
Seminggu berlalu, Giorgino masih belum berkabar akan kondisinya. Pesan dan telfon pun tak kunjung dapat balasan. 'Apa mungkin luka nya sangat serius?' Pertanyaan-pertanyaan kini terus dilayangkan pada dirinya sendiri, entah mengapa tapi Stella sangat khawatir.
Seburuk apapun yang dikatakan orang-orang tentangnya, Giorgino tetap berjasa padanya. Saat SMP lalu, Giorgino yang berstatus masih menjadi kekasih bagi Stella. Dia selalu menjaga dan melindunginya dari sesuatu hal yang terus mengganggu dirinya.
Mendapat catatan buruk, karena telah membunuh seseorang. Namun, nyatanya itu bukan kesalahan Giorgino, lebih tepatnya kesalahannya sendiri. 4 tahun yang lalu, dimana dirinya di ganggu oleh seorang laki-laki yang ingin melecehkannya. Laki-laki itu terus memaksa agar Stella menerima ajakannya. Namun, tetap saja Stella tolak.
Stella saat itu sangat lemah, belum mengenal bela diri dan semacamnya. Belum bisa membela dirinya sendiri, sebab rasa takut yang terus bergejolak di dirinya. Rasa kegelisahan akan ucapan menakutkan laki-laki itu, yang terus mengajaknya bersetubuh.
Saat itu, Stella memang sedang berstatus sebagai kekasih Giorgino. Namun, saat itu sekolah mereka berbeda. Dan saat dimana Giorgino mulai curiga akan kelakuan Stella yang terus ketakutan, tapi tidak pernah mau terbuka pada Giorgino. Dan pada akhirnya, Giorgino memutuskan untuk pindah ke sekolah Stella.
Dia memutuskan untuk pindah sekolah. Sebab, Giorgino amat sangat khawatir pada Stella. Sudah merasakan ada yang salah dari diri Stella. Jika bukan karena cinta tak mungkin Giorgino melakukan itu semua.
Dan benar saja, dia terus melihat Stella di goda oleh banyak pria. Dan ada 1 pria yang membuatnya amat terganggu. Pria itu terus menyentuh Stella, mengajak, menariknya ke tempat sepi, dan merayunya. Dibuat kesal lagi, Stella hanya diam saja. Menangis menjadi-jadinya, ketakutan tampak di wajahnya, seakan pasrah karena terlalu takut untuk memberontak.
Karena, sangat kesal. Giorgino menarik keras kerah pria itu, dan mendorongnya jauh-jauh dari kekasihnya. Stella yang melihat keberadaan Giorgino pun amat terkejut. Dia masih tak menyangka akan kehadiran Giorgino.
"Berani-beraninya lo pukul wajah gue!" Kesal pria itu, dengan teriakkan penuh tekanan.
"Muka lo emang pantes dapet pukulan dari gue. Sekali lagi lo ganggu pacar gue, gue bakal buat lo senggara kedepannya!" Jawab Giorgino dengan wajah sangarnya.
Dia langsung beranjak, dan mendekati kekasihnya itu yang masih terdiam menatap dirinya. Namun, perlahan tatapan itu menjadi kepanikan. Sebab, kedua matanya kini tak terarah pada Giorgino. Tapi, seseorang di belakang Giorgino.
Pria itu mulai mendekat dan mengarahkan pisau lipat dikantungnya itu ke arah Giorgino. Fikiran Stella sudah amat kacau sekali, dan tanpa Stella sadar, dia langsung menggenggam batu bata, dan melemparnya ke arah pria itu. Bertujuan untuk mengalihkan, dan dengan rasa penuh ke gelisahan, Stella langsung mendorong tubuh pria itu hingga terjatuh dari atas rooftof ke bawah.
Kejadian itu membuat semua murid yang ada disana teriak histeris. Giorgino pun membeku. Namun, juga perlahan menenangkan Stella, yang mulai ketakutan. "Semuanya gue yang lakuin, lo gak perlu salahin diri lo. Gue yang lakuin ini semua, ngertikan? Gue bakal ngaku, gue yang bunuh cowok tadi"
"Aku yang lakuin, aku yang bunuh Kato bukan kamu Gin"
"Tetep gak bisa, Gino. Aku yang salah, aku juga yang harus tanggung jawab. Kamu gak boleh tutupi semua kesalahan aku gini, Gino" Ucapan Stella dengan tangisannya. Terus menarik tubuh Gino, yang hendak menampakkan diri pada semua murid di bawah, agar membuat semuanya percaya bahwa dirinya lah pelakunya.
Dan mulai saat itu lah, Giorgino di nyatakan bersalah dan diadili. Namun, hakim hanya dapat memutuskan vonis berupa penyerahan kembali kepada orang tua atau pengembalian anak kepada wali. Sebab, usia Giorgino masih di bawah umur.
Giorgino terus melatih Stella belajar bela diri, agar saat Stella sedang tidak bersamanya, atau memang saatnya Giorgino sudah tak di sisinya. Stella bisa membela dirinya sendiri, tanpa adanya Giorgino.
Saat menyadari Stella sudah menguasai itu semua, dengan perasaan berat hati Giorgino mengakhiri hubungannya dengan Stella. Saat itu juga, Stella hanya terdiam, menangis sejadi-jadinya, masih tidak percaya akan Giorgino yang mengakhiri hubungan. Stella terus menolak, dan terus ingin melanjutkannya. Namun, Giorgino tetap ingin menyudahi itu semua.
"Hubungan kita sampai disini ya Stell" Stella termangu menatap Giorgino.
"Gue lakuin ini demi lo juga, gue udah lega saat ini lo udah bisa bela diri. Tanpa gue, lo bisa hajar semua orang yang udah ganggu lo. Maaf banget gue gak bisa lanjutin hubungan kita, gue mau lo janji sama gue, suatu saat nanti kalo kita ketemu lagi, jangan pernah buat hati lo suka lagi ke gue. Oke?" Ucapnya meyakinkan Stella. Sebab, dirinya amat sangat mengetahui, bahwa Stella amat mencintainya.
Stella menagis menjadi-jadinya, tak bisa berkata apapun lagi. Giorgino yang melihat itu pun, langsung memeluknya dengan sangat erat. Membelai rambut Stella terus menerus, berusaha menegarkan dirinya sendiri, karena ucapannya sendiri.
Bukan karena sudah tak mencintai, akhirnya mengakhiri hubungannya. Namun, lebih untuk melindungi Stella dari ucapan-ucapan menyakitkan orang-orang tentangnya. Stella sudah amat sangat kesakitan, sebab terus di bully orang-orang jika kekasihnya adalah seorang pembunuh. Dan Giorgino tidak mau Stella terus mendapatkan itu semua.
Giorgino tak lagi di sekolah yang sama. Dia pindah ke sekolah lain, yang Stella pun saat itu tak mengetahuinya, Giorgino pun tak kunjung memberi kabar padanya. Padahal Stella terus menunggu kabar darinya.
Terus merasakan sesak di dadanya, memukul dadanya dengan kepalan tangannya. Hingga, perlahan dirinya berusaha untuk membukakan hati untuk orang lain. Dan, saat kelas 2 SMP. Dia bertemu dengan Jonny, murid baru di sekolahnya.
Menerimanya hanya karena ada sisi dimana perhatian yang Jonny berikan, sama percis dengan Giorgino berikan padanya. Yang artinya Stella saat itu, tidak mencintainya. Namun, dia hanya mencintai sisi lain yang di miliki Jonny, yang mirip dengan Giorgino.
Selama mereka menjalin kasih pun, Stella masih menganggap perhatian yang di berikan Jonny itu adalah perhatian yang diberikan Giorgino. Hingga akhir hubungan mereka berdua pun, dia masih menganggap perhatiian yang diberikan Jonny adalah Giorgino.
Hingga, saat dia dihianati untuk pertama kalinya. Akan perselingkuhan Jonny dengan wanita lain, Stella menyadari perhatian yang diberikan Jonny itu bukan dari Giorgino. Namun, dari seseorang yang amat bajingan yang sedari dulu hanya mempermainkannya, dan yang dari awal pun Jonny hanya memanfaatkan ketenaran Stella. Bukan, karena menyayanginya.