
Jen melangkahkan kakinya dengan santai menuju kelompok preman itu
"Tunggu dulu !" Kata Adi pada Jen
"Apa lagi?" Tanya Jen
"Buk Celine mengutus 5 orang untuk membantu mu mengalahkan mereka, tapi mereka tidak membawa senjata api. itu sebagai tantangan untukmu. Kalau kau berhasil mengalahkan mereka maka latihan mu akan di naikkan ke tingkat berikutnya. Ingat Jen, tunggu mereka datang dan kau tidak boleh bergerak duluan!" Kata Adi dengan nada keras dan mengancam
"Baiklah kalau begitu" Kata Jen dengan nada kesal
Jen melepas dasi nya dan mengikatkannya ke kepalnya dan membuka 3 kancing atas kemeja sekolahnya. Jen juga merobek rok sekolahnya agar bisa bergerak leluasa saat bertafung nanti. Dia melanjutkan langkahnya mendekati kumpulan preman itu.
Jen menghentikan langkahnya dan menghitung jumlah preman yang harus dilawannya dengan jari telunjuknya
"1 , 2 , 3, 4 ,5, 6, 7,......"
Belum selesai Jen menghitung, salah satu preman membentak Jen
"Hei !, Bocah ingusan. Apa kau mau mati ?"Kata preman itu sambil mendekat kearah Jen.
Tapi Jen tidak melangkah mundur dan malah melangkah maju.
Jen tidak merasa takut, lagipula saat ini dia sedang emosi dan untuk menghilangkan emosinya adalah dengan cara bertarung.
"Jen, mundur Nak !" Kata Pak manurung dalam posisi masih tiarap
""Hei ! , Berani sekali kau bersuara" Kata Preman lainnya sambil menginjak kepala pak manurung dengan cukup keras
Jen yang melihat itu hanya diam dan semakin bergairah untuk bertarung.
Bukan berarti Jen tidak merasa kasihan pada guru-guru yang sedang di tindas dan guru yang sudah terluka itu, tetapi Jen harus bersikap dingin dan angkuh agar lawannya bisa merasakan kekuatan Jen.
"Hei....Kenapa kalian diam !, serang dia !"
Kata ketua mereka
"Tidak....tidak Tuan ! tolong jangan sakiti siswi kami, Saya mohon !" Kata buk Aan sambil menangis
Ketua preman itu menhhampiri Buk Aan dan mencengkram kuat dagu nya
"Sudah kubilang jangan berani untuk bersuara" Kata preman itu, lalu menendang wajahnya
Bukkk......
"Arghhhh...." Teriak Buk Aan
Jen hanya diam dan berdiri santai melihat itu, tapi di dalam hatinya dia sangat kesal karena orang utusan Adi belum juga muncul.
Kalau hanya melawan 5 orang, Jen mungkin sanggup. Tapi kalau 10 orang maka kemungkinan untuk menang akan sangat kecil.
Jen juga sesekali mendengar suara siswa/i yang menggosip tentang dirinya
"Lihat, dia benar-benar cari mati "
"Benar, karena dia kesana Buk Aan jadi di aniaya"
"Dia terlalu sombong selama ini, tapi aku berharap dia akan dihabisi oleh preman-preman itu sekarang juga" Kata Arya kepada Andri"
"Hei bocah ! Cepat tiarap atau aku akan membunuhmu disini !. Kata salah satu preman kepada Jen
"Kalau aku tidak mau? kau mau apa?.
Aku akan memberikan kalian kesempatan untuk kabur dari sini dan penawaranku hanya sekali saja !" Kata Jen saat sudah melihat 5 orang suruhan Adi di gerbang
"Dasar bocah sialan !" Kata preman itu sambil menyerang Jen dengan golok nya.
Semua mata yang melihat itupun tersentak kaget dan ada yang menutup mata dengan tangannya.
Tapi Jen bukanlah Anak yang lemah dan dia sudah biasa bertarung dengan tangan kosong. Jen menangkap tangan preman itu dan membantingnya dengan keras ketanah
Brukkkk
"Aaaaah" Kata preman itu saat tubuhnya terjatuh dan kakinya dipatahkan oleh Jen
"Dasar bocah ingusan !" Kata Ketua mereka
"Aku sudah memberikan kesempatan tapi kalian menolak. Baiklah, aku tidak akan membiarkan satupun dari kalian lari dengan selamat dari tempat ini !" Kata Jen dengan santai dan senyum
"Baiklah, aku tertarik padamu dan aku haus akan darah mu !" Kata ketua preman itu sambil menjilati bibirnya sendiri
"Cihh....Seranggg !!!" Teriak Jen sambil memberi aba- aba kepada 5 orang yang baru datang
"Apa ? bagaimana mereka ada di sini?" Kata ketua preman itu
5 orang aparat itu langsung menyerbu dan mengambil lawannya masing-masing.
"Kalian semua berlindunglah di dalam gedung kelas dan segera obati yang terluka" Kata salah satu aparat itu
Jen melawan salah satu preman yang memegang pisau belati.
preman itu menyerang Jen dengan membabi buta hingga membuat lengan kanan Jen sedikit tersayat dan mengeluarkan darah.
"Awwww..." Ringis Jen saat lengannya tersayat dan sekarang lengannya berlumuran dengan darah.
Saat Jen mencoba menutup lukanya dengan dasi nya, tapi tiba-tiba preman itu menyerang dan mengincar ginjal Jen.
Preman itu menusuk belati itu ke pinggang Jen
"Aaaaaah.....! " Teriak Jen yang membuat pertarungan terhenti sejenak
"Ya ampun, apa yang terjadi?"
"Tidak Jen !" Kata Darma sambil menahan tangisnya*
Para guru yang melihat itu hanya menahan nafasnya, karena mereka tidak menyangka kalau Jen akan berakhir saat ini.
5 orang aparat itu pun hanya terdiam sementara.
Preman yang menusuk Jen merasa ada kejanggalan saat menusuk Jen, karena tidak ada darah yang keluar
"Hihihihi...Tertipu kamu Bangs*t" Kata Jen dengan senyum liciknya dan langsung merebut belati itu dari tangan preman itu.
Saat preman itu mencoba menusuk pinggang Jen, Jen menangkapnya menggunakan telapak tangannya yang sudah dialiri pernafasan untuk membuat tangannya kebal terhadap serangan benda tajam.
"Ba...bagaimana mungkin" Kata preman itu gugup
Para murid dan guru yang melihat itu akhirnya bisa kembali bernafas lega karena Jen baik-baik saja dan tidak mati.
Pertarungan terus berlanjut tanpa mereka menyadari kalau Jen baik-baik saja.
Setelah Jen merebut belati itu, Jen langsung menancapkannya dengan kuat ke pundak kiri preman itu
"Arghhh..." Teriak preman itu
"Satu-satunya larangan di pertarungan ini adalah tidak boleh membunuh,Jadi aku tidak akan membunuhmu. Huh...aku sangat murah hati kan ?" Kata Jen sambil menarik belati yang ditancapkannya tadi dan kembali menancapkan belati itu di pundak kanan preman itu.
"Arghhh....Ampun" Teriak preman itu, yang membuat perhatian banyak orang tertuju pada pertarungan mereka berdua.
"Aku akan melepaskanmu sayang" Kata Jen dengan senyum jahat dan tatapan membunuh yang membuat preman itu bergetar. Jen Kembali mencabut pisau belatinya dari pundak preman itu dan lagi-lagi preman itu berteriak kesakitan.
Setelah belatinya dicabut, Jen menendang kuat perut preman itu hingga terpental.
Saat ini tangan dan baju sekolah Jen dilumuri oleh darah, bahkan ada cipratan darah yang mengenai wajahnya.
Jen benar-benar terlihat seperti monster yang menakutkan.
"Di...dia melakukan itu" Kata salah satu siswa yang mengintip dari dalam kelas, lalu pingsan
"*Dia sangat menyeramkan"
"Bagaimana ini Ara, tadi pagi kita mengerjai nya di toilet. Melihat kejadian ini aku berfikir kalau kita akan tamat*". Kata Dinda pada Ara sambil menangis mengingat kejadian tadi pagi saat di toilet.
Ketua preman itu dari tadi hanya duduk diam dan memperhatikan pertempuran itu. Namun saat melihat Jen, ia pun tertarik untuk membunuhnya.
"Hei anak kecil, apa ada kata-kata terakhir yang ingin kau sampaikan?" Kata Joy (Ketua preman) sambil mendaratkan pedangnya di leher Jen
Jen tidak menunjukkan ekspresi takut, tapi malah tersenyum.
"Kau terlalu naif, aku tau kau takut kalah kalau melawanku sehingga kau langsung mengancamku begini" Kata Jen dengan santai
"Kau !" Kata Joy dan berniat menebas leher Jen
Tank...
Tiba-tiba salah satu aparat datang dan menangkis pedang Joy menggunakan goloknya dan memberikan Jen waktu untuk mengambil golok yang tergeletak di tanah.
Namun saat Jen berbalik badan ternyata ada preman lain yang menyerang aparat itu dengan menusuk punggungnya hingga menembus ke jantung aparat itu.
Namun dia juga berhasil membunuh preman yang menusuknya dengan nenancapkan goloknya tepat di jantung preman itu.
"Ahhhhhhh....ahhhh....Aku serahkan semuanya pada kalian Jen !" Kata aparat itu dengan senyuman lalu terjatuh dan tewas.
"Tidakkk, kakak !" Teriak Jen
Jen yang melihat itu tidak bisa menahan emosinya dan langsung menyerang Joy.
Laga antara pedang Joy dan golok Jen menghasilkan bunyi yang menakutkan
Tank....Tank....Tank
Joy menyerang Jen dengan membabi buta hingga membuat Jen kewalahan dan langkahnya terhenti saat sudah mentok ke pagar sekolah.
Joy menyerang Jen dengan pedangnya dan Jen menahan serangan itu dengan goloknya.
"Menyerahlah...." Kata Joy
"Kau membunuh temanku, maka terimalah ini !"
"Arghhh...." Teriak Joy dengan keras saat tangan kananya di potong oleh Jen.
Jen sudah hampir kehabisan tenaga dan mungkin tidak akan bertahan lama, maka Jen berusaha menahan pedang joy dan saat pedang Joy sedikit terhempas, Jen langsung bergerak cepat kesamping dan menebas lengan kanan Joy hingga putus dan pedangnya pun ikut terjatuh ketanah.
Sekarang seragam sekolah Jen benar-benar penuh dengan darah.
"Tanganku....!!!" Teriak Joy
Aku nulis cerita karena hoby dikala gabut.
Aku gak tau kalian baca dengan serius atau enggak sama sekali.
Maaf kalau ceritanya nggak bagus dan nggak menarik, tapi aku juga senang karena bisa menuangkan khayalan ku ke dalam sebuah karya tulis walaupun mungkin gak terlalu menarik.
Makasih buat kalian yang udah baca karya aku dan makasih buat kalian yang slalu stay dan kasih dukungan.
Kalau kalian suka, kalian bisa tambahin ke daftar favorite kalian 😊 kalau nggak suka, yaudah ngapapa kok😉
love yu💕**