
"Stella dengar baik-baik, mulai sekarang kamu dengan Yudistira adalah kakak dan adik. Ibu harap kamu mengerti"
"Ibu gak bisa tahan rasa sayang Ibu ke Ayah Yudis, begitupun Stella. Harusnya ibu sadar karena Ibu udah hancurin perasaan anaknya sendiri! Lebih baik sekarang, urus kehidupan sendiri-sendiri deh. Stella bakal tetap pacaran sama Yudis, lagi pula Stella sama Yudis gak beneran adik kakak juga kan"
"Stella! Harusnya kamu fikir dong, kalo tetangga tau gimana?!"
"Lebih mentingin omongan tetangga, dari pada anak sendiri?! Seharusnya bukan aku yang relain perasaan aku, bu! Tapi, udah tugas Ibu merelakan perasaan sendiri demi anaknya!"
Mendengar anaknya itu, dia hanya bisa terdiam sembari menatap punggung anaknya yang perlahan hilang dari pandangannya. Memang sudah seharusnya seperti itu. Tapi, mau bagaimana lagi mereka sudah terlanjur menikah.
"Gak usah segitunya lah ke Ibu, Ibu juga kan butuh sosok pendamping di masa-masa hidupnya"
"Lo gampang ngomong begitu. Tapi lo pernah gak ngerti perasaan gue, sedikit aja? Gue juga mau Ibu punya sosok pendamping. Tapi, Ibu malah.. Arg! Udah lah! Mau nyerocos sampai berbusa pun kenyataan gak bakal pernah berpihak ke gue"
Saat Stella hendak akan pergi, Stella melihat dengan kedua matanya sendiri. Yudistira tengah berdiri di depan pintu rumah, ini hari kepindahannya mengijakkan kembali kedua kaki itu di rumah Stella. Stella yang tak kuasa menahan perasaannya langsung melanjutkan berjalan ke kamarnya. Tanpa melayangkan sepatah kata pun kepada Yudistira. Yudistira pun mengerti perasaan Stella, dia pun memilih untuk tetap diam karena pikirannya pun masih belum cukup tenang.
Kamar Yudistira kini bersebrangan dengan kamar Stella. Seharusnya, mereka tak canggung. Namun, nyatanya kecanggungan kini melanda diri mereka. Hari demi hari, minggu demi minggu. Hingga mereka meluapkan kekesalannya sendiri.
"Mau sampai kapan kaya gini? Disini kita gak salah kok, hubungan kita pun masih harus dilanjutin juga kan? Kita masih berstatus pacaran kan, Dis?"
"Gak bisa Stell. Status kita adik-kakak sekarang, bukan lagi pacaran"
"Dis, ayolah! Lagi pula kita gak sedarah daging, kita masih bisa melanjutkan hubungan kita"
"Lo tau kan, gue gak bisa hancurin perasaan Ayah gue? Yang di katain Ibu lo ada benernya, bakal aneh kalo kita melanjutkan hubungan dengan status kita yang sekarang"
"Gue lagi berusaha anggap lo sebagai adik gue, begitupun lo harus berusaha anggep gue sebagai kakak lo"
"Dengan mudahnya lo ngomong begitu?!"
"Gak mudah Stell bagi gue anggep lo sebagai adik gue! Udah saatnya kita ikhlas, dan terima ini semua"
"Jadi lo akhiri hubungan kita ini, cuma demi Ayah lo? Yang pada kenyataannya, Ayah lo maupun Ibu gue sama sekali gak mau ngerti sama perasaan kita, Dis! Harusnya lo sadar!"
"Gue telat, gue udah ada janji sama temen gue"
"Gue bakal tunggu, dimana omongan lo sekarang jadi boomerang bagi diri lo sendiri!" Tekan Stella. Namun, Yudistira terus melanjutkan jalannya dan pergi.
Kedua bola mata Stella sudah berkaca-kaca. Tak semudah itu melupakan semua kenangan mereka, yang selama ini mereka rangkai. Stella amat tidak percaya dengan ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Yudistira tadi. Ucapan yang memang tidak Stella harapkan sama sekali.
Stella masih tidak percaya, masih berdiri di depan kamarnya. Kakinya sudah amat sangat lemas sekali, hingga akhirnya tumbang dengan sendirinya. Air matanya kini perlahan turun, membasahi kedua pipinya. Perasaannya mulai hancur berkeping-keping. Dadanya mulai sesak, sebab dirinya masih tak mau menerima kenyataan yang sebenarnya.
"Stella, Ayah mau bicara sebentar boleh?" Stella yang sedari tadi duduk di lantai, langsung berdiri dengan wajah kesalnya.
"Gak ada yang harus saya dengar lagi"
"Jika ingin melanjutkan hubungan kalian, lanjutkan saja. Saya akan restui kalian berdua"