
Kembali ke kelas, sambil meminum susu kotak di pegangnya. Terus menyeruputi nya sambil asik mendengar gombalan maut dari sang kekasih, siapa lagi jika bukan Yudistira. Terus membiarkan dia menggombalinya, karena memang itu yang Stella suka. Walau memang dirinya agak sedikit terganggu akan perkataan Rega tadi di kantin. Namun, tetep Stella menutupi itu semua. Dia percaya bahwa Yudistira tidak akan melakukan itu.
Tak lama, saat fikiran nya terus berusaha positif untuk Yudistira. Dia malah mendapat pesan dari nomor tidak di kenal, yang berisikan foto mesra Yudistira dengan banyak wanita. Serta, dia pun melihat foto dimana Yudistira sedang mesra-mesraan dengan mantannya, Kristal. Saat mereka liburan di Bintan. Yang pada saat itu, hubungan mereka masih belum kandas.
Stella mulai berfikir keras, apakah memang perkataan Rega itu semua nya benar? Yudistira putus dengan Kristal, apa memang dia tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan kepada Kristal? Atau memilih menjadikan Stella sebagai kekasihnya, hanya untuk pelarian semata, dan melarikan diri dari tanggung jawabnya?
Fikirannya kembali kacau balau, hubungannya mungkin akan rumit kedepannya. Namun, dia tidak mau langsung menyimpulkan jika semua itu berkaitan. Dia lebih memilih untuk menerima nya dahulu, dan mungkin akan menanyakan langsung pada kekasihnya itu.
Fikirannya masih kacau, ditambah lagi melihat kelas kacau balau. Perkelahian antara Giorgino dengan Rega terjadi lagi. Entah, apa masalahnya. Namun, Rega pasti akan membuat ulah dengan sendirinya. Karena, dia hobby mengganggu siapapun.
Berjalan semakin dekat dengan kelas, dan Stella melihat meja di kelas sudah penuh dengan coretan kata-kata kasar. Bukan hanya 1 saja, tapi semua meja murid di kelasnya. Bukan hanya dirinya yang masih tidak menyangka, semua murid kelas pun hanya berdiri dengan mimik wajah penuh kekesalan. Dengan suasana riuh perkelahian Giorgino dengan Rega, juga kedua temannya.
Yudistira, Jimi, Rami, Vixa, Suga, Jinata, juga Jije berusaha memisahkan mereka berdua. Mereka masih kebingungan dengan apa yang telah terjadi. Salah satu kunci sekarang, mendengarkan penjelasan Giorgino. Karena, dirinya lah yang pertama kembali ke kelas dari kantin saat itu.
"Dalang dari semua ini tuh ni anak tiga. Gue liat mereka coret-coret meja kelas pake pilox!" Kembali menceritakan dengan nafas kesalnya. Sontak, seisi kelas menatap pada mereka bertiga dengan tatapan sangar.
"Udah gak ada bukti, main asal nuduh lagi!"
"Asal nuduh lo bilang?!"
"Ada bukti gak lo?! Kagak ada kan?!"
"Lo ada bukti?" Tanya serius Yudistira kepada Giorgino.
"Lo kenapa seakan-akan bela tuh anak tiga?!"
"Gue gak bela siapapun, tapi yang mereka bilang itu bener. Semua bakal percaya kalo lo punya bukti, kalo mereka yang lakuin ini semua"
"Dis, ayolah! Mata gue yang jadi saksi kelakuan mereka!"
"Tapi, cuma mata lo aja yang liat kan?"
"Terserah lo, gue capek!" Kesal Giorgino langsung pergi dari kelas itu.
"Gimana sekarang?"
"Gimana lagi hapus lah, berjamaah!"
"Biarin aja gak sih? Bagus ini, kelas kita jadi beda dari yang lain"
"Bagus sih bagus, tapi ini tulisannya kasar semua"
"Tulisan? Tunggu! Gimana kalo kita buktiin kalo omongan Giorgino tadi memang bener. Dengan cara kita liat tulisan mereka di buku tulisnya? Jadi, kita gak perlu capek-capek hapus. Biar pelakunya yang nanggung perbuatannya sendiri?"
"Pinter juga lo, Ti!"
"Otak gue selalu berfungsi dengan baik kalo masalah kaya begini. Kalo masalah pelajaran, beda ceritanya. Hhaha~"
"Oke! Kita kepung-mengkepung mereka bertiga, sekarang!"
Mereka bersembilan langsung pergi ke kelas Rega, dan mengambil dengan santainya buku Rega dan kedua temannya itu di atas meja. Dan, benar. Tulisan nya sangat mirip dengan coretan di meja kelas mereka. "WOI!!!" Teriak Rega, dengan keras.
"Ngapain lo obrak-abrik meja gue tanpa ijin?!"
"Gak usah banyak bacot, mending lo ikut gue ke ruang kepsek!"
"Ngapain gue harus ke ruang kepsek? Kalo lo pada gak punya bukti?!"
"Harusnya lo bakar buku-buku lo ini, baru bertindak. Biar gak terjadi boomerang ke diri lo sendiri. Tapi, udah telat boomerang yang lo lepas kini udah balik ke lo lagi" Ucap Yudistira, langsung membawa ketiga anak itu, dibantu oleh keenam temannya.
Kini, Rega dan kedua temannya mendapat hukuman untuk menghapus semua meja yang mereka coret tadi. "Gue bilang juga apa! Coret meja mereka aja, lo malah pengen semuanya!"
"Bacotan lo gak akan bisa buat ilang nih pilox! Cepetan hapus!"