Bad Students

Bad Students
[27]



Liburan telah usai bagi kesembilan sabahat itu, mereka kembali ke sekolah dengan wajah yang berseri. Membuat siapapun yang melihatnya menjadi amat penuh keanehan, setiap kali melihat mereka yang akur. "Bangku gue, minggir lo!" Perintah Yudistira, kepada laki-laki yang tampak tidak familiar sekali.


"Gue yang pertama duduk disini, gue pemilik dari bangku ini yang asli"


"Oke~"


BRAK~


Yudistira menendang kaki laki-laki itu hingga dia terjatuh ke belakang. Sontak, laki-laki itu menjadi sangat marah. Kedua matanya kini menatap ke arah Yudistira dengan sangat tajam.


"Dis, Dis! Mending lo gak usah cari masalah sama tuh anak. Gue baru inget, dia pernah bunuh temen kelasnya. Karena, main-main sama pacarnya" Ucapan Rami, membuat Yudistira juga yang lain amat sangat tak percaya.



"Namanya Giorgino, mantan Stella pas SMP" Bola mata Yudistira kini menatap Stella yang terus mengalihkan pandangannya.


"Lo yang mulai, gue gak akan tanggung jawab kalo lo mati di tangan gue"


"Tunggu! Tunggu! Tunggu!"


"Udah lah Gin, mau sampe kapan kayak gini?" Sambung Stella, melerai. Namun, melihat keberadaan Stella disana, membuatnya hanya terpaku pada Stella saja. Masih tak percaya mengapa dirinya ada di sekolah itu.


"Ngapain di sini?!"


"Sekolah"


"Maksud gue kenapa lo bisa masuk ke sekolah ini!"


"Bisa biasa aja kan ngomongnya?!" Kesal Yudistira, sambil mendorong tubuh Giorgino.


"Dis, udah dong. Gue udah berusaha buat dia diem loh, lo malah buat dia kesel lagi jadinya"


"Kenapa lo masuk ke sekolah ini?"


"Gue bantu temen gue, karena dia di bully di sekolah. Dan gue bales dendam ke anak-anak itu. Alih-alih kasih hukuman ke mereka, pihak sekolah malah cemarin nama gue. Dan membolak balikan fakta, akhirnya gue masuk sini deh. Emang yah orang banyak duitnya itu paling berpengaruh, mereka bisa buat apa aja. Asal hidupnya tetap aman, dan yang gak bersalah malah dibuat bersalah"


"Siapa yang buat lo bisa nangung semua ini? Kasih tau gue!"


"Udahlah, lagian gue udah merasa nyaman kok disini. Gue serasa lagi di sel, dengan berbagai tahanan. Hhaha~"


"Kasih tau gue siapa namanya. Gue mau nama baik lo tetep aman. Anak buah gue banyak yang sekolah di SMA Nusa dan Bangsa. Dan mereka berkuasa disana"


"Lama banget tuh anak ngajak ngobrol Stella!"


"Udah lah, Dis. Namanya juga baru ketemu lagi"


"Kalo gue diemin terus yang ada tuh anak makin berharap lagi ke si Stella, terus nasib gue gimana? Mana baru jadian, mana udah kena tikung dalam sekejap. Langsung sama mantannya lagi"


"Tapi, kalo yang gue liat-liat nih. Mantan si Stella cakep-cekap banget yah!"


"Xa! Mulut lo tambah manas-manasin suasana aja! Mending lo diem!"


"Udah lo tenang aja, Stella kan udah milih lo. Tandanya, dia udah bener-bener sayang cuma sama lo" Tekan Rami.


"Dasar lebay banget sih hati lo! Apa-apa sakit hati, apa-aoa sakit hati. Dasar hati hello kitty!" Sambungnya.


"Enteng banget lo kalo ngomong! Lo ngomong begitu, ya karena lo gak pernah pacaran!"


"Mau gue sebutin mantan gue satu-satu?!"


"Sebutin sekarang!"


"Iya, sama-sama pengkoleksi mantan. Gak usah segini nya lah"


"Diem kan lo?! Berarti kagak punya!"


"Zyva, Geta, Kela, kely, Liory, Lili, Qikan, Kristaly mantan lo. Dia mantan gue juga! Mau apa lo?! Pacaran kok ambil yang bekas!"


"Gak apa-apa ambil yang bekas, yang penting masih mempesona bagi gue!"


"Apa lo bilang? Bilang sekali lagi? Cepetan!" Cemburu Stella, terus memukul-mukul bibir Yudistira.


"Mampus lo! Pawang nya marah!"


"Jangan sampe lo buat Stella gue, sakit hati gegera lo!" Celetuk Giorgino.


"Eh! Maksud lo apaan?! Stella lo, Stella lo! Stella gue, bukan lo!"


"Terserah gue lah anjir! Kenapa lo yang repot! Mau gue bantu buat sadar, Stell?"


"Boleh silahkan, gue bener-bener ngerasa cuma jadi mainan nya doang soalnya"


"Eh, bukan gitu Stell. Kan si Kristal mempesonanya pas zamannya gue sama dia pacaran, begitu maksud gue~"


BRAK!!


Hantaman keras mengarah pada wajah Yudistira. Stella hanya terdiam, masih tak percaya bahwa Giorgino benar-benar melakukannya. Bukan hanya Stella, ke tujuh temannya yang lain pun ikut ternga-nga. Benar-benar Giorgino tak main-main.


"Yudis!" Stella khawatir. Sebab, Yudistira tak sadarkan diri.


"Lo ngapa nonjok pake tenaga dalem?!"


"Lo siapa gue? Mau gue tonjok juga? Emang dasarnya lemah aja nih anak"


"Gino!! Ya, jangan beneran juga dong. Lo mah gak tau bercanda!"


"Ya, maaf. Gue kira lo beneran~"


"Bantu bawa UKS cepetan!"


Yudistira masih belum sadarkan diri. Padahal Stella sudah menunggunya selama 1 jam lebih. Seketika tersadar akan Yudistira yang hanya pura-pura saja. "Bangun lo! Bisa-bisanya ya lo bohongin gue"


"Ais! Marah-marah mulu, gak pusing apa?"


"Karena, kepala gue pusing. Jadi gue melapiaskan terus ke lo! Ngapain pura-pura pingsan? Biar masalah tadi gak gue perpanjang? Gue masih ingat jelas ya, apa yang keluar dari mulut lo"


"Orang lain mah pacaran tuh, panggilnya sayang. Ini malah masih pakek lo-gue"


"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan! 'Gak apa-apa ambil yang bekas, yang penting masih mempesona bagi gue!' Maksudnya gue kalah mempesona dari pada mantan lo itu? Hah!" Mengulang kembali ucapan Yudistira dengan sangat puas dan kesal.


"Ya, engga gitu yang~"


"Jangan panggil gue sayang-sayang segala! Males banget nih yah gue ketemu cowok modelan kayak lo. Mending gue balikan aja sama mantan gue!"


"Yaelah! Jangan lah, masa balikan sama mantan. Udah gak zaman tau! Tadii, cuma asal ngomong aja. Karena, si Rami mancing-mancing duluan. Maafin yah~"


"Maafin dong~"


"Yakali gak maafin pacarnya sendiri"


"BTW, kapan gue terima lo?"