
Di sore hari tepat pukul 15 : 00
kring....kring....(suara telphone)
"Ya ?"
"Maaf, apakah ini dengan bapak Roy ?"
"iya, ada apa ?" Tanya Roy
"Kami dari pihak Rumah Sakit melati ingin menyampaikan bahwa istri Anda bernama Riska dan putri anda bernama Enzel telah meninggal dunia. Untuk info lebih lanjut silahkan datang ke sini pak !" Kata Dokter itu
Sontak saja ponsel Roy terjatuh ke pangkuannya.
"Hallo ?" Kata Dokter
"Iya, saya akan segera kesana"
Roy langsung berlari keluar rumah dan menaiki sepeda motornya menuju rumah sakit. Roy masih merasa tidak percaya dengan ucapan Dokter tadi, jadi Roy langsung buru -buru memeriksanya.
Setelah sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya Roy sampai di rumah sakit dan langsung berlari kedalam.
Setelah mengetahui No kamarnya, Roy pun bergegas mencarinya.
"Iya, ini pasti kamarnya " Kata Roy
Namun sebelum masuk ke ruangan itu, Roy mendengar suara tangisan dan jeritan dari anak-anak maupun orangtua dari dalam ruangan itu.
Jantung Roy pun berdegup kencang dan tangannya gemetaran saat ingin membuka pintu ruangan itu.
krek....(membuka pintu)
Ruangan itu cukup luas dan bisa menampung sekitar 30 pasien sekaligus.
Mata Roy langsung mencari-cari keberadaan Riska dan Enzel.
"Apakah ini dengan bapak Roy ?" Tanya salah satu perawat
"i.. iya, saya Roy " Jawab Roy
"Mari ikut saya pak, Jenasah isteri dan putri bapak ada di sebelah sana !"
Roy pun mengikuti perawat itu dari belakang.
Sesampainya di bilik yang dituju, Roy langsung berlutut dan memegangi kepalanya sendiri dengan tangannya sambil meneteskan air mata. Dia tidak percaya kalau saat ini istri dan Anaknya sudah meninggal.
"Aku sudah melarang mereka untuk keluar tadi siang, tapi mereka tidak mendengarkan ucapanku. Lihat sekarang, mereka sudah tidak bernyawa lagi !" Kata Roy kepada perawat itu sambil menangis dan mengepalkan tangannya.
Roy pun mengabari saudara-saudara dan anak sulungnya melalui telpon.
Setelah beberapa jam, akhirnya mereka tiba kecuali anak sulungnya yang masih berada di perjalanan dari luar kota.
"Apa yang terjadi pada mereka " Kata kakak perempuan Roy
Roy hanya diam di samping ranjang putrinya.
"cucuku yang malang, ini pasti karena ibunya yang gila ini !" Kata ibu Roy
Mereka pun hanya diam dan menatap Jenazah mereka berdua.
"Jika hanya Riska yang mati, aku tidak masalah. Tapi kenapa Putri kandungku juga harus ikut ?" Kata Roy yang tiba-tiba berbicara.
"Itu benar adik " Kata kakak ipar Roy
"ah, bagaimana dengan harta warisan yang disembunyikan oleh Istrimu ini putraku ?"
Tanya ibu Roy
Semua mata langsung tertuju pada Ibunya.
Bukan karena tidak suka, tapi karena mereka memang tertarik. Tujuan sebenarnya Roy menikahi Riska adalah untuk mendapatkan harta miliknya yang diwariskan oleh suami pertamanya. Bahkan mereka juga yang membunuh suami Riska dengan cara tabrak lari.
Namun sampai saat ini, Riska belum pernah menunjukkan dimana dia menyembunyikan surat wasiat itu. Semenjak Riska gila, Riska tidak ingat dimana dia menyimpan surat itu dan Riska juga sulit diajak bicara karena tidak ada ucapannya yang nyambung alias selalu melantur.
"Dimana Putri si Riska ini ?" Tanya ibu Roy.
"Aku tidak tau ibu, dia sudah lama kabur dari rumah" Kata Roy
"Menang anak kurang ajar, tidak tau diuntung bocah itu !" Kata ibunya
"Lalu, dimana dia tinggal ?" Tanya kakak Roy
"Aku juga tidak tau, tapi aku bertemu dengan dia tadi disekolah " Kata Roy
"Yasudah, ayo kita pulang membawa jenazah mereka berdua dan kita akan mempersiapkan upacara kematiannya besok" Kata ibunya
Mereka pun pulang kerumah Roy. Sesampainya di halaman Rumah, mereka pun berpura-pura menangis dan sedih.
Banyak para tetangga yang datang berkumpul dan masuk kedalam rumah Roy untuk melihat apa yang terjadi.
Para tetangga pun kaget dan ikut bersedih melihat itu. Walaupun Riska adalah orang yang tidak waras, tapi Riska adalah orang yang baik dan menyayangi anak-anak daerah rumahnya.
Setelah beberapa lama pada pukul 18 : 15 sebuah mobil datang dan parkir di halaman Rumah Roy. Orang - orang pun penasaran terhadap pemilik mobil dan ternyata pemilik mobil itu adalah Dimas putra sulung Roy yang merantau di luar kota.
"Wah, cucu nenek tampan sekali dan mobil ini sangat keren " Kata ibu Roy
"Dimana ibu dan adikku ?" Tanya Dimas dengan khawatir
"Di dalam sayang. Hiks...hiks..." Kata ibu Roy sambil berpura-pura sedih
Dimas pun langsung berlari kedalam rumah dan menghampiri jenazah ibu dan adiknya.
Dimas hanya bisa menangis dan pasrah saat ini. Walaupun Riska bukan ibu kandung nya, tapi Dimas sangat menyayangi Riska karena Riska sangat baik padanya.
Para tetangga akhirnya membubarkan diri dan pulang kerumah masing-masing.
Setelah suasana sepi, keluarga Roy pun berkumpul dan duduk mengelilingi jenazah Riska dan Enzel.
"Dimana Jen ?" Tanya Dimas memecah keheningan
Roy bingung harus mengatakan apa, tidak mungkin dia mengatakan kalau Jen lari karena di siksa olehnya.
"Dia..... dia......" Kata Roy
"Cucuku sayang, Jen itu sangat nakal dan sekarang dia pergi meninggalkan rumah ini.
Kami sudah berusaha berulang kali untuk membujuknya pulang dengan baik, tapi dia malah memaki kami" Kata ibu Roy
"Aku tidak percaya, Jen adalah anak yang baik. Pasti Ayah menganiaya nya lagi kan ?" Bentak Dimas
plak.....
Kakak ipar Roy pun langsung melayangkan tamparan di pipi Dimas.
"Dimana sopan santun mu ? Dia hanya adik tiri mu tapi kau malah membelanya dan menuduh Ayahmu dengan kasar"
"Paman tidak tau apa-apa. Kalian memang tidak menginginkannya ada di rumah ini kan !" Bentak Dimas
Dimas memang kakak tiri Jen, tapi Dimas menyayangi Jen seperti menyayangi Enzel.
Saat masih sekolah Dimas dan Jen selalu pergi bersama dan disaat pulang mereka berdua juga mengerjakan tugas sekolah bersama-sama.
Namun Roy tidak suka melihat kedekatan mereka karena Roy takut Jen akan membawa dampak buruk kepada Dimas.
Berbagai cara dilakukan Roy untuk menjauhkan mereka berdua dan cara yang paling tepat adalah dengan memindahkan sekolah SMA Dimas ke tempat Nenek nya.
Dengan begitu jarak mereka akan semakin jauh dan Roy juga bebas untuk menyiksa Jen sebagai bahan penghilang amarah setelah kalah judi.
Ternyata cara itu ampuh, Bahkan setelah lulus SMA, Dimas langsung diterima di sebuah perusahaan besar karena kecerdasannya.
"Kita tunggu saja sampai besok, kalau dia tidak datang maka upacara kematian akan langsung dimulai dan setelahnya akan langsung dimakamkan" Kata ibu Roy
"Aku setuju ibu " Kata Roy
"Bagaimana dengan keluarga mantan suami Riska ? apa kita perlu memberitahu mereka ?" Tanya kakak ipar Roy
"Adik, apakah kamu masih mencintai perempuan ini ?" Tanya kakak Roy
"Tidak kak, aku hanya menginginkan harta warisan suaminya yang tersembunyi itu" Kata Roy
"Cukup ! Apa kalian tidak punya hati nurani ? bisa-biasanya kalian membahas hal seperti ini !" Bentak Dimas, lalu beranjak pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.
"Dimas...!" Kata neneknya
Keesokan harinya :
"Kenapa anak durhaka itu belum datang juga ?. Memangnya dia artis !" Kata Kakak Roy
Sebuah taksi baru saja datang dan berhenti di depan rumah Roy.
Pintu itu pun terbuka dan menampakkan sesosok wanita bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam beserta kacamata hitam. Gadis itu benar-benar terlihat elegan dan mempesona dengan bibir tipis merahnya, bulu mata melentik dan rambut hitam di bawah bahu yang tergerai sempurna.
"Hai, maaf terlambat !" Kata Jen sambil tersenyum lebar dengan menampakkan deretan gigi putihnya kearah Jenazah ibu dan adiknya.
Sontak saja orang-orang langsung menatap kearahnya dan ada juga yang memaki secara berbisik.
Di upacara itu juga ada perwakilan 1 guru dan 3 siswa dari sekolahnya untuk menghadiri upacara, salah satu siswa itu termasuk Darma.
Darma yang melihat tingkah Jen itu hanya diam dan berusaha menahan emosinya.
Namun lain halnya dengan Ibu Roy yang langsung mendekati Jen dan ingin menamparnya. Sebelum mengenai pipi Jen, tangan itu langsung ditangkapnya dan di remas dengan kuat.
"Aaaaaa......Lepaskan jalang !" Bentak ibu Roy
Dimas pun langsung menghampiri dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Jen dari neneknya.
"Lepas kan tangan nenek ku !" Kata Dimas
"Karena ini adalah permintaan kakak, baiklah !" Kata Jen lalu melepaskan tangan neneknya itu
Jen tidak memperdulikan pandangan dan gunjingan yang di lontarkan oleh orang-orang yang berada di situ, Justru Jen langsung berjalan mendekati peti mati ibu dan adiknya yang diletakkan di tengah halaman rumah.
"Maaf aku terlambat, aku berjanji tidak akan menangis saat ini " Kata Jen berbisik pelan sambil tersenyum
Roy langsung menarik tangan Jen agar menjauh dari peti mati itu. Roy membawa Jen masuk kedalam rumah dengan paksa dan diikuti oleh kakak Roy
"Apa maksudmu ?" Bentak Roy
Jen yang ditanya justru hanya diam dan bersilang tangan di depan dadanya.
"Membuat makam itu sangat mudah keponakanku, jika kau mau besok akan ku buatkan khusus untukmu. Membunuh tanpa jejak adalah keahlianku, kau tau kan !" Kata Kakak Roy dengan senyum iblis sambil memegang kuat dagu Jen
Jen merasa risih karena dagu nya dipegang lalu Jen menarik tangan bibi nya itu dan membanting tubuhnya kelantai. Setelah Jatuh, Jen menaruh kakinya tepat diatas leher bibi nya itu dengan sedikit tekanan
bruk...
"Aaaa..... Pindahkan kaki mu satai aku akan melaporkan ini secara hukum !" Kata Kakak Roy
Roy yang melihat itu pun bergegas untuk menyerang Jen, tapi Justru Jen semakin menekan kakinya ke leher kakak Roy.
"Aaaa... sakit ! sakit !"
"Berani menyentuhku, maka kakak kesayanganmu ini , alias bibi ku yang cantik ini akan menggunakan penyangga leher seumur hidupnya" Kata Jen dengan suara halus dan santai
"Makanya, lepaskan kakakku !" Kata Roy
"Baiklah, tapi suruh dia meminta maaf dengan sopan padaku ! hahaha...."
"Aku tidak mau !" Kata Kakak Roy
Melihat kondisi kakak Roy yang mulai memburuk karena kekurangan oksigen, akhirnya Jen pun memutuskan untuk melepaskannya.
"Huh, aku kesini hanya untuk menghadiri pemakaman ibu dan adikku, jadi jangan menggangguku !" Kata Jen dengan penuh penekanan
Setelah mengatakan itu, Jen pun pergi keluar meninggalkan mereka dengan gaya elegannya.
Roy dan kakaknya pun kembali ke halaman rumah untuk memulai upacaranya.
Kakak Roy masih menatap tajam kearah Jen, dia merasa Jen mengalami perubahan sifat dan penampilan yang sangat jauh.
"tunggu pembalasanku !"
Upacara kematian pun dimulai, namun baru saja dimulai tiba-tiba datang 2 orang wanita seperti ibu dan anak. Mereka duduk di barisan keluarga yang berkabung.
Jen tidak mengenal mereka dan hanya diam mengabaikan.
Setelah upacara selesai, akhirnya Jenazah pun di bawa ke pemakaman dan dimakamkan. Roy beserta antek-antek nya pun menangis dengan kuat dan tersedu-sedu.
"Buk, sekarang Jen gak punya siapa-siapa lagi. Mereka justru ingin aku mati, dan anggota Tim ku akan meninggalkanku setelah selesai menjalankan tugas nanti. Aku akan benar-benar sendiri " Batin Jen
Pukul 13 : 00, mereka membubarkan diri dan pulang kerumah Roy.
Jen masih penasaran terhadap 2 orang wanita yang tetap ikut pulang kerumah Roy.
Di rumah Roy
"Kukira kalian tidak akan datang !" Kata ibu Roy kepada 2 orang itu
"Biar bagaimana pun, Riska pernah menjadi menantuku" Kata orang itu
"Menantu ?" Batin Jen
"Halah, jangan sok suci Ani, aku tau tujuanmu adalah harta warisan yang masih disembunyikan itu kan !" Kata ibu Roy
"hahaha.... kau pintar Dian (nama ibu Roy ), aku memang menginginkan harta putraku yang disimpan oleh Riska di wanita gila itu " Kata Ani
prang.....
Jen yang mendengar itu langsung menendang meja kaca di depannya dengan kakinya hingga pecah. Mereka yang sedang berdebat pun langsung kaget dan marah
"Siapa anak ini ? tidak punya sopan santun !
Bentak Ani
"Oh, aku Jen. Putri dari ibu Riska, ada masalah nenek tua?" Kata Jen
"Beginikah cara kalian mendidik Putri kalian ? oh pantas saja, ibunya juga gila" Kata putri Ani
Jen langsung berdiri dan menghantam wajah wanita itu dengan satu pukulan keras hingga keluar darah dari hidungnya.
"Jangan hina ibuku atau kalian akan ku jadikan daging panggang !" Kata Jen lalu segera pergi meninggalkan mereka
"Aku akan bawa kasus ini ke jalur hukum ! aku tidak akan menganggapmu sebagai cucuku" kata Ani
Tapi Jen tidak menggubris perkataan itu dan malah mengacungkan jari tengahnya kepada mereka.
Dimas berlari mengejar Jen dan menarik tangannya.
"Kenapa Jen ?" Tanya Dimas dengan sedih
"Tanya pada Ayahmu itu, apa yang mereka lakukan sampai bisa tercipta Monster dalam diriku !" Kata Jen
"Apa maksudmu, dia Ayah kita" Kata Dimas
"Gak perlu pura - pura kak! " Kata Jen
"Tapi Jen....."
"Mulai detik ini, Aku Jen memutuskan hubungan keluarga dengan kalian semua !" Kata Jen dengan kuat dan tegas
Dimas pun langsung menampar kuat wajah Jen
"Pergi dari rumah kami !" kata Dimas
Saat Jen ingin melangkah pergi, tiba-tiba seorang pria datang
"Saya seorang pengacara dan saya yang memegang surat wasiat dari Alm. suami Riska, dan saya akan memberitahukan isi wasiat yang telah diganti secara resmi oleh Riska sewaktu masih hidup" Kata pengacara itu