
"Hahahaha..... sekarang aku adalah seorang pengusaha besar !" Kata Roy sambil berdiri merentangkan kedua tangannya di balkon rumah barunya
"Benar adik, lalu bagaimana dengan putri di Riska itu ?" Tanya kakak Roy
"Aku sudah menyuruh orang untuk mencarinya dan aku akan segera menikahkannya dengan temanku" Kata Roy
"Baguslah, aku juga tidak sabar untuk segera melihat penderitaan yang akan dialaminya"
Sudah beberapa hari Roy menikmati kehidupan barunya. Perusahaan miliknya dipimpin langsung oleh puteranya Dimas.
Baru beberapa hari dipimpin oleh Dimas, perusahaan itu mengalami sedikit peningkatan.
Dimas adalah anak yang sangat cerdas dan memiliki jiwa pemimpin walaupun hanya memiliki ijasah SMA. Karena itulah Roy sangat bangga memiliki Dimas.
"Lihat saja bocah brengsek, kau sudah berani memukul kakak ku dan mempermalukan keluargaku.
Aku akan membalasnya !" Guman Roy
*****
*18 tahun yang lalu
"Roy, kudengar kemarin Daron memberikan salah satu perusahaannya pada Riska" Kata Teman Roy
"Benarkah ?" Tanya Roy berpura-pura tidak tau
"Ya, dan besok Daron akan berangkat ke kota kero untuk urusan bisnis"
"*Hehehe... Aku punya rencana yang bagus untuk menyingkirkan Daron di pecundang itu" Guman Roy dalam batinnya
Setelah menerima informasi kalau Daron sudah berada di perjalanan tanpa pengawalan sama sekali, Roy memerintahkan beberapa preman untuk menculik Daron dan membawanya ke tengah laut untuk di ledakan dan dijadikan makanan ikan.
"Sebentar lagi istri dan kekayaanmu akan menjadi milikku Daron sahabatku" Kata Roy*
****Tuttt...tutttt****....(*suara panggilan)
"Ya" Kata Roy
"Perintah sudah dilaksanakan"
"Sudah mati ?"
"Sudah"
"Bagus" Kata Roy, lalu menutup telphone nya sambil teetawa lantang "Hahahaha......"
Roy mengira kalau Daron sudah benar-benar Mati dan menjadi santapan ikan di laut. Tapi nyatanya itu hanyalah skandal pembunuhan yang direncanakan oleh Daron.
Sebenarnya Daron sudah tau rencana busuk Roy. Jadi Daron tidak pernah diculik ataupun di bunuh, dia adalah orang yang pintar dan sudah mengetahui rencana Roy.
Namun yang membuat Daron harus benar-benar pergi meninggalkan Riska dan calon bayi nya adalah ancaman Ani ibu tiri Daron.
Ani tidak pernah merestui pernikahan Daron dan Riska. Ani bahkan sangat membenci Riska dan Daron.
Bukan tanpa sebab, Daron adalah anak tiri Ani yang lahir dari istri pertama ayah Daron.
Setelah Ayah Daron meninggal, seluruh perusahaan di wariskan kepada Daron seorang. Beberapa kali Ani mencoba merebut perusahaan, tapi tak pernah berhasil.
Sehari sebelum hari ulang tahun Riska, Ani menyuruh orang-orang nya untuk pergi ke rumah Daron untuk membunuh Riska dan bayi yang dikandungnya.
"Tembak kepala Riska itu !! intinya dia harus mati !" Kata Ani pada anak buahnya
"Baik buk"
Anak buah Ani langsung berangkat menuju rumah Daron untuk membunuh Riska.
Setelah anak buah nya pergi, tiba-tiba Daron datang menemui Ani.
"Hentikan Anak buahmu itu !" Bentak Daron
"Hahaha..... hidupmu tidak akan pernah tenang sebelum kau menyerahkan seluruh perusahaan ayahmu padaku !" Kata Ani
"Aku lelah Bu, aku lelah" Kata Daron dengan lesu "Aku akan berikan perusahaan ayah padamu, kecuali the Most. Biarlah Riska memegang 1 perusahaan saja"
Ani merasa aneh dengan sikap Daron, karena mau memberikan perusaan nya begitu saja.
"Mungkin dia sudah mau mati" Batin Ani
"Tolong tarik kembali anggota mu " Kata Daron
Ani pun menyetujui permintaan Daron dengan senyum puas. The Most memang perusahaan besar, tapi ada beberapa perusahaan yang lain lebih besar dari itu.
skipp.....
*Daron berangkat menuju bandara, dia akan pergi ke luar negeri untuk merintis ulang bisnisnya dari nol.
Anggota suruhan Roy tidak jadi membunuh Daron karena mereka di berikan uang 2 kali lipat bayaran dari Roy oleh Daron.
Daron memerintahkan mereka untuk mengatakan pada Roy kalau Daron sudah benar-benar meledak dan serpihan tubuhnya sudah menjadi santapan ikan di tengah laut.
"Riska, maafkan aku. Tetaplah hidup dan berjuang untuk putri kita hingga aku kembali lagi suatu saat nanti" Guman Roy sebelum pesawat lepas landas*.
*****
Jen duduk di salah satu kursi di ruangan itu untuk mendengarkan arahan dari Ana.
"Kalau semudah ini untuk bergabung, kenapa tidak mereka saja yang menyusup !" Batin Jen dengan kesal
Ana memberitahukan tugas-tugas anggota baru dan setelah selesai memberikan arahan, Ana menyuruh anggota senior untuk memberikan identitas mereka sebagai anggota Gangster X, yaitu sebuah Jam tangan berwarna hitam dengan sidik jari pemakainya.
Jen juga diberikan jam tangan itu dan menempelkan jari jempolnya ke layar jam sebagai sidik jari.
Para anggota baru yang diberikan jam tangan itu menerimanya dengan wajah kebingungan. Tapi lain halnya dengan Jen yang sudah mengetahui fungsi dan cara kerja Jam itu, namun Jen tetap berpura-pura bingung agar tidak dicurigai.
Setelah Jen memakai Jam itu, Jack langsung bekerja untuk memindai data dari jam tangan Jen. Jack dengan mudah mencari data dari jam tangan itu karena Jen memakai alat penyadap yang diberikan Adi sebagai alat penghubung.
"Oh, pantas saja kita tidak pernah menemukan informasi dari jam yang sudah meledak" Kata Jack
Jen yang mendengar suara Jack dan Celine hanya diam dan bersikap santai seolah-olah tidak dengar apapun.
"Jam ini adalah identitas kalian, jika kalian ingin bebas keluar masuk ke markas ini, tinggal kalian cocokan saja ke fingerprint yang ada di pintu masuk" Kata Ana.
"Apa kalian paham ?" Tanya Jaya
"Paham"
Setelah menjawab secara serentak, Jen langsung mengangkat kanannya keatas
"Instruksi" Kata Jen
"Apa ?" Kata Ana dengan kesal
"Seperti perjanjian awal, bahwa aku bukanlah anggota bawahan yang bekerja dilapangan" Kata Jen
"Ah iya, kau akan menjadi salah satu pilar pertahanan markas kita jika sewaktu-waktu diserang. Sekaligus kau membantu Ana dan Jaya" Kata Bara
Wajah Jen langsung bersinar karena tujuan pertamanya sudah terlaksanakan.
Tujuan keduanya adalah, memberikan jalan masuk bagi Very dan Andy agar bisa menjadi anggota gadungan.
Tujuan setelahnya adalah mendekati Jaya dan menyerahkan tugas peng copy'an data kepada Andy.
"Bagus, bagus" Kata Jack
Sistem pertahanan virus milik Gangster X tidak se hebat yang difikirkan Jack.
Bahkan penyadap yang di pakai oleh Jen tidak terdeteksi oleh sistem keamanan milik Mereka.
"Nanti aku akan mencari tahu
jumlah seluruh senjata milik mereka dan akan ku non aktifkan data online mereka. Jadi bergerak lah cepat" Perintah Jack pada Jen
"Dendamku akan segera terbalaskan" Batin Jen
Stelah selesai rapat, seluruh Anggota Gangster X pun membubarkan diri dan langsung mengambil tugas masing-masing.
Seperti mengurus transaksi Narkotika berskala makro maupun mikro secara ilegal, penagihan iuran di jalanan, membasmi satu persatu aparat, membunuh, dan mencari anggota baru. Tentunya mereka akan didampingi oleh anggota senior.
Jen keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju toilet terdekat.
"Sekarang pergi ke ruangan Jaya, dan letakkan 1 penyadap Disana agar aku bisa mengontrol seluruh rekaman dan aktivitas di markas itu" Kata Jack
"Iya sayang iya" Jawab Jen
Jack hanya diam dan tidak berbicara lagi.
dia adalah orang yang profesional saat bekerja, ketika pembahasan sudah lari jalur, maka dia akan berhenti bicara.
Termasuk saat di goda oleh Jen.
Selepas dari toilet, Jen berjalan menuju ruangan Jaya.
Sesampainya di depan pintu, Jen menempelkan sebuah kamera pengintai berukuran mikro demi keamanannya.
Tugas Jen hanya masuk dan menempelkan sudah alat peretas di komputer Jaya.
Setelah menempelkannya, Jen langsung keluar dari ruangan itu.
Ruangan Jaya di penuhi oleh kamera CCTV, namun saat Jen sudah menempelkan alat peretas itu, kamera itu bisa dikendalikan oleh Jack dari jauh.
"Selanjutnya, Andy dan Very akan masuk besok.Bantu mereka menjadi anggota gadungan ! Andy yang akan mengerjakan kelanjutannya"Kata Jack
Jen menganggukkan kepalanya pertanda iya.
Saat sudah keluar dari ruangan itu, tiba-tiba Jaya datang.
Jantung Jen berdegup dengan kencang, darahnya terasa panas dan keringatnya bercucuran. Karena fikirannya tak terkontrol, Jen tidak sengaja mengeluarkan angin.
Tutt...
"Ah, ak.... aku sakit perut dan mencari toilet" Kata Jen sambil memegangi perutnya, sekaligus dengan wajah memerah
"Bukannya kamu tadi sudah masuk ke toilet yang Disana ?" Kata Jaya sambil menunjuk toilet dekat aula
"Toilet Disana air nya panas" Kata Jen dengan wajah sedikit bingung
"Panas ? Apanya yang panas ?" Tanya Jaya bingung. "Wajahmu kok jadi pucat ?"
Darah yang mengalir di tubuh Jen semakin terasa panas, dan jantungnya berdetak lebih kencang.
"Aku sakit perut" Kata Jen
"Hmm.... itu Disana ada toilet biasa" Kata Jaya sambil menunjuk ke arah toilet
Tanpa mendengarkan ucapan Jaya lagi, Jen langsung berlari sambil memegangi perutnya.
"Terimakasih !" Kata Jen
"Apa yang dimakan gadis itu ?" Guman Jaya sambil mengibaskan tangannya di depan wajahnya
Jaya pun memasuki ruangannya dan melakukan pengecekan terhadap CCTV.
Salah satu tugas Jaya adalah mengawasi setiap rekaman CCTV demi keamanan markas mereka dari para penyusup.
Setelah tidak menemukan apapun, Jaya menyenderkan kepalanya ke kursinya dan mengingat sekilas tentang Jen.
Gadis SMA yang memiliki banyak kasus di sekolahnya, gadis yang mabuk di bar, mengajar beberapa orang aparat, dan buang angin di depan nya.
Terukir senyum tipis di wajah Jaya saat hal itu terngiang di kepalanya.
Di dalam toilet, Jen merutuki dirinya sendiri karena buang angin sembarangan.
Namun tak disangka juga, angin itu menyelamatkan dirinya dari interogasi Jaya.
Jen menarik nafasnya dalam-dalam agar aliran darahnya kembali normal.
"Baru segitu aja udah kena mental" Kata Celine
"Aish, si jalang ini ! " Kata Jen
Mendengar perkataan Jen, Celine malah tertawa
"Di saat seperti ini, kau masih sempat menyebutku jalang" Kata Celine
"Aku melihat Jaya menutup hidungnya saat kau beranjak pergi" Kata Jack
"Hahaha..... lucunya oh lucunya" Kata Andy yang tiba-tiba terhubung dengan percakapan mereka
Di tempat lain, ternyata mereka juga mendengarkan pencakapan antara Jen, Jack dan Celine.
Bahkan dari semula saat Jen berada di Bar.
"Awas kalian !" Kata Jen dengan nada kesal.
Namun di balik itu, Jen mengacak-acak rambutnya sendiri karena merasa malu.
Dia merasa kehilangan harga diri di depan orang penting, terutama saat Jack mengatakan kalau Jaya menutup hidungnya setelah Jen beranjak pergi.
2 hari kemudian ;
Jen kembali datang ke markas Gangster X.
semenjak bergabung dengan mereka, Jen tidak pernah lagi datang ke markas team nya demi keamanan.
Andy dan Very berhasil di seludupkan oleh Jen ke dalam markas.
Andy adalah salah satu ahli meretas data dan Very ahli dalam mencari denah atau jalan keluar saat terancam.
Ana tidak sengaja lewat dan melihat Jen sedang berbicara kepada 2 orang pria tampan, namun kedua pria itu memakai jam identitas keanggotaan.
"Hei ! Apa yang kalian lakukan disini ?" Tanya Ana dengan suara lantang
Jen yang mendasari kaget langsung membanting tubuh Very kelantai.
brukkk
"Arrgghh" kata Very
"Mereka berdua tadi ku dapati sedang tidur di koridor sebelah sana" Kata Jen
Mendengar itu, Anda hanya tersenyum dan menyuruh Jen untuk memberikan hukuman yang lebih berat lagi.
"Bila perlu, bunuh saja mereka !" Kata Ana lalu beranjak pergi
Setelah Ana pergi, Andy mengulurkan tangannya untuk membantu Very berdiri.
"Huh hampir saja" Kata Jen sambil menepuk keningnya
Very yang diperlakukan semena-mena oleh Jen hanya diam dan menatap sekilas tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Jen sudah bersiap-siap untuk mendapatkan cacian maupun makian dari Very, namun nyatanya Very hanya diam dan beranjak pergi menuju ruang penyimpanan senjata dengan mengikuti map yang tersedia di Android nya.
Andy dan Jen saling menatap kepergian Very dengan wajah kebingungan.
"Mungkin dia sedang datang bulan" Kata Jen
"Mungkin" Kata Andy sambil berjalan mengikuti Very
Very dan Andy berjalan bersamaan. Setelah berada di depan ruangan Jaya, Andy masuk kedalam sedangkan Very melanjutkan perjalanannya menuju ruang khusus penyimpanan senjata.
"Setelah ku dapatkan pin nya, langsung masuk dan sabotase ruangan itu ! ingat, pintu itu hanya bisa terbuka sekali saja dalam 1 jam dan untuk keluar, kau tinggal menekan tombol di belakang pintu itu saja" Kata Andy
"Iya" Kata Very sambil berjalan
Andi masuk ke ruangan Jaya dan mulai mengotak-atik komputer induk.
Selama Andy bekerja di dalam ruangan, Jen mengawasi dari tempat yang tidak terlalu jauh dari ruangan itu.
Jika ada orang yang datang, maka Jen akan langsung menembaknya menggunakan pistol. Orang yang tertembak tidak akan mati tapi hanya pingsan selama 1 hari.
Setelah orang yang tertembak jatuh, maka Jen akan bergegas untuk menyeret orang itu ke suatu ruangan di dekatnya.
Seluruh Kamera pengawas sudah dikuasai oleh Jack, dibantu oleh Andy. Sehingga Jen bebas bergerak kesana-kemari.
"Sudah selesai, Jen ! sekarang susul Very dan bantu dia bertarung" Kata Andy
"Baiklah" Kata Jen, lalu segera melesat menyusul Very
*****
Very berjalan menyusuri koridor yang cukup sepi dan gelap.
Terdengar suara langkah kaki di dekat Very dan saat menghadap ke belakang, orang itu langsung menyerang Very dengan sebilah besi panjang berukuran 1 meter.
Orang itu langsung memukulkan besi itu ke punggung Very, namun Veri menangkisnya.
Orang itu kembali menyerang dengan gerakan cepat dan bertubi-tubi. Very dapat menangkisnya dan merampas besi itu, lalu memukul orang itu hingga pingsan dengan bercucuran darah.
Very kembali melanjutkan perjalanannya.
Ruangan yang di tuju Very sudah dekat dan saat Very hendak memasukkan sandi pintu itu, tiba-tiba datang 5 orang dan langsung menyerang Very.
"Penyusup ! cepat tekan bel pemberitahuan agar Bos Bara tahu" Kata orang itu
Salah satu temannya pun berlari menuju bel, namun saat hampir menekan tombol itu tubuhnya tiba-tiba terhempas ke lantai.
Brukkk
"Aaaaaggh" Kata orang itu.
"Tepat waktu" Kata Jen, sambil memakai masker penutup wajah agar tidak di kenali anggota gangster itu.
Very pun menarik nafasnya lega, jika saja bel itu berbunyi maka rencana mereka akan gagal.
Pertarungan kembali berlanjut. Saat 5 orang itu sudah dikalahkan, Very pun memasukkan sandi pintu itu agar terbuka. Namun saat sudah terbuka tiba-tiba muncul 3 orang lagi dan langsung menyerang.
Perkelahian kembali terjadi, pintu yang terbuka hampir tertutup kembali.
"Pintunya !" Kata Very pada Jen
Tanpa fikir panjang, Jen langsung masuk ke dalam ruangan itu dan pintunya langsung tertutup.
"Gelap" Kata Jen
Jen menghidupkan ponselnya dan tidak ada jaringan sama sekali di ruangan gelap itu.
Jen pun menyalakan senter di ponselnya, lalu mencari saklar lampu.
Setelah menemukannya, Jen menekan saklar itu. Jen terpana dengan pemandangan yang di lihatnya sambil membuka mulutnya lebar-lebar membentuk huruf O.
Terlihat banyak sekali senjata api di ruangan besar itu. Mulai dari pistol kecil hingga besar, terlihat juga tumpukan granat aktif di sebuah kotak besar, dan berbagai jenis rudal juga terlihat. Ternyata rumor yang menyatakan kalau gangster X memiliki persenjataan yang besar, itu adalah benar.
Namun ruangan persenjataan mereka bukan harus itu, ada beberapa lagi.
Tapi ruangan ini adalah induk dari segala ruangan lainnya Dengan kata lain, jika Jack sudah mengganti sandi di ruangan itu maka seluruh ruangan akan berada di bawah kendalinya.
Setelah menatapi isi dari ruangan itu, Jen mulai tersadar.
"Terus aku harus apa di ruangan ini ?" Kata Jen
"Kenapa kamu yang masuk, seharusnya Very" Kata Andy
"Jen, apa kau baik-baik saja ?" Tanya Very
"Iya, tapi aku harus apa?" Kata Jen
"Dengarkan instruksi Andy, karena tombol bel nya sudah berbunyi. Kita tidak punya waktu, mereka akan segera datang" Kata Very
Di ruangan tempat Very berdiri, terlihat lampu berwarna merah menyala mulai berkedip-kedip dan suara peringatan penyusup berulang kali terdengar.
Jantung Very berdegup kencang, karena Jen masih berada di dalam ruangan itu. Sebelum sandinya diganti oleh Jack, maka Bara masih bisa masuk dengan bebas menggunakan identitas kepemimpinan.
Jika tidak, maka misi mereka akan gagal total hari ini.
CCTV di ruangan itu langsung di blokir oleh Jack agar tidak bisa di retas lagi oleh Jaya.
"Jen dengarkan instruksi ku" Kata Andy saat sudah keluar dari ruangan Jaya dan kembali ke mobil nya untuk mencari jaringan internet
"Iya, Apa .... apa ?" Tanya Jen
"Berjalanlah ke komputer yang ada di ruangan itu dan hidupkan"
Jen menghidupkan komputer itu dan tiba-tiba lampu di ruangan itu berubah menjadi warna merah menyala dan berkedip setiap detik.
Jantung Jen kembali berdegup kencang.
"Sudah hidup" Kata Jen
"Lalu.....,..." Andy menjelaskan apa yang harus dilakukan Jen
"Sudah ketemu" Kata Jen
"Bacakan, agar ku salin"
€¥¢£π✓™%AYTJK¥€
Jen hanya diam dan bingung, melihat tulisan di komputer itu.
"Cepat bacakan ! mereka hampir tiba !" Kata Very
"Aku tidak tau cara membacanya" Kata Jen dengan tegang