
Stella berjalan kesana-kemari, tak menentu. Hingga tak sadar bahwa dirinya sudah jauh dari penginapan. "Stella?" Seseorang memanggilnya. Tatapannya perlahan teralih dan menatap ke sosok di depannya. "Boni?"
"Untung deh lo masih inget, kira gue lo udah gak inget gue"
"Masih inget lah yakali gue lupa"
"Lo kenapa ada disini"
"Liburan sama temen-temen"
"Terus kenapa lo disini?"
"Cari angin aja, lo ada acara apa ke sini?"
"Sekolah ngadain Study Tour, kita baru sampe hari ini"
"Sama dong!"
"Mantap deh! Gimana kalo lo ikut gue? Disana juga ada Rara, Bunga, sama Toni"
"Serius?!"
"Serius dong, semenjak lo pindah sekolah kita berlima jadi sepi banget gak ada lo"
"Tunggu, berarti ada Jonny juga dong?"
"A-ada. Udah lo gak usah merasa risih, kan ada gue sama yang lainnya juga"
"Ya lebih ke gak risih sih, tapi lebih ke eneuk liat mukanya" Boni hanya tertawa saat mendengarnya.
"Kok ketawa sih?! Yaudah, ayo!"
Boni mengantarkan Stella ke penginapan mereka, yang ternyata tempat penginapan mereka sama. Dari kejauhan pun Stella sudah melihat keberadaan Rara, Bunga, juga Toni. Begitu senangnya mereka bertemu lagi dengan Stella.
"WOAHHH!! STELLA!!!!" Teriak mereka, membuat anak-anak sekolah dulu langsung melihat ke arahnya.
"Kemana aja sih lo?! Kenapa chat sama telfon gue gak pernah diangkat? Kenapa lo baru muncul sekarang?"
"Gue jawab dulu yang mana nih?"
"Semuanya lah!"
"Gue dipindahin ke sekolah yang Ibu gue bangun"
"Seriusan? Sekolah yang isinya anak gila semua kan?"
"Ets! Ngomong kok suka bener!" Ucap tiba-tiba Rami.
"RAMI?! Lo ada di sini juga?!"
"Kemana pun Stella pergi, gue pasti ada"
"Emang dasar lo aja ngekor mulu!"
"Mulai deh kalian berdua berantem terus, mau sampe kapan berdiri terus di situ? Duduk kali"
"Gue pinjem Stella bentar" Ucap Jonny, menarik tangan Stella begitu saja.
"Lepasin tangan gue sekarang! Lagi pula gue kesini bukan buat denger curhatan hati lo. Gue disini buat menghibur diri, jangan buat mood gue ancur!"
"Tapi ada yang gue harus jelasin lagi ke lo, Stell!"
"Bisa gak usah maksa kan?" Mata Stella langsung teralihkan akan keberadaan Yudistira.
"Ngapain sih lo disini!"
"Lo kesini biaya nya pake duit gue anjir! Muka lo bisa gak usah jutek gitu gak ke gue?"
"Setiap liat muka lo gue kesel!"
"Emangnya lo siapa, berani merintah-merintah gue segala?!"
"Gue? Kenalin gue Yudistira"
"Bukan siapa-siapanya Stella kan? Jadi gak masalah dong gue bawa Stella?"
"Gue belum beres ngomong. Gue Yudistira, calon pacar Stella" Jonny hanya tertawa.
"Masih calon pacar, yang berarti masih bukan siapa-siapa"
"Gue Jonny, mantan pacar Stella" Kini Yudistira yang tertawa.
"Kenapa lo?!"
"Calon pacar masih ada jalur kan? Dibanding yang udah bekas?" Mendengar itu Boni, Rara, Bunga, Toni, juga Rami tak bisa menahan lagi tawanya.
"Udah kali lepas tangan Stella nya, masih lo genggam aja. Ini bukan zebra cross, kalo lo kesini cuma mau temuin Stella buat nyebrang aja. Kesian dong Stella nya, lagi pula cewek kok di ajak susah"
"Lo ngajak ribut gue sekarang?"
"Sorry, gue jauh-jauh kesini bukan mau ngajak ribut. Apalagi modelan kaya lo begini"
"Banyak bacot lo!" Teriak Jonny sambil melayangkan kepala tangan ke wajah Yudistira.
Namun, terhenti sebab Yudistira berhasil menahan tonjokkan itu di telapak tangannya. "Gue kasih tau ke lo, kalo lo mau tonjok seseorang. Jangan gedein bacotan lo duluan, sama aja lo taruhin nyawa lo buat harimau makan lo!" Ucap Yudistira, sambil menghempas tangan Jonny.
"Ada apa nih?!" Ucap Jimi yang tiba-tiba datang, bersama keenam temannya. Mereka menjadi pusat perhatian para anak SMA Nusa dan Bangsa. Sebab, visual mereka benar-benar amat di luar nalar. "Cakep dan canci banget~"
"Tapi, cowok yang lawan Jonny lebih cakep menurut gue"
"Ganggu Stella, berarti ganggu kita juga"
"Mau tauran lo? Bawa-bawa temen lo segala ke sini?!"
"Gue cuma bersembilan, lo sampe 1 sekolah. Gak mungkin lah gue ajak tauran, pasti gue dan temen gue yang kalah dong. Gimana kapan-kapan kita buat schedule? Buat tauran antar sekolah? 1 sekolah gue isinya orang gila semua soalnya, mereka butuh hiburan juga. Gimana?" Mendengar itu, Jonny langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan sepatah katapun. Dan pada akhirnya, membuat malu dirinya sendiri.
"Idih malah pergi lagi!"
"Kemana aja sih lo?! Hobby banget buat yang lain panik!"
"Kenapa lo jadi marah-marah, kaya emak-emak jatohnya!"
"Apaan sih! Lepasin tangan gue sekarang gak!" Ucapnya kesal. Sebab, Yudistira terus menggenggam tangan Stella di kantung jaket miliknya.
"Biar lo gak kabur-kabur lagi! Diem!"
"Bagus, Dis! Pegang aja tuh anak, kalo bisa borgol sekalian!"
"Gue juga ikutan ah~"
"Mau ngapain lo, Vix?!"
"Mau pegang tangan Stella juga lah, Dis. Kalo lo lengah kan, masih ada gue"
"Jangan coba-coba lo pegang tangan Stella!"
"Xa! Mending lo sini, gabung!"
"Kenapa sih, lo pada ke gue?!"
"Lo kagak ngerti situasi apa?! Tuh anak dua butuh waktu berduaan! Kagak pernah ngerasain cinta ya lo?!"
"Pernah lah!"
"Emangnya cinta pertama lo siapa?"
"Stella~"
"Wah, gawat. Gawat ini~"
"Suka sama adek gue, sama dengan cari mati!! Dari pada lo berdua yang ambil Stella, mending gue jadiin Stella pacar gue sendiri!"
"Eh! Apaan nih?! Kagak ada kamusnya kakak sendiri suka sama Adek nya!"
"Lo kan tau, gue sama Stella cuma kakak dan adek tiri. Berarti ada kesempatan bagi gue juga dong?!"
"Bener sih. Gak ada salahnya juga suka sama adik tiri sendiri"
"Suga! Lo kok malah ngiyain?!"
"Ya, emang bener kok. Kenapa lo ngegas ke gue, VIx! Mau ribut sama gue HAH?!"
"Mampus lo, Vixa! Ngegasan lo buat maung bangun dari tidurnya~"
"Selamatkan nyawamu sebelum maung menerkam~"