Before The Sunrise

Before The Sunrise
eps 32 Jen sekarat



Orang itu berjalan semakin dekat ke tempat persembunyian Jen dan Jaya.


Ranting yang diinjak Jen mendadak patah dan mengeluarkan suara, Jaya langsung menatap Jen dengan tajam. Jantung Jen berdegup dengan kencang dan darahnya terasa panas, matanya sesekali di kerjapkan.


Orang itu langsung menaikkan senjatanya dan melakukan ancang-ancang untuk segera menembak.


"Keluarlah sebelum ku tembak !" Kata orang itu


Jen perlahan mundur dan Jaya menahan tangan Jen sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda melarang.


Jen tetap mundur dan langsung menangkap seekor kelinci putih di belakangnya dan melempar kelinci putih itu agar mengalihkan perhatian orang itu.


Orang itu semakin mendekat dan tiba-tiba keluar seekor kelinci. Orang itu langsung menurunkan senjatanya dan menggaruk kepalanya.


"Ayo kembali, mayat Bara sudah ditemukan !" Kata anggota lainnya pada orang itu.


Orang itu langsung pergi meninggalkan tempat persembunyian Jen dan Jaya.


Mereka berdua langsung membuang nafas yang mereka tahan selama beberapa detik.


Setelah para anggota itu kembali menaiki helikopter mereka, Jen dan Jaya langsung menjauhi tempat itu untuk mencari tempat yang lebih aman sebagai tempat beristirahat malam ini.


"Huh hampir saja" Kata Jen


"Ayo kita cari tempat lain" Kata Jaya


Jen mengangguk dan menyetujui perkataan Jaya.


Mereka segera berjalan menyusuri hutan yang tidak terlalu gelap itu karena sinar bulan purnama yang cukup terang.


Setelah berjalan cukup jauh dari lokasi mereka tadi, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat.


"Kita disini saja" Kata Jaya sambil ngos-ngosan, stamina tubuhnya tidak sekuat Jen. Jadi Jaya langsung membaringkan tubuhnya dan merentangkan kedua tangannya di tanah.


Jen menatap tajam kearah Jaya yang sudah menutup mata dan langsung menggenggam pisau belatinya. Jen perlahan berjalan mendekat kearah Jaya sambil membungkukkan badannya dan mengarahkan pisau itu ke kepala Jaya.


Jaya seketika membuka mata dan ingin segera beranjak pergi dari tempatnya, namun Jen menahan Jaya dengan menginjak perutnya dengan kuat.


"Aaak, hei ... kita ini teman. Aku diperintahkan papamu untuk menjagamu, Jadi lepaskan aku !" Kata Jaya dengan nada marah


Dengan secepat kilat, Jen langsung menancapkan pisau itu ke seekor kalajengking berukuran sedang, yang ada tepat di samping kepala Jaya.


Jaya langsung terpelongo dan membeku sejenak, lalu segera beranjak berdiri setelah Jen mengangkat kakinya dari atas perut Jaya.


"Ah, begini.... te.... terimakasih" Kata Jaya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Bayangkan kalau kalajengking itu menelanmu bulat-bulat !" Kata Jen


"Di sengat Jen, bukan di telan" Kata Jaya


"Makanya, kalau mau tidur di hutan itu harus berhati-hati. Untung mataku bisa melihatnya" Omel Jen


Jaya hanya diam membeku dengan keringat yang mulai bercucuran.


Sungguh tadi dirinya berfikir kalau Jen akan membunuhnya, tapi ternyata membunuh kalajengking yang ada di sampingnya.


Jen memanjat pohon yang tidak terlalu tinggi menuju sebuah dahan yang cukup besar dan bisa dijadikan sebagai tempat beristirahat.


Setelah sampai di dahan itu, Jen duduk dan menyenderkan tubuh beserta kepalanya ke batang pohon.


Jen menjatuhkan korek api kepada Jaya yang ada di bawah.


Jaya mengerti tujuan Jen dan langsung mencari beberapa ranting kering untuk di jadikan api unggun, agar tidak digigit nyamuk.


Setelah menghidupkan api itu, Jaya mengembalikan korek Jen. Namun Jen menolak.


"Simpan saja, aku tidak membutuhkannya lagi" Kata Jen


"Bukannya kau seorang perokok ?"


"Tidak, aku merokok karena stres. Tapi sekarang tidak terlalu, karena ternyata aku masih memiliki seorang papa. Satu-satunya keluarga yang kumiliki" Kata Jen sambil menatap bulan dengan syahdu.


"Apakah kau tau, papamu sangat merindukanmu" Kata Jaya


"Ceritakan alasan kenapa kau diutus untuk melindungiku !" Kata Jen


"Waktu itu........"


Beberapa hari yang lalu....


Jaya duduk disebuah kafe sambil mengaduk kopi di atas mejanya dengan sebatang sendok teh.


Mata Jaya menatap keluar dan melihat sesosok laki-laki muda yang berjalan memasuki kafe tempatnya bersantai.


Pemuda itu adalah Very, tapi Jaya tidak mengenalinya. Very membuka pintu dan matanya seolah sedang mencari seseorang. Ternyata matanya berhenti mencari saat menatap kearah Jaya. Very berjalan kearah Jaya dengan ekspresi wajah datar. Jaya sudah bersiap untuk mengeluarkan pistolnya dari saku jaketnya jika Very menyerangnya.


"Apa orang ini tahu kalau aku adalah anggota gangster X ?" Batinnya


Very berhenti tepat di depan meja Jaya sambil menunjukkan senyum sinis dan menaikkan sebelah alisnya.


"Apa aku bisa duduk disini ?" Tanya Very


"Mmm" Kata Jaya sambil berdiri dan ingin beranjak pergi


''Tuan Daron yang mengutusku" Kata Very degan nada dingin dan wajah datar tanpa menatap ke arah Jaya.


Jaya langsung tersenyum geli dan tetap berjalan pergi.


"Tuan Daron sudah lama meninggal. Jika sekali lagi kau membawa-bawa namanya, aku menganggap bahwa kau sedang menghina kuburnya dan aku akan menguburmu hidup-hidup" Kata Jaya


"Dia masih hidup, aku adalah putranya" Kata Very


Jaya langsung berjalan mundur dan menghampiri Very.


Jaya menarik kerah baju Very dan mencoba memukul wajahnya, namun Very menangkisnya. Jaya melepaskan kerah Very dan langsung menendang kursi yang diduduki oleh Very hingga kursi itu hancur.


Pengunjung Kafe langsung berkaitan saat mereka bertarung, Satpam berusaha melerai pertarungan mereka, namun justru satpam itu dihajar hingga babak belur.


"Panggil aparat cepat !" Kata pemilik kafe itu kepada pelayannya


Pelayan itupun segera menelphone aparat dan mereka segera pergi meninggalkan mesin kasir untuk berlindung disaat Jaya mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya tepat di depan kepala Very.


"Tuan Daron memiliki anak perempuan, bukan laki-laki !" Kata Jaya


"Aku putra angkatnya" Kata Very


"Sudah kubilang, jangan mengaku-ngaku !


ini sama saja artinya kau menhina Tuan Daron !" Kata Jaya


Tiba-tiba ponsel Very berbunyi, Jaya merampas ponsel itu dan melihat nama yang tertera di ponsel Very "Tuan Daron".


Jaya merasa semakin marah dan mengangkat panggilan telphone itu


"Jaya..." Kata Daron


Seketika tatapan Jaya langsung kosong, pistol yang ditodongkannya ke kepala Very langsung jatuh kelantai. Bibirnya sedikit gemetar, suara yang sudah 18 tahun tak pernah lagi di dengarnya, suara yang sangat dirindukannya dan suara yang sangat dikenalinya, kembali terdengar dengan jelas di telinganya.


"Tu... tuan, tidak mungkin" Kata Jaya


"Bisa kita bertemu ? ikutilah dengan Very, dia akan mengantarmu ke rumahku" Kata Daron


Tanpa fikir panjang, Jaya langsung mengambil pistolnya yang ada di lantai dan menyuruh Very untuk mengantarnya.


Selama ini, Jaya juga tidak percaya kalau Daron mati dengan sangat mudah.


Saat mendengar berita kematian Daron waktu itu, dirinya langsung menangis kencang dan Ayahnya jatuh tergulai lemas.


Very mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Daron.


"Kenapa kau memanggilnya dengan sebutan Tuan ?" Tanya Jaya saat di jalan


"Bukan urusanmu" Kata Very


"O" Kata Jaya


Sesampainya di rumah Daron, pintu langsung terbuka dan langsung disambut oleh pelayan-pelayan.


"Ayo" Kata Very


Jaya mengikuti Very dengan langkah waspada, dia menggenggam pistolnya untuk bersiaga jika ternyata dirinya di tipu.


Very berhenti di depan sebuah ruangan, lalu membuka pintu itu.


Saat pintu terbuka, mata Jaya langsung menatap total kearah sesosok pria paruh baya yang sangat dikenali dan dihormatinya.


Semasa kecil, Ayah Jaya sering menceritakan tentang Daron yang selalu membantu menopang kehidupan mereka.


Ayah Jaya adalah seorang pelayan di rumah Daron dan ibunya tidak bekerja karena sudah sakit-sakitan. Jaya bisa sekolah karena dibiayai oleh Daron, bahkan Daron langsung membayar full uang sekolah Jaya sampai ke tingkat SMA meskipun dia masih duduk di bangku SMP saat itu.


"Tuu...tuu..." kata Kata terbatah-batah


Daron berjalan menghampiri Jaya dan langsung memeluknya, sambil menepuk-nepuk pundaknya.


"Sekarang anak pak Karyo sudah besar ya" Kata Daron sambil meneteskan air mata


Begitu juga dengan Jaya yang tak mampu menahan air matanya.


Mereka larut dalam pelukan kerinduan selama hampir satu menit.


Jaya dan Daron sama-sama menghapus air mata mereka setelah melepas pelukannya.


Tak lama kemudian Daron langsung menendang perut Jaya hingga terpental ke tembok.


"Arggghhhh" Kata Jaya


Very langsung kaget dan tidak tau harus berbuat apa, dia juga tidak tau alasan kenapa Daron menendang Jaya. Dan akhirnya dia memilih untuk tetap diam ditempatnya.


Daron berjalan mendekati Jaya dan menyuruhnya berdiri. Setelah berdiri, Daron kembali memukul perut Jaya degan keras.


"Ahhkk" Kata Jaya


"Saya menyekolahkanmu agar bisa menjadi manusia yang memiliki masa depan, tidak seperti ayah dan ibumu. Tapi kau malah bergabung dengan anggota gangster


brengsek seperti itu !" Bentak Daron


Jaya hanya diam dan tidak berani untuk berbicara. Dia juga merasa bersalah karena sudah terjerumus ke dunia yang gelap.


"Sudah berapa orang yang kau bunuh ? " Tanya Daron


"Ti... tidak ada Tuan" Kata Jaya,


Daron kembali memukul perut Jaya


"Berapa orang ?" Tanya Daron lagi


"Tidak ada Tuan, saya hanya memantau dan mereka yang mengeksekusi" Kata Jaya


Daron langsung membuka tali pinggangnya dan melibaskannya ke tubuh Jaya secara berulang-ulang. Jaya pun berteriak kesakitan.


'" Saya melakukan ini karena saya menyayangi kamu ! Dan jujur, saya sangat kecewa. Sekarang bantu Very untuk menghancurkan gangster itu !" Bentak Daron


"Baik Tuan" Kata Jaya


"Kalau kalian tidak sanggup, saya sendiri yang akan bergerak menghancurkan mereka !'' Kata Daron


Very dan Jaya berdiri mematung. Mereka tidak pernah melihat Daron semarah ini, selama ini Daron adalah orang yang terkenal selalu ramah dan dermawan. Oleh karena itulah dia sangat dihormati oleh para bawahannya.


Very menyuruh Jaya untuk duduk.


"Kau adalah anggota inti gangster X, jadi kau akan sangat berguna untuk misi kami" Kata Very


Very pun menjelaskan tugasnya pada Jaya.


Pertama ,Jaya harus memudahkan Jen untuk bergabung ke gangster itu.


Kedua, Jaya akan melonggarkan penjagaan digital dan memberikan kesempatan kepada Jack untuk membajak info internal mereka.


Dan yang ketiga, Jaya harus memantau dan melindungi Jen hingga pulang dengan selamat.


"Jadi gadis yang akan kalian kirim adalah putri Tuan Daron ?" Tanya Jaya


"Iya, semua terjadi secara kebetulan dan tanpa unsur kesengajaan" Karya Very


"Aku tidak bisa menghancurkan mereka sendirian, aku sangat membutuhkan bantuan kalian" Kata Jaya


"Baik, kita sepakat. Tapi tentang kerjasama kita ini hanya aku yang tahu. Aku merahasiakannya dari team ku, jika nanti Bertemu Jen, kau boleh memberitahunya "Kata Very


Jaya menganggukkan kepalanya lalu beranjak pergi.


Saat di ruangan tengah, Jaya melihat Daron.


Tapi Jaya melewatkannya, dia merasa benar-benar sangat bersalah karena menghianati Daron.


"Oh, Jadi gitu ceritanya. Pantas saja sangat mudah menjadi anggota gangster X itu kemarin" Kata Jen setelah selesai mendengar cerita Jaya


"Iya, maaf atas kematian ibu dan adikmu. Aku sungguh tidak tau hal itu" Kata Jaya


"Mmm..." Kata Jen


"Oh iya, temanmu yang bernama Andy itu masih hidup. Namun kondisinya masih sangat kritis" Kata Kata


"Baguslah" Kata Jen dengan senyum lebar


Pagi telah datang, matahari telah bangkit dari tidurnya.


Jen terbangun dan menatap ke bawah pohon, ternyata Jaya sudah bangun.


Jen turun kebawah dan menghampiri Jaya.


"Ayo pergi sebelum ada musuh lagi" Kata Jen


"Kau tidak lapar ?"


"Tidak, tadi malam aku sangat kenyang"


Mereka berdua pun beranjak pergi untuk kembali ke kota.


setelah berjalan sekitar 30 menit, Jen memutuskan untuk berhenti sebentar untuk buang air kecil.


Jen mencari tempat yang cukup jauh dari Jaya, walau bagaimanapun Jaya tetaplah seorang laki-laki.


Setelah selesai, Jen kembali berjalan ke tempat Jaya. Namun tiba-tiba seekor anak ular kobra mematuk kaki Jen.


"Akhhh" Teriak Jen


Jaya yang mendengar itu langsung berjalan menemuinya. Sesampainya di tempat Jen, Jaya melihat seekor ular sedang mendekat kearahnya.


Jaya langsung mengambil kayu dan memukuli ular itu hingga mati.


"Kau baik-baik saja ?" Tanya Jaya


Jen tidak menjawab dan mengambil pisaunya untuk merobek jaketnya.


Setelah robek, Jen langsung mengikatkan kain itu di kakinya agar bisa ular itu tidak langsung menyebar.


Jaya menopang Jen untuk berdiri dan mereka kembali menyusuri hutan.


Semakin lama, Jen semakin lemah dan wajahnya yang pucat mulai membiru.


Saat ini tubuh Jen sudah lemah, nggak itu juga yang mempercepat penyebaran bisa itu.


"Nanti, tolong berikan USB ini pada Very" Kata Jen


Jaya menerima USB itu, dia tau kalau itu adalah milik Bara dan pastinya Bara menyuruh Jen dan teamnya untuk memegang USB itu agar tidak jatuh ke tangan gangster death.


Jen langsung jatuh pingsan dan Jaya langsung menggendongnya.


Jaya berlari sambil menggendong Jen keluar dari hutan itu.


Jaya membawa Jen menuju rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan pertama.


"Tolong, teman saya dipatuk anak ular kobra"


Kata Kata pada salah satu perawat di rumah sakit itu


Jen langsung dibawa ke ruang IGD, namun Jaya terlebih dulu membayar uang registrasi.


Setelah selesai memeriksa, Dokter beserta perawat keluar dari ruangan itu dan menemui Jaya.


"Bagaimana keadaannya ?" Tanya Jaya


" Bisa anak ular kobra lebih berbahaya daripada ular dewasa karena kalau anak ular mematuk, mereka akan langsung mengeluarkan racunnya sebanyak mungkin" Kata Dokter itu


Tak berselang lama, Very dan Daron datang ke rumah sakit itu.


"Bagaimana?" Tanya Daron


"Begini pak, kami tidak memiliki peralatan medis yang lengkap disini" Kata Dokter


Beberapa pengawal Daron datang.


"Siapkan pesawat, kita akan keluar negeri" Kata Daron


Dokter beseerta perawat bingung, mereka hanya menebak dalam fikiran mereka kalau Daron adalah orang besar.


Daron masuk keruangan Jen dan tubuhnya mendadak lemas.


Bagaimana tidak, ini adalah kali pertamanya melihat Jen secara langsung. Namun bukannya melihat senyum putrinya itu, justru dia melihat Jen menutup mata dengan alat bantu pernafasan melekat di hidungnya. Tubuhnya juga mulai biru dan sangat dingin.


Jen segera diterbangkan keluar negeri untuk mendapatkan perawatan medis terbaik.


Selama hampir seminggu Jen dirawat di luar negeri dan keadaannya mulai membaik walaupun belum sadarkan diri. Setelah itu, Jen kembali di kirim ke kota Aming untuk perawatan biasa, namun tetap dirumah sakit yang terbaik di kota itu.


*****


Adi dan Celine sudah mengurus para anggota gangster X yang tertangkap.


Selanjutnya mereka semua diserahkan kepada aparat lainnya untuk ditangani lebih lanjut.


Mereka kembali ke markas atas perintah Doni.


Sesampainya di markas, Celine, Adi dan Jack duduk di ruangan biasa mereka berlima berkumpul sambil menunggu kedatangan Doni.


Suasana terasa sangat sepi dan hening.


Ada rasa kehilangan di hati mereka.


"Hmm..." Kata Doni yang baru saja datang


Mereka langsung memberi hormat dengan membungkukkan badan.


"Duduk" Kata Doni


Suasana hening sejenak


"Andy masih hidup" Kata Doni


Mereka bertiga yang sedang menundukkan kepala langsung menatap Doni dengan wajah kebingungan.


"Iya, seseorang yang mengirim anak buahnya telah berhasil menyelamatkannya. Tapi kondisinya saat ini masih sangat kritis.


Mungkin butuh waktu yang lama agar kalian bisa bertemu kembali" Kata Doni


Mereka bertiga tersenyum lebar sambil saling berjabat tangan.


Ternyata mereka belum kehilangan Andy. Walaupun kondisinya kritis, Andy pasti bisa diselamatkan.


"Kita tunggu kabar Jen sampai besok malam" Kata Doni, lalu beranjak pergi


Mereka bertiga pun kembali memberikan hormat pada Doni.


Keesokan hari di saat malam, Very datang ke markas mereka untuk mengabarkan keadaan Jen.


"Jen sedang dalam kondisi yang sangat buruk" Kata Very


"Kenapa ? Bagaimana mungkin ?" Tanya Adi


Very menceritakan semua tentang kejadian yang dialami Jen dimulai dari saat mengejar Bara, kematian Bara, dan saat di patok ular.


Very juga menceritakan tentang sebuah USB yang diberikan Bara padanya.


Very mengetahui semua informasi itu dari Jaya, dan saat ini jaya sedang melakukan sebuah perjalanan jauh untuk menebus segala perbuatannya selama ini.


" Lalu dimana sekarang Jen ?" Tanya Adi


"Dia sedang dirawat diluar Negeri" Kata Doni yang tiba-tiba muncul


Doni langsung menghampiri Very dan mengambil USB itu.


"Luar biasa, bocah itu memang membawa keberuntungan. Jaga benda ini dan segera kuasai, agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Permainan yang sesungguhnya akan segera dimulai" Kata Doni sambil tersenyum


"Apa isi USB itu pak ?" Tanya Celine


"Persenjataan lengkap keluaran lama dan terbaru, Boom Nuklir, rudal, data narkotika kepemilikan gangster X sejak berdiri hingga sekarang, dan harta yang sangat wow" Kata Doni


"Lalu permainan apa yang bapak maksud?" Tanya Celine


Doni langsung menatap Jack dengan senyum tipis. Jack yang menyadari tatapan Doni langsung memalingkan pandangannya.


"Gangster death, sedang mengincar USB itu. Jika sampai jatuh ke tangan mereka, maka habislah" Kata Doni, laluu memberikan USB itu pada Celine.


Adi masih bingung dengan tatapan Doni kepada Jack tadi, namun lain halnya dengan Very yang tersenyum seakan sudah menebak sesuatu.


Seminggu kemudian berita kembalinya Jen ke kota Aming terdengar. Very, Celine, Adi dan Jack langsung mendatangi RS. tempat Jen dirawat.


Mereka berdiri disamping ranjang Jen sambil menatap wajahnya yang mulai kembali normal.


Beberapa waktu kemudian, Doni datang dengan membawa sebuah samurai dan meletakkannya di lantai samping tempat tidur Jen.


Mereka berempat memberi hormat dan Kebingungan melihat Doni yang membawa samurai.


"Untuk apa itu pak ?" Tanya Celine


"Ah, aku hanya mengingat perjanjian antara Jen dan Very" Kata Doni sambil tersenyum


Very langsung memegangi lehernya. Celine, Adi dan Jack secara bersamaan langsung menatap kearah Very.


"Mari kita berfoto untuk terakhir kalinya" Kata Adi pada Very


Very semakin merinding dengan perkataan Adi. Dia juga berfikir kalau Jen pasti akan benar-benar menjadikan kepalanya sebagai bola voly.


"Aku hanya ingin membantu Jen, agar saat bangun nanti dia tidak perlu mencari senjata untuk memenggal kepalamu. Hahaha" Kata Doni