
Wisuda, perpisahan sesungguhnya bagi mereka. Kini bukan tangisan yang mereka perlihatkan, namun senyum senang yang sedari tadi menutup rasa kesedihan. Bukan saatnya untuk bersedih di hari yang membahagiakan. Kelulusan yang mereka dambakan dari awal, yang memang pada awalnya mereka tak sepenuhnya berharap jika itu akan terjadi, kini ada di depan mata.
Cita-cita yang sudah usang menjadi angan, kini kembali bersinar. Untuk saat itu juga, mereka memutuskan kembali mengejar cita-citanya yang sudah lama hilang. Dan memutuskan untuk menjadikan cita-cita itu menjadi kenyataan. Mereka mendapat banyak pelajaran semasa sekolah nya. Mereka juga tak mau merusak kehidupannya hanya karena masa lalu menyakitkan yang mereka terima dari kedua orang tuanya.
Isak tangis senang para orang tua kini tampak jelas. Dengan sorakan senang, sebab para anak-anaknya lulus dengan hasil yang benar-benar memuaskan. Mereka pun tidak percaya dengan itu semua. Namun, keyakinan mereka pada anaknya lah membuat ketidakpercayaan itu menjadi sirna.
Dari kejauhan Stella melihat dengan jelas, dengan kedua matanya. Ibundanya tengah tersenyum sembari berjalan mendekat. Senyuman kecil pun Stella pancarkan kepada Ibunya itu. Namun, bukannya menghampiri Stella lebih dahulu. Ibunya malah menghampiri Yudistira yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
"Gimana kabar kamu nak?" Tanya Ibunda Stella, membuat Yudistira tersenyum senang.
"Baik, tante"
"Mulai sekarang gak usah panggil tante yah, panggil aja Ibu. Anggap saja saya Ibu kamu sendiri sekarang"
"Lampu ijo, Yang" Jelas Yudistira sambil tersenyum mengarah ke Stella. Stella yang melihat itu pun ikut senang.
Yudistira pun ikut masuk ke dalam mobil Ibunda Stella. Sebab, Ibunya tidak bisa hadir karena sedang di luar negri. Sementara, Ayahnya mendapat jadwal mendadak di rumah sakit. Mau tak mau Yudistira jadi ikut dengan Ibunda Stella.
Sepanjang perjalanan Ibunda Stella terus berbincang dengan Yudistira. Hingga, Stella cemburu. Bagaimana tidak, dari tadi Ibunya sendiri tak menanyakan apapun kepadanya. Dia hanya fokus pada satu orang, dan itu hanya kepada Yudistira.
"Ibu gimana sih, masa anak nya sendiri dianggurin? Sebenarnya, disini yang anak ibu siapa?" Cemburu Stella kepada sang kekasihnya sendiri. Mendengar itu Ibunda Stella hanya tertawa, melihat sikap kekanakan Stella. Bukan hanya sang Ibu, sang kekasihnya pun tak bisa menahan tawa.
"Mulai cemburuan lo!" Ucap Rami, sembari fokus menatap layar ponselnya yang berisi fotonya dengan kakaknya Jimi.
"Kamu ini, Ibu kan udah tau seluk beluk kehidupan kamu" Ucap sang Ibunda, namun Stella masih cemberut.
"Oh, ya. Yudis mampir ke rumah dulu yah" Ucap lagi Ibunda Stella, sambil menatap ke arah Yudistira.
"Idih, ngapain juga ni anak di suruh mampir dulu ke rumah? Mending turunin aja di tengah jalan"
"Kalo gue diturunin di tengah jalan, gue pulangnya gimana?"
"Ngamen dulu lah"
"Gue? Disuruh ngamen?"
"Mau gue sentil ginjal lo?" Ucapan maut Yudistira dengan tatapan songongnya, membuat Rami kembali menatap layar ponselnya.
Ditengah perjalanan, keheningan pun muncul. Tak ada suara apapun di dalam mobil itu. Hingga, tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah. Baru keluar dari mobil, Stella terpaku melihat sosok pria yang tengah berdiri sambil tersenyum menatap Yudistira. Tak hanya menatapnya, pria itu juga memeluk Yudistira.
"Ayah ngapain disini?"
"Mau ketemu kamu dong, sekalian Ayah mau kasih selamat ke anak Ayah"
"Katanya ada masalah mendesak, terus kenapa Ayah ada di rumah Stella? Tau dari mana rumah Stella?"
"Mulai sekarang, Ibu Stella juga Ibu kamu" Mereka masih tidak mengerti apa yang baru saja Ayah Yudistira katakan.
"Ayah sudah menikah dengan Ibu Stella" Jelasnya lagi, membuat dunia Stella juga Yudistira hancur berkeping-keping.
"Yudis tau Ayah suka bercanda, tapi bercanda Ayah sekarang kelewatan banget loh"
"Ayah gak bercanda, Ayah serius"
"Bu, apa-apaan sih?! Ibu kan tau Yudis pacar Stella, kenapa Ibu tikam Stella sekarang?! " Kesal Stella, langsung masuk ke rumah sembari membanting pintu dengan sangat kencang.
"Ayah pun baru tau, jika Stella itu pacar kamu nak" Ucap sang Ayah, dengan harapan anaknya akan mengerti. Namun, Yudistira pun amat kecewa kepada Ayahnya itu. Dia langsung pergi dari rumah Stella, dengan penuh kekesalan.
Situasi kini sangat kacau balau. Rami yang sedari tadi hanya terdiam, masih tak mempercayainya dengan apa yang terjadi. Dengan penuh kebingungan Rami langsung masuk ke rumah, menghampiri kamar Stella yang bertujuan untuk menenangkan adiknya itu. Namun, tetap saja tak ada hasil. Hati Stella sudah sangat tercambik-cambik.
Stella terus menangis di kamarnya, sudah sangat kebingungan sekali harus berbuat apa. Hubungannya yang sudah adem ayem, kini di timpa lagi dan lagi masalah. Dan ini yang lebih parah. Kini, sang kekasihnya itu adalah kakaknya. Memikirkannya saja sudah membuat Stella muak.
Ibunda juga Ayahnya Yudistira terus menjelaskan dengan perlahan, dimana mereka benar-benar tidak bisa menahan rasa saling sayang satu sama lain. Sejujurnya, memang hubungan mereka itu lebih dulu terjalin, dibanding hubungan Stella dan Yudistira. Mereka sudah menjalin kasih saat mereka belum bertemu. Rami pun mengetahui itu semua. Namun, dia sama sekali tidak menyangka ternyata itu adalah Ayah Yudistira.
Setelah mengetahuinya, Rami pun ikut syok. Bagaimana tidak, dia memberi restu kepada Ibundanya juga pasangan yang di pilihnya. Tanpa mengetahui identitas sebenarnya. Dia hanya mengetahui bahwa pria yang Ibundanya sukai itu berprofesi sebagai dokter. Dan itu yang memang Ibundanya dambakan. Tampa berfikir panjang, Rami pun merestuinya. Dan saat itu juga Stella merestuinya, yang juga dia pun tak menyangka jika Ayahnya sekarang adalah Ayahnya Yudistira juga.
Hingga berhari-hari kedua orang tua itu bersusah payah menjelaskan kepada mereka berdua, yang masih saja tidak mau menerima. Yudistira tetap tinggal di rumah milik Ibundanya, begitupun Stella tetep tinggal di rumahnya. Walau masih menyesakkan hati, setiap bertemu dengan Ibundanya.
Sampai berminggu-minggu, setelah kejadian itu Stella maupun Yudistira sama sekali tidak memberi kabar satu sama lain. Mereka sudah sangat tidak mau menerima kenyataannya. Namun, dengan berjalannya waktu Yudistira juga Stella pun mengerti dan pada akhirnya mereka kini hidup di satu atap yang sama. Dengan perasaan yang masih terganggu akan statusnya yang tak jelas.