
Jen melangkahkan kakinya menuju ruang kelasnya. Banyak sekali siswa yang sedang bergosip dan gosip yang paling marak adaku tentang pembantaian anggota gangster X.
Ya, berita itu tentunya masih sangat hangat diperbincangkan mengingat kesadisan dan kejahatan kriminal yang dilakukan gangster itu.
Jen hanya duduk di bangkunya sambil memainkan ponselnya, namun telinganya masih bisa mendengar gosip para siswa dikelasnya.
"Gangster itu sudah musnah kan, Aku sangat bersyukur"
"Aku juga masih tidak percaya"
"Bukankah ibu Jen yang gila itu dibunuh oleh gangster X?"
"kau bener, dari sini kita bisa tau kalau wanita Monster itu hanya seorang pengecut. Dia hanya berani menghabisi preman jalanan dan siswa sekolah ini"
"Seharusnya jika dia jagoan, dialah yang seharusnya menghancurkan gangster X*"
"Apa kalian tidak punya pekerjaan lain selain menggosip ?" Tanya Andri
Jen langsung menatap kearah Andri yang tiba-tiba berbicara.
Para siswa yang menggosip justru tidak menghiraukan Andri.
Jen teringat pada Darma dan dia segera berjalan keluar kelas untuk menemui Darma dan memastikan keadaannya.
"*Dia itu hanya pengecut, seharusnya dia berani bergabung degan para aparat untuk menghancurkan gangster X"
"Sepertinya dia tidak benar-benar menyayangi ibunya yang gila itu.''
"Hahahaha*....."
Jen memasuki kelas Darma dan menemuinya. Darma terlihat sedang tertidur.
Semua mata langsung menatap Jen.
Bukan hanya berita hancurnya Gangster X yang dibicarakan siswa sekolahnya, namun juga tentang Jen yang dianggap pengecut dan hanya berpura-pura menyayangi ibunya.
Banyak fitnah kejam lainnya yang beredar di sekolah tentang Jen.
Darma hanya bisa Diam dan tidak ingin memberitahu tentang penghancuran gangster itu.
Bagaimanapun usahanya, tidak akan ada yang percaya. Justru Jen akan semakin dibully.
"Darma !" Panggil Jen sambil menepuk punggung Darma
Darma bangun sesaat dan kembali tertidur.
Jen berulang kali memanggilnya, namun Darma tak kunjung bangun.
Jen yang kesal akhirnya nenjitak kepala Darma dengan kuat hingga Darma terbangun dan meringis kesakitan.
Darma langsung menatap sesosok wanita disampingnya dan dia langsung berdiri memeluk Jen degan kegirangan.
Mata para siswa langsung melotot dan mengira bahwa Darma juga sudah terinfeksi virus Stress.
"Ayo keluar" Kata Jen
Darma menganggukkan kepalanya dan mengikuti Jen untuk mencari tempat duduk yang cukup sepi.
"Aku bangga padamu " Kata Darma
Jen menatap mata Darma dan langsung mencekik lehernya.
"Huok.... uhukk...woyy....!" Teriak Darma sambil berusaha melepaskan tangan Jen dari lehernya
"Siapa yang menyuruhmu datang membantuku ? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu ? maka akulah yang akan disalahkan oleh orangtuamu !!!" Gerutu Jen
"Ak... aku minta maaf, lepas dulu uhukk-uhukk..."
Jen akhirnya melepas cengkeramannya dari leher Darma. Kemudian memeluknya.
"Jika nanti kau mati, maka aku tidak akan punya 1 temanpun" Kata Jen
Darma menggesek-gesek kan gigi gerahamnya dan mencekik leher Jen.
" Kalau kau tidak mau aku mati, lalu kenapa kau mencekik leherku brengsek !" Kata Darma
Jen tak tinggal diam dan menarik kuat kedua telinga Darma.
Akhirnya mereka saling menyiksa satu sama lain.
Aktivitas mereka berhenti saat seseorang tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua.
Jen dan Darma sama-sama mengenali gadis cantik itu.
"Elca " Kata Darma
Elca menunjukkan senyum manisnya yang sangat mempesona hingga Darma tertegun dan memegangi jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.
"Boleh aku berbicara dengan Jen ?'' Tanya Elca
Jen sudah menebak apa yang akan dibicarakan oleh Elca.
Jen menyuruh Darma untuk pergi dan meninggalkan mereka berdua. Darma pun segera pergi.
"Terimakasih" Kata Elca
"Kau sudah menghancurkan gangster milik ayahku, aku sudah sejak lama membencinya" Kata Elca sambil meneteskan air mata
Jen hanya diam dan tidak tau harus apa.
Dia samasekali tidak pernah memiliki teman wanita ataupun teman akrab selain Darma dan teman-temannya dijalanan.
Elca sebenarnya mengetahui tentang misi Jen, dia memantaunya dari komputer miliknya. Elca adalah gadis cerdas yang sudah sering mengikuti olimpiade tingkat nasional bahkan ia beberapa kali mengikuti olimpiade internasional di bidang teknologi informatika.
Jadi dia berusaha untuk mencari tau apapun terutama tentang Jen.
Kecurigaannya muncul saat Very datang kesekolah dan berbicara kepada Jen seolah-olah saling mengenal.
Elca sebenarnya tau kalau Very adalah anggota aparat khusus dan ia pernah melihat Very menangkap salah satu anggota gangster X.
Tujuan Elca mempelajari komputer adalah untuk menghancurkan Gangster X, karena sudah sangat banyak nyawa yang diambil oleh gangster itu. Terutama nyawa ibunya.
Elca tau kalau ibunya dibunuh oleh Anna, tapi saat Elca memberitahukannya kepada Bara, Bara tidak percaya dan malah mengusirnya dari rumah.
Elca akhirnya tinggal bersama seorang wanita dan seorang pria tampan yang mengaku sebagai musuh Bara.
Wanita dan pria itu merawat Elca dan melatihnya menjadi seorang ahli komputer untuk membantu mereka suatu saat nanti.
Jen mendengarkan semua perkataan Elca, namun saat Jen menanyakan tentang orang yang merawatnya itu, Elca tidak menjawabnya.
"Maaf, itu rahasia" Kata Elca sambil menghapus air matanya
Jen mengambil sebuah liontin dari dalam sakunya dan memberikannya pada Elca.
Jen juga menceritakan percakapan terakhirnya dengan Bara sebelum ia tewas.
Elca kembali menangis dan menerima liontin itu.
Elca memeluk Jen dan mengucapkan terimakasih.
"Walaupun ayahku sudah membunuh ibumu, namun kau masih mau memberikan kesempatan padanya untuk bertobat. tapi ajalnya memang sudah ditentukan sang maha kuasa" Kata Elca
Ponsel Elca berbunyi dan sekilas Jen melihat nama yang tertera di ponsel itu.
"Jack ?" Tanya Jen di dalam hatinya
Tapi Jen tidak menghiraukannya, karena ada banyak orang yang bernama Jack di dunia ini.
Bel pertanda masuk berbunyi, Elca pergi meninggalkan Jen.
Jen berjalan degan tatapan kosong.
Dia sedikit menyesal karena tidak bisa menyelamatkan Bara.
Saat beberapa meter Jen meninggalkan tempat duduknya saat bersama Elca, seorang siswa laki-laki datang menghampiri Jen dari belakang dan langsung mendorong Jen degan kuat hingga tersungkur ke tanah.
"Jadi Elca !" Kata Rio
Rio adalah ketua OSIS di sekolahnya, bukan hanya tampan, dia juga pintar dan prestasinya juga banyak. Sama seperti Elca.
Satu hal yang diketahui Jen, Rio sejak lama sekali mengejar cinta Elca.
Sifat Rio sangat buruk dan sering membully siswa lain, termasuk Jen.
Rio mendapatkan jabatan OSIS karena Ayahnya adalah seorang pejabat tinggi dan tentunya Ayahnya yang mengurus semuanya.
Jen berdiri dan langsung menyerang Rio dengan pukulan keras, namun berhasil ditangkis oleh Rio.
Rio membalas serangan Jen degan tendangan bertubi-tubi, dan setiap tendangan dapat ditangkis Jen dengan mulus.
"Sepertinya sudah cukup bermain halus, mati kita bermain kotor" Kata Jen sambil meregangkan otot lehernya
Saat Rio belum melakukan persiapan apapun, Jen langsung menendang perut Rio hingga terpental ke tanah. Setelah Rio Jauh, Jen langsung menendang beberapa kali pinggang Rio hingga berteriak kesakitan.
"Tidak akan ada yang mendengarmu bodoh !" Ungkap Jen sambil tersenyum
Setelah Rio lemas, Jen mencengkram Lehernya hingga Rio kembali berdiri.
"Lepas...!" Kata Rio dengan wajah yang sudah memerah
Jen melepaskan cengkeramannya dari leher Rio dan memegang kerah bajunya.
Jen membawa Rio ke toilet wanita dengan paksa. Kepala Rio dimasukkannya kedalam WC duduk hingga beberapa detik.
Rio mengalami muntah-muntah. Tak sampai disitu, Jen membuka paksa kemeja Rio dan dimasukkannya kedalam WC itu.
"Tikus pengecut sepertimu tidak pantas menentangku, jika bukan karena yang orangtuamu kau hanyalah seekor semut kecil !" Kata Jen
Setelah itu, Jen pergi meninggalkan toilet itu dan kembali ke kelasnya.
Rio masih berada di dalam toilet sambil muntah-muntah. Hatinya sangat panas dan dia sangat membenci Jen.
Rio mengambil ponselnya dan menelphone Ayahnya.
Tentu saja Ayahnya sangat marah.
"Habislah kau gadis miskin ! sebentar lagi kau akan mendekam di penjara ! Hahaha..."