Bad Students

Bad Students
[31]



"Aku beneran hamil! Gimana dong? Aku gak bisa terus nyembunyiin bayi di perut aku ini"


"Masih beberapa minggu ini kan? Belum keliatan kok kalo kamu hamil, tenang aja"


"Sekarang memang belum keliatan, nanti saat kandungan ini udah beberapa bulan ya bakal membesar!"


"Kita rawat bayi kita, kelulusan bentar lagi kok"


"Terus kamu mau saat kelulusan nanti perut aku diliat sama banyak orang, terus jadi omongan semua orang gitu maksud kamu?! Pokoknya, aku pengen anak ini kita gugurin aja!!"


"Gak bisa gitu dong! Kita berdua sepakat melakukan itu, terus kenapa sekarang harus digugurin? Kita bakal rawat! Aku bakal jaga kamu juga anak kita, jangan lakuin hal yang macem-macem di belakang aku!"


***


Pagi-pagi suasana sekolah sudah di buat heboh akan kehadiran murid baru, yang sudah berbuat ulah. "Ngapain lo liat-liat gue?!" Ucapnya sambil menendang meja siswi itu. Sontak, siswi itu langsung ketakutan akan tatapan siswa baru itu yang sangat tajam.


Semua murid keluar dari kelasnya, siswi itu kini menjadi sorotan semua orang. Siswa baru itu menarik tubuh siswi itu, dan mendorongnya ke lorong depan kelas. Isak tangis terus terdengar, sampai ke tiap lorong kelas. "Gue tanya sekali lagi, kenapa lo tatap gue kayak gitu?! Gue sama sekali gak tertarik sama lo, dan gue benci sama tatapan kayak lo tadi! Sampai gue liat lo kasih tatapan kayak gitu lagi, gue bakal congkel mata lo pake tangan gue sendiri!"


"Apa perlu gue congkel sekarang?" Sambungnya, sambil menjambak rambut siswi itu. Sontak, siswi itu tambah menjadi-jadi. Dia sudah benar-benar ketakutan sekarang. Terus menutup kedua matanya itu. Air mata terus membanjiri wajahnya, dengan suara tangisan yang perlahan mengeras. Diikuti juga teriakan, karena jari-jari siswa itu sudah sampai di bola mata siswi itu.


"AAAAAA!!!!" Teriak kesakitan, tapi bukan dari siswi itu. Melainkan, siswa baru itu.


Yudistira datang tepat waktu, dia menjambak rambut siswa itu hingga dia merasa amat kesakitan. "Bu Popi malah nerima-nerima aja bencong modelan begini!" Perkataan Yudistira membuat siswa baru itu menjadi kesal.


"Kenapa bro? Kesel yah?" Tatapan siswa baru itu tambah tajam, menatap ke arah Yudistira.


"Gue cuma mau kasih tau, gue sangat-sangat gak suka sama tatapan lo sekarang!" Ucapnya, lalu mendorong kepala siswa itu mengenai kaca jendela kelas, hingga pecah. Kepala siswa baru itu sudah di penuhi darah yang mengalir ke wajah.


"Gue mau kasih tau, semua siswa di sini punya kelakuan kayak lo juga. Jadi, jangan sok merasa jangan harap untuk menguasai sekolah ini! Lagi pula lo anak baru disini, jangan buat apapun seenak jidat lo!" Ucap Yudistira dengan memberi tatapan sangar, lalu pergi dari tempat itu.


"Mau sampe kapan lo duduk di situ, diri sekarang!!" Ucap Yudistira dengan sentak nya, kepada siswi yang di bully tadi.


Tak menyadari, Yudistira terus berjalan tanpa melihat ke belakang. Siswa baru itu masih saja ingin berbuat onar, dan membalas perlakuan Yudistira kepadanya. Dia mengambil pecahan kaca yang tergelatak di lantai, dan berjalan mendekat pada Yudistira.


BRAK!


Tendangan cepat juga keras menghampiri tubuh siswa baru itu. Hingga, membuatnya tersungkur ke lantai dengan amat jauh. "Cuma pengecut yang lawan musuhnya dari balakang" Ucap Giorgino sambil menyimpan kakinya ke tubuh siswa baru itu. Siswa baru itu tambah kesal, dia terus teriak-teriak karena kekesalannya.


Yudistira sontak terpaku akan siswa dan Giorgino, masih kebingungan dengan apa yang telah terjadi. "Emang dasarnya otak lo bego, musuh mau nyerang aja kagak peka!"


"Kenapa lo jadi ngegas ke gue, anjir!"


"Gue baru aja selamatin lo dari anak ini loh! Kalo gue gak selamatin, lo udah ke tusuk dan isdet!"


"Oke! Thank u verry muchleung!" Ucapnya sambil mengangkat satu tangannya, lalu pergi dengan wajah tengilnya.


"WOI!!!" Kesal Giorgino.


"Mending lo ikut gue sekarang! Tapi, sebelum itu. Alangkah baiknya lo minta maaf dulu ke tuh cewek! Kalo kagak, gue lempar lo ke luar jendela, sekarang juga!" Ucap Giorgino sambil menyeret kaki siswa baru itu.


"Ada apa sih ko ribut banget disana?"


Di ruang kepsek. Giorgino menyerahkan siswa baru itu langsung dengan tangannya sendiri. Bu Popi yang melihat itu amat sangat terkejut sekali. "Ada apa ini?! Gino, mau sampai kapan kamu melakukan ini?!"


"Bukan saya yang buat anak ini jadi menyedihkan begini bu. Kelakuan si Yudis ini mah!"


Tak lama Yudistira di panggil oleh Bu Popi untuk datang ke ruangannya. Wajahnya masih adem ayem, tak merasakan perasaan khawatir. "Gino bilang ini semua kelakuan kamu. Kamu buat Rega jadi kayak gini. Kamu mau saya buat Ibu kamu datang ke sini?" Kini tatapan Yudistira mengarah pada Giorgino yang sedang asik duduk santai, tanpa merasa bersalah.


"Emang benerkan kelakuan lo?!"


"Ya, iya"


"Tuh ngaku kan bu, udah lah hukum aja"


"Bentar-bentar. Lebih baik saya ceritakan apa yang terjadi. Jadi, si siswa baru ini ngebully siswi di kelas sebelah saya, terus sampe mau nyongkel matanya. Ibu mau saya diem aja? Terus mata siswi itu diambil sama siswa baru ini?"


"Kok kamu jadi marah ke saya?"


"Lagian Ibu dengerin omongan goib si Gino, dan lo malah nuduh gue yang engga-engga lagi!"


"Mana tau gue, gue liatnya lo lempar tuh kepala dia ke kaca jendela!"


"Lempar, lempar! Lo kira kepala dia bola?! Udah ya bu, saya balik ke kelas. Udah clear kan semuanya?"


"Baiklah, silahkan kalian kembali ke kelas. Ibu akan menghukum Rega dengan memberi hukuman setimpal"


"Napa lo liat-liat gue, gue congkel tuh mata pake mangkok baru tau rasa!"


"Psycho lo anjir!"


"Kagak sadar diri sendiri lo!"


"Ngajak ribut gue, lo?!"


"Ayo, mumpung lapangan luas!"


"Kagak jadi deh, nanti Stella gue nangis. Gara-gara pacarnya gue sakitin"


"Stella gue, bukan lo!"


"Iya, Stella gue"


"Bukan Stella lo! Tapi, Stella gue!"


"Iya, Stella gue! Anjir! Napa lo makin ngegas!"


"Karena, lo ngaku-ngaku mulu kalo Stella milik lo!"


"Iya, Stella gue" Tengil Giorgino, membuat Yudistira sudah kehabisan kesabarannya lagi. Sementara, Giorgino asik tertawa dan lari menjauh dari Yudistira.