Bad Students

Bad Students
[40]



"Buat anak yuk?"


"Astaga!" Stella amat sangat kaget mendengar ucapan kekasihnya itu.


"Kok kaget gitu sih?"


"Ya omongan lo gila banget!"


"Apa salahnya kan?"


"Banyak-banyak istigfar lo!"


"Ayolah. Kan gue mau jadi papa muda"


"Ya, nikah dulu lah! Ya kali kagak nikah dulu!"


"Oh, gitu yah" Ucap dengan polosnya, membuat Stella seakan-akan ingin membejek mulut Yudistira, dengan kedua tangannya.


Perlahan langkah kaki mereka terhenti, saat mendengar suara aneh di ruangan penyimpanan barang-barang olahraga. Ternyata itu Pak Yuta, dengan seorang siswi di dalam sana. Namun, ada kejanggalan. Mereka bermesraan di ruangan itu, siswi  itu perlahan duduk di pangkuan Pak Yuta, dan menciumnya. Sontak, membuat Stella juga Yudistira yang melihatnya kini membeku, saling menatap satu sama lain, dan tak bisa berkata apapun.


Bukan satu atau dua kali saja. Namun, tiap hari dengan berbeda-beda siswi. Pak Yuta terus menggoda banyak siswi dan mulai bermesraan di ruangan itu. Lebih gilanya lagi, semua siswi itu malah terlihat senang, dan tak menolaknya. Hingga keadaan menjadi kacau saat salah satu dari siswi itu meminta pertanggung jawaban, kepada Pak Yuta.


"Walapun saya memang melakukannya, namun mungkin saja itu bukan benih saya"


"Jadi maksud bapak saya bermain dengan laki-laki lain selain bapak?!"


"Bisa saja. Karena, kamu kan gampang main sana-sini"


"Hanya sama bapak saya melakukan itu! Bapak harus tanggung jawab atas apa yang telah bapak lakukan kepada saya"


"Untuk apa saya bertanggung jawab, jika itu bukan anak saya!"


"Jika bapak terus seperti ini, saya akan laporkan ini ke Bu Popi!"


"Kamu mengancam saya?!"


"Memangnya kenapa kalo saya mengancam bapak?"


"Aborsi sekarang bayi itu"


"Kenapa saya harus aborsi anak kita?"


"Berhenti bilang kita! Saya dan kamu dari awal pun hanya bermain-main saja, bukan untuk mengurus bayi ini"


"Ternyata bapak lebih bajingan dari pada siswa-siswa gila disini! Tetap saja saya akan melaporkan ini kepada Bu Popi, jadi kita sama-sama akan dikeluarkan dari sini" Ucap siswi itu.


Keesokan harinya, sekolah dibuat kacau akan kehilangan 1 siswi di sekolah. Teman sekamarnya pun tak tau keberadaannya. Terakhir mereka lihat saat di sore hari. Kelas seharian pun siswi itu tidak ada di kelas. Bu Popi juga guru dan penjaga sekolah lainnya juga sibuk mencarinya.


"Gue denger ada siswi yang ilang, emang bener?" Tanya Stella.


"Yang mana sih? Ada fotonya gak?" Yudistira ikut kepo.


Namun, yang tadinya mereka biasa saja dan tak mempermasalahkannya. Saat Suga memperlihatkan foto siswi itu, membuat mereka saling menatap satu sama lain. Benar, siswi itu yang pernah mereka pergoki sedang berciuman dengan Pak Yuta.


"Keliatannya lo pada kenal"


"Ini cewek yang pernah gue sama Stella ceritain ke lo pada"


"Hah? SERIUS?!"


"Serius lah, masa gue bohong dalam situasi kayak gini. Gile aja lo!"


"Berarti, kemungkinan dia ilang karena Pak Yuta?"


"Tapi, kita gak bisa berfikir gitu juga kali. Mungkin aja bukan Pak Yuta yang ngelakuin kan? Siapa tau dia kabur dari sekolah ini"


"Gimana kalo Pak Yuta bunuh cewek itu?" Mendengar perkataan Mutiara membuat yang lain jadi menelan ludah dengan amat berat sekali.


"Udahlah mending kita gak usah ikut campur"


"Siapa juga yang mau ikut campur? Takut lagian gue nya juga"


"Tapi, lo pada ngerasa gak sih. Pak Yuta semakin kesini, semakin aneh banget gerak-geriknya?"


"Perasaan lo aja kali, gue sih biasa aja liatnya. Emang rada gila aja tuh guru dari awal juga"


"Dendam pribadi banget lo ke Pak Yuta"


"Ya, iyalah. Masa cewek gue di suruh lari 30 keliling lapangan, nanti kalo kenapa-kenapa terus kandungannya juga ikut kenapa-kenapa kan gue juga yang khawatir"


"Tunggu. Tadi lo ngomong apa?" Tanya Stella lagi kepada Jimi, memastikan dirinya tak salah dengar. Arumi yang meyadarinya pun langsung membuat sadar Jimi.


"Gue takut Arumi kecapean"


"Bukan-bukan. Lo pada denger gak sih dia bilang 'kandungan' begitu?"


"Lo hamil?!" Ucap jelas Stella, mengarah pada Arumi. Membuat Jimi langsung membungkam mulut Stella. Sontak, mereka masih tidak bisa mempercayainya. Saling menatap dengan penuh kebingungan.


"Udah berapa bulan?"


"2 bulan"


"Kelulusan bentar lagi loh!"


"Kita gak tau kalo bakal begini"


"Tau ah, pala gue udah pusing banget!"


"Dimana lo berdua lakuin itu? Di sekolah?"


"Pas kita liburan" Mereka tambah tersengang.


"Pas lo pada di kamar malam itu?" Mereka mengangguk.


"Astaga! Pala gue tambah pusing sekarang!"


"Bukan lo doang Stell, gue juga sama"


"Terus rencana lo berdua sekarang apa?"


"Kita bakal rawat bayi kita sampai lahir" Mendengar itu, membuat mereka tambah tak mempercayainya.


"Mau sampe kapan lo berdua sembunyiin kehamilan itu? Tuh kandungan gak akan terus begitu, ada masa nya dimana kandungan bakal membesar"


"Gue minta kalian bantu gue sama Arumi, untuk sembunyiin kehamilan Arumi" Mereka tambah terngaga, seakan-akan Jimi berbicara seperti itu sama saja membuat lubang untuk mereka semua, agar terkena imbas dari perbuatan mereka berdua,


"Gue sih gak masalah buat bantu lo berdua, yang jadi masalah nya adalah gimana cara kita sembunyiin perut si Arumi nanti kalo kandungannya membesar. Sekarang masih bisa adem ayem, lah nanti gimana?"


"Mulai sekarang lo pake hoodie atau jaket all size gimana?"


"Bener tuh!"


"Tapikan panas, gue gak biasa pake begituan. Bukan gaya gue banget"


"Terus lo mau seragam ngetat lo itu, kebuka semua kancingnya, gegara hamil lo?"


"Ya, engga"


"Yaudah ikutin aja sih, apa susahnya. Jadi, kalo lo pake sekarang. Anak-anak gak mungkin curiga nantinya, pokoknya lo harus lakuin itu buat jaga-jaga. Sambil kita semua cari cara lain"


Sementara di sisi lain, Pak Yuta terus penuh kekhawatiran melanda dirinya, jalan kesana kemari dengan wajah penuh keresahan dan kegelisahan. Seakan-akan banyak yang dia fikirkan. Giorgino yang melihat itu, menjadi penuh kecurigaan kepada Pak Yuta. Sebab, kegelisahan Pak Yuta itu terlalu berlebihan dan tak seharusnya seperti itu, jika memang dirinya tak berpengaruh atas hilangnya siswi itu.