Bad Students

Bad Students
[46]



Yudistira terus menerus meminta maaf kepada Stella. Namun, dia sama sekali tidak mau mendengarkan dan tak mau tau lagi alasan demi alasan palsu Yudistira. Baginya, dia sudah menyakitinya. Sekali menyakiti, akan terus menyakiti ke depannya. Jika untuk memaafkan mungkin Stella akan memaafkan perbuatannya. Namun, untuk kembali mengukir kisah bersama lagi itu tidak mungkin terjadi.


Stella adalah tipe wanita yang jika tidak menyukai siapapun, dia akan langsung memperlihatkan dengan tatapan sinisnya. Perubahan Stella tambah drastis, dia sama sekali tak banyak bicara walau teman-temannya mengajaknya bicara. Namun, dia pun tak mau merusak pertemanan itu yang sudah susah payah mereka bangun bersama.


Mereka berdua terus berusaha sebisa mungkin untuk berbicara dengan Stella. Namun, lagi-lagi Giorgino juga Rami menghalangi mereka untuk dekat-dekat dengan Stella. Suasana pertemanan mereka kini makin memburuk. Namun, usaha mereka tak sampai disitu. Mereka terus berusaha lebih, agar Stella mau mendengarkan semuanya. Agar tak ada salah paham apapun lagi, antara hubungannya, juga persahabatan mereka.


"Mau sampe kapan lo kayak gini, Dis?!"


"Ram, gue mau jelasin kebenarannya aja ke Stella"


"Mau jelasin apa lagi? Gue udah percaya ke lo, Dis. Tapi, nyatanya lo malah main di belakang Stella"


"Tetep aja gue harus jelasin semuanya, Ram"


"Mau jelasin apa lagi sih?! Jelasin aja disini!"


"Kita ke tempat lain ya, Stell"


"Mau ngapain lagi lo?! Kalo mau jelasin disini aja, gak usah ke tempat lain!"


"Mending lo diem, Gin! Gue gak ada urusan sama lo!"


"Udah-udah dong. Gue bakal keluar, lo berdua gak usah ikutin gue!"


Yudistira terus menceritakan semuanya. Namun, tetap saja Stella tak mempercayainya. Semua yang di katakan Yudistira kepadanya amat sangat tak bisa dipercayai lagi. Mungkin karena perasaan Stella amat sudah tercambik-cambik oleh Yudistira. Jadi, semua ucapan yang dikatakannya, terus ditolak oleh diri Stella.


Yudistira terus menyakinkan lagi kepada Stella. Jika semua yang dia katakan itu benar, dan sama sekali tak mengada-ngada. Dia terus memohon untuk percayanya lagi, dan terus meminta maaf atas semuanya. Sebab, dirinya tak pernah menceritakan kepada Stella dari awal.


"Aku lakuin itu semua karena Mutiara minta bantuan ke aku"


"Gak masuk akal banget sih, Dis. Udah lah apapun itu, gue udah maafin lo sama Mutiara kok. Gak usah lah buat alasan ini itu, yang semakin gak masuk akal"


"Aku sama Mutiara gak ada hubungan apapun, aku cuma bantu dia dari stalker yang terus ngikutin dia. Masa aku gak tolongin dia sih, Stell. Dia ketakutan banget, dan situasi saat itu mendadak banget. Mau gak mau kita lakuin itu"


"Dis, udahlah. Alasan lo semakin kesini, semakin aneh! Udahlah, gue udah maafin lo sama Mutiara. Gak perlu lo berusaha buat jelasin apapun lagi ke gue"


"Itu kenyataannya, Stell"


"Oke! Oke! Jadi lo bantu Mutiara dari Stalkernya Mutiara. Terus karena situasinya ngedadak, lo ciuman sama Mutiara. Dalam situasi apapun, kalo lo bener-bener bisa jaga perasaan gue. Gak mungkin lo berani lakuin itu semua di belakang gue, Dis!"


"Gue gak ciuman beneran, Stella! Kena aja kagak! Kita cuma acting ciuman bohongan aja, biar tuh stalkernya si Mutiara pergi. Aku harus pake cara apalagi sih biar kamu percaya?!"


"Gue percaya, Dis. Percaya kok, jadi bolehkan gue pergi sekarang?"


"Stell. Dengan kamu terus bersikap kayak gini ke aku, sama aja kamu suruh aku berhenti memperjuangkan hubungan kita"


"Hubungan kita emang udah kandas, lo sendiri kan yang kelarin itu semua?"


"Ya, kamu juga ngapain peluk-peluk si Giorgino segala!"


"Begitu pun gue sama Mutiara, Stell"


"Kenapa lo terus sebut nama si Mutiara sih di depan gue! Lama-lama gue eneuk dengernya!"


"Astaga! Masih aja gak percaya sama omongan aku barusan"


"Kan bener. Lo itu emang dari awal gak ada rasa sama gue. Lo cuma penasaran aja ke gue kan? Pada kenyataannya, lo suka nya sama Mutiara. Bukan sama gue!"


"Astaga! Kepala gue pusing banget! Ayolah, Stella. Percaya dong sama aku, mau sampe kapan kamu begini terus. Ngapain juga susah payah aku nyatain cinta ke kamu, kalo aku sukanya ke Mutiara?! Kalo pun aku suka sama Mutiara, aku bakal langsung tembak Mutiara bukannya kamu. Secara siapa sih yang mau nolak aku?!"


"Mulai! Mulai lagi kan lo!"


"Yaudah, apa susahnya sih percaya ke aku"


"Gue percaya, bolehkan gue pergi sekarang?!"


"Ish! Dengan kamu ninggalin aku, sama aja kamu belum percaya ke aku. Aku tau betul yah, semua sikap kamu sekarang. Kamu masih gak percaya semua yang aku omongin barusan!"


"Tadi minta gue percaya kan? Disaat gue udah percaya, lo malah gak percaya. Sekarang maunya apa?"


"Udahlah Stell, maafin aja Yudis nya. Yang salah sepenuhnya gue, bukan Yudis kok" Celetuk Mutiara tiba-tiba.


"Kan! Lo berdua emang ada hubungan! Sosweet banget sih, saling berusaha menutupi kesalahan satu sama lain!"


"Astaga, Stella! Aku sama Mutiara gak ada hubungan apapun. Ayo dong percaya ke aku"


"Mending gue pergi, kalo gue lama-lama disini yang ada gue jadi setan kalian" Ucapnya, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Lo ngapain sih! Gak ada angin, gak ada ujan. Nongol tiba-tiba, di saat gue udah susah payah buat Stella percaya. Lo malah ngerusak itu semua?!"


"Ya, gue fikir. Gue bisa bantu menyelesaikan masalahnya. Abisnya, lo ngomong berbelit-belit 'Aku lakuin itu semua karena Mutiara minta bantuan ke aku'. Mana bisa Stella percaya begitu aja sama omongan lo! Harusnya tadi lo ngomong langsung ke intinya! Ngabacot lo gedein, ngejelasin semuanya depan Stella mental lo langsung ciut kikuk!"


"Sampe lo nongol lagi saat gue lagi berduaan sama Stella. Gue bongkar, rasa suka lo ke si Nata!"


"Anjr! Apa-apaan lo! Siap-siap rambut lo botak, sekali gue jambak!"


"Sebelum lo botakin rambut gue, gue cukur rambut lo sampe botak kinclong!" Tekannya langsung pergi.


Yudistira mengejar Stella, terus menahannya agar tidak pergi kemana-mana. Terus berusaha mnjelaskannya kembali, agar semua kesalahpahaman itu terselesaikan. Masih saja Stella tidak mempercayainya. Stella terus memasang wajah sangarnya, sehingga membuat Yudistira menjadi ketakutan.


Lagi-lagi Giorgino ikut campur dengan urusan mereka berdua. Dia terus muncul disaat yang tidak tepat. Membuat Yudistira sedikit kesal. Hembusan nafas terus Yudistira keluarkan dengan berat. Kedua matanya terfokus akan tangan Giorgino yang kini menggenggam tangan Stella. Sambil berkata "Waktu lo buat kasih penjelasan ke Stella udah abis! Gue gak mau lo berurusan lagi sama Stella, lo udah bukan siapa-siapa nya dia. Lo cuma mantannya sekarang!"


"Harusnya lo sadar diri juga, lo cuma mantannya. Gak perlu genggam-genggam tangannya kali!"


"Harusnya lo sadar sekarang, dengan Stella gak tolak genggaman gue. Berarti gue sama Stella, ada hubungan lebih sekarang!" Yudistira hanya termangu, masih mencerna perkataan Giorgino tadi. Hingga, perlahan kedua tubuh mereka hilang dari pandangannya. Seketika, hatinya kini amat sangat hancur. Saat mengerti semua perkataan Giorgino tadi.