
"Gue udah gak butuh alasan lo lagi, Dis. Gue udah bener-bener capek sekarang!"
"Sekarang, saat nya lo dan gue lupain semua kenangan kita selama ini. Dan berusaha saling melupakan satu sama lain. Semua hubungan pasti gak akan mulus terus sesuai keinginan kita kan? Udah saat nya untuk melepaskan dan mengikhlaskan. Tapi, gue juga gak mau hubungan kita setelah putus, malah jadi memburuk. Gue mau lo janji ke gue, lo harus jadi temen baik gue. Sama kayak anak-anak yang lainnya" Sambungnya.
"Lo kayak gini karena lo udah ada pengganti gue kan? Pasti Giorgino!"
"Iya, Giorgino. Gue masih sayang sama dia, jauh sebelum gue kenal lo. Giorgino masih nomor 1 di hidup gue, Dis. Gue harap lo ngerti dan mulai ikhlasin gue yah"
"Gue gak akan secepat itu ngelupain lo, Stell. Kasih gue waktu, oke? Kalo itu yang buat lo bahagia, gue bakal iklasin lo Stell. Gue bakal bahagia, kalo lo juga bahagia. Tapi, gue gak akan tinggal diem kalo tuh anak buat lo sakit hati nantinya" Mendengar itu Stella melayangkan senyuman pada Yudistira dan Yudistira pun memeluk tubuh Stella dengan sangat erat.
Semua hubungan, tak akan terus berjalan sesuai keinginan kita. Tak semua nya akan terus berjalan mulus. Lika-liku akan terus menghampiri setiap hubungan. Ikuti alur, dan tersenyum lah, semua itu akan terasa mudah untuk di lalui. Semua hubungan tak perlu terus berakhir dengan bermusuhan. Sudah saatnya merubah dan menerima kenyataan.
***
Yudistira yang terus mencoba untuk menerima semuanya. Namun, semakin hari semakin tak ikhlas untuk berpisah dengan Stella. Setiap hari, dia selalu melihat Stella. Kemana pun dan dimana pun karena mereka selalu bersama. Sudah tak tau lagi harus bagaimana, mau tidak mau dia harus melupakannya dengan cara apapun. Dan akhirnya dia memutuskan untuk menerima seorang siswi yang baru-baru ini menyatakan perasaan kepadanya. Namanya, Starla.
Starla adalah siswi di kelas sebelah. Gadis cantik, dengan aura yang kuat untuk memikat siapapun yang melihatnya. Siswi terkenal centil pada siswa-siswa yang terkenal tampan di sekolah. Laki-laki tampan sudah pernah dia takluki semua. Termasuk Rami, Vixa, Jimi, Jinata, Jije, Suga.
Baru saja hari pertama, 1 jam, 15 menit, 3 detik pacaran dia sudah beraksi memperlihatkan mesranya hubungannya dengan Yudistira. Semua murid dibuat geger dengan kelakuan Starla yang terbilang sudah gila. Dia dengan santainya, datang ke kelas Yudistira sambil mencium bibir Yudistira.
Seisi kelas dibuat tak bisa berkata apapun. Sudah tak sanggup melihat kelakuan mereka berdua. Stella yang melihatnya pun mulai muak. Dan memilih pergi keluar kelas.
"Stell"
"Gue udah bilang, jangan pernah layangin suara lo ke gue lagi kan? Gue maafin lo pun terpaksa, Ti. Gue gak mau, cuma gara-gara gue pertemanan yang udah kita bangun ancur!"
"Gue cuma mau bilang ke lo. Kalo lo masih sayang sama Yudistira, mending lo perjuangin"
"Gue sama Yudis sekarang cuma sebatas teman. Dan lo tau kan, gue sekarang udah milik Giorgino. Gue sayang dia, gue bahagia bisa balikan lagi sama dia. Dan lo gak usah sotoy! Dan gak perlu urusin percintaan gue!"
"Gue tau lo seneng balikan sama Giorgino. Tapi, gue juga tau Stell hati lo masih sepenuhnya ke Yudistira"
"Jangan terus bohongin perasaan lo Stell! Jangan siksa diri lo sama kelakuan lo sendiri!"
"BACOT!" Ucapnya, dengan melayangkan tatapan tengil dan sinisnya.
"Gue sadar sekarang, punya temen gak selamanya bahagia. Yang ada malah tersiksa!" Tekannya lagi, dengan menyuntrungi kening Mutiara, dengan jari telunjuknya.
Mutiara terus menatap ke arah Stella, yang perlahan menjauh dari pandangannya. Masih merasakan sakit akan ucapan Stella kepadanya. Lagi-lagi dia kembali mendapatkan ucapan menyakitkan dari kedua temannya.
"Muti, Muti! Udah lah gak usah sok-sok an peduli sama Stella. Kita itu udah tau busuk nya lo kayak gimana!"
"Bener! Masih baik Stella maafin lo, dan masih nerima lo sebagai temennya. Harusnya lo bersyukur! Kalo gue jadi Stella, gue sih ogah temenan lagi sama lo. Apalagi temen yang hobby nya tukang tikung kayak lo!"
"Emangnya lo berdua tau kebenarannya? Ngomongnya temen, tapi sama sekali gak mencerminkan diri sebagai temen!"
"Kita memang masih temen. Tapi, mulai saat lo nyakitin Stella. Kita agap lo temen karena terpaksa aja! Ngertikan sekarang?"
Lagi-lagi hati Mutiara terasa tercambik-cambik akan ucapan teman-temannya. Yang semakin hari, semakin menyakiti hatinya. Hari demi hari perlakuan kedua temannya itu makin menjadi. Rasanya seperti ingin keluar dari circle nya sendiri, dan memilih untuk menjadi diri sendiri saja tanpa ada satu pun teman. Percuma saja mempunyai teman, tapi tak pernah dianggap ada.
Hari demi hari, Mutiara perlahan menjauh dari mereka. Tak mengikuti kemana pun mereka pergi, dan memilih untuk tetap tinggal di kelas. Selama dirinya tidak merasakan sakit, itu akan lebih baik untuknya.
"Mau sampai kapan lo begini terus? Gak ada gunanya lo terus ngasingin diri. Kalo lo anggep omongan gue, Renilla, dan Arumi salah. Harusnya lo buktiin kalo kita bertiga itu salah, dan lo bener. Jangan pernah bilang lo temen gue, cuma karena masalah begini aja lo nyerah" Ucap Stella, yang baru saja kembali ke kelas sambil memasang airpods ke telinganya. Dan berjalan hendak duduk di bangkunya.
Mendengar ucapan Stella, Mutiara mulai merasa jika Stella berbeda dengan kedua temannya itu. Mutiara mulai merasa, seakan-akan Stella juga merasa jika Mutiara sepenuhnya tidak bersalah. Dia hanya menunggu Mutiara untuk mulai terbuka pada teman-temannya, bukan lari dari masalah.
Yang dibutuhkan hanya bukti kuat, untuk membuktikan jika dirinya memang tak berbuat hal seperti itu dengan Yudistira. Kini, tekad nya kembali membarakan dirinya. Dan Mutiara mulai memulai aksi nya dengan keterampilan yang dia miliki.
Bukan hanya membuktikan kepada teman-temannya, juga membuktikan kepada seluruh murid di sekolah. Bahwa dirinya tidak melakukan hal itu dengan Yudistira. Itu hanya cara seseorang untuk membuatnya dan pertemanannya hancur lebur saja.
Dia mulai bersumpah pada dirinya sendiri. Jika dia mengetahui siapa yang menyebarkan video dan fotonya kemarin, dia akan menghabisinya dengan tangannya sendiri. Tanpa ampun, siapapun itu, dia akan membuatnya jera karena telah membuatnya terpojoki selama ini. Walaupun jika temannya sendiri yang melakukan itu, dia akan memberi pelajaran dengan tangannya sendiri.