
"Kenapa dada gue sakit banget sekarang? Harusnya gue udah ngelupain dia kan? Sekarang dada gue sesek banget, bener-bener sesek banget. Kenapa gue harus nangis sih?! Kenapa air mata gue tambah ngalir?!" Kesal pada diri sendiri, terus memukul dadanya dengan kepalan tangan.
Giorgino langsung memeluk tubuh Stella dengan sangat erat. Memeluknya sampai Stella benar-benar merasa tenang. Air matanya terus membanjiri wajah Stella. Tangisannya semakin menjadi, membuat Giorgino merasakan akan rasa sakitnya itu.
Melihatnya menangis, sama saja membuat dirinya merasakan semua kesakitan yang dialami Stella. Sekarang Giorgino hanya bisa menyembunyikan kesedihan Stella dengan tubuhnya. Memulihkan rasa sakit Stella, dengan ketenangan yang dia berikan.
Semalaman Stella tak bisa tidur, dia terus memikirkan perasaannya sendiri. Benar-benar tak masuk akal jika dirinya masih mencintai Yudistira, seperti yang dikatakan Giorgino sore tadi. Tatapannya beralih pada ponsel miliknya. Membuka akun Line dan melihat kontak Yudistira.
Kedua matanya kini lesu kembali saat melihat status Yudistira yang tertera jelas 'S<3'. Inisial S yang berarti Starla, dan <3 adalah emot love. Sudah tak ada kesempatan baginya untuk kembali bersama dengan Yudistira. Dia melempar ponselnya, dan menangis sejadi-jadinya di dalam bantal.
Keesokkan harinya, di pagi hari yang begitu cerah. Namun, tak secerah perasaan Stella yang kini sednag hancur. Sekarang semua baginya sangat suram, tak ada indah-indahnya. Rambut sudah tak tau arah, dasi dibiarkan begitu saja tanpa dia ikat, tali sepatu pun sama tak diikat.
Semua murid pun yang melihatnya ikut kebingungan akan apa yang mereka lihat. Pasalnya, Stella adalah siswi yang selalu ingin terlihat cantik, rapih, dan berkharisma. Namun, kini berbeda drastis. Yudistira ynag melihat itu pun hanya menghela nafasnya, dan berjalan ke arah Stella.
"Ada efeknya juga yah putus sama Gino? Penampilan pun langsung berubah drastis. Walau lagi patah hati, jangan lupa buat ikat tali sepatu. Gue gak mau liat luka sedikit pun di diri lo" Ucapnya membuat Stella terdiam, hanya melihat Yudistira yang sedari tadi mengikatkan tali sepatu milik dirinya.
"Sorry" Ucapnya lagi, sambil membenarkan rambut Stella yang sedari tadi acak-acakan.
"Sampe sesakit itu putus sama Gino? Sampe buat mata lo bengkak begitu?" Sambungnya.
"Soal perdasian sama lo aja yah, gue sama sekali gak ngerti. Dasi gue juga kan sama lo di iketnya. Masih gue jaga, belum gue ubah dari pertama kali lo bantu gue iketin dasi" Mendengar itu, emmbuat jantung Srella berdetak tak menentu, detak jantungnya semakin mengencang, perlahan kepanikkan pun muncul pada dirinya.
"Gu-gu-gu-e ke kelas duluan yah" Ucapnya, lalu berjalan pergi menghindar dari Yudistira
"Bareng aja kali" Ujarnya, sambil menarik tas milik Stella, hingga tubuh Stella kembali ke tempat awal dia berdiri.
Baru beberapa langkah mereka berjalan bersama, Starla tiba menghampiri Yudistira. Dengan memberi mimik wajah sangar kepada Stella, terlihat jelas dia sangat benci akan keberadaan Stella.
"Kok kamu sama dia?"
"Gak sengaja ketemu aja tadi, yaudah kamu tadi minta aku anter ke kantin kan?'
"Ayo!"
"Duluan, Stell"
Perasaan Stella kembali hancur, kini semakin berkeping-keping. Memang pada kenyataannya, Stella sudah tidak ada tempat lagi di kehidupan Yudistira. Dia sudah bahagia dengan kekasih barunya, sudah saatnya melupakan semua kenangan mereka.
Namun, sekeras apapun berusaha melupakan. Perasaannya semakin sakit dan tak bisa untuk melupakan. Penyesalan kini terasa olehnya sendiri, ini akibatnya karena melakukan sesuatu tidak dia fikirkan terlebih dahulu.
Sampai di kelas dengan perasaan yang masih suram dan kini hancur lebur. Teman-temannya merasakan akan perasaan Stella sekarang. Semua sudah tau akan Stella yang terus menangis semalaman, karena Yudistira. Mereka mengetahuinya dari Arumi, dia menceritakan semuanya.
Giorgino yang melihat itu pun amat tidak tega. Ingin mencoba menenangkan, namun belum saatnya untuk melakukan itu semua. Kini, hanya diri Stella lah yang bisa melakukannya. Sekuat apapun menenangkan orang yang sedang sakit hati, tidak akan ada ujungnya jika orang itu masih mencintai, dan menyimpan rasa pada seseorang yang dia cintai.
"Stella!!" Panggil guru kepada Stella, yang sedari tadi dia acuhkan.
"Stell, bangun kali. Itu madam loren dari tadi panggil lo" Ucap Rami sambil menepuk-nepuk tubuh Stella.
Terlihat jelas itu tidak seperti biasanya. Rami langsung beranjak dari kursinya dan memeriksa keadaan Stella. Dan benar saja, dia tak sadarkan diri. Tubuhnya sudah sangat panas, dia demam.
Rami langsung menggendongnya, dan berlari ke UKS. Teman-temannya menjadi Khawatir begitu juga Yudistira dan Giorgino. Mereka berdua langsung berlari membantu Rami, yang sedari tadi menggendongnya.
Starla yang melihat itu, kembali memasang wajah yang kesal. "Lama-lama nih cewek mulai caper ke cowok gue! Pake pura-pura sakit segala!" Ucapnya dengan penuh kekesalan.
Sampainya di UKS, ketiga pria itu terus berdiri khawatir akan keadaan Stella. Terlihat jelas Rami sangat khawatir, dia sama sekali tidak bisa melihat adik tirinya itu sakit. Sama saja dia gagal menjaga Stella, fikirnya.
"Dis, mending lo putusin Starla. Dan balikan sama Stella"
"Maksud lo?"
"Mending lo berdua balik ke kelas deh, biar gue yang jaga Stella" Ucap Rami, sadar akan ada pertikaian dunia ke sekian kalinya.
"Lo tau kan Stella masih sayang sama lo? Terus kenapa lo malah biarin Stella terus liat hubungan lo sama Starla?!"
"Emangnya salah? Starla kan pacar gue sekarang"
"Gue tau lo masih sayang sama Stella"
"Tapi, gue gak bisa buat sakit hati Starla. Karena, gue pun pernah ngerasain itu semua. Saat gue sayang-sayangnya, dia malah putusin gue demi lo Gin! Gue gak bisa lakuin itu ke Starla, dia udah bener-bener sayang sama gue"
"Mau sampe kapan lo siksa hati lo, demi cewek yang lo gak suka dari awal?"
"Lama kelamaan pun rasa sayang gue ke Starla bakal tumbuh dengan sendirinya kok. Jadi, lo gak perlu paksa gue buat balikan sama Stella"
"DIS!!"
"Dengerin gue, Gin. Stella kayak gini juga itu semua karena lo. Lo putus kan sama dia? Harusnya lo sadar akan keadaan Stella sekarang karena siapa?! Dia sayang banget ke lo, dia bela-belain putus sama gue demi lo. Kenapa lo terus nyudutin gue, seakan-akan keadaan Stella saat ini karena gue?! Otak lo dimana sekarang? Gak lo pasang?!" Amarah Yudistira, yang sedari tadi dia tahan. Kini membeludak.
"Gue udah panik gara-gara Stella nih, jangan buat gue jadi stres juga gara-gara lo pada" Ucap Rami, berusaha memberhentikan pertikaian. Yang pada kenyataannya selalu Yudistira dan Giorgino abaikan.
"Gue sama Stella putus juga karena lo, Dis! Stella masih sayang sama lo! Gue cuma jadi pelampiasannya aja selama ini. Kekacauan dia hari ini pun itu karena lo! Cuma gara-gara liat status lo di line. Aneh banget kan tuh cewek, cuma gara-gara status lo doang. Dia nangis kejer semaleman. Kalo tau bakal begini akhirnya, harusnya Stella sadar, mending gue aja yang jadi pemeran utama di hatinya! Kenapa harus lo yang sama sekali gak peka sedikitpun ke perasaan Stella?!" Mendengar itu, Yudistira hanya diam. Masih tidak percaya, ternyata dirinya lah yang membuat keadaan Stella menjadi seperti ini.
"Kalo ucapan gue masih belum bisa sadarin lo juga, gue bakal kasih perhitungan ke lo habis-habisan! Sampe gue liat Stella begini lagi, gue gak akan tinggal diem! Siapkan diri lo buat berhadapan sama gue!" Sambungnya, sembari memasang wajah kesal kepada Yudistira. Lalu, pergi kembali ke kelas.