Before The Sunrise

Before The Sunrise
eps 7



"Heh...terserah kau saja, bahkan kalian bertiga pun tidak mampu mengalahkanku"


kata Jen sambil menatap kearah very,Andy,dan Adi.


"Apa kalian akan terus berkelahi seperti bocah ingusan? sebaiknya kamu siap-siap Jen, kita akan pergi ke tempat kos mu. kau akan tinggal disana selama menjalankan misi, dan ingat kau akan tetap bersekolah seperti biasa dan pulang sekolah kau akan berlatih untuk menjalankan misi" kata Celine


"Latihan apa?" tanya Jen


"Tentunya menggunakan senjata api dan beladiri"


"oke"


Celine menyuruh Jack untuk mengantar Jen ke rumah kosnya. Saat diperjalanan mereka hanya saling diam dan menikmati pemandangan seperti debu beterbangan,sampah berkeliaran,dll


Jen masih merasa agak waswas atas pilihannya. Tapi karena saat ini dia brnar-benar membutuhkan uang untuk biaya hidupnya maka dia menerimanya.


"Berhenti !" kata Jen pada Jack secara tiba-tiba


Jack pun mengerem secara mendadak hingga membuat kepala jen terbentur ke bangku pengemudi


"ah, hei ! apa kau mau celaka?" bentak Jack


Tanpa mendengarkan omongan Jack, Jen pun langsung turun dari mobil dan menghampiri 3 orang yang sedang berdiri di pinggir jalan. Mereka 2 orang preman yang menagih utang judi kepada Ayah Jen.


Ayah Jen sering bermain judi saat malam tiba, namun ia jarang sekali menang karena itulah ia memiliki banyak utang.


"Aku akan membayarnya, tapi bukan sekarang" kata Ayah Jen


"Baiklah, aku punya penawaran. Bagaimana kalau putri mu yang bernama Jen itu aku nikahi maka utangmu akan ku anggap lunas"


"Dia tidak dirumah, dia kabur dan mungkin tidak kembali lagi dalam waktu yang lama" Kata ayah Jen


"kalau aku menemukannya? Tanya seorang preman berusia 40 tahun itu


"kau boleh me....." belum selesai berbicara tiba- tiba Jen muncul


"Tadi aku tidak sengaja lewat dan mendengarkan perbincangan kalian,dan aku tidak akan mau menikah dengan orangtua bangka,keriput, dan jelek sepertimu" kata Jen sambil tertawa


Tiba-tiba Ayah Jen mau menampar Jen, tapi Jack datang dari belakang dan menangkap tangannya. Mereka pun terkejud dengan kedantangan Jack yang memakai jas dan kacamata hitam, Jack memiliki tinggi badan 180 cm, dia juga tampan dan kulitnya sedikit putih kecokelatan.


"Jangan berani menyentuhnya atau kupatahkan tanganmu" kata Jack dengan nada dingin


"Siapa kamu?" lepaskan tanganku"


Jack pun meremas tangan Ayah Jen dengan kuat lalu melepasnya, Jack langsung menuju mobil dan mengambil uang dan memberikannya kepada 2 preman itu.


"i in ini, banyak sekali" kata Ayah Jen


Tanpa mendengarkan ucapan mereka, Jack langsung menarik tangan jen menuju mobil.


Jen tentu kaget dengan sikap Jack yang tiba- tiba menolongnya.


Sebelum masuk ke mobil,Ayah Jen pun mengejar mereka dan menarik tangan Jen


"Kau mau kemana? pulang sekarang dan aku akan menghukummu karena telah menjelekkan temanku" kata Ayah Jen


Jen pun menangkis tangan ayahnya dan melipatkan tangannya di depan dadanya.


"Aku tidak akan pulang dan aku tidak takut padamu ayah palsu" kata Jen yang membuat ayahnya kaget dan mulai marah


"Oh, jadi kau sudah tau ternyat Kalau aku bukan ayah kandungmu.Aku menikahi ibumu saat dia baru melahirkanmu karena aku tidak sengaja menabrak ayah kandungmu sampai tewas.Awalnya aku merasa bahagia sampai suatu saat kau sering membuat onar dan membuat ku dalam masalah, kau menghabiskan uang ku dan aku sangat membencimu" kata ayah Jen dengan nada tinggi


Jen langsung tersentak kaget saat mengetahui faktanya


"Aku tidak membuat masalah,aku hanya membela diri dari manusia-manusia lemah yang sok jago itu"


"Kau fikir aku peduli, kalau bukan karena aku mencintai ibumu aku pasti sudah menelantarkan kalian sejak dulu"


Jack yang menyaksikan pertengkaran itupun hanya diam dan tidak tau harus berbuat apa sampai saat ayah Jen berkata


"sebaiknya kau pulang, dan aku akan menjualmu kepada teman-temanku untuk dijadikan bahan kesenangan"


Tanpa fikir panjang,Jack langsung mendaratkan pukulan keras ke wajah Ayah Jen sampai membuatnya tersungkur ke tanah.


"Kau ! beraninya"


Mereka berdua pun berkelahi Tapi Jen dan kedua preman itu hanya menjadi penonton, sampai Ayah Jen terlihat sudah tidak kuat lagi berkelahi. Jen hanya tersenyum melihat perkelahian mereka


"Hajar saja dia, jangan kasih ampun" batin Jen


Selama ini Jen tidak pernah melawan Ayahnya saat disiksa karena dia masih menghormati Ayahnya, namun sekarang berbeda dia telah terlanjur sakit atas perkataan ayahnya.