
"Hentikan !" Kata Very yang tiba-tiba muncul
"Hei ! anak brengsek !" Bentak salah satu dari mereka
Adit berjalan kearah Very
"Berhenti Disana !" Kata Very
Namun air Adit tidak mendengarkannya dan tetap berjalan mendekati Very.
Very yang merasa geram, langsung mengeluarkan pistolnya dan melepaskan pelurunya tepat ke perut Adit.
Darrrr
"Arghhhh..." Teriak Adit dan langsung tersungkur ke lantai
kedua teman Adit langsung melepaskan Jen dari ikatannya. Namun bukan untuk diserahkan kepada Very, tapi untuk dijadikan tameng perlindungan mereka sendiri.
Berhubung fisik Jen masih sangat lemah, dia hanya bisa diam dan pasrah menunggu Very segera menyelamatkannya.
"Tembak kalau berani !" Kata Agus sambil menaruh pasti di leher Jen
Very melihat kalau kaki Jen masih diborgol dan kedua tangannya di pegang oleh kedua lelaki itu.
"Kami akan melepaskan wanita ini, asalkan kau membiarkan kami pergi" Kata Agus
"Baiklah, sekarang kerusakan dia" Sahut Very
Mereka berdua tidak langsung percaya pada ucapan Very dan mereka masih memegangi Jen.
"Letakkan senjatamu !" Kata Agus
"Baiklah, baiklah kalian sangat banyak meminta permintaan dan mengaturku" Kata Very geram
Very meletakan pistolnya ke lantai dan mengangkat kedua tangannya.
Setelah itu, kedua orang itu langsung mendorong tubuh Jen kearah Very dan mereka berlari keluar dari ruangan itu.
Very dengan sigap langsung menangkap tubuh Jen agar tidak jatuh ke lantai.
Sedangkan Jen langsung merangkul pundak Very agar keseimbangan tubuhnya tidak hilang.
Sesaat, mata mereka saling beradu pandang, namun pandangan mereka terhenti saat mendengar suara tembakan keras dan jeritan kedua orang tadi.
Very mendengar suara gerombolan langkah kaki mengarah ke ruangan mereka.
Very langsung membuka Jas nya dan memakaikannya ke tubuh Jen.
"Aku bisa sendiri" Kata Jen
Namun Very tidak mendengarkan Jen dan tetap memakaikan Jas itu ke tubuh Jen, lalu mengancingkannya.
Sesaat Jen menatap Very yang berjongkok di depannya untuk membuka borgol di kakinya.
Jantungnya nya berdegup dengan kencang, tapi dia tidak memperdulikannya.
"Tidak, aku tidak boleh menaruh perasaan padanya" Batin Jen
Setelah melepas borgol itu, Very mengambilkan Rok sekolah Jen yang ada di lantai dan menyuruh Jen memakainya.
Suara langkah kaki Daron semakin Dekat, Very pun langsung menggendong Jen di punggungnya.
Jen tentunya kaget dan menarik telinga kanan Very hingga merah
"Adu..du...du...h" Ringis Very seperti anak kecil saat telinganya di jewer oleh Jen
"Putriku akhirnya kau baik-baik saja" Kata Daron saat masuk ke ruangan itu.
"Tuan sebaiknya kita bicarakan ini nanti saja dirumah, punggung saya sudah pegal" Kata Very
Daron menuruti perkataan Very
"Baiklah, ayo kita pergi" Kata Daron
"Terimakasih..." Kata Jen secara tiba-tiba
Langkah kaki Mereka pun terhenti
"Ku kira, aku sudah sendirian dan tidak akan punya siapapun" Sendu Jen
Daron mendekati Jen dan mengusap kepalanya. Very hendak menurunkan Jen, namun Daron menahannya.
Terlihat raut wajah kesal Very, dia juga menggerutu di dalam hatinya
"Dari tadi aku sudah menatapi tubuh gadis ini dan Aku harus segera pergi menghirup udara segar agar nafsuku tidak terlalu besar. Jangan sampai aku melakukan ***-*** padanya. Aku juga laki-laki normal !"
"Kamu adalah putriku, dan aku Daron akan membalaskan dendam kepada Roy beserta keluarganya" Kata Daron
"Terimakasih" Kata Jen sambil mengeratkan pelukannya ke leher Very dan menyenderkan kepalanya ke bahu bidang itu.
Dengan segera Wajah Very semakin memerah.
"Tuan, mari kita pulang" Kata Very
"Baiklah"
Daron, Very dan Jen berada dalam satu mobil. Very yang menyetir sedangkan Daron dan Jen duduk di kursi belakang.
Jen menyenderkan kepalanya ke bahu Daron sambil menutup matanya.
Daron mengusap-usap kepala Jen dengan lembut. Hatinya terasa sangat panas saat mengetahui kalau Roy adalah dalang dari semua ini.
"Aku tidak akan tinggal diam !" geram Daron
Very tau kalau saat ini pasti Daron sangat marah, jadi dia hanya diam sambil menyetir tanpa sepatah kata pun.
"Apa Dia belum sempat disentuh" Tanya Daron
"Belum Tuan, dia masih suci" Saat Very
Daron lalu kembali diam dan mengambil ponselnya uuntuk menyusun rencana.
"Tuan, Berarti saya tidak akan menikah dengan Jen di waktu dekat kan ?" Tanya Very
"Iya, kau harus sabar menunggunya sampai genap usia 21 tahun. Setelah itu, kau baru boleh menikahinya" Kata Daron dengan senyum lebar
Very terbatuk-batuk karena kaget mendengar jawaban Daron yang seolah-olah menyatakan bahwa dia sangat tidak sabar untuk menikahi Jen.