
Wanita cantik, kulit putih bersih, menarik tangan Jimi. Wajahnya amat sangat serius, pertanyaan demi pertanyaan dia lontarkan tanpa henti. Ya, itu kakak Jimi, penjaga UKS sekolah SMA Tanah Air Harapan Bangsa. Namanya, Yumi. Yumi sangat syok, sebab baru mengetahui Jimi menghamili seorang gadis. Dia terus berfikir keras untuk menutupi semua kelakuan adiknya itu kepada Ibunya. Memikirkannya saja sudah amat rumit. Jika terus di sembunyikan pun, jika sudah waktunya di ketahui akan ketahuan. Walau Jimi tak meminta Yumi untuk menyembunyikan itu semua, Yumi pun tak akan mengadukan tentang hal itu kepada Ibunya. Yumi tidak mau membuat Ibunya menjadi stres. Hingga, akhirnya Yumi mengikuti arahan Jimi. Dan memutuskan untuk membantu menjaga Arumi, sampai dia melahirkan.
Untung saja, Arumi tidak kenapa-kenapa. Kandungannya baik-baik saja, jika telat mungkin kandungannya akan keguguran. Syukurnya, masih bisa di selamatkan. Bukan hanya mereka yang merasa lega, namun juga teman-teman dekatnya ikut senang. Kandungan Arumi sudah 4 bulan, dan perutnya pun semakin membesar. Sementara, kelulusan sekolah tinggal 2 bulan lagi.
Yudistira kini merasa bersalah akan perbuatannya tadi kepada Stella. Jika mengetahui akan keadaan Arumi, yang hampir keguguran akan kelakuan Starla, sang kekasih. Mungkin saja dia tidak akan marah-marah seperti tadi kepada Stella. Kini, dia sadar mengapa Stella sampai seperti itu kepadanya.
Bel berbunyi, tanda semua pelajaran sekolah sudah selesai. Setiap harinya Yudistira harus menyakinkan Starla untuk sampai ke asramanya dengan selamat. Dan saat itu pun, waktu Yudistira untuk menemui Stella di perpustakaan. Waktu dimana mereka bisa berduaan.
Berjalan melewati rak demi rak, menghirup kembali aroma buku-buku disana, hingga sampai Yudistira sudah melihat keberadaan Stella. Seperti biasanya, dia sibuk mencari buku-buku yang hendak dia baca. Namun, saat sadar akan keberadaan Yudistira disana, Stella mulai memasang wajah sinis dan acuh.
"Stell maafin gue lah, kalo gue tau keadaan Arumi pun gue gak bakal bela Starla"
"Udahlah gak perlu pake minta maaf segala. Siapapun pasti bakal bela pacarnya dulu kan? Itu wajib dalam suatu hubungan. Lagian hubungan kita pun cuma sebatas mantan, dan teman. Lo ya lo, gue ya gue. Gak usah di bawa ribet"
"Masih aja lo marah ke gue"
"Sampai kapan gue harus mendam amarah gue? Lebih baik kita gak usah ketemuan lagi, Dis. Lo harus fokus ke Starla. Mau bagaimana pun dia tanggung jawab lo sekarang"
Mendengar itu, Yudistira terus menolak dan akan terus menemui Stella seperti biasanya. Dia tidak mau kehilangan seseorang yang dia sayang lagi dan lagi. Sudah cukup menyakitkan saat Stella meninggalkannya. Dia tidak mau itu terjadi lagi. Saat itu juga, Yudistira memberi ponsel miliknya kepada Stella. Sebagai permintaan maaf atas kejadian tadi di lapangan.
"Gue masih ada hp lain, untuk sementara lo pake hp gue aja" Ujarnya, sambil memberi ponselnya ke tangan Stella.
"Ogah ah! Gue bisa beli yang baru!"
"Sadar! Sekolah kita dimana sekarang? Mana ada yang jual hp di tengah hutan begini. Gak mungkin kan hewan buas buka toko hp?"
"Kan bisa minta beliin ke Ibu gue!"
"Durhaka banget lo suruh Ibu lo segala cuma buat beli hp!"
"Kok ngegas sih! Ya, terserah gue lah! Diri-diri gue!"
"Udah pakek hp gue dulu, apa susahnya sih! Fungsinya sama ini. Emang lo cari hp modelan kayak gimana? Hp lo yang retak sama hp gue aja bagusan hp gue"
"Songong banget lo!"
"Emang kenyataannya begitu kan?"
"Yaudah! Kata sandinya apa?"
"Tanggal jadian kita"
DEG! Saat mendengar itu jantung Stella terhenti seketika. Selama ini Yudistira masih menggunakan tanggal itu. Stella mulai salah tingkah, perlahan bibirnya membentuk senyum, perlahan juga tersadar masih ada keberadaan Yudistira, senyumannya kembali hilang.
"Kalo mau senyum, senyum aja kali" Goda Yudistira.
"Siapa juga yang senyum!"
"Alah! Suka denial terus lo!"
Stella mengabaikan perkataan Yudistira, intinya dia sudah tidak tau harus menjawab apa. Dia membuka buku dan duduk di lantai yang berjejeran rak-rak buku. Yudistira ikut duduk dan kedua matanya tidak bisa lagi dia kendalikan. Terus menatap Stella, sambil tersenyum, dan menidurkan tubuhnya ke paha Stella.
"Mau sampai kapan liatin gue?" Namun, Yudistira hanya tersenyum saja. Dan tak menjawab.
Tatapan Stella yang sedari tadi menatap ke buku, kini melayang ke arah Yudistira. Stella melihat senyuman laki-laki itu terus mengarah padanya. Jantungnya kini sudah tidak bisa tertolong lagi, detak jantungnya terus berdetak kencang dan semakin kencang. Dengan refleksnya Stella langsung melayangkan buku itu tepat ke wajah Yudistira. Agar Yudistira berhenti menatapnya. Kini, laki-laki itu terus merengek kesakitan. Akibat hantaman buku yang Stella berikan.
"Stell!" Tak ada jawaban sepatah katapun.
"Stella!" Yudistira mulai kesal.
Dengan cepatan kilat, Stella mencium pipi Yudistira bertujuan untuk meredakan rasa sakit itu dan rengekannya. Hingga membuat laki-laki itu membeku. Yang tadinya terus merengek, kini hanya terpaku menatap ke arah Stella.
'Pipi yang satu masih sakit~" Rengeknya lagi.
"Cium aja sendiri pakai bibir lo!"
"Mana bisa cium pipi sendiri!"
"Gak ada yang gak bisa kalo berusaha kan?"
"Sekeras apapun berusaha, sampai lebaran monyet pun gak akan pernah bisa Stella Vionaly"
"Gitu yah?" Jawabnya dengan MUTADOS.
"Idih! Jawabnya gitu doang!" Yudistira mulai kesal, terus memasang wajah yang cemberut.
"Balik asrama aja sana, gue gak fokus baca jadinya"
"Ngusir?!"
"Abisnya lo gak bisa diem! Kek bocil!"
"Bocil?!" Ucapnya sambil memasang wajah tak tercaya dengan apa yang dia dengar.
Yudistira benar-benar seperti anak kecil sekarang. Dia langsung beranjak dari duduk nya dan pergi keluar perpustakaan. Stella yang melihat itu pun, menjadi tenang dan mulai membaca lagi. Hingga, waktu sudah menunjukkan pukul 6. Stella selesai membaca dan menyimpan buku itu kembali pada tempatnya.
DRING! DRING! DRING!
Deringan ponsel terus menerus, terdengar sangat berisik sekali di telinga Stella. Dia langsung terbangun menatap layar ponsel itu, yang sudah penuh dengan pesan dari Yudistira. Di tengah malam, kini dia harus membaca pesan bocil satu itu, yang amat sangat kekanakan.
Yudistira
Gak ada rasa bersalah banget jadi orang!
Bukannya tahan gue pas pergi, malah dibiarin!
Gak minta maaf, gue bakal chat terus lo sampai subuh!
Stella!
Bales napa!
Jangan sok ngartis lo! Artis juga bukan!
^^^Stella^^^
^^^Iya-iya, maafin gue ya bocil~^^^
Kini, kedua mata Yudistira membesar. Setelah, menatap kata 'bocil' di balasan Stella. Wajah Yudistira kini tambah kesal. Padahal dia lebih tua dari pada Stella. Yudistira terus memasang wajah kesalnya, sembari terus bergumam tanpa henti.