Bad Students

Bad Students
[42]



Sekolah masih tampak ricuh, semua siswi yang pernah bermesraan bersama Pak Yuta kini berakhir di introgasi oleh pihak kepolisian. Guliran pertanyaan terus mereka dapatkan, hingga membuat mereka sedikit muak sekali. Wajah para polisi pun yang mendengar jawaban mereka pun, sudah amat sangat muak. Tak ada sopan santunnya, wajah siswi-siswi itu amat sangat menyebalkan.


"Kamu siswi pertama yang bermesraan bersama Pak Yuta?" Siswi itu mengangguk.


"Apa guru itu memaksa kamu untuk berhubungan bersama?"


"Kami sama-sama mau, tidak ada paksaan" Polisi itu hanya tercengang.


"Dimana kalian berhubungan seksual?"


"Ruang penyimpanan barang olahraga, agak luas sih jadi kita berdua leluasa, dan juga ruangannya jarang di lewati orang-orang, jadi aman untuk melakukan itu dan tidak banyak gangguan"


"Kamu tau kan itu salah?"


"Cepat atau lambat pun saya akan melakukan hal itu juga kan? Tidak ada salahnya jika saya percepat melakukannya" Polisi itu kini makin tercengang.


"Iya, namun umur kamu masih di bawah umur. Tidak boleh melakukan hal seperti itu, dan status kamu sekarang masih seorang siswi"


"Umur saya sudah 20 tahun, saya tidak naik selama 1 tahun. Yang berarti seharusnya saya sudah tidak di bawah umur lagi bukan? Jadi, gak perlu lah mempermasalahkan ini semua. Waktu muda juga pasti ada niatan kan buat melakukan itu semua? Ya, harusnya ngerti dong. Zaman sekarang, umur 17 tahun aja udah punya 2 anak loh"


"Tetap saja, itu tidak boleh dilakukan untuk seorang pelajar!"


"Yang hamil di luar nikah pun bukan hanya saya, di sekolah lain pun pasti banyak. Dan di sekolah ini pun bukan hanya saya, sekalian saja periksa keperawanan kalo gak percaya!"


"Baiklah, terimakasih. Saya akan melakukan hal yang tadi kamu ucapkan, dan membuktikan jika memang bukan hanya kamu saja yang sedang hamil" Mendengar itu siswi itu langsung mendecik dan menyesal, karena sudah membuat bicaranya lebih dulu dari pada fikirannya.


Dihari yang sama, polisi itu mengumpulkan semua murid di aula sekolah. Membuat semua murid menjadi penuh kegelisahan, keringat dingin sudah bercucuran, wajah perlahan memucat. Bagaimana tidak, semua murid disana bermasalah semua. Menjual narkoba, mengkonsumsinya, mabuk-mabukan, hamil di luar nikah, mendapat bocoran soal ujian, juga nekat mengambil soal ujian di ruang kepsek dan dimana saat itu kepsek pun ada disana.


"Baik semuanya, langsung ke intinya saja. Untuk siswi diharapkan berbaris di sebelah kiri, dan siswa sebelah kanan" Semua murid langsung berpencar, dan mengikuti perintah polisi itu.


"Untuk semua siswa di harapkan untuk tetap diam di aula ini, kalian bisa duduk dulu sampai selesai pengecekkan para siswi"


"Pengecekan?" Kebingungan para siswa disana.


"Kok gue jadi degdegan yah?"


"Bentar-bentar! Pengecekan?! Gue kayaknya harus pergi deh"


"Kemana?! Kita di suruh diem di sini!"


"Kalo Arumi ketauan hamil gimana?!"


"Jadi, mereka mau cek siswi yang hamil?!"


"Kalo lo pergi sekarang, yang ada pada nyurigain lo!"


"Bener kata Yudis, Jim. Mending lo chat aja sekarang si Arumi"


"Kenapa?"


"Jimi chat gue, katanya mereka bakal cek keperawanan siswi disekolah ini!"


"Gila! Sampe segitunya?! Gini aja lo pake pembalut sekarang, biar lo gak di sangka hamil"


Stella langsung mengambil pembalut di kotak khusus pembalut di Wc, yang memang disana sudah di sediakan oleh pihak sekolah, dan memudahkan untuk semua siswi mendapatkannya. "Nah lo pake ini sekarang cepetan!"


"Ini apaan anjir!"


"Mens gue"


"Stella, lo mau gue pake pembalut bekas lo?! Gila aja lo!"


"Terus lo mau ketauan hamil?"


"Ya, engga"


"Yaudah cepet pake! Masih untung gue baru halangan tadi pagi, kalo kagak. Tamat riwayat lo sekarang"


Akhirnya, mau tidak mau Arumi pun memakai pembalut yang baru saja Stella pakai. Dan benar saja, sampai sana mereka dipisahkan menjadi dua bagian. "Baiklah, untuk kalian yang sedang menstuasi silahkan masuk ke dalam, mereka akan memeriksa apa benar kalian mens atau hanya berpura-pura saja"


Renilla dan Mutiara yang melihat Arumi berbaris di jajaran menstruasi itu penuh kebingungan, dan perlahan menyadari jika pemeriksaan ini bertujuan untuk pemeriksaan keperawanan. Kedua mata mereka terbelalak tak percaya.


Jimi yang sedari tadi mengechat Arumi pun, tidak dapat balasan sama sekali. Sontak, membuatnya menjadi tambah khawatir dan bersikeras untuk pergi mencari Arumi. Namun, tetap di halang oleh mereka berenam, agar Jimi tak menimbulkan kecurigaan.


Kini Arumi dan Stella benar-benar panas dingin, ditambah urutan kini semakin mendekat dan terus mendekat. Barisan mereka mulai menipis, hingga saatnya bagian Arumi di periksa. Dan membuat dirinya terdiam, kebingungan. Karena, pemeriksaannya hanya memperlihatkan mens nya saja, tidak di pastikan lebih jauh.


Arumi yang berhasil di periksa, membuat ketiga temannya itu amat sangat merasa lega. Kekhawatirannya, kini menjadi tenang. Helaan nafas lega mereka helakan bersama. Kini Arumi kembali ke aula, dan membuat ke khawatiran Jimi menjadi sedikit tenang setelah melihatnya.


"Tuh si Arumi kok bisa lolos?"


"Lo aja bingung, apa lagi kita Jim"


Selesai pemeriksaan, semua guru-guru dibuat tercengang, akan banyak siswi yang dinyatakan sedang hamil, dan juga sudah tidak perawan. Namun, pihak sekolah menyembunyikannya dari murid yang lain terlebih dahulu, agar tidak membuat keributan.


Guru-guru kini rapat bersama dengan orang tua murid, juga pihak kepolisian. Mencari jalan keluar bersama, untuk memberi keadilan pada para murid disana, dengan seadil-adilnya.


"Karena, mengusir para siswi yang hamil di luar nikah, hal ini justru menghilangkan fungsi pendidikan sekolah. Sebab, fungsi sekolah bukan untuk menghukum, tapi mendidik dan melaksanakan pendidikan moral. Dan di sekolah ini pun memiliki aturan dan Standar Operasional Program (SOP). Jadi, saya akan mengikuti peraturan perundang-undangan berdasarkan pasalĀ 32 Undang-Undang Dasar 1945, dimana setiap anak Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Jadi, saya tetap akan memberi hak pada mereka. Memberi kesempatan untuk memberi studi, walau mereka harus mengulang pelajaran" Jelas Bu Popi. Membuat para orang tua murid kini lebih tenang, dan banyak-banyak berterimakasih atas semua yang Bu Popi lakukan, untuk memberikan keadilan bagi anak-anak mereka.


Namun, dengan adanya aturan Standar Operasional Program ini. Bukan berarti siswi yang lain bisa melakukan hal yang serupa. Dan pihak sekolah pun akan terus lebih-lebih mengawasi semua muridnya, agar kejadian itu tidak terulang lagi.


Semua orang tua murid tak henti-hentinya berterimakasih, karena Bu Popi sudah menegakkan keadilan kepada anak-anak mereka. Para orang tua pun kini berjanji akan mengawasi anaknya itu dengan sungguh-sungguh. Dan mulai saat itu, para orang tua murid dan para guru SMA Tanah AIr Harapan Bangsa, selalu memberi motivasi agar mereka tidak putus asa. Sebab, orang tua adalah pilar utama untuk melindungi anaknya.