Bad Students

Bad Students
[54]



Beberapa jam setelah semua itu terjadi. Yudistira menghampiri Starla dengan tergesa-gesa, wajah sangat kesal, dengan tatapan yang amat sangat marah. Starla perlahan tersenyum akan wajah Yudistira saat ini. Mungkin saja dia sudah memberi pelajaran pada Giorgino karena sudah berani berbuat hal gila pada Starla, fikirnya. Namun, semua itu hanya fikiran Starla saja. Yang terjadi sebenarnya, malah dia yang terkena semprot akan ocehan yang terus Yudistira berikan padanya.


"Yang semua orang bilang apa bener? Kamu yang lakuin semua itu ke Stella?"


"Kamu lebih percaya orang lain, dari pada aku?!"


"Gak mungkin kan semua anak-anak bohong dalam waktu yang bersamaan?!"


"Terus kamu kira sekarang aku yang bohong?! Yudis! Aku ini pacar kamu! Harusnya kamu bela aku dong. Bukannya, malah ikut-ikutan nuduh aku begini!"


"Bisa bedain orang yang nuduh sama orang yang nanya gak?!" Amarah Yudistira kini tak bisa dia tahan lagi. Sudah sangat kesal akan kelakuan Starla, yang semakin hari semakin membuatnya kesal. Air mata Starla kini mengalir ke kedua pipinya.


"Aku bakal maafin kamu, tapi kamu harus minta maaf dulu ke Stella. Jangan coba-coba nampakin wajah kamu ke aku, sebelum kamu minta maaf ke Stella!" Tekannya, Yudistira lalu pergi meninggalkan Starla.


Orang-orang yang sedari tadi ada disana pun tak percaya, dengan apa yang baru saja mereka dengar dan lihat. Mereka baru kali ini melihat Yudistira begitu kesal pada Starla. Pasalnya, mereka selalu romantis dan tak ada sekali pun masalah ataupun pertikaian yang mereka perlihatkan di depan umum.


Starla yang sedari tadi pura-pura menangis pun, langsung mengusap air matanya dan pergi dari tempat itu. Dia sudah cukup malu, di permalukan di depan umum dua kali hari ini. Dia pergi dengan kekesalan terus melanda dirinya. Hingga, semua barang-barang di dalam asramanya pun dia lempar sana-sini. Hingga, berakhir asramanya berantakan tak karuan. Nafasnya terus terengah-engah akan kekesalannya.


"Liat aja, gue bakal lakuin hal berlipat-lipat atas apa yang lo lakuin ke gue hari ini!" Tekannya.


Kini, Stella dinyatakan patah tulang di bagian kakinya. Dan dia tidak akan berlatih Cheerleader lagi, sebelum kakinya benar-benar pulih kembali. Kaki nya di gips, dan kini dia berjalan memakai tongkat kruk. Perasaannya amat sangat hancur sekarang. Dia sudah tidak akan lagi berlatih cheerleader, sampai beberapa waktu ke depan.


Sebenarnya, dia juga kesal akan kelakuan Starla terhadapnya. Awalnya Stella bersikeras ingin membalas perbuatan Starla padanya. Namun, tiba-tiba saja Starla meminta maaf atas semua perbuatannya padanya. Itu sangat membuatnya keheranan. Karena, itu bukan gaya Starla pada umumnya.


Sakitnya sekarang, tak menjadi penghalang Stella untuk bertemu dengan Yudistira. Mereka masih bertemu setiap jam pelajaran sekolah selesai, di perpustakaan. Yudistira terus merasa bersalah, akan semua perbuatan Starla selama ini. Dia pun masih kesal, jika terus mengingatnya. Stella hanya tersenyum senang, sebab Yudistira sangat khawatir kepadanya.


Stella terus membelai rambut Yudistira, dan menenangkannya. Berusaha agar Yudistira, tidak terus mengingat hal itu terus menerus. Yang terpenting sekarang Starla sudah meminta maaf, menyesali perbuatannya, dan tak membuat masalah lagi padanya.


Entah mengapa, perasaan Yudistira menjadi bercampur aduk sekarang. Tatapan yang Stella berikan padanya, amat sangat membuatnya tambah tersiksa. Terlihat jelas, Stella berusaha tegar menahan rasa sakitnya saat ini.


"Sorry yah, gue sama sekali gak bisa jaga lo dari deket. Gue cuma bisa jaga lo dari kejauhan" Jelasnya, membuat Stella kembali melayangkan senyum pada Yudistira. Dan Stella pun mengecup pipi Yudistira, dan menatapnya kembali sambil memberi senyuman manis di bibirnya.


***


Keesokannya, Stella tengah asik duduk di bangku-bangku dekat lapangan sambil mengotak-atik ponselnya. Hingga, tak sadar akan bola basket melayang ke arahnya. Dan membuat retak ponselnya, amat sangat retak. Stella masih terkesima akan keadaan ponsel nya itu.


"So-sorry. Lo gak kenapa-kenapa kan?"


"Yudissssss!!!" Rengek Stella, sambil memperlihatkan keadaan ponselnya. Melihat itu pun, Yudistira ikut panik. Pasalnya, tidak ada yang berani seorang pun yang memegang ponsel Stella. Namun, kini dengan kilatnya Yudistira membuat ponsel Stella retak sekaligus.


"Gue gak sengaja, sumpah! Dua rius, ga bohong"


"Kalo kaki gue gak begini, abis lo langsung sama gue!" Tekannya, dengan wajah yang amat sangat marah.


"Nah, nah! Pake hp gue dulu aja sementara waktu"


"Ya engga juga sih" Ucapnya, sambil menarik kembali ponsel miliknya.


"Ada yang perlu di bantu?" Ucap Giorgino, bersama Rami. Sambil memasang wajah santai, namun seakan ingin melahap.


"Gue gak sengaja beneran. Yang harusnya di salahin itu bukan gue lah, tapi bolanya"


"Nanti gue di sangka gila, kalo berantem sama bola. Kan gak lucu. Yang ada nanti gue langsung di bawa ke RSJ" Jelas Rami.


"Stell data buat presentasi udah lo pindahin kan ke laptop gue?" Tanya Arumi panik.


"Be-be-lum" Jawabnya, dengan tergagap-gagapnya.


"Tapi, masih ada di laptop lo kan?"


"U-u-dah gue ha-" Terhenti.


"Stellaa!!!" Arumi mulai reog.


Kini, Stella dan Arumi tidak mendapatkan nilai dari bu guru. Hasil kerja keras mereka berdua sudah hilang. Arumi terus meceramahi Stella juga Yudistira tanpa henti. Mereka pun hanya mendengarkan saja, dan menerima itu semua dengan lapang dada.


Jika Arumi sudah murka, akan susah untuk membuatnya henti. Ditambah bawaan hamilnya, yang mudah sekali kesal dan terbawa emosi. Stella masih mendengar ocehan Arumi, hingga telinganya amat sangat sakit.


Terus memainkan telinganya, sebab sudah mulai memerah. Sudah berjam-jam Arumi mengoceh, masih saja tidak ada yang mau memberhentikan ocehan itu. Teman-teman yang lainnya hanya diam, karena takut mereka pun akan kena semprot ocehan dari Arumi.


Stella terus menatap ke arah Yudistira, dengan tatapan kesal. Karena, dirinya masih mengingat akan kejadian dimana Yudistira membuat ponselnya retak.


Disisi lain, Yudistira terus menghindar tatapan yang di berika Stella padanya. Hingga, dimana ocehan itu terhenti akan kedatangan Starla ke kelas. Dan malah mengocehi Arumi, sebab sudah mengocehi sang kekasihnya itu.


Kembali terjadi pertikaian antara dua kubu. Kelas menjadi kacau balau akibat adu mulut antara Arumi dan Starla. Semua anak di kelas dibuat kewalahan akan kelakuan mereka berdua.


Hingga, saat dimana Starla mendorong tubuh Arumi hingga terjatuh keras ke lantai. Jimi, sang kekasih yang sedari tadi berusaha memisahkan itu pun langsung membantu Arumi berdiri. Namun, tiba-tiba kedua matanya membesar saat melihat darah mengalir ke kedua kaki Arumi. Arumi pun menyadarinya dan menahan rasa sakitnya itu. Lalu, dengan sigapnya Jimi langsung membawanya lergi dari kelas. Dan Stella, Mutiara, juga Renilla yang juga sadar langsung menutupi tetes demi tetesan darah Arumi.


Stella yang tak menerima akan perlakuan Starla terhadap temannya itu pun, langsung mendorong tubuh Starla hingga terjatuh ke lantai juga.


"Stella! Apa-apaan sih lo?!" Teriak Yudistira, sebab khawatir akan kandungan Starla. Stella pun hanya terdiam, tak percaya jika Yudistira akan meneriaki dirinya dengan begitu kencang.


"Kenapa lo jadi teriak-teriak ke gue?! Gue cuma bales apa yang dia lakuin tadi ke Arumi!"


"Gak pake cara begini juga kan?!"


"Dis, gue tau dia itu pacar lo. Tapi, buka mata lo lebar-lebar! Gara-gara dia temen lo sendiri sekarang-" Terhenti, Stella tersadar akan tempatnya sekarang.


"Udah lah, percuma gue buat lo sadar juga. Mau sampai kapan pun lo bakal belain pacar tersayang lo itu!" Melihat Stella kesal, Starla kembali memperlihatkan senyum senangnya. Sementara, itu membuat Yudistira jadi terganggu. Karena, Stella terlihat sangat marah padanya. Dan kini Yudistira harus berusaha lebih keras lagi, untuk mendapatkan maaf dari Stella.