
Arumi masih dengan trauma nya, dia terus menangis dengan nafas yang amat sesak. Jimi yang melihat itu pun amat sangat penuh kekhawatiran. Dia terus memeluk, dan meminta maaf karena sudah membuat kekasihnya jadi seperti ini. Stella, Mutiara, dan Renila memutuskan untuk menunggu di luar dan membiarkan mereka untuk berdua.
"Gak habis fikir gue sama kelakuan si Rega! Apa-apaan coba, di sekolah masih bisa-bisanya mau perkosa si Arumi segala!" Luapan kekesalan Renilla.
"Tapi, Rega gak berhasil kan. Gak berhasil masukin benih dia ke Arumi?" Tanya ragu-ragu Mutiara.
"Lo kan tadi liat, dia masih pake CD"
"Ya, takut aja kan Stell"
"Lagi pula, harus banget lo bahas itu lagi?"
"Ya, maaf Stell" Helaan nafas terus Stella keluarkan dengan amat berat. Terus menatap kearah Arumi dari balik kaca pintu UKS.
"Gimana-gimana? Arumi keadaannya gimana?" Panik ke tujuh pria itu, yang baru saja sampai.
"Gue fikir dia trauma banget deh" Ucap yakin Renilla.
"Kalo itu pasti lah!"
"Orang tua Rega, Kiko, sama Hiro nyerahin anak nya ke polisi, untuk di tindak lanjuti"
"Serius lo, Gin?"
"Gue denger dari temen-temen gue tadi"
"Tapi, orang tua mereka keren banget. Pasti berat loh, masukin anaknya sendiri ke jeruji besi. Jarang-jarang ada orang tua yang kaya gitu"
"Berarti itu tandanya, orang tua mereka itu sayang sama mereka. Orang tua nya dengan berat hati menyerahkan anak kesayangannya itu masuk ke penjara. Yang nantinya mungkin aja kan bisa buat kelakuan Rega, Kiko, sama Hiro jadi membaik?"
"Bener banget, gue setuju apa kata Yudis"
"Mending kita balik ke kelas dulu gak sih? Kita kasih waktu buat mereka berdua dulu"
"Sepertinya kalian sudah mengadakan party disini. Bereskan kekacauan ini sekarang juga!!!!" Ucapnya dengan sangat marah.
"Mampus! Mending kita balik lagi aja gak sih ke UKS?"
"Bener apa yang di katain Muti, emak gue kalo udah marah menakutkan banget. Mending sekarang kita balik lagi ke UKS. Lagi pula, kita kan gak ikut-ikutan buat kekacauan begini juga kan?" Mereka perlahan langsung putar balik, menjauh dari tempat itu.
"Mau kemana kalian?! Mau kabur? Cepat bantu yang lain ambil semua sampah disini! Nafas saya sudah amat sesak sekali dengan bau sampah ini!"
"Tapi kan-"
"Saya gak butuh tapi dari kamu, yang saya butuh sampah ini kembali pada tempat nya!"
"Baik bu"
"Yang salah siapa, kenapa kita juga yang kena imbasnya!" Kesal Jije.
"Jangan terus ngeluh bisa kan lo? Ambilin aja tuh sampah, jangan ngedumel terus!" Ikut kesal Jinata.
Arumi kini sedang istirahat di asramanya, menjernihkan fikirannya, dan melawan rasa traumanya. Jimi masih saja tidak tenang, akan kesehatan Arumi dan kandungan Arumi. Dia takut terjadi apa-apa kepada Arumi, yang mungkin nanti aka membahayakan nyawa Arumi juga kandungannya.
"Stell, bantu gue yah jaga Arumi"
"Lo gak minta pun, gue bakal jaga dia, Jim"
Terlihat jelas wajahnya amat sangat panik sekali, namun dia tidak bisa terus bersama Arumi. Karena dalam peraturan di sekolah, siswa di larang untuk masuk ke asrama siswi, begitupun sebaliknya. Dia terus saling mengirim pesan pada Stella, untuk memastikan keadaan Arumi memang sedang baik-baik saja.
"Udah lo tenang aja Jim, Stella bakal jaga Arumi kok"
"Tapi, gue masih khawatir banget Dis"
"Tenang aja, lo harus percaya Stella bakal jaga Arumi dengan baik. Lagi pula, kan dia temen sekamarnya. Jadi, mudah bagi dia buat terus mastiin keadaan Arumi juga kan?" Jimi perlahan mengangguk. Namun, semalaman dia masih saja khawatir kepada sang kekasih nya itu juga bayi mereka.