Bad Students

Bad Students
[45]



Perlahan matanya teralihkan melihat sosok pria yang dia khawatirkan selama ini, sedang berjalan melewati bingkai-bingkai jendela kelas di lorong. Dengan berjalan santainya, dengan kedua tangannya ke saku celana, dan memakai tas sport soren ke belakang.


Kekhawatiran Stella kini terbayarkan, akan kehadiran Giorgino yang kembali ke sekolah. Stella yang melihat itu, dia langsung berlari memeluk Giorgino dengan sangat erat. Tatapan teman-temannya perlahan mengarah pada Yudistira, yang sedari tadi terpaku melihat Stella yang tiba-tiba memeluk Giorgino. Di hadapannya, Stella memeluk mantannya itu. Yang berarti ternyata berhari-hari ini Stella terlihat khawatir, mungkin alasannya karena Giorgino.


Yudistira terus mengibas rambutnya, tanda dia begitu cemburu. Sudah tidak bisa berkata-kata lagi, Yudistira hanya merasa terus cemburu melihat mereka berdua. Sudah tak bisa menahan rasa cemburunya lagi, dia memutuskan untuk pergi dari kelas.


Perlahan, Giorgino yang sedari tadi kebingungan pun. Perlahan melepaskan pelukan itu dan menyuruh Stella untuk mengejar Yudistira. Dan Stella pun menyadari, keberadaan Yudistira sudah tidak ada disana.


Stella memanggil Yudis terus menerus. Namun, tidak ada sepatah balasan pun terlontarkan. Yudistira terus berjalan tanpa henti, hentakan jalannya pun bisa Stella rasakan, dia terlihat begitu kesal, cemburu, seakan-akan sudah muak dengan Stella.


Tak mau buat Yudistira terus seperti itu, dia langsung menarik tangan Yudistira, dan menahannya untuk tidak kemana-mana. Dia terus meyakinkan, bahwa pelukan yang dia berikan itu hanya pelukan biasa, bukan hal lebih. Namun, tetap saja Yudistira tidak percaya dengan semua ucapan Stella.


"Kalo masih sayang, bilang! Gak perlu terus sembunyiin dari aku, kalo kamu mau kita putus, yaudah putus sekarang!"


"Ngomong apa sih?!"


"Kamu masih sayang kan sama si Giorgino?"


"Yudis, Stop!"


"Kita putus aja!"


"Cuma karena gue peluk Giorgino, lo putusin gue? Jujur, emang gue salah peluk-peluk Giorgino. Kalo udah begini, lo milih untuk putusin gue. Yaudah, kita putus!" Terlihat jelas wajah Yudistira amat sangat terkejut, saat Stella menerima kata putusnya itu. Sebenarnya, harapannya bukan ini. Inginnya, untuk Stella memperjuangkan, bukan sebaliknya.


Setelah mengiyakan putus dari Yudistira, Stella pergi meninggalkan Yudistira begitu saja. Kekesalan Yudistira memuncak, terus menendang-nendang apapun yang ada di depannya. Penyesalan akan ucapannya sendiri kini mulai bergejolak.


Teman-temannya itu mulai kebingungan, saat Stella kembali tanpa Yudistira. Wajahnya sudah sangat kacau balau, dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Namun, bukannya masuk ke kelas. Stella malah berjalan melewati kelas. Teman-temannya yang melihat itu pun kebingungan, dan dengan pekanya Giorgino keluar dan mengejar Stella.


"Kenapa?" Stella hanya diam, tak menjawab sepatah katapun.


"Putus?" Stella mengangguk, dengan air matanya perlahan mulai menetes ke pipi.


Giorgino langsung memeluknya, dan menenangkannya. Perlahan air matanya mulai menderas, tak henti-hentinya. Stella pun memeluk erat tubuh Giorgino. Kini hatinya amat sangat tercambik, melihat Stella yang terus menangis di hadapannya.


Hingga 15 menit kemudian, tangisan itu terhenti dengan sendirinya. Semua rasa sakitnya seakan sudah sirna akan tangisan itu. Stella menaruh dagunya itu di dada Giorgino, sambil terus menatap mantannya itu. Giorgino pun terus membelai dan membenarkan helaian rambut Stella, yang sedari tadi amat kacau. Mengelap semua air matanya, dengan kedua tangannya itu.


Namun, perlahan jemari-jemari Stella menarik leher Giorgino. Sontak membuatnya amat sangat terkejut. "Stell, jangan" Ucap Giorgino dengan terus menahan dirinya sendiri.


"Stella, stop!" Tegasnya lagi.


Hingga, Giorgino sudah tak bisa berkata-kata lagi. Sebab, saat ini Stella sedang mencium bibirnya. Giorgino yang sedari tadi menolak, perlahan menerima ciuman itu. Dia pun mulai tak bisa melepaskannya. Rasanya percikan mulai kembali pada mereka. Namun,tiba-tiba Giorgino melepaskan ciuman mereka. Dan terus berbicara bahwa semua ini salah. Tidak seharusnya mereka melakukan itu.


"Engga-engga ini udah salah banget, Stell! Harusnya lo dan gue gak lakuin ini"


"Gue gak bisa tahan lagi, perasaan gue ke lo Gin!"


"Lo udah janji ke gue, suatu saat nanti kita ketemu lagi. Lo gak usah suka sama gue lagi kan? Harusnya, lo tepatin"


"Gue udah berusaha! Tapi, gue gak bisa!!" Kesalnya pada diri sendiri.


"Tapi gue gak bisa, Stell"


"Please, Gino! Gue tau lo masih sayang sama gue!"


"Mungkin itu perasaan lo aja, Stell"


"Yang harusnya lo pertahanin sekarang bukan gue, tapi Yudis"


"Please, Gino~"


"Stell, ayolah! Mau sampai kapan lo begini terus?! Mau sampai kapan lo terus berharap sama masalalu lo ini! Udah gak ada yang bisa lo harapin dari gue, Stell!" Tekannya, dengan terus meyakinkan.


"Gue tau saat lo putusin gue, itu karena lo terpaksa kan?"


"Stell!"


"Jujur, Gin! Jujur aja ke gue! Mau sampai kapan lo kayak gini terus ke gue! Mau sampai kapan lo terus bohongin rasa sayang lo ke gue?! Mau sampai kapan, Gino!!"


"Sampai gue liat lo dapet cowok, tapi bukan gue"


"Gino!!"


"Gue kayak gini, karena gue sayang sama lo! Gue mau lo dapetin yang lebih baik dari gue, Stell. Bukan modelan gue, anak berandalan, yang kedepannya cuma bisa nyakitin lo!"


"Selama gue pacaran sama lo, lo sama sekali gak nyakitin gue Gin. Lo selalu jaga gue, perlakukan gue dengan baik, selalu dengerin semua kekesalan gue, lo selalu kasih nasihat baik ke gue, saat itu juga lo ngelindungin gue saat gue dorong Kato dari rooftof, dan lo juga yang ngaku kalo itu semua perbuatan lo. Karena, itu gue masih sayang sama lo Gin!! Cewek mana yang bakal bisa lupain itu semua?! Gak ada, Gin. Gak ada yang bisa!"


"Ada, Stell. Itu lo! Lo bisa buktiin mulai dari sekarang" Ucapnya, lalu pergi meninggalkan Stella.


BRAK!


Pukulan tiba-tiba menghampiri wajah Giorgino. Sontak, tatapan mulai beralih pada sosok orang yang baru memukul nya tadi. Itu, Yudistira. Kedua pupil mereka berdua membesar, terkejut akan kehadiran Yudistira disana. Wajahnya terlihat jelas amat sangat kesal.


"Ngapain lo berdua ciuman disini? Lo juga bukannya jaga perasaan gue saat ini, malah dengan mudahnya lo asik mesra-mesraan berdua sama tuh anak?! Pantes aja lo mengiyakan kata putus gue dengan cepat. Ternyata lo masih ada rasa sama mantan lo ini? Gila lo, Stell!"


"Impas lah! Kita sama-sama liat keburukan kita berdua. Lo liat gue ciuman sama Gino, dan gue liat lo ciuman sama Mutiara!" Mendengar itu, membuat Yudistira terdiam. Sementara, Giorgino menjadi sangat kesal.


"Gue tau semuanya, Dis! Lo selama ini berbuat apa di belakang gue! Gue tau! Gue tahan rasa sakit itu, buat menutupi semua yang lo lakuin ke gue selama ini! Lo ciuman mesra sama Mutiara, saat lo masih berstatus pacaran sama gue! Kalo begitu lo sama gila nya kan?!"


Mendengar itu semua, Yudistira mendapatkan hantaman keras di wajahnya dari Giorgino. Tak henti-hentinya Giorgino memukul wajah Yudistira, tanpa ampun. Stella hanya berdiri disana, dengan perasaan yang masih amat sangat sakit. Hingga, perkelahian itu terhenti saat teman-temannya tiba.


"GUE GAK BAKAL RELA KALO STELLA BALIK LAGI, SAMA COWOK BAJINGAN KAYAK LO! BERANI LO MACEM-MACEM KE STELLA, GUE BAKAL ABISIN LO PAKE TANGAN GUE SENDIRI!!!" Teriaknya, lalu menghempas tangan Rami yang sedari tadi menahannya.


"Dan lo juga! Jadi cewek jangan kegatelan! Sini mau, sana mau! Sampai pacar temen lo sendiri aja lo embat! Sampai lo cari gara-gara ke Stella, lo bakal berhadapan sama gue! Inget, mulai sekarang gue gak akan pilih-pilih gender buat gue hajar. Sampai lo gak usik kehidupan Stella, hidup lo bakal tenang! Kali ini gue cuma kasih peringatan ke lo!" Tegasnya, sambil menatap tajam Mutiara. Lalu, menarik tangan Stella pergi dari tempat itu.


Teman-temannya juga kakaknya Stella pun mulai kebingungan dengan apa yang terjadi. Mereka terus melirik ke arah Yudistira juga Mutiara. Begitu pun, Jinata juga Jije. Wajah Mutiara sudah amat sangat ketakutan dengan peringatan yang tadi Giorgino berikan padanya. Tubuhnya mulai lemas, dan perlahan tumbang dengan perasaan ketakutan. Membuat teman-temannya kini menjadi khawatir kepadanya.


"Maksud ucapan Gino tadi apa, Ti?" Tanya Jije.


"Lo berdua main dibelakang Stella?" Tanya Rami, dengan kesal.


"Ram! Maksud lo apaan ngomong kayak gitu?!" Tak terima Jinata, dengan ucapan Rami.


"Lo tadi dengerkan perkataan si Gino? Gue gak akan tanya begitu, kalo Gino gak akan semarah itu tadi ke mereka berdua! Sampai lo berdua beneran main di belakang adik gue, gue gak akan tinggal diem!" Ucap dengan penuh kesal, pergi mengejar adiknya.


"Ti, yang di omongin Gino tadi gak benerkan?" Tanya serius Renilla. Namun, Mutiara hanya terdiam, dengan nafas terengah-engah.


"Nil, mending kita cabut! Dengan dia diem kayak gitu, udah menjawab semuanya! Gue peringatin ke lo! Lo kali ini udah berani main sama cowok temen lo sendiri! Sampe lo gatel ke cowok gue, gue bakal buat hidup lo sengsara lebih dulu sebelum Gino sama Rami bertindak bales kelakuan lo ke Stella!" Ucap Arumi sambil menjambak rambut Mutiara. Tak lupa juga, sebelum pergi Renilla menendang kaki Mutiara dengan wajah yang sangar, dan tatapan menakutkan. Begitupun, teman-teman yang lainnya. Pergi meninggalkan mereka berdua di tempat itu, dengan perasaan amat sangat kecewa tampak di wajah mereka. Dengan helaan nafas berat, masih tak mempercayai itu semua.