Bad Students

Bad Students
[58]



Yudistira kira, dirinya sudah tidak lagi berhubungan dengan Starla. Namun, kenyataannya hubungan mereka jadi ke jenjang serius. Ibunda Starla kini mengamuk akan kehamilan anaknya itu. Ibunda nya terus meminta pertanggung jawaban Yudistira. Jika bisa mereka harus di nikahi secepat-cepatnya. Kericuhan kini semakin membuat satu sekolah geger akan semua itu. Teman-temannya pun dibuat tak percaya akan semuanya, termasuk Stella.


Tamparan keras menghampiri pipi Yudistira. Tampak sekali wajahnya amat sangat kesal, membuat seisi kelas tecengang akan keberadaan Ibunda Starla. Sementara Starla, dia terus menangis sesegukan akan perlakuan Ibunya kepada Yudistira. Dia terus menghentikan perlakuan Ibundanya itu, namun usahanya percuma sebab Ibundanya sudah sangat melebihi kapasitasnya.


"Kamu putusin anak saya? Kamu tinggalkan tanggung jawab kamu sebagai ayah dari bayi yang di kandung anak saya, Starla?! Saya tidak mau tau, kamu harus tetap tanggung jawab akan kelakuan yang sudah kamu lakukan kepada anak saya!" Mendengar itu, seisi kelas terngaga akan apa yang mereka dengar.


"Yudis! Lo bilang dia gak hamil kan?!" Ucap Stella, dengan penuh kebingungan.


"Siapa kamu?! Lebih baik kamu diam! Ini urusan saya sama cowok bajingan ini!"


"Saya pacarnya. Saya berhak mendapatkan penjelasan juga kan?" Lagi-lagi tamparan keras menghampiri pipi Stella. Siapa lagi jika bukan tamparan dari Ibundanya itu.


"Lebih baik ibu jaga kelakuan ibu, ini area sekolah!" Kesal Giorgino, sembari menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk Stella.


"Banyak sekali yah, yang ikut campur! Urusan saya cuma untuk bertemu anak ini. Jadi, lebih baik kamu tidak perlu ikut campur!"


"Anda sudah menampar teman saya! Jadi, saya berhak ikut campur! Lagi pula, yang mempunyai hubungan itu teman saya dan anak anda. Lebih baik, anda beri ruang untuk mereka lebih dahulu. Jangan menjadi orang tua yang selalu ikut campur dengan masalah yang anak anda buat"


"Fikiran kamu benar-benar kacau yah ternyata. Karena, dia anak saya. Saya harus maju untuk melindungi anak saya! Otak kamu dimana?!"


"Jika, benar teman saya menghamili anak anda. Seharusnya, anda marahi anak anda lebih dulu. Bukannya, malah melampiaskan kekesalan langsung ke teman saya. Jika memang anak anda hamil, bukan hanya teman saya bukan yang salah? Ingat, mereka melakukan itu karena keinginan bersama"


"Bu, lebih baik anda ikut saya sekarang" Ucap Bu Popi yang baru saja tiba.


"Yudis, ikut saya!" Sambungnya lagi.


Ibunda Starla, Starla, Ibunda Yudistira juga Yudistira kini sudah ada di ruangan Bu Popi. Ibunda Yudistira terus memukuli tubuh anak nya itu, karena amat sangat tidak percaya akan kelakuan anaknya sendiri. Dada nya sudah amat sangat sesak, tak bisa berkata apa-apa lagi selain meminta maaf kepada Ibunda Starla.


"Saya tidak perlu permintaan maaf dari anda, saya hanya butuh anak anda bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan kepada anak saya"


"Bu, apaan sih! Yudis gak buat hal itu! Yudis gak akan pernah ngamilin anak orang! Harusnya ibu percaya dong ke anak sendiri!" Jelas Yudis, membuat Ibundanya lagi-lagi memukuli tubuh anaknya itu.


"Kamu bilang gak hamilin anak saya?! Anak saya benar-benar hamil!" Ucap tegas Ibunda Starla sambil mengeluarkan tespack yang seari tadi dia bawa di tasnya.


Melihat itu, tambah sesak lagi lah Ibunda Yudistira. Bu Popi pun hanya diam, karena sudah terbiasa akan para muridnya membuat hal seperti itu. Kepala Ibunda Yudistira sudah amat sangat pusing sekarang, di tambah Yudistira terus berusaha menyakinkan Ibunya, jika itu tak benar.


"Baiklah! Anak saya akan mempertanggung jawabkan atas apa yang dia lakukan"


"IBU!"


"Tapi, karena anak saya terus menerus bilang jika itu bukan perbuatannya. Bagaimana jika kita buktikan, jika memang bayi yang di kandungan anak anda memang benar darah daging anak saya. Saya akan menjamin, anak saya akan bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan kepada anak anda" Mendengar itu Ibunda Starla pun setuju. Mereka pun melakukan tes DNA, untuk membuktikannya.


To Be Continued >>>