Bad Students

Bad Students
[66]



***


Terbangun dari tidurnya Yudistira langsung menghampiri kamar Stella. Membuka pintu kamar itu dengan sangat mudah, sebab pintu itu sama sekali tidak terkunci. Kedua matanya kini terfokus akan sang kekasih yang masih tertidur pulas di ranjangnya, sembari erat memeluk selimutnya.


Rambut teruraikan kesana-kemari, namun aura Stella masih begitu cantik di mata Yudistira. Langkah kaki kini semakin mendekat, menghampiri Stella yang masih tertidur pulas. Perlahan jongkok di samping ranjang itu, sembari menatap sang kekasih.


Helai demi helai, Yudistira benari. Hingga wajah yang tadinya tertutup rambut, kini terlihat jelas. Senyuman Yudistira kini perlahan terpancar di bibirnya. Tangannya yang sedari tadi di dahi, kini perlahan menurun dan terus menurun, hingga terhenti di bibir manis sang kekasihnya itu.


Bibir manis itu terus dia mainkan, mengusap-usapnya dengan ibu jarinya. Tatapannya tak teralihkan sama sekali, dia masih tersenyum. Hingga, perlahan Yudistira kini menelan ludah yang amat berat. Wajah semakin mendekat, dan amat dekat.


Kini, wajah mereka hanya berjarak 5 centimeter. Degup jantungnya terus berdetak, dan semakin kencang. Napas pun mulai tak teratur. Hingga, saatnya Yudistira yakin dengan apa yang akan dirinya lakukannya. Kini, kedua bibir itu hanya berjarak 1 centimeter. Baru saja, kedua bibir itu akan saling menyentuh. Tiba-tiba saja lantunan ayat terdengar di telinga Yudistira, dengan amat kencang. Hingga, membuat Stella yang tertidur pulas pun terbangun akan lantunan ayat itu.


"Wa laa taqrabuz-zinaa innahu kaana faahisyah, wa saa`asabiilaa" Siapa lagi jika bukan Rami.


Mendengar itu Yudistira pun tersentak. Dan, menjauhkan tubuhnya dari Stella. Saat melihat ke arah Rami, Rami hanya tertawa puas lalu pergi. Yudistira pun mulai salah tingkah sendiri, dengan mengusap punggung lehernya, sesekali dia tepuk-tepuk.


"Kenapa sih tuh si Rami?! Hobby banget ganggu orang tidur"


"Emang tuh anak kadang-kadang-"


"Kamu sendiri kenapa ada di kamar aku?"


"Hah?!"


"Korekin dulu sana telinganya, males banget ngomong sama orang yang jawabnya hah-hih-huh-heh-hoh"


"Punya tangan kan? Masih berfungsi kan?"


"idih! Masih aja ngambek gegara masalah semalem. Cewek mah gitu, di kerjain balik malah ngambek"


"Serah dah!"


"Idih-idih, jangan ngembek lama-lama dong ayang" Bujuknya sembari menaiki ranjang milik Stella, sambil memeluk tubuh sang kekasihnya itu.


"Heh! Ngapain pake ikut tiduran segala?! Peluk-peluk lagi!"


"Beginilah situasi saat ini, mereka sedang bermesraan. Bisa dilihat, apa perlu saya zoom kanjen ratu?"


"STELLA YUDIS! Kebangetan banget yah ni anak dua!!" Teriak Ibundanya, dengan suara lantang di telfon. Mendengar itu pun mereka langsung saling dorong, hingga keduanya terjatuh ke lantai.


"Si Rami memang beneran monyet!" Ucap Stella dengan wajah yang amat sangat kesal.


"Sabar sayang, ini tempat umum loh. Semua orang pada liatin kita ini"


"Rami, urus tuh anak dua. Ibu tutup telfonnya sekarang" Rami hanya terus tertawa puas. Sementara, Stella dan Yudistira kini menatap tajam ke arah Rami. Dengan mimik wajah yang sangat serius.


Hingga, dirinya tak menyadari. Akan Stella juga Yudistira kini ada di dekatnya. Tanpa berfikir panjang, mereka langsung mengikat tubuh Rami dan menyimpannya di kamarnya. Tak lupa juga mereka kunci kamar itu. Membiarkan Rami kapok, karena sudah cari gara-gara dengan mereka berdua.