan dari Daron.
Bahkan yang baru diketahui oleh Jen bahwa yang berusaha membunuh Daron waktu dulu adalah Roy juga.
Jen sangat membenci Roy beserta keluarganya, rasa benci nya tidak bisa lagi terhitung.
Tapi Darma selalu memberikan kata-kata penenang terbaik yang berhasil sedikit meredam kebenciannya yang menggebu-gebu.
Seketika Jen teringat pada Riska dan Enzel.
Dia ingin menangis tapi tidak bisa.
"Suruh dia meminta maaf di depan umum dan katakan kalau dia yang memukuli dirinya sendiri !" Titah Jen pada See dan kepala sekolah
"Baik, kata mereka"
Tanaka langsung berlutut di depan Jen sambil memohon ampun.
"Maaf, saya tidak mengetahui siapa Anda" Kata Tanaka dengan tangisan
"Jika seandainya aku bukan berasal dari keluarga besar, aku yakin kau akan meludahiku sampai ludahmu habis" Sahut Jen
Tanaka terdiam, dia sangat menyesali kebodohannya.
Setelah ini entah apalagi yang akan menimpa dirinya dan keluarganya.
Tanaka tidak tau kalau Jen adalah putri Daron, yang dia tau adalah, Jen merupakan salah satu anggota keluarga See atau bahkan putri dari atasan See.
Kalau Tanaka tau Jen adalah putri Daron, mungkin dia akan mengalami serangan jantung saat ini juga.
"Cepat seret dia keluar dan bersihkan nama ku !" Kata Jen
See, Tanaka dan kepala sekolah berjalan menuju podium yang sudah dipenuhi oleh para siswa yang penasaran.
Jen menyusul dari belakang dengan wajah menunduk dan sedih.
"Saya meminta maaf kepada Jen dan kepada semua orang karena sudah membuat keributan disini. Semua ini adalah kesalahan saya, saya sangat menyesalinya sampai-sampai saya memukuli diri saya sendiri" Tegas Tanaka
Seluruh guru beserta siswa langsung key bukan main, hingga terjadi keributan suara akibat pertanyaaan-pertanyaan penasaran.
Rio yang menyaksikan pengakuan ayahnya itu sangat kaget dan emosi. Tapi dia tidak mau gegabah.
Darma juga menatap kearah Jen yang sedari tadi hanya menunduk.
"Aku tau, kamu tidak akan pernah kalah" Batin Darma sembari menatap Jen
Ami dan temannya pun menyaksikan pengakuan itu. Dari awal mereka sudah tau ujung permasalahan ini, tapi mereka tidak berani untuk ikut campur samasekali.
Mereka takut Jen akan menjadi murka karena membocorkan rahasia keluarganya.
Selama Tanaka membuat pengakuannya dan meminta maaf, Jen hanya tenggelam dalam fikirannya sendiri tanpa memperdulikan apapun perkataan pria itu.
"Budak harta dan penjilat ini sangat menjijikkan !" Gerutu Jen dalam batinnya