Bad Students

Bad Students
[43]



Bu Popi memberi pengumuman bahwa semua murid yang dinyatakan hamil akan di pulangkan ke rumahnya masing-masing, dan tidak akan melanjutkan pendidikan di sekolah manapun. Bu Popi sengaja berbicara seperti itu kepada murid-murid yang lain, agar semua muridnya itu tidak menyepelekan kejadian yang telah terjadi.


Benar, pada kenyataannya Bu Popi masih bertanggung jawab akan siswi-siswi itu. Bu Popi hanya ingin membuat mereka sadar, bahwa Bu Popi tidak pernah main-main jika dalam urusan seperti ini.


Semua murid yang sedari tadi di aula kini di perbolehkan untuk kembali ke kelasnya masing-masing. Yudistira yang sedari tadi terus menggelendoti Stella, tak henti-hentinya. Stella yang mulai keirisihan akan kelakuan Yudistira, kini sudah memasang wajah penuh tertekan.


"Untung aja kita gak jadi yah buat anak"


"Astaga! Masih aja lo bahas!"


"Oh ya, kok si Arumi bisa lolos sih?"


"Bagus lah"


"Ya, iya bagus. Tapi lo gak mau kasih tau gitu alasannya?"


"Ngapain gue harus kasih tau lo? Ini tuh urusan ciwi-ciwi bukan cuwo-cuwo"


"Aku pacar kamu loh, tapi gak apa-apa kalo kamu gak mau kasih tau juga, itu hak kamu. Yang terpenting kita smeua aman. Yaudah, kantin yuk Yang!"


"Gue-Lo aja bisa kan? Aneh banget gue dengernya"


"Nanti juga terbiasa, ayo buruan"


.


"Lo gak kenapa-kenapa kan?"


"Engga kenapa-kenapa kok, Je. Sumpah banget yah tadi jantung gue degdegan banget, gara-gara si Arumi. Kalo sampe katauan abis deh kita semua. Kalo gak percaya, sini tangan lo" Ucap Mutiara memegang tangan Jije, dan menyimpannya di dada.


Ketika mereka asik berbincang, di lain sisi ada Jinata yang terus menatap kearah mereka berdua. Dengan memberi tatapan lesuh, terus dia mainkan kesana-kemari.


"Gue mau ke lapangan dulu yah, mau main basket"


"Oke" Jawabnya sambil tersenyum lebar.


Mutiara berjalan kembali ke kelas, sudah melihat Jinata tengah berdiri sambil melihat ke arahnya. Mutiara tersnyum sambil berbisik "Gimana rasanya udah nyakitin diri sendiri demi jaga perasaan orang lain?" Bisiknya sambil menatap wajah Jinata, yang kini sudah amat tambah sakit mendengar ucapannya itu.


"Ada yang gue mau omongin" Ucap Jinata, membawanya pergi dari tempat itu.


"Kalo lo cuma mau bahas tentang perasaan gak suka lo ke gue, gue gak mau denger" Mendengar itu, Jinata tanpa berfikir panjang langsung mencium Mutiara. Kedua pupil mata Mutiara kini membesar, terdiam, membeku, dan terpaku.


Seketika tubuh Jinata tumbang memeluk tubuh Mutiara, menyimpan wajahnya itu di pundak gadis itu. Dengan terus berkata "Gue suka sama lo"


"Gue bener-bener suka sama lo"


"Gue gak bisa terus bohongin perasaan gue sekarang"


"Gue bener-bener ke siksa setiap lo akrab sama Jije"


"Gue gak bisa terus tahan perasaan gue ke lo"


"Izinin gue buat terus peluk lo, 5 menit aja"


"Gue gak mau denger lo ngomong apa-apa, setiap ucapan yang keluar dari mulut lo itu bener-bener buat hati gue sakit mulu" Mutiara yang sudah luluh akan ucapan Jinata, saat mendengar ucapan terakhirnya itu kini wajahnya mulai menjadi sinis kembali. Tak percaya bahwa Jinata akan berbicara terlalu jujur padanya.


.


"Idih najis banget lo!"


"Ganggu mulu lo, Rami! Bingung gue! Lo keturunan Jin teko? Hobby nya muncul tiba-tiba pas gue sama Stella lagi asik berduaan!"


"Gue tuh, sebagai kakak yang baik. Harus jaga adik gue dengan baik. Buat adik gue gak mudah terjerumus dari rayuan maut lo"


"Bener, Ram. Masa ni anak pernah ngajak buat anak ke gue?!"


"Kebangetan lo!" Ucapnya sambil menyuntrungi Yudistira.


"Lo kenapa main nyuntrungin gue segala!" Kesal Yudistira lalu menendang kaki Rami, yang sedari tadi duduk di depannya.


"ANJ! Sakit!"


"Lo kira, kepala gue kagak sakit lo suntrungin?!"


Stella beranjak dari duduknya dan langsung memukul kedua kepala mereka bersamaan, membuat mereka berdua kini menatapnya sangat tajam. "Kalo tempurung kepala aku rusak gimana, Suayang?!" Ucap Yudistira, sambil menggeretakkan giginya.


"Gak akan lah, Suayang!" Ucapnya sambil tersenyum menakutkan.


"Dasar berlebihan lo!"


"Dasar jomblo lo!"


"Gak apa-apa jomblo yang penting gue bahagia!"


"Iya, lo bahagia tapi tersiksa"


"Idih, sotoy banget lo!"


"Kenapa lo berdua gak jadian aja?"


"Idih, Najis! Lo pikir gue gay?!"


"Siapa tau kan?"


"Astagfirullah, Stella. Gimana kalo kita ruqiyah aja ni anak, Ram?"


"Oke!" Mereka berdua langsung membawa Stella pergi dari kantin.


"Lo berdua kenapa jadi akur begini!"


"Tadi suruh akur, sekarang udah akur malah aneh. Lo mau nya apa?!"


"Lo kenapa jadi marah-marahin pacar gue!"


"Abisnya ni anak buat kesel mulu!"


"Bener, juga! Kita bawa ke ustad sekarang!


***