
Jen berjalan memasuki halaman kantor itu.
Saat sudah di depan pintu, seorang security menghentikan langkahnya.
"Maaf nak, disini bukan tempat untuk olahraga"
Jen hanya tersenyum dan menunjukkan kartu identitasnya.
Security itu langsung memberikan izin kepada Jen untuk masuk.
"Permisi, dimana letak ruangan bapak Roy ?" Tanya Jen pada orang yang berlalu-lalang di ruangan itu.
"Di lantai 2" Jawab seorang wanita sambil menatap aneh pada Jen
Jen memasuki sebuah lift menuju lantai 2.
Sebelum pintu lift itu tertutup, banyak mata yang memandang Jen dengan aneh.
Tentu saja karena pakaiannya.
Setelah sampai, Jen menemukan sebuah ruangan yang pintunya tertutup rapat.
Namun, keterangan yang tertulis di pintu itu menunjukkan bahwa itu adalah ruangan kerja Dimas.
Ya, Roy memberikan perusahaan itu pada Dimas.
Tanpa mengetuk terlebih dulu, Jen langsung membuka pintu itu dan masuk kedalamnya.
Tak satu orang pun dijumpainya.
"Kemana perginya para tikus itu?" Gerutu Jen dengan kesal
Jen mendudukkan bokongnya di kursi kekuasaan milik Dimas itu dan memutar kursi itu menghadap ke luar dan membelakangi meja.
Kedua bola mata Jen menatapi keluar Jendela kaca yang menjadi dinding ruangan itu. Karena ruangan Itu berada di lantai 2, Jen tidak dapat melihat pemandangan seluruh kota.
Beberapa saat kemudian seorang pria paruh baya datang dan masuk keruangan itu.
Pria itu adalah Roy.
"Semenjak kamu mengelola perusahaan ini, semuanya semakin maju. Bahkan pendapatan kita juga semakin banyak. Kita akan segera menjadi miliarder. Hahaha" Kata Roy sembari meletakkan sebuah map di atas meja.
Roy tidak mengetahui kalau orang yang duduk di kursi itu bukan Dimas karena senderan kursi itu cukup tinggi dan hanya menampakkan sedikit pucuk kepala.
"Ini ada bekas yang harus kamu tangga tangani !" Kata Roy lagi
Jen segera memutar kursi itu dan menghadapkan wajahnya pada Roy.
"Mana berkas yang harus ku tandatangani Ayah ?" Kata Jen sambil mengambil berkas yang ada di atas meja itu
Roy tersentak kaget saat melihat Jen menduduki kursi Dimas.
"Bukankah seharusnya dia sudah.... dan bagaimana dia bisa masuk ke sini ?" Tanya Roy dalam hatinya
"Apa Kau terkejut Tikus brengsek ?" Tanya Jen sambil menaikkan kedua kakinya keatas meja dan menggoyang-goyangkannya.
Jen membuka map itu dan merobeknya hingga terbelah dua.
Setelah robek, dia menghempaskannya ke lantai tepat di depan Roy.
Sekejap, Roy langsung naik pitam dan memukul meja hingga retak.
Jen menurunkan kakinya dari atas meja itu dan membuka kacamata yang masih melekat di kepalanya.
"Kurang ajar ! apa kau tidak tau kalau itu bekas penting ?!" Bentak Roy hingga membuat Dimas yang ada di depan pintu segera masuk ke dalam ruangan itu.
"Ada apa ini ?" Tanya Roy
Mata Dimas langsung menatap Jen yang duduk dengan tenang diatas kursinya.
"Apa ?" Tanya Jen seolah-olah dia tidak melakukan apapun
"Pergi dari sini sekarang !" Perintah Dimas dengan nada halus
Dimas masih menganggap Jen sebagai adiknya. Jadi dia tidak ingin bertengkar dengan adiknya itu.
Dimas sudah kehilangan Enzel, jadi dia tidak ingin kehilangan Jen lagi.
"Kakakku yang maha baik, sebaiknya tutup mulutmu dan biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan tikus ini !" Sahut Jen dengan nada yang rendah
Dimas hanya diam sambil mengepalkan kedua tangannya untuk meredakan emosinya.
"Aku tau, kalau Ayah sudah mengusirmu dari rumah. Tapi itu juga karena kesalahanmu, kau selalu membuat ulah " Kata Dimas
Jen yang tadinya masih merasa bahwa Dimas bisa diajak bekerjasama ternyata tidak samasekali.
Tiba-tiba Ani(ibu Roy) dan kakak ipar Roy datang bersama seorang wanita asing.
Mata Jen langsung menatap kedatangan mereka dengan senyuman nakal andalannya.
"Kenapa bocah busuk ini disini dan apa ini semua ?" Tanya Ani dengan nada tinggi
"Baguslah kalian datang tepat waktu. Aku sudah sangat merindukan kalian" Kata Jen sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya
Ani berjalan mendekati Jen dan ingin menarik tangannya untuk keluar dari ruangan itu, tapi Jen menangkap tangan Ani dan meremasnya.
Ani seketika meringis kesakitan. Roy dan Dimas bergerak untuk menghentikan perbuatan Jen, namun Jen segera melepaskan tangan Ani.
Wanita asing itu langsung mendekati Ani dan mengelus-elus tangan Ani yang terlihat memerah.
"Apa tujuanmu ?" Tanya Dimas
"Aku hanya ingin menyelesaikan masalahku dengan tikus busuk itu ! '' Jawab Jen sambil menatap Roy
Dimas masih menahan kemarahannya dan berusaha untuk bicara baik-baik dengan Jen.
Dimas menegang pundak Jen dan menatap matanya dengan lembut.
"Dia Ayah kita, Dia sudah membesarkan kita dari bayi. Jadi jaga sikapmu Jen" Kata Dimas
Jen melepaskan rangkulan Dimas dengan kasar.
"Ku kira kau kakakku, tapi mendengar perkataanmu barusan, aku sudah yakin kalau kita bukan lagi saudara'' Jawab Jen
"Ah sudahlah, bunuh saja bocah ini !" kata kakak Roy
"Jaga ucapan paman !'' Bentak Dimas
Jen tidak mendengarkan ocehan mereka berdua dan tetap menatap kearah Roy yang sudah berada di puncak kemurkaannya.
Saat ini Jen seperti di kandang harimau dan dia hanya seekor Domba yang tidak memiliki kawan. Ah tidak, bukan domba tapi singa raja hutan yang berbulu domba.
"Aku hampir memaafkan segala perbuatanmu, tapi kau kembali membuat kejahatan besar ! Bahkan kau tidak pantas disebut sebagai manusia !" Kata Jen
"Lalu apa ?" Tanya Roy dengan geram
"Binatang ! bahkan kau lebih buruk dari seekor binatang !" Sahut Jen dengan terkekeh kecil
Setelah mendengar ucapan Jen, orang-orang yang ada di ruangan itu memasang wajah emosi.
"Wah, kalian tersinggung atas ucapan ku ya ?" Tanya Jen dengan senyuman psikopat