Bad Students

Bad Students
[52]



"Gue udah berusaha semampu gue buat lupain lo Stell. Tapi, tetep gue gak bisa. Gue masih sayang sama lo, gue masih ada rasa sama lo, gue tau lo udah berhasil lupain gue. Tapi, gue gak bisa Stell"


"Dis! Kenapa sih?! Kenapa lo harus hancurin perjuangan gue selama ini?! Gue udah susah payah lupain lo, Dis! Capek banget hati gue sekarang. Sekali aja lo ngertiin gue, sekali aja!" Ucapnya kesal, diikuti isak tangisnya.


Yudistira memeluk erat tubuh Stella, dia pun sudah tak tau akan perasaannya sendiri. Dia sudah menghamili Starla, namun juga dia masih mencintai Stella. Satu hati untuk dua wanita? Itu gila. Tidak ada yang mau di duakan, juga jadi yang kedua.


"Gue sayang lo, Stell"


"Gue juga, Dis"


Tamparan keras menghampiri wajah Stella. Ya, itu dari Starla. Dia mendengar semuanya, sudah sangat muak akan kelakuan Stella. Wajahnya sudah sangat marah sekali, jelas sekali.


"Segila ini lo, sampai sekarang masih aja ngarep ke pacar gue?! Mau lo apa?"


"Mau gue sekarang lo putus sama Yudis"


"Segampang itu lo ngomong? Harusnya lo ngerti rasa sakitnya, lo malah ngelempar rasa sakit lo ke gue! Udah gila lo?!"


"Gue gak gila, gue sama Yudis sama-sama sayang. Terus lo mau terus lanjutin hubungan lo sama Yudis? Sedangkan, dia aja sama sekali udah gak sayang sama lo!"


"Di sini ada anak gue sama Yudis!" Ucapnya sambil mengelus perutnya.


"Harusnya lo nyerah dan sadar! Bukan malah ngelunjak melebihi batas! Rasa suka Yudis sekarang sama lo emang besar, tapi apa bakal sebesar saat anak ini lahir?" Sambungnya.


"Terus gue harus ngerelain rasa sayang gue? Yang nikah aja, gak mungkin selama nya langgeng kan? Apa lagi lo?!"


"Stell, udah Stell. Sayang, ayo mending kita ke kantin yah. Aku gak mau kamu jadi banyak fikiran, dan buat anak kita kena imbasnya" Mendengar perkataan Yudis, membuat Stella kehabisan kata-kata. Padahal baru saja dia menyatakan perasaan padanya, kini dia mempermainkannya.


Starla tersenyum puas akan apa yang dia dengar barusan dari mulut sang kekasih. Dia menatap senang kearah Stella, yang sekarang membeku tak mempercayai itu semua. Kini, Starla makin angkuh dan berkuasa akan perasaan Yudistira padanya.


Patah hati yang Stella rawat, kini hancur kembali. Berkeping-keping, tak bisa dia utuhkan kembali. Namun, mentalnya sudah cukup untuk menerima kenyataan. Dia berusaha tegar, dan tetap menahan rasa sakit itu dengan sebisanya.


Lagi-lagi Yudistira mendekati Stella, setiap tidak ada Starla. Dia menghampiri Stella yang sedang membaca buku seperti biasa di perpustakaan. Dia langsung menyandarkan kepalanya di bahu Stella, yang sedari tadi duduk di antara buku-buku. Stella saat itu pun hanya menghelakan nafasnya.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Stella asik membaca bukunya, sementara Yudistira masih tertidur di bahu Stella, sambil memeluknya. Stella pun tak bisa menolak, dia pun masih menyayangi Yudistira, dia pun tidak mau kehilangan Yudistira, juga tak mau merasakan akan rasa sakitnya lagi.


Bukan ingin merusak hubungan. Namun, Stella pun tidak bisa terus menyakiti perasaanya sendiri. Dia pun berhak mengikuti hatinya sekarang. Keberadaan Yudistira sekarang sudah sangat nyaman untuk nya. Dia tidak mau merusak itu semua, walau pada kenyataannya Stella masih belum ada status jelas di kehidupan Yudistira.


"Stell. Gue harus gimana yah sekarang? Gue bener-bener bingung sama perasaan gue saat ini. Gue sayang banget sama lo, gue mau kita balikan. Tapi, gue juga gak bisa ninggalin Starla yang lagi hamil anak gue"


"Kita jalanin hubungan sekarang yah? Mau kan?"


"Gak bisa dong, Dis"


"Gue gak bisa terus tahan rasa sayang gue ke lo, Stell"


"Mending kita balik ke kelas sekarang" Ucapnya, lalu beranjak dari duduknya.


Yudistira menarik pergelangan tangan Stella, hingga membuat Stella duduk kembali di dekatnya. Mereka saling menatap, dengan wajah yang sudah amat sangat tak ada semangatnya.


"Maafin gue, karena gue udah buat hal gila ke Starla. Maafin gue, karena udah buat hati lo sakit terus. Maafin gue, Stell"


"Udah terjadi juga kan? Udah lah, emang penyesalan selalu datang di akhir kan? Sekarang jalanin aja, walau memang berat" Ucap Stella sambil menatap ragu-ragu ke arah Yudistira.


"Arg! Tapi tetep aja gue gak bisa, Stell" Jawabnya, kembali menyimpan dahinya ke bahu Stella.


"Kalo nikahnya sama lo, terus kita rawat anak Starla aja bisa gak?"


"Udah gila lo, HAH!" Stella tiba-tiba memukul kepala Yudistira, sebab kesal mendengar perkataannya.


"Atuh sakit, kepala gue nya!" Rengeknya.


Stella kembali tersenyum, kini dirinya senang mendengar kembali rengekan Yudistira, yang sudah lama hilang. Stella membelai kepala Yudistira, yang baru saja dia pukul tadi. Keduanya tersenyum, seakan-akan mereka kembali ke masa lalu. Saat dimana mereka bersama.


Mereka kembali ke kelas dengan jangka waktu yang berbeda, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada teman-temannya juga Starla. Dan mereka memutuskan untuk selalu bertemu setiap pulang sekolah dengan sembunyi-sembunyi di perpustakaan.


Satu hari, dua hari, berminggu-minggu, hingga sampai sebulan sudah mereka lakukan pertemuan itu. Tak ada satu pun orang yang sadar. Membuat mereka menjadi tambah senang, sebab tak ada gangguan sama sekali akan pertemuan mereka setiap harinya.


Di sana Yudistira terus menatap Stella yang asik dengan buku novel yang dia baca. Yudistira tidak tau, dan tak mau mengerti akan isi novel itu. Dia hanya ingin terus melihat wajah Stella saja, tanpa gangguan siapapun. Sudah berbagai ekspresi Yudistira lihat di wajah Stella. Dari yang tiba-tiba tertawa, kesal, menangis, kembali tersenyum, hingga buku itu di banting saking kesalnya.


Tepat pukul enam, tanda mereka harus berpisah. Setiap berpisah mereka selalu berpelukan. Dan selalu menunggu sore hari di malam hari yang begitu panjang. Padahal mereka selalu bertemu di setiap harinya. Namun, memang hanya di sore hari saja lah, mereka bisa bertemu dengan serius. Mengirim pesan pun menggunakan Whatsapp dengan akun ke dua mereka.


Tak ada yang bisa memisahkan sepasang insan yang sedang jatuh cinta. Walau, lawannya adalah kenyataan. Kenyataan yang selalu tak diinginkan. Kenyataan yang selalu merusak semua keinginan. Dan kenyataan yang selalu membuat akhir yang menyakitkan.


Semua itu sudah tak berarti bagi mereka, mereka sudah tak peduli dengan semuanya. Kini, yang terpenting sekarang adalah perasaan mereka satu sama lain.